
‘Ketika gelar Pejuang Tangguh digunakan, Regenerasi Mana meningkat 5% setiap 1 detik dan Mana Poin meningkat 50%’
“Thunder Slash Spear.”
DemiGods
Thunder Slash Spear 30 MP
Tombak yang dilempar oleh Rangga melesat dengan kecepatan kilat, bukan hanya kecepatan seperti kilat tetapi tombak itu benar benar memiliki kandungan petir didalamnya, tombak yang langsung mengarah ke goblin shaman melaju tanpa hambatan, bahkan para goblin yang berada dalam lintasan tombak tersebut langsung tertembus dan tewas.
“Aaaakkhhhhhh...”
Teriak kesakitan keluar dari mulut goblin shaman tersebut, darah keluar dari bagian dada kirinya, sebuah tombak tepat menghunjam dadanya. Pelindung yang diciptakan olehnya tampak tak berarti apa apa, pelindung yang sebelumnya tangguh seperti gunung menahan serangan Bu Ratna dan Pejuang lainnya tertembus layaknya sebuah lembar kertas yang ditembus oleh sebuah pena.
‘Selamat anda telah berhasil mengalahkan boss dungeon dan menutup dungeon break’
‘Menganugerahkan setiap Pejuang sesuai dengan kontribusinya’
‘Naik level’
‘Naik level’
‘Naik level’
Notifikasipun bermunculan dihadapan Rangga memberitahukan akan keberhasilannya mengalahkan boss dungeon dan menutup dungeon break serta kenaikan levelnya.
Anda mendapatkan
135 Yar
342gr Kar Stone
Teriakan membahana seketika keluar dari semua orang yang ada disana baik itu Pejuang atau bukan. Sebuah teriakan euforia yang tak terbendung, wajah-wajah yang sebelumnya hampir berputus asa kini kembali bersemangat kembali apalagi semua Pejuang mendapatkan notifikasi keberhasilan mereka. Semua pandangan tertuju pada sesosok pemuda yang tak lain adalah Rangga.
Bu Ratna yang sudah nampak kelelahan di wajahnya menghampiri Rangga.
“Kita berhasil Rangga.”
“Iya Bu, kita dan lainnya berhasil mengatasi dungeon break, kalau kita gagal bakal banyak orang orang yang menjadi korban.”
“Terima kasih untuk semua para Pejuang dan pihak keamanan baik itu dari kepolisian atau tentara yang telah berjuang demi kelangsungan hidup manusia, tanah air kita.” ucapan terima kasih diucapkan oleh Bu Ratna kepada seluruh yang hadir dilapangan merdeka.
Bu Ratna lantas menyuruh Ira untuk mengkoordinasi ulang semua anggota yang ada, yang terluka maupun yang tewas dalam pertempuran.
“Bu, gerbang portal sepertinya belum hilang sebelum 10 menit berlalu, saya melihat anda angkat mundur kurang dari 8 menit lagi yang berwarna hijau, Ira rasa kita harus melihat perkembangan 8 menit lagi, apa yang akan terjadi”
__ADS_1
“Semuanya bersiap kembali, atur formasi, bersiaga.”
Semua yang ada baik Pejuang atau bukan mengatur formasi seperti dalam pertempuran sebelumnya, Rangga juga bersiaga penuh menanti sesuatu yang tidak diketahui.
Semua wajah wajah menunjukan kembali ketegangan, tangan tangan terkepal erat, mengatur nafas setenang mungkin.
“Hilang...”
“Gerbang portal itu menghilang.”
Perlahan lahan gerbang portal merah itu memudar dan dalam hitungan detik langsung menghilang.
“Yeaahhhh...”
“Yeahhhhhhhhh...”
Teriakan membahana kembali terulang tatkala gerbang portal tersebut menghilang keseluruhan, suka cita kembali mengukir wajah wajah yang sebelumnya tegang.
Rangga yang memandang sekeliling lapangan merdeka yang sudah hancur karena pertempuran sebelumnya menghela nafasnya, melihat jam tangannya yang hampir menunjukan angka 12 malam. Berpamitan dengan Bu Ratna, Rangga segera kembali kerumahnya, dan Bu Ratna kembali menawarkan keikutsertaan Rangga dalam satuan khusus yang akan dibentuk nanti dan mengabaikan kalau Rangga bukan merupakan anggota keamanan negara baik itu polisi atau tentara.
Rangga langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya ketika sampai dirumahnya, pengalaman yang ia rasakan tadi merupakan sesuatu yang diluar perkiraan, jauh lebih besar. Pertempuran, kata kata itu terus mengiang ditelinga Rangga membuatnya terus berpikir apa yang akan terjadi selanjut kan di dunia yang ia tempati, dunia yang terpilih menjadi Medan pertempuran.
“Status.”
Rangga pun membuka status untuk mengecek hasil dari pertempuran sebelumnya, juga kenaikan kenaikan statnya.
mengecek diskripsinya.
Yar merupakan mata uang sistem.
342gr Kar stone
Batu untuk membuat alat-alat.
Didapat dengan cara menambang.
Agak lama Rangga membuka statusnya seperti mempelajari apa itu Yar atau Kar Stone, kalau ada mata uang apa bisa dilakukan transaksi?, bagaimana dengan mata uang dunia...?
