Genius Fall In Love

Genius Fall In Love
Kencan Buta


__ADS_3

Kemarin sore.


Reketeketeketek!


Saya membawa motornya Yoga dengan hati-hati sambil menatap layar HP. Katanya Gendeng Maps, hari ini saya dan Anastasia nampaknya akan pergi makan malam di restoran mewah.


Kebetulan, di sekitaran Manggar ada sebuah restoran sekaligus toko daging yang cukup mewah. Sang gebetan pun sepertinya berencana memikat hati saya di sana.


Meskipun daerah Manggar adalah daerah yang cukup sepi akan restoran mewah, entah mengapa sepertinya penjualan daging mentah cukup ramai, ndak heran kalau restoran ini masih bisa beroperasi dengan baik.


"Ternyata dia pilihkan saya tempat yang dekat dari rumah, ya."


...----------------...


Reketeketek! Ctang!


Ada memakan waktu hampir 11 menit, Alhamdulillah akhirnya saya sampai dengan selamat. Saya segera memarkir motor, dan memasuki gedung restoran mewah itu.


Di depan pintu, saya pun disambut dengan ramah.


"Permisi, mas. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ah, saya mau masuk di antrian meja nomor 12. Atas nama Anastasia."


"Ahh, baiklah. Mari saya antar."


Tap! Tap! Tap!


Tanpa basa-basi, saya pun diantar pelayan menuju meja yang paling ujung. Di sana, terlihat rambut hitam panjang Anastasia yang terurai bebas. Dengan segelas air putih di tangan kanannya, ia pun menoleh ke arah saya, menyambut saya dengan senyuman.


"Ah! Ri-Rizky!"


"Assalamualaikum, maaf kalau aku telat."


"Ah, kamu nggak telat kok, emang aku aja dateng agak cepetan."


"Kamu nunggunya lama ya?"


"E-enggak kok. Santai aja."


Saya segera melepas jaket, dan meletakkannya di kursi sebelah saya. Anastasia yang kelihatan gugup segera menggeser rambut ke pundak samping kanannya.


Melihatnya merasa tidak enak, saya pun memulai pembicaraan dengan santai.


"Akhirnya kita berdua bisa kencan buta."


"Bu-buta? Maksudmu apa? Ini kan kencan biasa."


"Bagimu sepertinya kencan biasa, tapi buatku ini kayak kencan buta. Soalnya aku ndak tau apa-apa tentang dirimu."


"A-ah..."


Saya pun memesan makanan, dan beberapa minuman mewah datang menghampiri kami berdua. Sebotol Wine dan Teh Hangat.


"Ini dia satu botol Wine Eagle Cabernet, dan segelas Teh Hangat. Silahkan dinikmati."


"Nah, pasti Teh-nya buat saya, makasih banyak."


Anastasia melihat saya dengan wajah yang malu-malu. Ia pun mengepalkan kedua tangannya, dan memberanikan diri untuk berbicara.


...----------------...


"Rizky," bisiknya memanggil saya malu-malu, menahan suaranya agar tidak keluar dengan terlalu keras.


Apa ia sedang menyembunyikan sesuatu? Kenapa ia sampai berbisik seperti itu?


"Hm?" jawab saya menyilangkan tangan dan menatap kedua matanya, memperhatikan dengan saksama.


"Kenapa?" tanya saya sigap.


"Ha-hari ini biar aku aja yang bayar."


"Hm? Ndak boleh."


"A-apa?!"


"Laki-laki yang dibayarin makan sama aja kayak ndak punya harga diri."


"Se-seenggaknya ini permintaan maaf soal tempo hari lalu! Aku masih merasa nggak enak.."


"Kalau begitu bayar makananmu sendiri, dan aku bayar punyaku sendiri. Bagaimana?"


"A-ah, o-oke."


Wajah Anastasia masih tertunduk. Matanya kembali melirik kemana-mana, masih merasa bersalah atas tragedi pertemuan pertama kami.


"Rizky, sebelumnya aku mau minta maaf. Tapi apa boleh aku minta satu hal?"


"Kalau aku sanggup, maka ndak ada masalah."


"Aku mau hubungan kita ini tetap rahasia."

__ADS_1


"...... kenapa begitu?"


"So-soalnya.. Papaku sepertinya nggak mau aku.. punya hubungan seperti ini. Beliau, orangnya cukup keras."


"Hmm... ingin anaknya sukses dulu?"


"A-ah.. begitulah, menurutnya kalau perempuan belum menghasilkan apa-apa tapi sudah punya hubungan seperti ini, perempuan itu adalah aib keluarga."


"........ Aib?"


"Ma-maafkan aku! Bukan berarti ak-"


"Kalau kamu sudah sukses jadinya kita bisa pacaran?"


"Ha-hah?! I-iya."


"Yaudah, aku bikin kamu sukses dulu gimana?"


"Ha-hah?!"


Wajah Anastasia nampak sontak bingung. Saya pun hanya membalasnya dengan senyuman manis. Habisnya, kelihatan sekali dari kondisi tubuhnya yang semakin hari semakin kurus, kulitnya yang semakin mengering, dan beberapa efek samping obat sakit kepala, sepertinya pola hidupnya lebih dari cukup bisa untuk menyiksa tubuhnya sendiri.


"Kamu kelelahan. Butuh bantuan."


"Ma-maksudmu!? Kamu mau bikin aku jadi sukses?!"


"Iya."


"Ma-maaf, bukannya aku ngeremehin. Tapi, memangnya kamu bisa?"


"Ah, gampang aja itu. Tinggal kamunya aja bisa diajak kerja sama atau ndak."


"........ jangan bercanda."


"Apa aku kayak lagi bercanda?"


"Iya! Kamu kayak ngerendahin aku, tau nggak?"


"Lho? Kok begitu? Biar kuberi tahu satu hal.."


Saya pun berdiri dari kursi, dan membuka segel botol Wine termahal yang berdiri di atas meja. Saya membuka tutupnya, dan menuangkannya di gelas Anastasia sembari menarik perhatiannya.


Saya mendekatkan jarak, berusaha mengecilkan volume suara.


"....... aku ndak bercanda, Anastasia."


"Ri-Rizky?"


"....... percayalah. Aku bisa bikin mimpimu jadi nyata."


"....... ta-tapi gimana caranya...?"


"Hm.... kasih tahu ndak, ya?"


"Ka-kasih tah-"


BRAK!


"Hup!"


Tanpa ada sesuatu, tiba-tiba saja Anastasia terjatuh pingsan.


Saya pun sigap menahan kepalanya menyentuh lantai. Saya mencoba menolehkan wajahnya ke atas, dan mengamati kondisi nafasnya.


"Ah, beneran Triazolam."


Saya yang sudah menyadari bahwa Anastasia tengah diracuni obat tidur dari awal nampaknya harus kembali merepotkan diri untuk mencari si pelaku.


Tapi sepertinya ndak usah repot-repot, pelakunya sudah berada bersama kami dari tadi. Persis di ujung ruangan.


"Pak, anaknya ketiduran nih. Diangkut dong," ujarku santai seraya melirik ke ujung ruangan, menatap seorang pria tua yang duduk kaku di salah satu kursI VIP.


"......."


Pria itu hanya menatapku kosong, dan tidak menjawab sama sekali.


...----------------...


Sruk!


Sepertinya pria itu mulai bangkit dari tempat duduknya. Ia pun berjalan mendekat, dan beberapa orang Bodyguard pun memasuki restoran.


Saya ingin menjauh, namun dari belakang kepala saya sudah ada bunyi pistol yang pelatuknya sudah tertarik.


"Sebaiknya jangan bergerak, dan angkat kedua tanganmu," ujar pria itu tenang, lalu menduduki kursi Anastasia dengan angkuh.


Saya pun mengangkat kedua tangan saya, dan berwajah panik.


"Bawa dia pulang," perintah pria itu kepada bawahannya.


Anastasia pun diangkat, dan tubuh saya pun mulai dipaksa duduk di kursi saya. Perlahan pria itu meminum Wine yang sudah kutuangkan untuk Anastasia.

__ADS_1


"...... ah, seharusnya anaknya yang minum."


"...... siapa kau?"


"Hm? Om sendiri?"


"Lihat dirimu. Begitu tidak punya sopan santun."


"Saya cuma kasih sopan santun ke orang-orang yang pantas."


GREP!


Pria itu sigap menggenggam gelas Wine Anastasia yang sudah kosong dan,


PRANG!


Pria itu nampak sigap melemparkan gelas Wine itu ke kepala saya. Sigap gelas Wine itu pecah, dan meninggalkan serpihan kacanya di meja.


GREP!!


Sang Bodyguard yang menjaga saya di belakang sigap menarik rambut saya, lalu membanting kepala saya ke meja, tepat ke serpihan-serpihan kaca tersebut.


BRUK!!


Tak lama kemudian, sang pria tua mengamati kepala saya yang masih tersungkur di atas meja. Ia sepertinya kurang yakin dengan apa yang ia pikirkan, jadi ia memerintah Bodyguardnya untuk melepaskan kepala saya.


"...... lepas kepalanya."


Srak.


Sang Bodyguard pun melepaskan tangannya dari kepala saya. Namun sejenak, saya masih saja tersungkur di atas meja. Meninggalkan keheningan di dalam restoran.


"....... asal kamu tahu. Rakyat jelata sepertimu hanyalah semut yang sudah macam-macam dengan kaki manusia. Sadar diri."


"Ah, jadi maksudnya saya ndak direstui, begitu?"


"!!!!!!!"


Saya pun mengangkat kepala dengan ringan. Namun, pelan-pelan darah mulai mengucur ke atas meja.


"Argh, pake dites segala. Bapak pikir saya mainan?"


Sang Bodyguard nampak bingung nan terkejut dengan saya yang masih santai menjawab kalimat pria itu. Masih bisa mengangkat kepala saya yang sudah berdarah-darah dipenuhi pecahan kaca.


Namun, karena sudah tidak bisa merasakan rasa sakit, saya hanya bisa kembali menyilangkan tangan dan duduk dengan tenang.


"Calon mertua saya memang kayaknya keras banget buat ngasih restu."


"...... kamu bukan lagi manusia. Buat apa saya restui kamu menikah dengan anak saya?"


"Haah, saya masih manusia pak. Cuma udah dimodif aja."


"...... sebenarnya kamu memang bisa berguna di keluarga saya, tapi bukan berarti kamu tidak berbahaya. Keluarga saya bisa jadi rusak jika niatmu buruk."


"Apanya yang buruk? Saya memang mencintai anak bapak. Anak bapak aja yang suka sembunyiin banyak dari saya."


"Dan kamu pikir saya percaya?"


"Hm?"


"Memangnya senjata negara sepertimu masih punya perasaan?"


"......... ah, soal itu ya."


"...... karena itu buktikan dirimu."


"Apa yang harus dibuktikan?"


"Seenggaknya kalau memang mau melanjutkan hubunganmu dengan Anastasia, buktikan bahwa kamu pantas, buktikan bahwa kamu tidak membawa bahaya untuk keluarga saya, buktikan bahwa kamu punya perasaan."


"....... ada lagi?"


"...... dan buktikan pada saya kalau kamu bisa melindungi Anastasia dengan baik."


"...... sudah?"


"Itu saja."


"Ah, baiklah. Ndak masalah. Kalau begitu, saya buktiin pakai cara apa?"


"Apapun. Terserah dirimu. Saya hanya akan menilai."


"Haha, baiklah. ndak masalah."


Sruk!


Pria itu pun bangun dari duduknya, dan berjalan pergi. Ia pun menarik semua Bodyguardnya, dan meninggalkan saya dalam keadaan yang cukup tragis.


"Haaah.. Ampun DJ," ujar saya kecewa.


Tak menyangka bahwa kencan pertama saya dengan Anastasia alan berakhir seperti ini. Entah apakah kita berdua akan dapat kesempatan lagi untuk bertemu?

__ADS_1


__ADS_2