Gerbang Hitam

Gerbang Hitam
Lorong Waktu 1


__ADS_3

Suara alaram tanda bahaya saling tumpah tindih, suara serine baik yang keluar dari mobil kepolisian, pemadam kebakaran ataupun ambulan sahut bersahutan, suasa sangat tidak kondusif. Korban berjatuhan yang terluka tidak terhitung akibat bekas pertempuran antara Pejuang tinggi.


Keadaan rumah Rangga yang sudah hancur lebur rata dengan tanah. Bahkan ada lubang besar disekitarnya karena bekas pertempuran tadi. Daerah sekitarnya juga terkena imbasnya, walau rumah Rangga agak jauhan dari rumah tetangga tetapi tetap saja kena imbasnya, banyak rumah rumah yang berhancuran.


Semua orang pada sibuk, Badan penanggulangan bencana Indonesia bahkan sudah mengambil alih dan mengkoordinir semua perangkat aparat, baik dokter, polisi, tentara bahkan para Pejuang telah bergerak dan melakukan pertolongan, terutama untuk kelas Supportnya yang sibuk menyembuhkan orang orang yang terluka.


Isak tangis keluar dari orang yang keluarganya, kerabatnya yang meninggalkan. Banyak yang menyesali kenapa ini terjadi bahkan pikiran semua orang langsung tahu bahwa sejak adanya gerbang portal bencana ini terjadi, mereka tidak tahu bahwa bencana ini terjadi karena pertarungan antar Pejuang tingkat tinggi.


“Kalian berdua, tinggalkan segera tempat ini, tempat ini sangat berbahaya.” Terdengar ucapan dari seorang tentara kepada kedua orang perempuan yang berada disekitar rumah Rangga yang telah hancur.


“Maaf pak, kami sedang mencari teman kami yang tinggal disini.” Ujar salah seorang yang ditegur tadi.


“Area ini sudah tertutup untuk warga dan agar segar diberi garis polisi.” Tentara itu sedang memanggil temanya yang sedang pita berwarna kuning.


“Sebentar saja pak, biarkan kami sebentar saja mencari teman kami.” Sambil dia melihat kearah temannya yang matanya berkabut karena air mata yang ditahannya.


“Sabar Shinta, kita pasti akan temukan Rangga, Rangga itu Pejuang dia pasti selamat.” Ternyata kedua orang tersebut adalah Dewi dan Shinta dan mereka berdua sedang berupaya mencari Rangga karena mengetahui hiruk pikuk yang terjadi dilingkungan tepat Rangga tinggal dan segera menuju kesana, namun setelah sekian lama mencari mereka tidak juga menemukan Rangga hingga terkena teguran dari aparat yang bertanggung jawab.


“Shinta... Rangga itu kuat dia pasti selamat.” Ucapan harapan terus diucapkan kepada Shinta, agar Shinta tidak khawatir. Dewi juga sebagai temannya juga merasa khawatir walau dia tahu sebenarnya rasa khawatir Shinta berbeda dengannya, Dewi paham akan perasaan Shinta kepada Rangga, walau kalau mereka sedang bertemu sering meledek.


“Sersan Tono, apa kau sudah memeriksa lokasi ini?”


“Siap komandan. Sudah.”


“Apa kamu temukan warga disini?”


“Siap komandan. Tidak ada.”


“Segera isolasi.”


“Siap komandan. Siap.” Segera sersan Tono memasang pita berwarna kuning yang dibawanya, mengelilingi area yang berdampak cukup parah terutama dengan lubang kawah yang cukup lebar diameternya ditengah tengah lokasi.


“Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini.”


“Pak, saya Pejuang bolehkan kalau kami tetap disini sebentar saja?” Kata Dewi.


“Kamu Pejuang? Kelas apa?”


“Support.”


“Kenapa tidak segera bergabung dengan yang lainnya, tahukah saudari kalau kita sangat membutuhkan kelas support untuk membantu yang terluka, sudah banyak kelas Support dan Priest yang kehabisan mananya, dan lokasi disini sudah diperiksa tidak ada warga yang tertinggal disini.”


“Terima kasih pak atas pemberitahuannya. Baik pak, saya akan segera bergabung, tapi bisahkah kami sejenak disini.” Pinta Dewi.


“Baik, aku bari waktu lima menit.”


“Terima kasih pak.”


“Dan segera melapor kepos darurat untuk segera bergabung.”


