
Tak bergerak sama sekali, apakah Rangga sudah mati atau tidak, atau jatuh pingsan. Tak berapa lama jari jari tangannya mulai bergerak, tangan kanannya yang masih memegang kujang alam gaib masih tergenggam kuat ditangannya seperti tidak mau terlepas darinya.
Rangga mulai bangkit, perlahan lahan...
Namun rasa sakit yang dideritanya langsung dia rasakan.
Akhh...
Terdengar erangan lirih dari mulutnya, rasa sakit yang sangat luar biasa terutama luka dari pahanya, seperti ada luka bakar akibat serangan dari lawannya tadi.
Mencoba bangkit namun terjatuh lagi, karena kujang alam gaib berada ditangannya maka penyerapan mana disekelilingnya mulai terisi perlahan lahan, tapi sepertinya Rangga tidak berpikir untuk menunggu meregenerasi mana miliknya, karena matanya tertuju pada gerbang portal yang tercipta oleh mahkluk mirip kelinci tadi.
Sadar kalau gerbang portal itu adalah kesempatan untuk keluar dari lorong waktu. Dengan tertatih tatih Rangga bangkit dan berjalan kesana.
“Heal...”
Rangga langsung menggunakan spell pemulihan diri ketika dirasa mana nya sudah terisi sedikit. Ternyata berhasil, mana yang dimilikinya bisa bereaksi dan mulai menyembuhkan dirinya, tapi karena luka yang dideritanya cukup parah, spell Heal tidak cukup sekali menyembuhkannya, butuh beberapa kali, tapi Rangga tidak punya banyak waktu.
Dengan pemulihan diri yang seadanya Rangga menuju ke arah gerbang portal. Melompat ke batu yang satu dengan batu yang lainnya yang bisa membahayakan dirinya karena tumpuan kaki yang kurang kuat untuk mendorongnya, bahkan sesekali hampir terjatuh, tapi Rangga menguatkan dirinya, sudah lama sekali dia terjebak disini, Rangga ingin keluar dari lorong waktu.
__ADS_1
Akhirnya dirinyapun sampai ke gerbang portal setelah perjuangan berat untuk menuju kesana.
Setelah sampai di depan gerbang portal tersebut nyatanya Rangga tidak segera melompat, pandangannya mengarah kearah kedua mahkluk yang mirip kelinci itu terkapar.
Dilihatnya salah satu mahkluk itu telah duduk sambil memangku temannya yang terbaring yang sudah tidak bergerak lagi.
Didorong rasa kemanusiaan dan juga karena gerbang portal itu merupakan buatan mereka Rangga beralih menuju kedua mahkluk itu.
Perlahan dan pasti dan juga melalui perjuangan kesana Ranggapun tiba dihadapan kedua mahkluk itu.
Mahkluk itu hanya diam saja ketika Rangga mendekat, Rangga pun memperhatikan kedua makhluk yang mirip kelinci tersebut, tanpa diberitahukan atau memeriksa kondisi tubuh mahkluk itu Rangga tahu kalau salah satu dari mereka yaitu yang dipangku telah mati. Hanya yang duduk saja masih hidup, itupun sudah terluka cukup parah dan juga tatapan wajah sedih.
“Heal...”
Mahkluk yang mirip kelinci yang menerima spell Heal Rangga langsung menatap Rangga, matanya yang sedih berubah seperti mata yang menyelidiki rangga dengan tajam, kenapa manusia ini yang terluka juga tidak melakukan spell Heal untuk dirinya tapi malah memberikan untuknya. Rangga hanya diam saja.
“Eeik.. eikk...” terdengar suara dari Mahkluk itu.
Rangga sana sekali kurang paham apa yang dikatakan mahkluk itu. Mahkluk itu juga paham kalau manusia ini sana sekali tidak paham akan perkataannya.
__ADS_1
Entah dari mana tangan mahkluk itu telah memegang sesuatu ditangannya, yaitu setangkai bunga jenis rerumputan yang Rangga pahami tapi Rangga tidak tahu jenis tumbuhan bunga apa itu. Tumbuhan bunga yang sekilas Rangga liat berwarna merah darah yang hanya memiliki kelopak tiga saja.
Mahkluk itu langsung menyerahkan pada Rangga sambil tangannya mengerak gerak seperti memberikan instruksi, sekali kali mengarahkan bunga itu ke tubuhnya sambil merendahkan sedikit tangannya, dan dilakukan secara berulang ulang.
Rangga mulai sedikit paham kalau dia harus menyerahkan bunga ini ke mahkluk yang lebih Kecil, kemungkinan adalah anak mereka.
Ketika bunga itu ditangan Rangga, Rangga bingung untuk menyimpannya dimana? Tidak mungkin harus dipegang terus, jika dipegang terus kemungkinan bunga tersebut akan rusak, Untungnya makhluk itu paham apa yang dibingungkan oleh Rangga. Mahkluk itu lantas menyalurkan energinya terhadap bunga tersebut dan membungkusnya dengan energi itu dan tak lama bunga itu membeku keras dengan sendirinya didalam sebuah lingkaran energi yang tercipta.
Kemudian mahkluk itu juga menyalurkan energinya kepada Rangga juga. Rangga perlahan lahan menunjukan kesembuhan atas luka yang dideritanya dan seperti tenaganya kembali pulih, tapi tidak dengan mahkluk itu. Kebalikannya terjadi, perlahan dan pasti kelelahan terjadi, luka yang dideritanya semakin parah. Akhirnya mahkluk itupun mati menyusul kawannya yang telah mati duluan. Apa yang dilakukan mahkluk itu adalah menyalurkan sisa sisa energi kehidupannya kepada Rangga, dan Rangga sedikit paham apa yang dilakukan mahkluk itu walau sistem tidak memberitahukannya dan pengalaman Rangga akan Pejuang sangat minim, tapi Rangga tahu apa yang terjadi.
Rangga memandang dua jasad tubuh mahkluk yang mirip dengan kelinci yang dia baru dia ketahui dengan pandangan haru dan sedih. Dua Mahkluk yang mempunyai ikatan sangat kuat yang hidup dan mati bersama.
Sambil membawa setangkai bunga jenis rerumputan yang membeku dan dilapisi oleh energi dari Mahkluk itu Rangga pun segera beranjak dari sana, sebentar saja Rangga sudah sampai ke gerbang portal, Ranggapun mengedarkan seluruh pandangannya disekeliling dilorong waktu, lorong waktu yang ditinggali cukup lama yang mengisi hari hari sepinya. Ranggapun segera melompat kedalam gerbang portal tersebut. Dan gerbang portal itupun langsung menghilang seketika.
Menghilangnya gerbang portal tersebut bersamaan dengan munculnya seseorang yang hadir dari kamuflase kasat mata sambil mengibaskan tanganya. Seseorang yang bisa menahan gerbang portal untuk tidak segera menghilang ketika tercipta. Seseorang yang muncul sambil memegang kotak bipolar ditangan kirinya. Seorang pria berumur, berambut panjang sebahu, berperawakan gagah, memakai jubah dan juga berikat kepala.
“Cucumu sudah besar temanku, sayangnya kau tidak bisa melihat lagi ketika dia akan menjadi Pejuang yang sangat hebat.” Sambil mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan suara bergemelatuk menandakan amarah yang meluap luap.
Selesai berbicara sendiri orang itupun membuka kotak bipolar, kotak bipolar yang telah kosong karena kristal Almeriknya ada ditangan Rangga, tapi dia tidak kecewa karena tujuan sebenarnya adalah kotak itu, sambil menjepit kotak bipolar dengan kedua telapak tangannya dari atas dan bawah dan sekejap itu juga melepaskan jepitan kedua tangannya dengan jarak sejengkal lebih hingga kotak bipolar itu mengambang diantaranya kedua telapak tangannya. Saat itu juga muncul tujuh lapis lingkaran sihir kecil dengan pola sangat rumit.
__ADS_1
Tak lama kemudian muncul sebuah apel dari dalam kotak bipolar, buah apel yang berwarna merah pekat, tapi buah apel itu hanya tinggal separuh saja, setelah melihat buah apel itu dengan seksama dan memastikannya, diapun tersenyum puas dan segera mengembalikan kembali kedalam kotak bipolar lagi dan menguncinya dengan lingkaran sihir lagi.
Pria itupun segera menghilang dari lorong waktu, tak lupa dia mengibaskan tanganya ke arah kedua mahkluk yang mirip kelinci tadi. Bersamaan dengan menghilangnya dia, jasad kedua mahkluk itupun berubah menjadi debu debu yang beterbangan.