
Untuk sekarang Rangga merasa bingung. Item item yang berada diruang penyimpanan dimensinya memiliki fungsinya masing masing dan dikemudian hari itu sangat penting. Memilah satu persatu itemnya dan jatuh pada pilihan kotak bipolar. Pemikiran Rangga sangat sederhana jika dibandingkan dengan kristal Almerik, kemungkinan kristal Almerik masih dapat digunakan, berbeda dengan kotaknya terdahulu untuk menyimpannya yaitu kotak bipolar, itu hanya sebagai wadah untuk menyimpan kristal Almerik walau bahannya sendiri terbuat dari Orichalcum.
Segera Rangga mengeluarkan kotak bipolar dan menyimpan kujang alam gaib.
tak berapa lama Rangga melihat kembali hewan itu, tapi apa yang dilakukan hewan itu membuat Rangga menjadi bingung.
Hewan yang berbentuk kelinci itu secara berganti gantian terus menendang udara kosong yang dekat dengan dinding lorong waktu dengan cepat. Ketika tendangan hewan itu mengenai udara kosong terdengar seperti sebuah batu yang menghantam air.
Splash...
Splash...
Sesekali hewan itu melihat Rangga dan mengabaikannya.
Kegiatan itu terus dilakukan berulang ulang hingga udara kosong yang menjadi target tendangan hewan tersebut muncul riak riak energi dan perlahan lahan mulai muncul retakan ruang, dan terlihat sekali kedua hewan yang mirip kelinci tersebut tambah semangat.
Namun... Kedua hewan yang mirip kelinci tersebut tiba mempercepat tendangannya sambil melihat ujung lorong waktu dengan rasa panik.
Rangga sendiripun menyadari perubahan yang terjadi, seperti ada tekanan yang menghantam dirinya, sebuah ancaman yang bisa mengancam nyawanya.
Duarrr...
Salah satu hewan yang mirip kelinci tersebut terpental jauh melewati Rangga menghantam bebatuan hingga sebagian hancur, sementara yang satunya lagi segera menyusul kearah terpentalnya kelinci satunya lagi.
Tiba tiba muncul sosok manusia didekat retakan ruang yang tercipta akibat tendangan Mahkluk yang mirip kelinci itu, dan tidak menjejakkan kakinya di bongkahan batu, sesosok manusia itu melayang.
Sesosok manusia laki laki yang bertelanjang dada, memiliki rambut lebat yang mencapai sepinggang, rambutnya tidak halus namun sedikit tegang. Tubuhnya besar dan juga memperlihat otot otot yang sangat terlatih. Raut wajah yang terlihat kaku tapi juga menampakkan tanda tanda kewibawaan seperti kharisma seorang pemimpin dan juga sorotan mata yang tajam memperlihatkan kekejamannya.
Tangan merentang dan terkepal...
Duarrr...
__ADS_1
Kepalan tangannya menghantam dengan kuat retakan ruang yang dibuat oleh mahkluk yang mirip kelinci tersebut. Retakan ruang tersebut perlahan lahan dan pasti membentuk seperti gerbang portal.
Kedua kelinci juga tidak tinggal diam, walau kemungkinan mereka tahu yang dihadapi mereka bukan sesuatu yang mudah. Tapi kerja keras mereka menjadi sia sia, perjuangan mereka menciptakan retakan ruang itu hampir menghabiskan kekuatan mereka. Mereka menerjang sesosok manusia yang muncul tadi yang menghantam salah satu dari mereka.
Sekejap mereka menghilang dan muncul lagi dibagikan lain, dan itu dilakukan dengan kecepatan tingga.
Dan muncul tiba tiba dihadapan laki laki itu dari depan dan belakang dengan meluncurkan tendangan kaki yang mengeluarkan suara keras.
Dugh...
Dugh...
Dugh...
Tendangan yang dilancarkan mahkluk itu begitu cepatnya apalagi serangan dari depan dan juga belakang.
Laki laki itu hanya mengatur posisi menyamping, serangan yang dilancarkan dari belakang berubah menjadi serangan menyamping kiri dan kanan dari laki laki itu dan dengan mudahnya laki itu menangkis serangan kedua mahkluk itu dengan sangat mudahnya dengan tangannya tanpa bergerak dari posisi berdirinya.
Pertarungan tersebut terus berlanjut, tapi serangan beruntun yang dilakukan mahkluk yang mirip kelinci itu hanya berlangsung kurang dari tiga menit, ketika sesosok laki laki itu mempercepat serangannya dan wajahnya seperti terlihat kebosanan, salah satu kelinci tersebut terpental terkena pukulannya dan satu lagi tertangkap kakinya dan langsung melemparkannya dengan kuat ke bongkahan batu batu dan menghantam dengan keras bongkahan batu dan menghancurkan batu batu yang menjadi lintasan jatuhnya akibat kuatnya lemparan tersebut.
Dan laki laki itu dengan sekejap muncul dihadapan makhluk yang mirip kelinci yang terpental kena pukulannya, dan mengambil salah satu kakinya dan segera melemparkannya kearah jatuhnya kelinci satunya lagi, dan kelinci yang dilemparkan dengan tepat menghantam kelincinya satunya lagi.
Laki laki itu dengan sekejap muncul dihadapan kedua makhluk yang mirip kelinci itu.
“Kuizinkan kalian mati sebagai suami istri.” Ucap laki laki itu.
Ketika ucapannya selesai pukulan langsung menghantam kedua mahkluk itu dengan bertubi tubi.
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Bugh...
Tanpa bekas kasihan laki laki itu terus menghantamkan pukulannya dan sambil tertawa.
Ha... Ha... Ha...
Rangga yang melihat apa yang dilakukan laki laki itu nampak marah, kejam sekali apa yang dilakukannya, walau agak jauh Rangga sekilas sedikit melihat percikan percikan darah yang keluar dari tubuh mahkluk itu, itu penyiksaan. Rangga paham akan dirinya kelak kedepannya dia pasti juga akan membunuh juga seperti yang dilakukan sebelumnya ketika dia berhadapan dengan Shaman goblin dan juga sistem pernah membuat notifikasi kalau bersiap akan pertempuran untuk semua Pejuang.
“Thunder Slash Spear.”
Dengan cepat Rangga mengambil salah satu
dari 37 serpihan batu dari ruang dimensinya dan segera melemparkannya kearah laki laki itu.
Disertai dengan percikan petir serpihan batu itu meluncur dengan cepat.
Zing....
Menyadari ada serangan dari belakang, laki laki itu sadar dan melirik kearah senjata yang dilemparkan oleh Rangga, laki laki itu sepertinya tahu kalau yang mengarah kearahnya hanyalah serpihan batu. Dengan sigap dia menangkap serpihan batu yang berbentuk ujung tombak yang dilemparkan oleh Rangga.
Walau acuh ketika menangkap serpihan batu yang dilemparkan oleh Rangga, namun tidak dengan kenyataan yang dideritanya, tangan yang menangkap serpihan batu itu bergetar dan ada baret dalam tapak tangannya walau tidak sampai keluar darah tapi lemparan itu membuat telapak tanganya terluka baret.
Segera laki laki itu melirik Rangga dan sekejap itu juga langsung muncul dihadapan Rangga meninggalkan kedua mahkluk kelinci itu yang diambang kematian.
Rangga yang sebenarnya sudah bersiap akan serangan balik dan tahu akan kecepatnnya yang sangat cepat dibuat terkejut, tidak menyangka akan secepat ini juga.
“Manusia... kau mencari kematian lebih cepat...”
Rangga yang mendengar ucapan tersebut juga tidak menyangka, nyatanya ketika telah membunuh kedua mahkluk kelinci itu target selanjutnya adalah dirinya.
Baca artikel Gerbang Hitam di
__ADS_1
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam