
Rangga sendiri tidak sadar apa yang terjadi pada dirinya.
“Rangga tadi itu apa ya?” tiba tiba Dewi bertanya pada Rangga yang berada disamping Shinta.
“Apanya yang tadi Wi?”
“Itu tadi mata kamu mendadak hitam seluruhnya.”
“Hitam...?” Tanya Shinta.
“Iya, hitam loh Shin, emang kamu nggak lihat ya?”
“Nggak.”
“Hitam gimana maksud kamu Wi?” Tanya Rangga bingung apa yang terjadi dengan matanya.
“Mata kamu loh Ga, semuanya tadi hitam walaupun cuma sekejap saja tapi aku tadi benar benar melihatnya, nggak bohong loh.”
“Shinta apa kamu lihat mataku juga berubah jadi hitam?” Tanya Rangga pada Shinta.
“Nggak Ga, Shinta nggak lihat apa Karena kebetulan Shinta nggak lihat mata kamu ya makanya nggak tahu.”
“Hitamnya gimana Wi?” Sepertinya Rangga meminta penjelasan pada Dewi.
“Mata kamu berubah semuanya menjadi hitam yang bagian putih juga berubah menjadi hitam, tapi sepertinya bukan yang putihnya juga berubah tapi mata kamu yang hitam juga berubah juga sepertinya semuanya menjadi satu warna, hitam seluruhnya.”
“Mungkin juga kamu salah lihat Wi.”
“Aku nggak salah liat, atau karena aku terpilih menjadi Pejuang ya?”
“Apa Wi kamu terpilih menjadi Pejuang?” Tanya Rangga.
“Iya aku terpilih menjadi Pejuang, tapi Shinta nggak, apa kamu terpilih juga Ga?” Kemungkinan Shinta dan Dewi telah tahu keberadaan tentang Pejuang dan berbagi informasi.
__ADS_1
“Iya, aku terpilih menjadi Pejuang.” Rangga berkata sebenarnya sambil menoleh ke arah Shinta, Shinta sendiri ketika dilihat oleh Rangga hanya menundukkan wajahnya, apa karena menyesal karena tidak terpilih menjadi Pejuang atau menunduk karena hal lainnya.
Ketika Rangga bertanya mengenai sistem Pejuang kepada Dewi, Shinta memotong pembicaraannya.
“Rangga kamu belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya, apa orang tuamu ikut balik juga Ga?”
Sambil menarik nafas.
“Orang tuaku telah meninggal Shinta, termasuk kakek ku juga.” Rangga terduduk lemas.
Shinta dan Dewi ketika mendengar jawaban dari Rangga seperti nggak percaya.
Rangga pun menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya pada saat itu, Shinta dan Dewi hanya mendengarkan tanpa memotong sekalipun ucapan Rangga, hingga Rangga selesai bercerita ada sedikit perubahan pada mata Rangga tapi tidak berubah hitam seperti yang lalu mata nya berubah menjadi sedikit memerah dan agak basah, mata Shinta dan Dewi juga sama, tak disangka sebuah tangan menyentuh tangan Rangga, sambil memegang erat tangan Rangga Shinta berkata.
“Masi ada kita kita yang akan selalu untuk menghibur kamu Ga.“
“Iya Ga, karena kamu tidak akan sendiri masih ada kita.“ Dewi pun menyambung ucapan Shinta.
“Halo manis, mendingan sama abang aja dari pada cowok yang didepan kamu, cengeng.”
Melihat hal yang tidak sopan Rangga langsung berdiri dan memegang tangan cowok itu, menariknya dan segera melepaskan tangan yang menyentuh pundak Shinta, cowok itu mencoba melawan tapi sia sia dengan mudahnya Rangga memelintir ke belakang tangan cowok itu, cowok itu pun merintih kesakitan tak disangka salah seorang teman cowok itu segera melayangkan tendangannya kearah tangan Rangga, melihat hal itu Rangga melepaskan tangan yang memegang tangan cowok itu, walaupun Rangga merasa yakin dengan sistem yang ada pada dirinya dan bisa Menahan laju tendangannya tapi tendangan itu dia rasakan ada hembusan angin tajam dan angin tajam ini bisa melukai diri Shinta yang ada disisinya dan segera Rangga menarik Shinta kebelakangannya dan segera angin tajam itu langsung menghantam tubuh Rangga. Rangga sendiri tidak terluka hanya saja baju yang dikenakannya sobek seperti tersayat benda tajam.
“Lama banget kau Anto, tanganku ampe terkilir gini, sia sia aku teraktir kalian nih.”
“Sori lah boss, tadi nggak nyangka dia akan melawan boss.” salah seorang yang dipanggil Anto segera maju menghadap ke Rangga.
“Udah deh jangan banyak omong kau To, kalahin dia, patahkan juga tangannya percuma kau bangga banggain Pejuang yang kau miliki, kau juga Nang bantu si Anto itu, jangan diam aja kayak ayam kecebur got, tujukan kemampuan Pejuang kalian.”
“Oke boss...”
“Tapi boss kayaknya nih nggak sama seperti kemarin boss, dia mungkin pejuang juga boss, tubuhnya nggak terluka boss.”
“Jangan banyak alasan deh, kalian kalahkan dia ntar kubelikan motor kalian satu satu.”
__ADS_1
“Oke boss.”
“Siap boss.”
Mereka pun mulai bersiap siap untuk menyerang, Rangga pun tidak diam saja langsung saja ia mengerahkan tenaga dalamnya.
Kekuatan : 10 (137)
Namun perubahan terjadi pada Rangga, tubuhnya sepertinya bertambah lebih kuat ketika dia melihat status terjadi perubahan.
Kekuatan : 10 ( + 137 ) + 15
Ketangkasan : 10 ( + 83 ) + 15
Daya tahan : 10 + 15
Insting : 10 + 15
Kecerdasan : 10 + 15
“Maaf Rangga cuma itu saja yang bisa aku lakukan, itupun merupakan skill puncakku.” terdengar suara pelan yang berasal dari Dewi.
Rangga segera menyadari ternyata perubahan kemampuannya menjadi lebih kuat berasal dari Dewi dan kemungkinan Dewi merupakan Pejuang kelas Support.
“Makasi dukungannya Wi.”
“Maaf juga Rangga penambahan itu juga hanya berlangsung 5 menit, maaf.”
“Jangan dipikirkan lah Wi, sekecil apapun pasti akan aku pergunakan sebaik baiknya.”
Walaupun Rangga juga tidak tahu berapa besar stat bawaannya karena semua masih awal dan belum diketahui standar dari masing-masing kelas, semuanya masih dalam pembelajaran. Rangga benar benar harus belajar atas kejadian tadi malam ketika menghadapi perampokan beruntung sekali kemampuan Rangga saat itu berada diatas lawannya tapi sekarang dia harus dihadapkan kembali dengan situasi tadi malam tapi perbedaannya dia harus berhadapan dengan dua orang Pejuang, walaupun telah dibantu oleh Dewi dengan kenaikan stat nya, tapi semua masih belum diketahui hasilnya apalagi Rangga dihadapkan dengan situasi harus melindungi Shinta dan juga Dewi.
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam
__ADS_1