
“Gerbang?”
Pro dan kontra terjadi disana, banyak kasak kusuk pembicara akan pemilihan kata pintu atau gerbang, bahkan ada yang terdiam memikir sesuatu yang bakal cocok untuk sebutannya.
“Baiklah untuk sementara kita gunakan kata gerbang.” Bu Ratna pun mengeluarkan suaranya setelah hampir 10 menit terjadi perdebatan antara pintu dan gerbang.
“Dan segera kirim kabar untuk unit unit lainnya kalau lingkaran merah ini adalah sebuah gerbang dan bisa dimasuki untuk menuju lokasi lain, kirim dan laporkan segera ke Polda.”
“Bagaimana selanjutnya Bu, apa kita masuk atau menunggu dan menjaga nya diluar?”
Sejenak ibu Ratna terdiam, keputusan yang membingungkan menghantarkan apa yang akan terjadi kedepannya, dan dia paham betul karena dia juga Pejuang dan dapat notifikasi juga kalau perang segera dimulai, berpikir keras perang dengan siapa, apa ada seseorang atau mahkluk hidup yang ada dibalik gerbang tersebut.
“Jaga lokasi ini dan perketat penjagaan, Tidak ada seorang pun yang tidak berkepentingan boleh masuk ke lapangan merdeka ini.”
Berkat laporan dan pesan yang cepat semua unit unit yang menjaga lingkaran merah yang ternyata sebuah gerbang bertindak juga dengan cepat segera mengisolasi lokasi tempat gerbang itu berada, walaupun sebagian ada juga yang mencoba masuk untuk melihat situasi dan membuat laporan, ternyata diketahui tidak hanya hutan saja, diketahui juga ada lokasi yang suhunya cukup dingin, Goa Goa, lautan, hampir semua lokasi berbeda beda ekosistemnya dan semuanya masuk laporan ke Badan penanggulangan Bencana Nasional.
Walaupun kebanyakan instruksi untuk menjaga dan mengisolasi gerbang tapi ada sekitar 9 gerbang yang dimasuki dan dijelajahi, 7 gerbang dimasuki oleh satuan khusus ketentaraan dan polisi dan 2 merupakan gabungan dari pejuang pejuang yang memaksa masuk dengan paksa yang berakhir dengan perjanjian kalau semua tindakan mereka merupakan tanggung jawab masing-masing.
__ADS_1
Hampir menjelang pagi semua aktifitas disemua gerbang yang diketahui terjaga suasan kondusifnya. Selesai menjalankan misi hariannya Rangga yang berada di lapangan melihat sebuah warung kopi yang ramai pembelinya, ternyata mereka sedang menonton acara televisi yang ada disana, terdengar hiruk pikuk antara para pembeli dan masyarakat Rangga yang ingin tahu mendekati mereka, dan memperhatikan acara televisi, ternyata berita yang disampaikan sangat mengejutkan, tujuh gerbang yang dimasuki oleh satuan khusus ketentaraan lima diantaranya telah kembali tapi mereka kembali dengan tubuh tubuh terluka parah dan yang kembali hanya Beberapa orang saja dari tiga puluh orang yang masuk ke setiap satu gerbang. Kepanikan melanda di setiap gerbang yang dimasuki, semua hal itu terliput dimedia televisi yang memiliki akses kesana dan pemberitaan demi pemberitaan terus diketahui oleh masyarakat. Keadaan darurat pun diberlakukan, siaga satu diterapkan, penambahan personel trus ditambah untuk menjaga di setiap gerbang.
Semua situasi darurat tersebut berlangsung hingga sore hari, Rangga yang telah berada kembali dirumahnya sambil menonton televisi terus memperhatikan perkembangan baru, dan kebetulan salah satu stasiun televisi yang dilihat Rangga memperlihatkan sekelompok orang yang keluar dari gerbang yang diliput oleh televisi tersebut yang lokasinya berada di kota Banten, didaerah pantai karang bolong tepatnya. Tak lama kurang lebih lima menit setelah sekelompok orang itu keluar dari gerbang tersebut tampak perlahan lahan gerbang merah tersebut memudar dan menghilang. langsung saja hal itu menarik perhatian, sekelompok orang itu yang ternyata Kelompok Pejuang yang memaksa masuk tadi sambil membuat perjanjian akan menanggung resiko masing-masing mulai dikelilingi oleh para wartawan dan reporter televisi, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para wartawan dan reporter.
