
Keributan antara tiga orang tersebut dengan Rangga rupanya sudah banyak mengambil perhatian dari pengunjung lainnya, hampir semua pasang mata yang didekat Rangga memperhatikan situasi yang terjadi walaupun kemungkinan buruk bisa terjadi, apalagi disekitar situ banyak juga anak anak yang sedang bermain, semua terlintas dibenak pikiran Rangga, pertarungan antara pejuang bisa berakibat fatal bagi orang disekeliling yang bukan pejuang.
“Serang.”
Langsung saja kedua orang tersebut menyerang Rangga dan salah seorang tersebut mengambil ranting pohon yang agak besar untuk dijadikan senjata tak palang tanggung ranting pohon itu yang biasanya patah karena berbenturan dengan tempat duduk yang terbuat dari coran semen, tempat duduk itu langsung hancur ketika Rangga menghindar serangan ranting itu dan ranting itu menghantam tempat duduk yang ditempati Rangga tadi, sedangkan seorang lagi segera melanjutkan dengan melakukan tendangan diiringi dengan desiran angin, langsung Rangga menangkisnya, tendangan itupun terpental balik dan terlihat orang itu memegangi kakinya yang terasa sakit, sementara Rangga sendiri tidak mengalami cendera apapun, Shinta dan Dewi pun perlahan lahan mundur menjauh kebelakang dalam lindungan Rangga.
Prittttt...
Dorrr...
Sambil terdengar sebuah tembakan, tiga orang polisi segera berlari ke arah mereka dan salah seorang mereka sedang memegang sepucuk pistol langsung mengarahkan senjata kearah Rangga dan ketiga orang itu. Polisi bisa bergerak cepat karena kebetulan kantor Polsek Teladan ada didekat situ dan itu juga karena berkat laporan dari masyarakat yang ada disana, melihat gelagat tersebut Rangga segera mengangkat tangannya, namun salah seorang yang memegang ranting itu langsung memukul kearah pinggang Rangga sementara seorang lagi langsung menyerang polisi yang memegang pistol, dan sepertinya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.
Dengan sigap Rangga menangkis ranting pohon yang agak besar itu dengan tanganya.
Brakkk...
Terdengar patahan dari ranting itu, yang menyerang Rangga agak bingung sejenak karena dia tahu betul kekuatannya, kalaupun ada besi, besi itupun bakal hancur dan patah tapi tidak dengan tangan Rangga, tangannya biasa saja tidak ada menunjukan tanda tanda cedera denga cepat dia mundur dan Menganalisa situasi, kemungkinan Rangga adalah Pejuang dengan Grade diatasnya.
Sementara yang satu lagi, segera menyerang polisi yang memegang pistol, tak pelak ketika kibasan tangan itu mengarah kerah pistol, pistol itu pun terbelah menjadi dua bagian tak itu saja tendangannya pun segera menghantam perut polisi itu, polisi itu pun terjatuh tersungkur ketanah, teman polisi juga segara memberi bantuan tapi kurang cepat dan segera orang itu melakukan pukulan kearah muka polisi yang terjatuh itu.
“Frozen blink.”
Tiba muncul titik titik es disekitar pria itu dengan cepat dan ketika salah satu titik itu menyentuh tangan dan juga pundak pria itu langsung sekejap membeku, membeku seperti es, dan pria itu tidak bisa bergerak lagi, segera saja polisi yang terluka itu dibantu oleh temannya untuk segera menyingkir dari sana, terlihat seorang polisi wanita berjalan melayang dengan cepat ke tempat kejadian perkara, dengan menjentikan jarinya es yang membekukan pria tersebut langsung mencair dan menghilang, pria itu pun langsung terduduk dan menggigil kedinginan, melihat temannya yang tak berdaya lagi, pria yang melawan Rangga dan yang dipanggil boss mencoba untuk kabur.
“Berani kabur, akan aku bekukan untuk selamanya.“ ancam polisi wanita tersebut.
Langsung saja kedua orang tersebut berhenti untuk melarikan diri karena mereka sadar melarikan diri juga tidak akan berguna, segera mereka diringkus dan ditangkap, sementara Rangga sendiri diminta menjadi saksi dan membuat laporan, hampir dua jam mereka ada di Polsek teladan dalam pemeriksaan dan dibolehkan kembali kerumah masing-masing.
“Hufff... capek, padahal cuma duduk aja.”
“Heal.”
“Gimana Shinta masih capek juga?” Ujar Dewi kepada Shinta.
“Udah nggak, makasi ya Wi, nggak sia sia punya teman macan kamu.” Seberkas cahaya redup menyinari tubuh Shinta, perlahan lahan menghilang dengan cepat, kepenatan yang ada segera menghilang tergantikan dengan tubuh yang kembali segar.
__ADS_1
“Kamu, capek juga Rangga?”
“Makasi Wi, nggak cape kok, cuma bosan aja.”
“Gimana Rangga menurut kamu tentang penawaran dari Bu Ratna tadi?” Shinta bertanya pada Rangga mengenai apa yang didengarnya tadi, Bu Ratna yang merupakan polisi wanita yang baru mereka temui tadi yang meringkus orang yang berbuat onar di lapangan teladan tadi.
“Nggak berminat.”
“Kalau kamu Wi berminat tak jadi polisi setelah tamat trus bergabung dengan satuan khusus yang bakal dibentuk yang berisikan para Pejuang?”
“Ku pikir pikir dulu lah nanti Shin.”
Akibat dari perubahan yang terjadi dan banyak timbulnya kejahatan yang dilakukan oleh pejuang yang menyalahgunakan kekuatannya. Pemerintah Indonesia telah membuat undang undang darurat mengenai hal ini, melakukan tembakan peringatan terhadap para pejuang yang berbuat onar merupakan salah satu pasalnya. Dan segera membentuk satuan elite Pejuang yang berasal dari kepolisian juga satuan ketentaraan baik dari darat, laut dan juga udara, dan kebetulan yang ditunjuk langsung sebagai penanggung jawab dikota Medan adalah ibu Ratna.
“Abis nih kamu mau kmana Ga?”
“Pulanglah.”
“O... kami juga mau pulang, tetap semangat ya Rangga , masih ada kita kita nih.”
Shinta dan Dewi pun memberi semangat kembali pada Rangga.
“Terima kasih Shinta, Dewi kalian kalian memang teman teman terbaik.”
“Bye Rangga.”
“Bye juga.”
Shita dan Dewi segera berlalu dari hadapan Rangga.
Jam sudah menunjukan angka 11 lewat sudah hampir tengah hari, Rangga melihat jam yang ada dihapenya sambil melihat notifikasi pemberitahuan yang ada dihapenya.
“Sistem.”
Muncul jendela informasi Pejuang Rangga
__ADS_1
Misi harian
Memancing ( 0 / 30 menit )
Push up ( 100 / 100 )
Berlari ( 10/ 10 km )
“Tinggal memancing lagi.”
Segera Rangga meninggalkan lapangan Teladan dan kembali kerumah.
Jauh diatas langit terlihat dua sosok manusia yang melayang karena ketinggian posisi mereka sulit sekali untuk dilihat dari bawah tapi tidak dengan mereka berdua, dengan jelas mereka sedang mengawasi seseorang yang ada dibawah dan orang lain itu tak lain adalah Rangga.
“Tidak buruk untuk keturunan terakhir dari Jayasabha.”
“Benar sekali, tidak sia sia Jayabhaya melindunginya dari Abaddon hingga harus mengorbankan hampir seluruh soul spirit miliknya.”
“Masih saja rasa bersalah menghantui Jayabhaya.”
“Kuharap anak itu tidak akan mengecewakan.”
“Aku juga berharap begitu, apalagi bumi sudah terpilih untuk lokasi perang besar nanti untuk ke tujuh kalinya.”
“Walaupun bumi sudah banyak berubah dari zaman kita.” sambil sesosok itu mengedarkan seluruh pandangan ke penjuru bumi.
“Kita juga harus bersiap siap untuk perang besar nanti, apalagi perang nanti tidak akan mudah untuk dihadapi.”
“Apa kau merujuk pada delapan pilar yang telah berkumpul.”
“Itu salah satunya.”
“Sayang sekali Jayabhaya telah terluka parah.”
“............., Untuk sementara kita fokus saja untuk anak itu”
__ADS_1
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam