
“Kesimpulannya?” Sejenak Rangga dan yang lainnya terdiam, karena hal ini merupakan hal yang baru sekali diluar pikiran.
“Ada kemungkinan kalau Grade yang rendah akan sukar sekali untuk mengalahkan tingkatan Grade yang lebih tinggi, itu penjelasanku untuk sementara.“ kata Rangga.
“Tapi sayangnya percobaan kita tadi tidak ada yang memiliki Grade C atribut air agar setidaknya tidaknya kita bisa mengetahui berapa jarak sebenarnya perbedaan kualitas dan kuantitas daya serang.” sambung pertiwi.
“Tapi, ngomong ngomong Abang dan kakak habiskan berapa mana?”
“Mana? Apa spell itu menggunakan mana?” Rasa ingin tahu Rangga segera mencul apa lagi dalam setatus dia tidak ada deretan nama spell yang bisa dia gunakan.
“Iya mana, MP status atribut yang berwarna hijau di bawah Status HP yang berwarna merah.” sambung Santi.
“Kalau bang Budi menghabiskan 93 MP, dari total 230 MP.”
“Pertiwi 45 MP dari 55 MP.”
“Kalau Santi beda tipis ma bang Budi 95 MP dari 250 MP yang Santi miliki.”
“Apakah ini konsumsi MP berpengaruh ya?”
“Kemungkinan berpengaruh besar, apalagi kalau ada konflik antar Pejuang, bisa bisa Pejuang yang Grade rendah bisa dikalahkan dengan sangat mudah oleh Grade yang ada diatasnya, apalagi sampai seleksi dua Grade bisa berabe jadinya.” sambung Rangga mengambil kesimpulan dari hasil percobaan tadi.
“Mudah mudahan tak ada konflik antar Pejuang jadi kita bisa aman aman ja, ya kan Rangga.“ sambil Pertiwi menatap Rangga untuk mengharapkan kesetujuannya.
“Tapi kemungkinan bakal susah loh Pertiwi, karena sebelum Rangga sampai kesini, sempat berpapasan dengan perampok dan perampok itu juga seorang Pejuang jadi ada kemungkinan. Mungkin beberapa Pejuang yang akan menyalahgunakan status Pejuangnya untuk kejahatan, kalau kebetulan menimpa pada kita, saudara kita atau yang dekat dengan kita lah mau tidak mau kita juga harus bertarung.”
“Terus tugas polisinya mana?”
“Polisi juga bakal terluka jika berhadapan dengan Pejuang atau mungkin malah kehilangan nyawanya.”
“Huff...”
..................
Pagi hari ketika matahari belum menunjukan sinarnya terlihat Rangga sudah keluar dari rumahnya, walau waktu tidurnya berkurang akibat tadi malam lama berdiskusi dengan teman baru Pejuangnya namun hari ini dipaksa nya untuk bangun karena ada tugas harian yang harus dilakukannya, berlari 10 km walaupun bisa kapan saja selama itu masi hari ini tapi alangkah baiknya kalau dilakukan menjelang pagi hari.
Dengan mengenakan baju hoodie, celana training dan sepatu kets serta mendengarkan musik melalui earphone Rangga memulai hari barunya, berlari dari rumahnya menuju lapangan stadion Teladan.
__ADS_1
Misi harian
Memancing ( 0 / 30 menit )
Push up ( 0 / 100 )
Berlari ( 4.7/ 10 km )
Rangga melihat status misi hariannya, walau telah berlari 4 km lebih tidak terlihat kelelahan pada dirinya bahkan berlarinya masih stabil bahkan bisa saja dia berlari jauh lebih cepat tapi setelah dipikir pikir sekalian saja olah raga, dan Rangga terus saja berlari dan berlari.
Notifikasi pun muncul menandakan kalau pencapaian misi harian berlari 10 km telah tercapai.
Misi harian
Memancing ( 0 / 30 menit )
Push up ( 0 / 100 )
Berlari ( 10/10 km )
Sambil mencari lokasi yang pas yang tidak mengganggu aktivitas orang lain Rangga pun mulai melakukan Push up, walau telah mencari lokasi yang agak menjauh tetap saja apa yang dilakukan oleh Rangga menarik perhatian pengunjung lainnya terutama para cewek, penampilan Rangga juga enak dilihat dengan kata lain ganteng.
Terlihat dua orang cewek mendekati Rangga yang sedang melakukan Push up dan berdiri dibelakang Rangga terlihat kasak kusuk cewek disekitar Rangga.
“Kelamaan jadi keduluan deh.” Kata salah satu cewek yang ada disana.
“Kelamaan berpikir... ntah apapun yang dipikirkan.” sambil seorang cewek mendorong cewek yang ada Disampingnya.
“1300... 1301...1302...” terdengar ucapan dari salah seorang cewek yang mendekat itu.
“Hebat juga nih cowok bisa Push up ampe 1000an, cocoklah nih...”
“Masa sih sampai seribuan, perasaan aku yang hitung tadi udah mencapai 3500 kali Push up, tapi cocok apanya nih.”sambut cewek satunya lagi.
Rangga yang menyadari ada orang dibelakangnya sambil berbicara tentang aktivitasnya mengabaikan saja walau sebenarnya dengan insting Pejuangnya dia tahu kalau kedua cewek itu adalah Shinta dan Dewi, kalaupun tidak ada sistem Pejuang yang melekat pada dirinya tetap saja Rangga tahu dan mengenali salah satu suara cewek itu yang merupakan Shinta, dengan cuek ya Rangga melanjutkan Push up nya.
“4998...4999...5000...” Rangga menghitung Push up nya dengan mengeluarkan suara yang bisa didengar oleh Shinta dan Dewi.
__ADS_1
Tak lama Rangga pun menghentikan aktivitas Push up nya karena terdengar notifikasi kalau misi hariannya melakukan Push up telah tercapai, Rangga pun segera berdiri berjalan menjauhi Shinta dan Dewi segera mencari tempat duduk.
“Rangga sombong banget sih kamu...” teriak Dewi.
Rangga yang mendengar ucapan Dewi dengan santainya mengambil botol minumnya dan segera meminumnya.
“Loh Shinta, Dewi sedang apa disini kok ada disini?” Rangga bertanya dengan sedikit heran kepada mereka.
“Udah dari tadi juga kami disini.”
“Sori ya Wi, emang tadi nggak liat kalian kok.” sambil cueknya Rangga meminum kembali.
“Ahhh... segarnya, loh Shinta, Dewi sedang apa disini kok ada disini?” Rangga kembali mengulang ucapannya.
“Nggak lucu.” ujar Shinta.
“Hahaha... emang itu tadi lucu ya?” Rangga pun tertawa lepas sepertinya senang meledek teman sekolahnya.
“Rangga kamu kok ada dikota Medan? bukankah kemarin kata kamu mau liburan dirumah kakek kamu.” Shinta membuka percakapan.
“Liburan sudah usai.” Rangga menjawab dengan datar dan seolah olah merupakan hal yang ingin dilupakannya.
“Gimana sih maksudnya Ga?”
“Maksudnya ya seperti kamu lihat Shinta kalau aku sudah ada dikota Medan lagi artinya kembali keaktivitasku semula.”
“Termasuk orang tuamu juga balik Ga?”
Deg tersentak hati Rangga mendengar ucapan Shinta, karena dia teringat pernah berkata kalau orang tuanya sudah ada dikampung kakeknya, teringat kembali ketika Rangga kehilangan orang tuanya berbaring tak bernyawa pada malam hari itu sambil mengingat ketidak berdayaan dirinya, sekilas kurang dari satu detik perubahan terjadi pada mata Rangga semuanya berubah menjadi hitam, karena hitungan kurang dari sedetik entah Shinta melihatnya atau nggak Rangga sendiri tidak tahu bahkan matanya berubah sepersekian detik pun Rangga tidak mengetahuinya yang dia tahu hanya sebuah notifikasi yang muncul dihadapnnya.
‘Dark Matter ‘ Tingkat A+
Tingkat penyatuan
O.03%___________________________________
Ada peningkatan sekira 0.03% yang dia tahu apakah Dark Matter terpicu dengan perasaannya atau ada hal lainnya semua masih belum diketahui oleh Rangga.
__ADS_1
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam