Gerbang Hitam

Gerbang Hitam
Waktu


__ADS_3

Ternyata memang benar apa yang menjadi perkiraan Rangga. Mana...


Rangga kehabisan mana yang menyebabkan dia tidak bisa melakukan sesuatu baik itu skill atau spell yang menggunakan mana. Dugaan dia lebih lanjut adalah kesalahan sistem yang tidak merespon suatu perubahan yang terjadi pada dirinya. Tingkat respon sistem sangat terbatas, apakah karena dipengaruhi keberadaannya yang berada dilorong waktu atau ada hal yang lainnya.


Tetapi Rangga tidak terlalu ambil pusing dengan sistemnya, selama dia bisa memanfaatkan dan menggunakan mana, tidak akan menjadi suatu masalah.


Beberapa saat kemudian air tidak menjadi masalah, es yang berasal dari spell telah mencair menjadi tetesan air, sedikit demi sedikit akhirnya tenggorokan yang telah tiga hari tidak basah karena tidak minum, basah kembali.


“Segarnya...”


Sejenak Rangga bisa santai sedikit tanpa harus berpikir akan kehabisan air, dengan bantuan dari penyerapan mana yang dilakukan oleh kujang alam gaib Rangga bisa bernafas dengan lega.


Namun tiba tiba Rangga diam sejenak, dan perlahan lahan melakukan posisi bersila kembali, perlahan lahan mengatur nafasnya dan mulai tenggelam dalam semedinya lagi, dan kujang alam gaib masih tetap dipangkuannya dan terus mengumpulkan mana disekitarnya. Mana yang kebanyakan diserap oleh kujang alam gaib itu bukan dari bebatuan walaupun ada, tapi kebanyakan mana yang diserap berasal dari dinding lorong waktu itu sendiri. Kemungkinan dinding lingkaran yang membentuk lorong waktu tersebut terbuat dari kumpulan mana yang sangat besar, besar sekali tak akan pernah habis.


Seiring waktu berjalan Rangga tidak hanya melatih meningkatkan tenaga dalamnya dengan bersemedi tapi sekaligus juga tanpa dia sengaja, Rangga sedang memanipulasi mana sekaligus. Mana dan tenaga dalam saling menyatu mengalir dengan lembut keseluruh tubuhnya, keseluruh jaringan tubuhnya bahkan kebagian yang terkecil yaitu sel sel ditubuh Rangga dialiri oleh mana dan tenaga dalam yang tidak bertentangan, saling mengisi satu dengan yang lainnya.


Mana yang mengalir masuk kedalam tubuh Rangga menstimulasi inderanya jauh lebih tajam. Mengatur jaringan tubuhnya, organ organ tubuhnya menjadi lebih baik, paru parunya, ginjalnya, ususnya bahkan lambungnya yang dari kemarin melakukan kontraksi perlahan lahan mulai diam, mengatur dan menyehatkan jaringan sel dan juga hormon ditubuhnya. Pikiran Rangga menjadi tenang, pikiran pikiran yang yang dipikirkan perlahan sirna, menenangkan jaringan yang membebani otaknya.


Proses dari awal hingga Rangga tanpa sadar telah melakukan manipulasi mana, mengatur mananya untuk dirinya sendiri tidak sebentar, karena Rangga tanpa sadar telah melakukan semedi selama lebih dari dua minggu tanpa disadarinya.


Nafasnya masih teratur dengan tenang walau durasi tarikan nafasnya sangat panjang antara tarikan nafasnya dengan tarikan nafas selanjutnya lebih dari satu menit dan mengeluarkan nafasnya juga sangat pelan dan juga lembut. Rangga telah menyatu dengan alam disekitarnya, ini bukan karena dia inginkan tapi ini merupakan paksaan akan keadaan yang dia hadapi. Terjebak akan keadaannya sendiri.

__ADS_1


Perlahan lahan setelah dua minggu lebih Rangga melakukan semedi, Rangga pun membuka matanya. Melihat situasi disekelilingnya yang tidak berubah sama sekali, bongkahan batu yang ditempatinya masih bergerak dengan pelan.


Mengambil hapenya untuk mengecek waktunya ternyata hapenya telah padam, padahal Rangga ingat masih ada sisa waktu standby hapenya dua hari lagi. Rangga sendiri paham apa yang terjadi, dia telah melakukan semedi lebih dari dua hari. Rangga segera berdiri sambil tangannya terus menggenggam kujang alam gaib ditangan kanannya, memperhatikan kujang dan juga mengepalkan tangan kirinya merasakan kondisi tubuhnya yang segar dan tidak merasakan lapar lagi, sangat berbeda sekali ketika dia melihat kakeknya selesai melakukan semedi, walau kakeknya selesai melakukan kondisi pikirannya menjadi tenang tapi tidak dengan kondisi tubuhnya yang mengalami penurunan daya tubuh akibat lama melakukan semedi, tapi liat kondisi tubuhnya yang masih segar bugar. Rangga tidak tahu kalau selama kondisi semedi tanpa disadarinya dia telah memanipulasi mana disekitarnya untuk dirinya berkat bantuan kujang alam gaib.


Seperti tercerahkan Rangga tiba tiba mengerakkan tubuhnya, menggerakkan tangan dan juga kakinya, memukul serta menendang, gerakannya kalau diperhatikan layaknya orang yang sedang melatih ilmu bela diri. Gerakan gerakan tersebut terus dilakukannya, gerakan bela diri yang pernah diajarkan oleh kakeknya, bajunya pun telah basah oleh keringatnya sendiri.


Seiring berjalannya waktu kegiatan Rangga hanya melatih ilmu beladiri, semedi dan tudur dan kegiatan tersebut selalu silih berganti.


...****************...


Braakkk...


Duarrr...


“Thunder Slash Spear...”


Sebuah batu yang berukuran satu jengkal lebih Berbentuk layaknya panah melesat dengan cepat, batu tersebut langsung meninggalkan kilatan kilatan petir dibelakangnya, walaupun yang dilemparkan oleh Rangga adalah batu namun yang terlihat adakah kilau cahaya terang yang sangat cepat yang mampu untuk menyilaukan mata yang melihatnya.


Zing...


Desh...

__ADS_1


Batu yang menjadi sasaran dari batu yang dilemparkan oleh Rangga langsung jebol bahkan tembus ke bongkahan batu yang ada dibelakangnya, padahal ketebalan batu itu satu meter lebih dan sangat keras kualitas batunya.


Rangga pun mengambil kembali batu yang hampir sama bentuknya dari yang pertama dan langsung melemparkannya kembali disertai dengan skill yang sama.


“Thunder Slash Spear...”


Rangga kembali mengulang lemparan batu lagi, namun kali ini kilatan petir tidak ada, kilau cahaya juga tidak ada, yang ada hanyalah sebuah batu yang melesat dengan cepat kearah bongkahan batu yang terkena lemparan sebelumnya. Dan batu itupun hanya menancap dan terjebak di bongkahan batu sedalam 30 cm lebih.


“Ternyata gagal, kenapa pemakaian skill yang kugunakan semakin berkurang saja terus...” lirih Rangga, sambil rangga mengeluarkan kujang alam gaib nya, selang beberapa menit Rangga pun mengambil kembali batu yang berukuran sejengkal kembali dan melemparkannya.


“Thunder Slash Spear...”


Zing...


Batu yang dilemparkan Rangga tadi langsung menjebol bongkahan batu yang menjadi targetnya disertai dengan sisa sisa kilatan petir yang terlihat.


Hampir tiga tahun lebih disamping Rangga melatih ilmu bela dirinya sekaligus melatih tenaga dalamnya dengan semedi. Rangga juga sering menggunakan skill Thunder Slash Spear nya untuk melatih kemampuan akurasinya untuk mengenai target tanpa menggunakan skill lock dari Archer.


Tak disangka seiring waktu berlalu kemampuan untuk melakukan skill tersebut semakin berkurang dari 14 kemudian 10, turun dan turun terus hingga sekarang hanya mampu melakukan sekali saja sebelum mana dipulihkan kembali oleh kujang alam gaib.


Baca artikel Gerbang Hitam di

__ADS_1


https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam


__ADS_2