“Baik pak.” Kata Dewi.


Segera tentara tersebut meninggalkan Shinta dan Dewi.


“Shinta...” panggil Dewi.


“Apa Rangga baik baik saja Wi?”

__ADS_1


“Tentu saja dia baik baik aja Shinta.”


“Aku coba beberapa kali telp dan kirim pesan tidak ada balasan atau diangkat Wi.” Sambil Shinta menahan air matanya.


“Ntar juga besok Rangga kasih kabar Shin, tenang aja Shin.” Hibur Dewi lagi.


Pandangan Shinta tertuju pada lubang kawah yang tercipta karena bekas pertarungan sebelumnya. Shinta pun memeluk Dewi dengan kuat, tapi perlahan lahan pelukan Shinta semakin melemah, terduduk dan bersandarkan dengan kedua lututnya.


...****************...


Rangga tidak tahu apa yang terjadi dengannya atau dimana dia sekarang, yang dia tahu dia berada ditempat seperti layaknya terowongan, sama halnya ketika dia dengan Mada pergi ke gapura Wringinlawang, yang membedakannya bentuk terowongan yang dia jalani jauh lebih besar kira kira ukuran dengan diameter lebih dari 20 meter. Dan terowongan walaupun tidak ada sumber cahaya tetapi area sekeliling Rangga terlihat dengan jelas.


“Apa ini terowongan waktu yang pernah dijelaskan oleh eyang Naya?”


“Akhh...” Rangga berteriak kaget ketika dia melihat tanganya yang memegang potongan sebuah tangan dan dia langsung teringat kalau tangan yang putus yang dipegangnya merupakan tangan milik Abaddon, diperhatikan terus tangan yang dipegangnya terutama salah satu jari tengah yang memiliki satu buah cincin yang melingkarinya.


“Kenapa tidak ada notifikasi sistem terdahulu, apa ini bukan itemnya?” Rangga tenggelam dalam pikirannya, hingga diputuskan untuk menundanya sementara sambil mencari lokasi yang memadai.


Terowongan waktu yang terlihat sekeliling cukup jelas ternyata banyak terdapat batu batuan berbagai macam ukuran yang juga melayang dan bergerak maju. Dan Rangga sedang berdiri disalah satu batu dengan ukuran besar yang ada disitu.


Batu batu yang terdapat di terowongan waktu ini juga memiliki berbagai macam jenis, itu terlihat dari berbagai macam warna yang terdapat dari batu tersebut. Warna batu yang menjadi pijakan Rangga adalah warna coklat kehijauan.


Iseng iseng Rangga mencoba memukul batu yang menjadi pijakannya.


Dukk...


“Awww...”


”keras sekali batunya.”


“Apa aku tidak cukup kuat?”


“Status.”


Status


Nama : Rangga Grade E


Job : DemiGod


Level 7


3700_______/ 5300


HP 1700


____________________________________ 1700


MP 430


_____________________________________ 430


Tenaga dalam : 1876


Peringan tubuh : 83


\~\~\~\~\~

__ADS_1


Kekuatan : 35 ( + 1876 )


Ketangkasan : 23 ( + 83 )


Daya tahan : 20


Insting : 27


Kecerdasan : 20


\~\~\~\~\~


Poin 0


‘Dark Matter ‘ Tingkat A+


Tingkat penyatuan


4.6 %__________________________________


‘ Sesuai Kehendak ‘ Tingkat S


Tingkat penyelesaian


5.3 %___________________________________


Misi harian


Memancing ( 30 / 30 menit )


Push up ( 100 / 100 )


Berlari ( 10 / 10 km )


Peringatan


Akan ada sanksi jika gagal dalam penyelesaian misi harian.


Sisa waktu 00 : 00 : 00


Ruang Dimensi


( 6 / 9 )


Kotak Bipolar


Kristal Almerik


5135 Yar


342 gr Kar Stone


Kujang Alam Gaib


Koin Maung


Rangga pun mengecek statusnya, baru kali ini dia mengecek status setelah Prabu Siliwangi memberikan tambahan tenaga dalamnya. Dirasa keadaan pada saat ini cukup tenang, disamping mengecek statusnya Rangga juga mulai mengecek cincin dan juga tangan Abaddon yang darahnya sudah mulai mengering.

__ADS_1


Baca artikel Gerbang Hitam di


https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam


__ADS_2