“Untuk para wartawan, kepolisian, tentara, warga dan seluruh Pejuang yang ada, kami adalah sekelompok Pejuang yang saling dukung telah berhasil mengalahkan yang terkuat di dalam gerbang ini, dan sebutan gerbang sebelumnya sebenarnya adalah sebuah portal dari dimensi kecil yang sifatnya langsung terhubung dengan bumi.”
Semua orang yang ada disitu langsung bereaksi, apalagi jika dilihat mereka berhasil menghilangkan gerbang tersebut yang mereka katakan adalah sebuah portal, bahkan sebagian wartawan menulis yang akan diberitakan menjadi Gerbang Portal menggabungkan dua suku kata menjadi kesatuan. Selanjutnya orang orang terus mengatakan sebagai gerbang portal.
“Dan kami akan mengumpulkan para Pejuang yang berminta untuk bergabung bersama kami, dan kami akan membentuk kelompok dari berkumpulnya para Pejuang dan kami namakan kelompok Nusantara.”
“Kelompok Nusantara...?”
“Jangan Kelompok lah.”
“Group.”
“Squad.”
__ADS_1
“Ordo.”
“Klan.”
Semua orang memberi masukan kepadanya karena mereka rasa penggunaan kata kelompok tidak cocok sama sekali.
“Bagaimana dengan Guild?” Terdengar salah satu wartawan memberi masukan
“Guild?”
“Kedengaran bagus, baiklah sudah diputuskan, Aku... Bagas sebagai ketua Guild Nusantara memanggil para Pejuang yang ada diseluruh Indonesia untuk bergabung bersama kami, bergabung dalam pertempuran, mengalahkan yang menghadang.“ sambil mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya, dengan segera mengibaskan pedang ke udara, kibasan pedang itu sungguh dahsyat disertai dengan kilatan petir yang menyilaukan mata dan juga terdengar suara gelegar Guntur yang sangat keras, semuanya sangat takjub apa yang mereka lihat padahal hal tersebut bisa sangat berbahaya bagi orang yang bukan Pejuang walaupun Bagas telah mengarahkan ke atas langit. Semua orang disana merasakan euforia yang sangat luar biasa atas terbentuknya dan munculnya sebuah Guild, Guild baru yang telah menghilangkan sebuah gerbang portal, mereka lupa masih ada banyak gerbang portal lainnya, bahkan tujuh satuan khusus ketentaraan telah gagal, banyak yang terluka apalagi yang telah kehilangan nyawa mereka. Akibat kejadian tersebut Badan Penanggulangan Bencana Nasional telah mengeluarkan keputusan dengan cepat, semua yang bukan Pejuang dilarang keras untuk memasuki Gerbang portal, keputusan tersebut didukung langsung dengan ketetapan presiden Indonesia dan akan menjadi undang undang darurat.
Rangga yang melihat pengumuman pembentukan Guild ditelevisi sedikit terpana akan kemampuan Bagas, yang ternyata para Pejuang sangatlah hebat hebat, tapi apakah mampu untuk melawan orang yang telah membunuh kakek dan kedua orang tuanya ? Pertanyaan tersebut terlintas dibenak Rangga. Sambil terus memperhatikan apa yang terjadi dilayar televisi, Rangga mengingat masih banyak gerbang portal yang tersebar di Indonesia apa semua harus ditangani oleh para Pejuang, apakah dia akan ikut serta juga, keputusan ada ditangan Rangga.
Ketika reporter televisi tersebut mengingatkan akan banyaknya gerbang portal yang tersebar sambil dia mengatakan apa yang akan terjadi ketika waktu hitung mundur yang berwarna merah telah berakhir dan mencapai angka 00:00:00 walaupun sekarang masih ada sisa waktu 1 jam 42 menit lagi.
Bagas pun maju dan berkata
__ADS_1
“Untuk semua para Pejuang segera berkumpul ke Gerbang Portal terdekat.”
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam