
“Kita jangan berlama lama. Rangga segeralah kamu menuju kedalam gapura Wringinlawang.” Ujar Naya kepada Rangga.
Rangga yang sedikit heran tetap saja menuju dan melangkah untuk masuk kedalam bagian tengah gapura Wringinlawang, walau sebenarnya ada rasa was was tapi dengan adanya tokoh tokoh besar yang ada dihadapnnya yang dikenalnya betul dari buku buku sejarah. Prabu Siliwangi, Mahapatih Gajah Mada, Naya genggong. Merupakan nama nama hebat dimasanya, walaupun tidak tahu wajah sebenarnya dari tokoh tokoh tersebut bisa saja mereka menipunya, tetapi hatinya berkata bahwa mereka benar benar tokoh sebenarnya walau hatinya kebingungan sama halnya dengan banyaknya gerbang portal, mahkluk aneh, sistem Pejuang. Tapi Rangga percaya pada mereka.
“Tunggu sebentar Rangga.” Naya tiba tiba menahan Rangga.
“Apa kau sudah diberikan Kujang Alam Gaib?”
“Sudah eyang.”
“Apa sudah penggunaannya?”
“Rangga belum sempat memeriksanya eyang lagipula inikah hanya sebuah senjata, kalau Rangga perhatikan merupakan senjata yang hebat.”
Naya pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
“Senjata Kujang Alam Gaib adalah kunci sebenarnya dari suksesnya rencana ini, eyang hanya bisa jelaskan secara singkat.”
“Ketika energi penuh soul spirit yang ditampung oleh senjata itu penuh kau bisa membuka gerbang portal untuk menuju dungeon yang ada didekatnya dan ketika kau sudah ada didalam dungeon kau bisa menaikkan level dan mengumpulkan kembali soul spirit dari mahkluk yang kau kalahkan, dan lakukan itu berulang ulang hingga kau menjadi kuat. Dan ketika sudah sepuluh tahun berlalu kau telah siap menghadapi apa yang terjadi pada saat ini.”
“Apa kau mengerti Rangga?” Sambut Naya kembali.
“Saya mengerti eyang.”
“Sekarang segeralah kembali menuju ke gapura Wringinlawang.”
Ketika Rangga sudah berada didalam gapura Wringinlawang, Naya pun menyentuh salah satu batu disudut gapura Wringinlawang dan menekannya, mendadak sebuah altar batu seukuran dua jengkal tangan berbentuk persegi muncul didepan gapura Wringinlawang.
Perlahan lahan altar batu itu naik keatas dan berhenti ketika ketinggiannya telah mencapai sepinggang Naya. Ditengah tengah altar batu tersebut ada sebuah lubang dengan diameter kurang lebih 10 cm dan kedalamnya juga 10 cm, disekeliling lubang tersebut banyak tertulis bahasa yang sulit dipahami.
Naya pun meletak sebuah kristal berwarna warni yang sama betul ukurannya dengan lubang yang ada ditengah altar batu tersebut. Ketika batu itu telah masuk kedalam lubang tersebut, batu itupun bereaksi dengan memancarkan cahayanya, walau tidak bisa dibilang terang tapi cukup bersinar disekitarnya.
__ADS_1
Mada yang dari tadi hanya diam tiba tiba dia melayang ke udara, seluruh pandangan diedarkan keseluruh lokasi, seperti mengawasi atau berjaga jaga akan adanya gangguan yang akan mengganggu proses kegiatan yang dilakukan oleh Semar.
“Mada aku tidak ingin terganggu sekecil apapun.” Naya berkata pada Mada yang sudah berada di posisinya.
“Aku mengerti Naya.”
Mendadak sebuah lingkaran bercahaya yang berbentuk pola dengan ukuran tiga kali ukuran gapura Wringinlawang tepat berada diatasnya, berputar dengan pelan melawan arah jarum jam. Naya dengan menempelkan telapak tangannya ke kristal berwarna warni tersebut terus mengucap spell spell yang kurang dipahami.
Semakin lama putaran lingkaran yang berbentuk pola tersebut semakin cepat. Mendadak sebuah celah ruang terbuka, sebuah celah ruang yang sama seperti yang dilakukan Mada.
“Keik... keik... apa aku terlambat ?” Abaddon pun muncul dari dalam celah ruang tersebut.
“Bagaimana mungkin kau bisa mengetahui posisi kami ?” Mada tidak percaya akan apa yang terjadi.
“Keik keik karena aku telah meletaknya pelacak ditubuh bocah itu.” Sambil menunjuk jarinya kearah Rangga.
Rangga yang mendengar perkataan dari Abaddon langsung memeriksa disekujur tubuhnya dan melihat ada sebuah bola kecil berwarna putih yang dia yakin bukan miliknya. Segera Rangga mengambilnya dan meremukkan.
Mada juga seakan tidak percaya kenapa bisa? Kenapa ada pelacak tanpa disadarinya?.
“Keik keik keik tanpa berlama lama kita mulai puncak acaranya. walau sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang kalian rencanakan.” Kedua tangan Abaddon mengarah keatas dan sebuah bola energi yang cukup besar sebesar gapura Wringinlawang pun muncul dan bola itu semakin membesar.
“Mada jangan biarkan dia mengganggu prosesku ini, dan menghancurkan lingkaran Array yang kubuat, semua akan sia sia.” Sambil berkata demikian Naya melakukan spell kembali dan spell itu ditujukan kepada Mada.
“Hahaha sungguh hebat kau kakang Semar melakukan tiga kali spell.”
“Tahanlah Mada 5 detik lagi sampai aku menyelesaikan proses ini.”
“Aku paham Naya.” Mada yang telah ditambah statnya oleh Semar tanpa membuang buang waktu segera menuju kearah Abaddon.
“Gerbang kelima ‘ Prahara surgawi ‘ .”
__ADS_1
Langsung saja Mada membuka gerbang kelima. Kemampuan yang merubah penampilan kulitnya menjadi merah dikarenakan riak tenaga dari dalam yang mencoba keluar dari tubuhnya yang tertahan oleh kulitnya. Kemampuan ini adalah kemampuan yang didapat Mada dari sistem ketika dia berhasil mengumpulkan 7 artefak suci. Walaupun gerbang kelima bukan puncaknya tapi kekuatannya jauh untuk dinalar. Jikalau pun ada kobaran api, api itupun bisa terpotong oleh tebasan tangannya.
Abaddon yang merasa yakin dan tahu kemampuan Mada akan membelah bola energi yang dibuatnya segera melemparkan bola energi itu kearah gapura Wringinlawang.
Mada yang kekuatannya dan kecepatannya bertambah berkali lipat, semakin cepat kearah Abaddon dalam hitungan detik. Untuk ukuran orang awan hitungan detik adalah ukuran yang sangat cepat, bahkan untuk benda yang bergerak dengan ukuran detik bisa tidak terlihat, tapi bagi seseorang yang juga memiliki persepsi ukuran detik juga, kecepatannya akan sama seperti gerakan normal. Gerakan Mada yang sangat cepat dapat terlihat normal dihadapan Abaddon demikian juga sebaliknya.
Crasshhh...
Tapi tak disangka Abaddon yang merasa yakin kalau Mada akan membelah bola energi yang dibuatnya malah akan memotong tangannya.
Dengan cepat ketika tangan itu mau jatuh ke bawah dengan sigap Mada mengambil tangan tersebut, Abaddon yang terkejut akan situasi yang dihadapinya tidak siap, apa yang dibenaknya diluar rencananya, kesalahan perhitungan dalam ukuran detik pada Pejuang tingkat tinggi merupakan kesalahan fatal apalagi sampai terganggu konsentrasinya.
“Gerbang keenam ‘ Diatas langit masih ada langit ‘ .”
Mada pun berteriak sekuat tenaga, tubuhnya langsung terselimuti oleh petir, kecepatnnyapun semakin bertambah dan segera mengejar bola energi yang dilemparkan oleh Abaddon.
“Kau gila MADA...” teriak Naya, Naya teriak karena tahu apa yang akan terjadi jika sampai Mada membuka gerbang keenam, menurut perhitungan Naya cukuplah dengan menggagalkan bola energi tanpa harus memotong tangan Abaddon, terlalu banyak makan waktu walau itu hanya sedetik saja.
Mada yang semakin dekat dengan bola energi Abaddon segera menendangkannya kearah atas langit. Sambil melemparkan potongan tangan Abaddon kearah Rangga.
“Tangkap Rangga.” Segera Rangga menangkap apa yang dilempar oleh Mada tadi.
Bola energi itupun terbang kelangit.
Wuzzzz...
Tapi sayang ketika Mada menendang bola energi itu keatas terjadi benturan energi antara kaki dengan bola energi tersebut yang berakibat ada pecahan pecahan energi kecil dan salah satunya malah ada yang mengenai lingkaran array yang dibuat oleh Semar.
“Sial...”
Baca artikel Gerbang Hitam di
__ADS_1
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam