
Langsung saja Rangga menoleh ke arah sumber suara terlihat sesosok cewek yang berparas cukup menarik berada dibelakang Rangga.
“Kamu Grade D?”
“Iya Mage Grade D dengan atribut Air.”
”Bang Budi Grade B kamunya Grade D, trus adik kecil kita yang disana tuh Grade apa ya?”
Sambil Rangga mengarahkan pandangannya ke arah anak kecil yang membantu memadamkan api tadi.
“Tunggu sebentar ya.” ujar Rangga, langsung saja Rangga beranjak dan menuju ke arah anak itu.
“Dik, gabung sama kita yuk.”
Terlihat sosok anak kecil itu malu malu.
“Boleh kak...”
“O iya nama kamu siapa ?”
“Santi...”
“O... dik Santi, gabung sama kita bentar ya.” Rangga pun mengajak Santi bergabung dengan mereka.
“Perkenalan dulu, nih yang buat kebakaran kak Budi hehehe dan ini mbak, mbak siapa ya?” Tanya Rangga kepada cewek Grade D tadi.
“Pertiwi...”
“Kita ulangi lagi ya dik Santi, abang namanya Rangga, ini bang Budi sedang kan ini namanya kak Pertiwi.”
“Salam kenal Abang dan kakak nama saya Santi, dan saya adalah mage Grade B dengan atribut air.”
“Loh Kok kita sama ya dik Santi atribut air, tapi kakak kok nggak bisa mengeluarkan es ya?” Tanya Pertiwi bingung mengenai es yang dikeluarkan oleh Santi tadi.
“Nggak tahu juga loh kak, semuanya atau sepertinya sudah diatur oleh sistem karena ini juga merupakan hal baru jadi kita harus adaptasi terlebih dahulu.” kata Santi.
“Aduh kok dek Santi pintar banget.” Budi merasa takjub atas penjelasan Santi, padahal Santi merupakan anak kecil yang baru setingkat SMP.
__ADS_1
“Nggak kok bang Budi kebetulan ja tadi baru kepikiran.”
“Entar dulu...” potong Rangga.
“Santi kok malam malam keluar nih, masih kecil udah jam berapa ini?” Sambil Rangga menunjukan arloji si tangannya kepada Santi, karena saat ini sudah hampir jam 11 untuk anak anak seusia Santi merupakan hal yang berbahaya keluyuran di malam hari.
“Nggak kok bang Rangga, rumah Santi dekat kok, tu rumah Santi, itu juga papa dan mama Santi.” sambil menunjukkan arah jari telunjuknya ke arah sebuah rumah toko yang berada diseberang jalan, karena jalan yang ditempati oleh warungnya ayah Budi bukan termasuk jalan besar hanya jalan kecil dua arah kurang lebih lebarnya tiga meteran, juga terlihat dua orang yang ditunjuk oleh Santi mulai mendekat kearah mereka.
“Bang Budi... bisa tak bang Budi keluarkan api yang tadi?” Tiba tiba Rangga membuat permintaan kepada Budi padahal Budi sendiri sedang trauma atas perbuatannya yang tadi hampir membakar seluruh warung ayahnya.
“Gimana nih ya rangga, bang Budi trauma nggak berani takutnya entar apinya pada kemana mana bisa bisa kebakaran rumah rumah disekitar kita nih.”
“Nggak apa loh bang Budi disini kan ada pertiwi dan juga Santi, kalau nggak bang Budi keluarin aja api dengan ukuran kecil ntar pertiwi dan Santi ganti gantian memadamkannya, bang Budi nggak penasaran nih mengenai Pejuang?”
“Penasaran sih penasaran tapi ntar kalau ke Kebakaran lagi gimana?”
“Kita kan coba dengan api kecil ja kok bang Budi ya kan pertiwi, Santi.” Rangga mencoba mencari dukungan kepada pertiwi dan Santi, karena kemungkinan ini penting untuk kedepannya nanti.
“Baiklah tapi kita cari tanah yang agak lapangan ya kebetulan masuk gang situ ada tanah kosong kita bisa mencoba disana.”
“Begadang dikit lah hehehe.”
“O iya, Santi minta izin dulu sama ortu kamunya kita juga minta izin juga soalnya bawa anaknya malam malam.”
Setelah minta izin kepada orang tua Santi dan mendapat izin karena mereka juga akan ikut serta walau dengan menjaga jarak, mereka berempat pun segera menuju ke lapangan kosong yang berada masuk kedalam gang, memang benar ada lapangan kosong lumayan besar juga dan ada dua gawang disitu kemungkinan merupakan lapangan sepak bola mini atau futsal, dan jarak antar rumah masih regang tidak terlalau rapat.
Dan mereka pun segar melakukan apa yang mereka rencanakan tadi.
“Maksud dek Rangga menurut bang Budi pasti untuk uji coba kan? Tapi bisa berbahaya untuk Rangga yang bukan pejuang jadi Rangga bisa jaga jarak juga.”
“Hehehe sebenarnya Rangga tadi berbohong Rangga pejuang juga.”
“Loh...”
“Iya Rangga Pejuang tapi malu karena Rangga Grade E menurut Rangga kemungkinan ini Grade yang paling rendah, kan malu maluin.”
“Kemampuan apa yang Abang Rangga miliki?” Tanya Santi.
__ADS_1
Rangga agak terdiam sebelum dia melangkah ke dan mengambil sebuah batu segenggaman tanganya lalu dengan sekali gerakan Rangga menghancurkan batu yang ada di genggaman tanganya.
“Seperti begini lah kemampuan Rangga.”
Dan Rangga menujukan pecahan bantu yang pecah kepada mereka.
“Wah Rangga hebat sekali batu itu kan keras tapi bisa hancur segitunya.” ucap Pertiwi dengan antusias.
“Hahahahaha...” Rangga pun tertawa terbahak bahak.
“kita mulai ya.” Budi memberikan instruksi kepada mereka.
“Tornado flame.”
Dan segara tangan Budi mengeluarkan api yang berputar putar sepeti tornado sambil mengontrolnya, tornado api yang dilepaskan dengan sekejap ukuran tornadonya membesar dan hampir mencapai tiga meter dah suasana menjadi panas akan apinya, segera saja Pertiwi mengeluarkan jurus airnya dan segera air yang gelombang air mengelilingi tornado api itu.
“Pertiwi gunakan jurus yang paling kuat.” Teriak Rangga, karena akibat dari percobaan itu menimbulkan suara yang cukup kuat sepeti suara kobaran api yang terkena siraman air tiada henti.
Ceesssssssss......
“Ini juga yang paling kuat Rangga, tapi jangan bilang jurus lah karena disistem ini dikenal dengan Spell.”
“Kalau bang Budi itu spell terkuat tidak ya?”
“Ini spell no 3 dari atas tapi bang Budi hanya mengontrol agar tidak terlalu besar.”
Namun tornado api itu sendiri tidak padam, aneh sekali karena hal tersebut melawan hukum alam api sama sekali tidak padam oleh air, benar benar melawan ilmu fisika.
Dan Pertiwi segera menghentikan upayanya untuk memadamkan tornado api buatan Budi lantas Santi pun mulai aksi untuk mencoba memadamkan, Karena sebelum percobaan dimulai mereka sepakat kalau Pertiwi dulu yang akan mulai memadamkan apinya baru kemudian Santi.
“Gletser ball.”
Segera saja bermunculan bola bola salju dari udara dan mulai menghantam denga keras tornado api tersebut, walaupun bola bola salju itu berukuran kecil namun udara yang semula panas mulai berudara dingin, dan terus terusan tornado itu terkena serangan bola salju, dalam waktu kurang dari sepuluh detik tornado api itu segera padam meninggalkan bekas rerumputan yang terbakar habis bahkan tanah yang ada dibawahnya berwarna hitam.
“Jadi apa kesimpulannya.“ tanya Budi.
https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam
__ADS_1