Gerbang Hitam

Gerbang Hitam
Hujan batu 1


__ADS_3

“Aaakkkkhhhh...”


Rangga tiba tiba berteriak dan diikuti dengan tubuhnya yang jatuh kearah belakang. Tubuhnyapun menghantam batu yang menjadi alas jatuhnya.


Sambil telentang, mata Rangga menatap keatas, yang dilihat hanyalah dinding pusaran lorong waktu yang ditempatinya. Mata Rangga mulai berkaca kaca dan tangan Rangga langsung menutup kedua matanya dengan lengan tangannya. Lama Rangga dalam posisi tersebut.


Keadaan mental Rangga mulai kacau, berada dilorong waktu seorang diri mulai membuatnya frustrasi, itu wajar bagi seorang pemuda yang ditinggal oleh kedua orangtuanya serta kakeknya dan tinggal dilorong waktu menambah pukulan berat yang dideritanya, apalagi dia sudah terlalau lama tinggal sendiri, tiga tahun waktu bumi telah dijalaninya tanpa disadarinya, tidak ada hal menunjukan waktu, siang dan malam keadaan selalu sama.


Diam dan diam terus hanya air mata yang terus berjatuhan, tak ada yang menyalahkan dia atau menertawakan dia ketika seorang pria menangis. Bahkan Rangga sama sekali tidak peduli ketikan isakan tangisnya mulai terdengar.


Mental mulai jatuh dan sudah pasti keputusan asaan akan datang.


Sudah hampir dua jam dia menangis dan meratapi nasibnya, air mata pun sudah kering tapi Rangga masih saja dalam posisi yang sama, tidur telentang sambil lenganya menutup kedua matanya. Rangga diam, pikiran mengalir, memikir, menghayal...


Masih dalam posisi tidur telentang, Rangga memeriksa ruang dimensi, dan mengeluarkan hapenya dari ruang dimensi tersebut. Ruang dimensi yang dimiliki oleh Rangga yang didapat dari sistem terdahulu bukan hanya bisa menyimpan benda benda yang berhubungan dengan sistem, tapi benda benda diluar sistem pun bisa tersimpan karena ruang dimensi mampu mendeteksi benda benda disekitar Rangga ketika Rangga membuka ruang dimensinya, dan hapenya langsung dia masukan kedalam ruang dimensinya karena jika terus dikantonginya disaku bisa mengganggu gerakan bela dirinya dan kemungkinan bisa rusak juga.


Rangga mulai menyentuh tombol power hapenya, tapi hapenya tidak bereaksi sama sekali. Sudah lama sekali hape Rangga kehabisan daya energi baterainya. Cuma hape inilah yang menyimpan kenang kenangan Rangga akan keluarganya... dan juga Shinta.

__ADS_1


“Shinta...” lirih Rangga.


Rangga mulai tertidur tanpa disadari, letih bukan karena kelelahan fisik tapi letih karena mentalnya mulai runtuh. Apa Rangga harus melupakan balas dendamnya kepada Abaddon karena telah membuatnya menjadi anak yatim piatu?


Tentu jawabannya tidak, karena Rangga sudah membuka matanya dan langsung berdiri seketika mengerahkan tenaga dalamnya dan mengeluarkan semua dari tubuhnya.


Berteriak sekuat kuatnya mengeluarkan tekanan energi tenaga, Rangga mulai berlatih kembali kenangan akan kedua orangtuanya yang terbunuh oleh Abaddon telah memicunya.


Rangga terus berlatih, kucuran keringat telah membasahi tubuhnya. Namun tiba tiba terjadi goncangan terhadap batu yang menjadi pijakan Rangga, tetapi batu batu yang lainnya juga bergoncangan bahkan saling bertabrakan antara satu dengan yang lainnya.


Rangga berhenti dari latihannya dan memperhatikan situasi yang terjadi, karena selama dia berada dilorong waktu baru kali ini kejadian tersebut terjadi. Pergerakan bebatuan mulai tidak stabil terjadi pergeseran bahkan ada batu yang mulai menghantam dinding lorong waktu dan sekejap itu juga batu tersebut menjadi butiran butiran pasir dan sirna seketika.


Tak selang berapa lama tiba tiba dari arah depan Rangga muncul seekor kelinci, seekor kelinci yang ukuran sebesar burung unta, tetapi bentuknya tidak seperti kelinci yang diketahui oleh Rangga, karena kelinci ini memiliki sepasang kaki yang cukup besar dan panjang dan kelinci tersebut bergerak kearah Rangga dengan cepatnya.


Pergerakan kelinci itu sangat aneh bukan berlari atau melompat dari batu yang satu ke batu yang lainnya tetapi menghilang dan sekejap muncul kembali kedepan dari hilangnya kelinci tersebut, singkat kata apa yang dilakukan oleh kelinci tersebut seperti berteleportasi, walau jarak teleportasi sangat pendek tak lebih dari 15 meter. Apa yang dilakukan kelinci tersebut terus berulang ulang, dan segera kelinci tersebut melewati Rangga dengan cepatnya.


Hampir tak percaya Rangga terkejut melihat kelinci tersebut, bukan terkejut karena pergerakannya melainkan ada seekor kelinci, mahkluk hidup ada selain dirinya. Rangga terus memperhatikan kelinci tersebut menjauh darinya. Tak selang berapa lama muncul kembali kelinci dari arah depan Rangga kembali dan segera melewati Rangga.

__ADS_1


Rangga terus memperhatikan bentuk, pergerakan dari kelinci tersebut dan memperkirakan kecepatannya, dan apa yang sebenarnya terjadi, menurut perkiraan Rangga ada sesuatu diarah depannya yang membuat kelinci tersebut panik hingga berlari dengan sangat cepatnya, apakah ini ada hubungan dengan goncangan batu batu yang baru saja terjadi?


Benar saja tak berapa lama kurang dari lima menit, Rangga melihat arah depanya seperti ada hujan batu, hujan batu bukan seperti hujan batu* yang ada dibumi yang jatuh dari atas, melainkan hujan batu berasal dari arah depan Rangga, batu yang meluncur dengan kecepatan tinggi kearah Rangga, yang ukurannya beragam walau tidak lebih dari ukuran dua genggaman tangan orang dewasa dan kebanyakan hanya seukuran kepalan tangan anak kecil, luncuran batu batu tersebut juga disertai dengan suara yang bergemuruh, suara yang menimbulkan rasa takut yang mendengarkannya.


Luncuran batu batu tersebut seperti tak terhentikan, bahkan batu batu yang menghalangi laju batu tersebut ada yang berlubang dibuatnya ada juga yang hancur dibuatnya, tanda kalau hantaman batu tersebut begitu dahsyatnya, hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Rangga melalui latihannya, tentu saja tanpa disertai petir. Ketika luncuran batu tersebut menghantam batu yang menghalangi bisa terhenti, tapi batu batu tersebut ada banyak dibelakang layaknya sebuah hujan yang tak ada habis habisnya.


Tanpa pikir panjang Rangga pun segera berlari mundur kebelakang, melompat dari batu satu ke batu yang lainnya. Hasil latihan selama ini benar benar diuji.


Rangga berlari sekuat tenaga untuk menghindari hujan batu tersebut, suara gemuruh terus terdengar. Sambil mengerahkan ilmu peringan tubuhnya Rangga terus berlari menjauh dari hantaman batu batu tersebut, untung saja batu batu yang dilewati oleh Rangga banyak yang berukuran besar memudahkan Rangga untuk melompat dan batu batu berukuran besar tersebut bisa menjadi penghalang luncuran dari hujan batu yang terus mengejar Rangga.


Kecepatan lari Rangga dari hasil latihan ternyata mampu untuk meninggalkan luncuran batu batu yang ada dibelakangnya. Hampir dua jam Rangga berlari tidak tampak dari wajahnya tanda tanda kelelahan.


Rangga terus saja berlari menjauh, walau dirasa Rangga telah mengerahkan kecepatannya larinya denga sekuat tenaga, namun kelinci kelinci sebelumnya sama sekali belum dilihatnya kembali, betapa cepat lari kelinci kelinci tersebut.


Ketika Rangga berlari melewati sebuah bongkahan batu yang cukup besar dia melewati sesuatu yang lain, sesuatu benda yang bukan batu sepertinya, karena terkonsentrasi untuk berlari sekencang kencangnya Rangga melewati benda tersebut.


* hujan es dibumi walau kebanyakan orang orang mengatakan hujan batu.

__ADS_1


Baca Gerbang Hitam di


https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam


__ADS_2