
Segera saja Rangga melepaskan cincin yang melingkar dijari Abaddon. Rangga memperhatikan cincin tersebut, cincin yang kalau diperhatikan terbuat dari logam berwarna kuning, kemungkinan cincin tersebut terbuat dari emas dan dihiasi dengan ukiran serta ada batu berwarna merah yang menghiasinya, sambil menimang nimang cincin tersebut menunggu keterangan dari sistem, tapi sistem sama sekali tidak merespon, berikut juga ketika tangan Rangga memegang potongan tangan Abaddon, juga tidak ada respon dari sistem.
Rangga berharap dengan menyentuh cincin dan potongan tangan Abaddon sistem yang dimilikinya merespon, minimal memberitahukan item yang dipegangnya, tapi hasilnya nihil. Sambil memegang potongan tangan Abaddon tidak tahu apa yang harus dilakukan Rangga mencoba berusaha agar potongan tangan Abaddon bisa masuk ke ruang penyimpanannya, tidak mungkin kalau potongan tangan Abaddon terus dipegangnya, atau dibuang? Jalan terbaik yang dipikirkan oleh Rangga adalahlah dengan menyimpannya diruang dimensi, tapi tidak berhasil. Berbagai cara dilakukannya sambil memanggil sistem dan mengecek berulang kali ruang penyimpanannya sama sekali tidak membuahkan hasil. Rangga pun menyerah terhadap tangan Abaddon.
Rangga pun beralih ke cincin tidak ada notifikasi yang muncul dari sistem, tapi untungnya cincin berbeda dengan potongan tangan Abaddon setidaknya cincin masih bisa dipakai dijari tangannya tidak harus dipegang terus.
Sambil memperhatikan cincin yang sudah melekat dijarinya, Rangga kembali mencoba mengecek ruang penyimpanan dimensinya.
‘ Ditemukan cincin ‘
Simpan
Ya Tidak
Ternyata ruang penyimpan dimensi yang dimiliki oleh Rangga merespon cincin tersebut walau responnya agak sedikit telat bahkan tidak ada keterangan dari cincin tersebut, hanya menampilkan nama cincin saja. Tapi Rangga tidak ambil pusing langsung saja cincin tersebut disimpannya diruang penyimpanan dimensinya karena Rangga sendiri merasa kurang pas memakai cincin tersebut.
* Cincin Orion
Sambil memperhatikan sekelilingnya Rangga pun mengambil hape dari kantong celananya, untungnya hapenya masih bisa berfungsi ketika habis bertarung dengan Abaddon. Jaringan sama sekali tidak ada. Mengecek waktu yang ada dihapenya sudah jam 3 pagi dan sisa baterai hapenya lima hari lagi waktu standby serta mengecek beberapa foto yang ada dihapenya.
“Huff...” Rangga menghembuskan nafas yang terasa berat yang ia rasakan, sendiri, tidak ada keluarga yang dekat lagi, ibu, ayah dan juga kakeknya dan sekarang berada dilorong waktu yang ujung portal waktunya tidak diketahui.
Dan apa yang dirasakan Rangga disamping kesepian ada rasa haus yang dialaminya, haus... artinya Rangga membutuhkan air, jika sudah membutuhkan air maka butuh makanan juga, tapi sepanjang yang dilihat Rangga tidak ada terlihat air apalagi sesuatu yang bisa dimakan, yang ada hanyalah batu batu yang melayang dan bergerak dengan berbagai jenis dan ukuran, batu sama sekali tidak bisa dimakan.
Ingin segera mencari air atau makanan tapi rasa lelah telah melanda Rangga diikuti dengan rasa kantuknya yang timbul. Lelah... lelah sekali yang Rangga rasakan, Rangga pun bersandar disalah satu batu dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, lelah fisik dan juga mental.
Sesekali Rangga membuka matanya memperhatikan situasi apakah dia terlewati sesuatu yang bisa membuatnya keluar dari tempat ini, karena batu yang menjadi tempat sandaran tidurnya terus bergerak maju dengan perlahan dan berharap diujung terowongan bisa membawanya keluar.
Waktu terus berjalan ketika Rangga melihat kembali jam melalui hapenya ternyata sudah menunjukan jam 7 pagi. Rangga pun bangkit dan segera melompat dari batu yang satu ke batu yang lainnya untuk mencari air dan sesuatu yang bisa dimakan, walau dirasa ketika dia melompat sangat begitu berat dan daya dorong lompatannya seperti tidak maksimal, Rangga tidak menyadari kalau batu batu yang menjadi pijakannya memiliki tingkat gravitasi yang berbeda dari bumi.