Malam semakin larut, Rangga yang tidak bisa tertidur akibat banyaknya pikiran yang ia pikirkan mencoba menenangkan diri keluar rumah melihat cahaya bulan, bulan yang bulat sempurna. Dengan cahaya sinar purnamanya yang indah dan lembut membuat rasa tenang dihati Rangga, lama Rangga memandang bulan yang berada diatas langit malam.
“Huff...” helaan nafas keluar dari mulut rangga entah apa yang ada dipikirkannya, Rangga pun segera berbalik masuk kembali kedalam rumahnya.
‘Peringatan... ditemukan portal dengan keberadaan khusus’ sebuah jendela notifikasi muncul dihadapan Rangga memberitahukan kalau muncul sebuah gerbang portal. Hal itu mengejutkan Rangga dari pikirannya. Peringatan tidak berhenti disitu saja
’Sebuah sistem peninggalan terdahulu terdeteksi’
__ADS_1
‘Mengaktifkan sistem deteksi
ya Tidak ‘
“Keik...Keik... ketemukan kau”
Segera Rangga menoleh kearah sumber suara yang berada diatas ketinggian tepat dibelakangnya, sebuah gerbang portal hitam muncul, keberadaan gerbang portal hitam yang menjadi tujuan hidup Rangga karena dia tahu kalau ada gerbang portal tersebut, mahkluk yang telah membunuh kedua orang tuanya serta kakeknya pasti ada didekat gerbang portal hitam tersebut, benar saja...
Sesosok bayangan hitam tepat berdiri didepan gerbang portal tersebut, sambil melayang diatas ketinggian dia memperhatikan Rangga.
“Keik... keik... menarik, tertinggal beberapa hari ternyata terpilih menjadi Pejuang, setidaknya sebelum ajal menjemputmu kau bisa menghiburku.”
Mahkluk itu perlahan lahan turun dan mulai mendekati Rangga.
“Keik... keik... perkenalkan namaku Abaddon, salah satu dari delapan pilar kekaisaran Erang, senang berjumpa dengan mu.”
“Bagus, tidak susah susah aku mencari, ternyata datang sendiri menghantarkan nyawanya.” Tak nampak kegentaran dihati Rangga, dengan membulatkan tekadnya demi membalas kematian kedua orang tua serta kakeknya, tak ada kebimbangan dihati Rangga.
“Keik... keik... Manusia yang akan menjadi ancaman kemenangan kami di medan perang kali ini memang luar biasa, tidak sia sia aku diutus untuk melenyapkan mu sebelum berkembang, Keik Keik Keik...”
Tanpa basa basi Rangga segera melakukan penyerangan dengan mengerahkan seluru stat yang dimiliki, serangan pukulan disertai dengan tendangan mengarah kepada Abaddon dengan cepat, Abaddon sendiri tidak tinggal diam, segera dia tahan serangan Rangga dengan satu tangan.
“Keik... Keik, tidak terlalu buruk untuk level pemula, aku tambah semangat jadinya.”
Rangga segera memusatkan kekuatan tenaga dalam di kedua tangan dan kakinya sambil menggabungkan dengan spell atribut es, Rangga mulai kembali menyerang Abaddon, setiap pukulan dan tendangan Rangga ditangkis Abaddon dengan mudahnya bahkan jika Abaddon menutup matanya sendiri serangan Rangga pun tak akan mampun untuk melukainya. Walau sedikit terkejut ketika benturan tangannya bertemu dengan tangan Rangga sedikit dirasakan ada hawa dinginnya.
Bugh...
Sebuah pukulan mendarat diperut Rangga membuatnya terpental sejauh limabelas meter dan membentur dinding rumahnya hingga dinding rumah itu retak. Rangga sendiri merasakan perutnya seperti terhantam godam besar, rasa sakit yang luar biasa, dan ada darah sedikit keluar dari mulutnya, terhuyung huyung sempoyongan Rangga mencoba bangkit, sambil menyentuh perutnya mendadak cahaya lembut menyinari tangan dan juga perutnya, dan perlahan lahan luka yang ia rasakan sembuh total. Semua fenomena gaya bertarung Rangga tak terlepas dari pengawasan Abaddon.
Rangga pun segera mengatur nafasnya dan memungut tiga batu yang berada didekat nya, dan segera melemparkan batu seukuran dua jempol tangan kearah Abaddon. Ketiga batu yang dilemparkan hampir secara serentak menuju kearah kedua mata dan leher Abaddon, sebelum batu itu sampai ketujuan Rangga pun langsung merapal spell yang dia miliki.
Archer
Lock 10 MP
“Thunder strom.”
Mage
Thunder Storm 35 MP
kilatan petir petir bermunculan dan menyerang Abaddon, kilatan keterkejutan melanda Abaddon itu terlihat dimatanya.
“Keeeiiiiikkkkk... kau memang pantas untuk MATI...”
__ADS_1
Mendadak Abaddon menyerang Rangga mengabaikan petir dan batu yang dilemparkan, Segera menyerang dengan kecepatan tinggi, kecepatan yang sukar diikuti oleh mata dan pukulan Abaddon langsung terarah ke kepala Rangga.
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam