Gerbang Hitam

Gerbang Hitam
Hujan batu 2


__ADS_3

Ketika Rangga telah melewati benda tersebut sejauh dua puluh meter, Rangga tiba tiba berhenti. Benda yang dilihatnya sekilas ketika dia berlari menarik perhatiannya, Rangga pun segera memutar balik dan menuju ke benda tersebut.


Ketika sampai di benda tersebut, ternyata benda tersebut merupakan kerangka sebuah tangan, dan Rangga langsung mengingatnya kerangka tangan tersebut adalah kerangka tangan Abaddon yang telah ditinggalkannya, ternyata Rangga telah kembali ke titik awal pertama kali dia berada di lorong waktu dan terjebak disana.


Tanpa mengulur waktu Rangga segera mengambil kerangka tangan Abaddon tersebut, dan kembali berlari sambil memenggang kerangka tersebut.


Hujan batu semakin lama semakin mendekati Rangga itu dikarenakan sudah tidak banyak lagi batu batu besar yang menghalangi laju hujan batu tersebut. Rangga pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk segera menjauh, tapi apa daya kecepatan Rangga masih kalah cepatnya dengan laju hujan batu, berusaha sekuat tenaga memacu larinya jauh lebih cepat itu yang dilakukan Rangga. Namun Rangga sedikit heran sudah jauh diberlari dengan kecepatan tinggi tidak juga tersusul hewan yang berbentuk kelinci tersebut.


Baru saja Rangga kepikiran akan hewan berbentuk kelinci tersebut, ternyata Rangga telah melewati salah satu hewan tersebut, dan hewan itu bersembunyi dibalik sebuah batu yang menutupi tubuh hewan itu. Sambil melihat kebelakang, Rangga meninggalkan hewan tersebut.


Selang beberapa menit Rangga melihat kembali hewan berbentuk kelinci satunya lagi, dan hewan tersebut lagi lagi bersembunyi dibalik sebuah bongkahan batu, karena sudah dua hewan dengan perilaku yang sama Rangga langsung memperhatikan apa yang menjadikan kesamaan atas perilaku tersebut.


Sambil berlari Rangga memikirkan kelakuan hewan tersebut, kenapa sebelum sebelumnya tidak pernah bersembunyi dibalik batu, kenapa baru sekarang.


Rangga terus berlari dengan sekuat tenaga agar jarak dengan hujan batu semakin menjauh, tapi apa kelinci itu akan baik baik saja? Benak Rangga dari tadi terus memikirkannya, hingga Rangga melewati sebuah bongkahan batu yang berwarna agak keperakan yang tersamar dengan warna batu disekelilingnya yang kalau diperhatikan dengan seksama sangat mirip dengan bongkahan batu yang menjadi pilihan hewan yang mirip kelinci tersebut.


Dengan cepat Rangga segera berbalik ke arah bongkahan batu tersebut dan langsung bersembunyi dibalik bongkahannya. Kurang dari sepuluh detik hujan batu langsung menerjang Rangga, ternyata bongkahan batu itu mampu untuk menahan hantaman batu batu, hujan batu terus menerus menghantam bongkahan batu yang menjadi pelindung Rangga. Walaupun tidak hancur, tapi melalui balik punggungnya Rangga merasakan getaran yang sangat hebat yang dirasakannya ketika hujan batu itu menghantam bongkahan batu yang menjadi pelindung Rangga menandakan begitu dahsyatnya hantaman batu batu itu.


Kurang lebih setengah jam hujan batu itu mulai mereda dan berhenti, terlihat banyaknya bongkahan batu batu besar yang hancur.


Didorong oleh penasaran yang tinggi terhadap kelakuan kedua hewan tersebut yang bisa mengantisipasi hujan batu yang bisa membahayakan nyawa, Rangga memperhatikan bongkahan batu yang bisa menahan hantaman hujan batu, terus terang selama Rangga berada disini belum sekalipun dia belum melihat jenis batu yang seperti ini. Batu ini sangat solid dan juga kokoh beda sekali dengan bebatuan yang Rangga temukan sebelum sebelumnya.


Rangga mengambil senjata kujang alam gaibnya dan segera memotong bongkahan batu tersebut.


Trang...


Sangat keras sekali, kujang alam gaib sama sekali tidak bisa memotong batu tersebut walau Rangga telah menyalurkan tenaga dalamnya ke kujang alam gaib, sangat berbeda ketika Rangga membentuk dari bongkahan batu sebelumnya yang diukir berukuran sejengkal yang dijadikan sebagai senjata lemparnya, kujang alam gaib bisa membentuk seperti yang diinginkannya, mencobanya sekali lagi dan sama sekali tidak bisa memotongnya menandakan kualitas batu tersebut diatas atau sama dengan kualitas bahan dari kujang alam gaib milikinya.


“Keras sekali...” ujar Rangga.


Tangan Rangga pun sampai bergetar tatkala kujang alam gaib beradu dengan bongkahan batu tersebut. Merasa batuan itu berbeda dengan bebatuan yang ditemui Rangga sebelumnya Rangga segera memegangnya dan mencoba untuk memasukannya ke ruang dimensinya, walau sebenarnya Rangga tidak berharap banyak kalau batu yang melindunginya dengan ukuran besar melebihi ukuran tubuhnya bisa masuk kedalam ruang dimensi yang dimilikinya.


Gagal


Gagal


Gagal


Mencoba hingga beberapa kali tapi mengalami terus kegagalan, sempat bingung Rangga segera mengecek ruang dimensinya.


Ruang Dimensi


( 9 / 9 )

__ADS_1


Kotak Bipolar


Kristal Almerik


5135 Yar


342 gr Kar Stone


Kujang Alam Gaib


Koin Maung


Cincin Orion


Handphone


37 Serpihan batu*


Ketika dicek dan diperhatikan ternya ruang penyimpanannya telah penuh, pantas saja mengalami kegagalan terus menerus.


Mencari sesuatu yang dianggap tidak terlalu penting Rangga memilih salah satu item dan mengeluarkannya, dan pilihannya jatuh kepada 342 gr Kar Stone, pilihannya mudah karena Kar Stone ini didapat dari drop dari mahkluk lain yang dikalahkan oleh Rangga ada kemungkinan jika dia mengalahkan Mahkluk lainnya dia bisa mendapatkan kembali Kar Stone.


Mencoba kembali memasukannya.


Ruang Dimensi


( 9 / 9 )


Kotak Bipolar


Kristal Almerik


5135 Yar


Kujang Alam Gaib


Koin Maung


Cincin Orion


Handphone


37 Serpihan batu

__ADS_1


Batu Adamantit


Rangga bersemangat kita bongkahan batu itu berhasil masuk ke dalam ruang dimensinya, yang mana batu tersebut ternyata memiliki nama Adamantit, Jenis batu Adamantit.


Mengklik Batu Adamantit mencoba mencari keterangan mengenainya, ternyata tidak berhasil, sistem sama seperti yang lalu lalu tidak merespon sama sekali.


Rangga jadi teringat sesuatu yang ditemukan sebelumnya yang berupa tulang dari tangan Abaddon, dan segera mengambilnya diatas bongkahan batu lainnya. Sambil memeriksa dengan teliti tulang tulang tersebut, tidak ada yang menarik dari tulang tersebut terkecuali dari awal awal tulang tersebut tidak bisa masuk kedalam ruang dimensi.


Dengan seksama Rangga terus memperhatikan tulang tersebut, membolak baliknya, menelitinya hingga Rangga melihat satu titik yang berwarna hitam yang berada dipangkal nadi tulang tangan tersebut.


Ketika jari Rangga tersebut menyentuh titik hitam tersebut berdesir darah Rangga, bahkan kalau Rangga bisa melihat matanya, dia akan terkejut kalau matanya berubah hitam keseluruhan.


Desiran darah Rangga memicu keingintahuannya, segera rangga mengambil kembali kujang alam gaibnya dan mengiris tulang Abaddon. Pelan pelan Rangga mengirisnya hingga titik hitam kecil tersebut terlihat semakin jelas, seperti sebuah ranting pohon yang bercabang tetapi berwarna hitam, bisa dikatakan dengan singkat sebuah kristal berwarna hitam berbentuk ranting.


Rangga segera mengeluarkan kristal hitam tersebut, desiran darah Rangga semakin menjadi, Rangga tidak tahu apa yang terjadi tapi yang jelas Rangga seperti memiliki keterikatan dengan kristal hitam itu.


Rangga segera menyimpannya kedalam ruang dimensinya.


( 9 / 9 )


Kristal Nektar


Rangga yang awalnya tidak mengetahui nama kristal tersebut ketika masuk keruang dimensinya, ternyata ruang dimensinya mengenalinya sebagai Kristal Nektar.


Ruang penyimpanan dimensinya telah penuh kembali tapi kujang alam gaib masih terus dipegang oleh Rangga, tidak bisa menyimpan ke dalam ruang dimensi karena telah penuh.


* Serpihan batu : batu batu yang diukir dengan kujang alam gaib yang berukuran sejengkal tangan orang dewasa yang dijadikan Rangga sebagai senjata lemparnya.


___________


Sampai lupa up nya karena kesibukan Ramadhan 😅


Author juga ngucapin


...Selamat Idul Fitri 1443 H...


...Mohon maaf lahir dan bathin...


_______


Baca artikel Gerbang Hitam di


https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam

__ADS_1


__ADS_2