Seiring waktu berlalu rasa haus dan lapar semakin terasa. Jarak pencarian Rangga semakin jauh dari titik awalnya tetapi yang dia lihat hanyalah batu, batu dan batu lagi. Tubuh Rangga pun semakin lemas bahkan untuk melompat ke batu yang ada didepannya sudah tidak sanggup lagi karena kalau tergelincir lagi kemungkinan Rangga akan terjatuh dan akan terurai tubuhnya ketika bersentuhan dengan dinding atau lapisan terowongan waktu. Beberapa serpihan batu batu kecil berjatuhan dan langsung berubah menjadi terkikis dan berubah menjadi debu tatkala bersentuhan dengan lapisan lorong waktu. Rangga yang melihat kejadian itu lagi segera menghentikan pencarian air.
Tubuh Rangga sudah sangat lemasnya, didera dengan rasa haus yang berkepanjangan yang sama sekali belum dia alami. Melihat jam yang tertera dihapenya sudah hampir satu hari dia berada dilorong waktu.
“Sistem...”
Tampilan sistem segera muncul dihadapan Rangga, tampilan sistem masi seperti yang lalu, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan HP nya tidak ada perubahan masih sama angkanya 1700, tidak ada pengurangan poin walaupun keadaan dirinya sangat lelah. Rangga kepikiran untuk Mencari skill yang bisa digunakan untuk memulihkan diri.
* Priest
Heal 20 MP
Segara saja Rangga menspell dirinya sendiri seperti yang pernah dia lakukan untuk menyembuhkan dirinya ketika melawan Abaddon.
Perlahan dan pasti tubuhnya sudah mengalami perubahan, menjadi lebih segar dan pulih dari rasa lelahnya. Sangat beruntung Rangga memiliki skill yang demikian. Tapi rasa lapar masih dideritanya dan rasa haus juga masih melanda dirinya. Kenyataan skill Heal hanya bisa memperbaiki kondisi tubuhnya tidak dengan bisa memenuhi kondisi tubuhnya yaitu rasa lapar dan haus, walau Rangga tidak lagi mengalami rasa lelah lagi.
Rangga pun kembali bangkit dan mencoba lagi menjelajahi lorong waktu, mencari sesuatu yang bisa memenuhi kondisi tubuhnya. Kembali melompat lagi dari satu batu ke batu lainnya.
Waktu terus berjalan, siang dan malam telah berlalu, Rangga hanya tahu kalau sudah tiga hari dia berada dilorong waktu ini, dikarenakan karena ada hape yang menunjukan waktu, dan waktu standby baterai hapenya tersisa dua hari lagi, Rangga betul betul menghemat baterai hapenya yang dia fungsikan hanya untuk melihat waktu saja.
Selama tiga hari ini Rangga betul betul telah jauh dari titik awalnya, tapi tidak ditemukan juga sumber air sedikit saja, hanya mengandalkan skill Heal yang dia lakukan terus menerus ketika dia lelah dan itu terus dilakukan berulang ulang.
__ADS_1
Rasa lapar dan dahaga sepertinya sudah tidak tertahankan, lambung terasa terus melilit, meronta ronta untuk segara diisi dengan makanan, tenggorokan ingin basah oleh air.
Rangga kembali terduduk lemas disalah satu batu yang dia lewati dan kembali beristirahat dari pencarian air sekaligus mencari sesuatu yang bisa membawanya keluar dari lorong waktu ini.
“Heal...”
Rangga heran karena tidak ada perubahan yang terjadi pada dirinya, Rangga tidak segar kembali seperti yang sudah sudah.
“Heal...”
Tidak ada perubahan
“Heal...”
“Heal...”
“Heal...”
Berkali kalipun Rangga melakukan spell Heal tidak ada pengaruhnya pada dirinya, karena spell Heal sendiri gagal diperintah.
“Ini aneh?”
“Sistem.”
Nama : Rangga Grade E
Job : DemiGod
Level 7
HP 1700
____________________________________ 1700
MP 430
_____________________________________ 430
Tenaga dalam : 1876
Peringan tubuh : 83
\~\~\~\~\~
Kekuatan : 35 ( + 1876 )
Ketangkasan : 23 ( + 83 )
Daya tahan : 20
Insting : 27
__ADS_1
Kecerdasan : 20
\~\~\~\~\~
Poin 0
‘Dark Matter ‘ Tingkat A+
Tingkat penyatuan
4.6 %__________________________________
‘ Sesuai Kehendak ‘ Tingkat S
Tingkat penyelesaian
5.3 %___________________________________
Misi harian
Memancing ( 30 / 30 menit )
Push up ( 100 / 100 )
Berlari ( 10 / 10 km )
Peringatan
Akan ada sanksi jika gagal dalam penyelesaian misi harian.
Sisa waktu 00 : 00 : 00
Ruang Dimensi
( 7 / 9 )
Kotak Bipolar
Kristal Almerik
5135 Yar
342 gr Kar Stone
Kujang Alam Gaib
Koin Maung
Cincin Orion
“Mana Poinku masih tetap, dan masih ada MP nya, kenapa spell Heal bisa gagal?”
__ADS_1
Baca artikel Gerbang Hitam di
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam