Gerbang Hitam

Gerbang Hitam
Gapura Wringinlawang


__ADS_3

“Eh... ehm...“ terlihat Rangga bergumam sendiri seperti ingin berkata tapi tidak tahu apa yang akan dikatakannya.


“Ada apa Rangga?” tanya Mada kepada Rangga, sambil mereka melintasi ruang yang sulit untuk dijelaskan, seperti lintasan udara yang bergerak dengan cepat, karena cepatnya hanya terlihat garis garis yang berlari dengan berbagai warna.


“Tidak apa apa, bolehkan Rangga memanggil paman Mada?” tanya Rangga ragu ragu.


“Bisa, kau boleh memanggilku paman.”


“Ada dimana kita paman Mada?”


“Kita berada lintasan ruang yang kuciptakan untuk mempersingkat waktu tempuh untuk mencapai tujuan.”


“Tujuan? Memang kita mau kemana paman Mada?”


“Kita sedang menuju Gapura Wringinlawang di daerah japan, mungkin sekarang kalian menyebutkan Mojokerto.”


“Gapura Wringinlawang?, kita mau ke Mojokerto, Jawa timur?, apa bisa?”


“Ikuti saja aku, kau akan tahu sendiri Rangga.”


“Baik paman Mada, tapi boleh saya bertanya lagi?”


“Mau bertanya apa lagi Rangga?”


“Benarkan yang tadi memang Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran?” Sambil Rangga melihat kearah Mada. Mada sendiri juga melihat kearah Rangga juga. Sambil menarik nafas Mada berkata pada Rangga.


“Benar dialah raja dari kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi, dan aku sendiri adalah mahapatih Majapahit Gajah Mada, tapi itu dulu sekarang aku bukan lagi mahapatih.” Sambil menatap lurus kedepan lagi pandangan Mada, yang ternyata memang benara kalau yang dihadapan Rangga adalah mahapatih Gajah Mada. Rangga sendiri walau sedikit sudah menduganya tapi hal ini benar benar membuat terkejut serta membingungkannya, itu merupakan waktu yang lama sekali apa bisa umur manusia menjangkaunya?, kebingungan terlihat jelas diwajah Rangga.


“Tidak usah heran Rangga, nanti juga kau akan mengalaminya, jika pencapaianmu tinggi kau bisa memanfaatkan aliran manamu untuk kau salurkan keseluruhan jaringan tubuhmu.” Mada mencoba menjelaskan kepada Rangga.


“Tapi apa itu bisa menjaga tubuh dan memperpanjang umur manusia?”


“Hehehe... kau bisa melihat contohnya dengan mata kepalamu sendiri, buktinya tepat berada didepanmu.” Sambil melipat kedua lengan tangannya di dadanya sendiri.


“Tapi, kok bisa.” Rangga masih tidak percaya.


“Mungkin Rangga masih bisa paham dengan paman Mada yang merupakan Pejuang, tapi bagaimana dengan Prabu Siliwangi? Apakah Prabu Siliwangi Pejuang atau bukan karena apa yang Rangga pahami dan dengar tadi seorang Pejuang tidak memiliki tenaga dalam.”


“Prabu Siliwangi bukan Pejuang.”


“Loh...?” Rangga jadi bingung kembali.


“Apakah kau perhatikan apa yang dikenakan olehnya?”

__ADS_1


“Maaf, tapi Rangga tidak memperhatikan sama sekali apa yang dikenakan oleh Prabu Siliwangi.”


“Cincin, sabuk, senjata ataupun Mahkota yang dikenakan merupakan artefak tingkat tinggi yang bisa dikategorikan kedalam tingkatan pusaka, yang berfungsi untuk menyerap aliran mana yang ada disekelilingnya yang jangkaunya sangat luas sekali, serta menyimpan mana tersebut dan bakal diserap oleh orang yang menggunakan artefak tersebut.” Jelas Mada.


“Bahkan kujang yang diberikannya kepadamu juga merupakan jenis artefak tingkat pusaka walau belum sempurna senjata kujangnya, tapi aku jadi teringat tentang sistem terdahulu yang kau katakan, bisa kau beritahu kepadaku Rangga?”


“Hmm...” sedikit bergumam Rangga mencoba untuk menjelaskan sistem terdahulu yang diketahuinya.


“Sistem terdahulu bisa mengupgrade, maksud Rangga meningkatkan sistem Pejuangku paman Mada.”


“Jadi memang benar seperti itu.” Sepertinya Mada sendiri mengenal betul tentang sistem terdahulu.


“Ah...” terlihat helaan nafas yang keluar dari Mada, seperti teringat akan sesuatu hal yang menyakitkannya.


“Tapi paman Mada, sistem rangga juga mendeteksi ada sistem terdahulu ketika Abaddon mencul dihadapan Rangga.”


“Apa?” Sedikit terkejut Mada.


“Apa cincin itu ya?” gumam Mada.


“Bisa jadi.” gumamnya lagi.


“Ada apa paman Mada?” tanya Rangga.


“Tidak apa apa, kita hampir sampai.” Sekilas Mada menggerakkan tanganya dan tiba tiba digenggammannya sudah ada sebuah koin perak yang memiliki motif kepala macan didepannya.


“Apa ini paman?”


‘Anda menerima coin Maung x 1’


“Sebenarnya itu koin pemberian Prabu Siliwangi kepadaku, tapi sepertinya lebih berguna kepadamu jadi aku serahkan koin itu, ketika ada waktu berkunjunglah ke hutan gunung Ciremai, dan ini ambil juga.” Sambil Mada melemparkan sebuah kantong seukuran dua genggaman pria dewasa tang terbuat dari bahan kulit binatang.


“Gunakan dengan sebaik baiknya Rangga.”


‘Anda menerima 5000 Yar’


Walau ingin banyak kata yang ingin diucapkan oleh Rangga atas semua pertolongan dan juga pemberian dari Mada yang pasti akan berguna untuk kedepannya.


“Terima kasih paman Mada.”


Madapun menganggukkan kepalanya.


Dan pada saat itu juga lintasan ruang melambat dan berhenti.

__ADS_1


“Kita sudah sampai Rangga di gapura Wringinlawang.”


Pandangan Rangga tertuju pada bangunan batu yang tersusun rapi membentuk sebuah gapura berbentuk pintu gerbang. Ketika Rangga mengalihkan pandangannya kearah samping gapura tersebut terlihat sesosok pria paruh baya, dengan tubuh agak membuncit dengan ketinggian tubuh tidak terlalu tinggi. Sebenarnya tidak paruh baya melainkan hampir mendekati lanjut usia, tapi masih kelihatan tanda tanda kalau sebenarnya dia masih bisa bergerak dengan mudah, itu terlihat ketika pria itu bergerak menyambut kami dengan ringan.


“Kau sudah datang Mada.”


“Iya Naya.“ Terlihat Mada menghampiri seseorang yang menyambutnya.


“Dan segera kita lakukan apa yang sudah kita rencanakan Naya.”


“Apa kita tidak menunggu Siliwangi?”


“Sepertinya Siliwangi tidak bisa hadir, walaupun bisa hadir itu bisa terlambat, saya tidak ingin mengambil resiko Naya.”


“Ada apa sebenarnya Mada?”


“Siliwangi sedang bertarung dengan Abaddon, dan mengulur waktu agar saya bisa sampai kemari Naya.” Mada mencoba menjelaskan secara singkat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan tak lama orang yang dipanggil Naya itu mengalihkan pandangannya kepada Rangga.


“Diakah orangnya Mada?” Sambil Memperhatikan dengan teliti Rangga dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Hmm... Sama sekali tidak mengecewakan.” Sambil mengangguk anggukan kepalanya terlihat tanda kepuasan yang tercermin dari matanya.


“Hai anak muda siapa namamu?”


Rangga yang tiba tiba ditanya oleh orang itu langsung maju kedepan dan memberi hormat kepada orang itu.


“Rangga, eyang.” Jawab Rangga tegas dan memanggil orang tersebut dengan eyang. Dan Naya sendiri ketika dipanggil eyang oleh Rangga tidak mengambil pusing dan cenderung membiarkannya.


“Apa kau tau kenapa kau dibawa Kamari?”


“Tidak tahu, eyang.”


Naya langsung menoleh kepada Mada. Mada yang merasa seperti ditanya oleh Naya langsung memberikan penjelasan.


“Waktu yang membatasi kami Naya.”


Terlihat helaan nafas keluar dari mulut Naya.


“Eyang hanya bisa menjelaskan secara singkat apa tujuan kamu dibawa kemari, dan mengenai semua apa yang terjadi termasuk sistem Pejuang bisa kau ketahui nanti, tapi intinya kami akan kirim engkau kemasa lalu, tepatnya sepuluh tahun yang lalu dari sekarang.”


“Maksudnya eyang?” Tanya Rangga penuh kebingungan, karena ini merupakan hal yang aneh juga membingungkan, mengirim kemasa lalu, apa bisa?. Hati dan pikiran Rangga terus bertanya tanya.


“Mungkin kau sedikit heran, tapi dengan media bantuan gapura Wringinlawang itu semua bisa dilakukan.”

__ADS_1


“Tapi, itu, gapura...” kata kata yang keluar dari mulut Rangga menandakan ketidakpercayaan mengenai mengirim dirinya kemasa lalu.


https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam


__ADS_2