Gerbang Hitam

Gerbang Hitam
Grade


__ADS_3

Rangga pun sejenak memperhatikan situasi disana, semua sangat antusias terhadap pertunjukan masak tersebut.


“Pak pesan satu nasi gorengnya ya.” Rangga pun memesan nasi gorengnya kepada pemilik warung tersebut.


“Eh nak Rangga, pesan satu? Biasa pesannya tiga.”


“Nggak pa pa pak cuma mau pesan satu aja, ada apa pak kok rame rame didapur.”


Sebenarnya tidak bisa dibilang dapur karena pada dasarnya dapur yang dijadikan ruang masak tidak lebih ruangnya yang hanya disekat oleh kayu pembatas disekelilingnya, dan tidak tinggi hanya sebatas pinggang orang dewasa, dan ditempati oleh dua buah kompor untuk memasak, ruangan dapur itu terlihat jelas oleh pengunjung warung itu.


“Ha ha ha...”


Sambil tertawa pemilik warung itu menunjukkan jarinya kepada koki yang sedang memasak.


”Itu, anak saya si Budi satu hari yang lalu katanya dia terpilih menjadi seorang Pejuang, nak Rangga tahu kan berita berita heboh pada saat ini.”


“Hanya sedikit yang saya tahu pak.”


“Dengar dengar ini semuanya ada hubungannya dengan lingkaran aneh itu, sebuah lingkaran yang berputar putar yang mirip dengan lubang hitam, seperti yang di TV atau di internet loh nak Rangga.”


“Rangga juga tahunya hanya sekedar itu juga pak.”


“Kata Anak saya, ada tulisan aneh yang muncul dihadapnnya tapi tidak terlihat oleh bapak, heran juga awalnya tapi ketika dia menunjukan api yang keluar dari tanganya, wow... Kenapa bisa jadi begini bisa keluar api, hehehe.”


Rangga pun sejenak memperhatikan anak pemilik warung tersebut sedang memasak nasi goreng, Rangga pun mulai bergabung dengan pengunjung lain untuk melihat cara masak si Budi.


Terlihat Budi dengan gayanya memasak walau sebenarnya tak lebih sekedar memamerkan api yang keluar dari tangannya, dan sesekali melontarkan api ditangannya keatas, dan sekejap api menari menari diatas udara, karena pengunjung semakin ramai dan yang melihat juga terus menunjukan rasa kekaguman Budi semakin tambah semangat bahkan api yang ada diudara terus bertahan tanpa adanya sesuatu yang dibakar, benar benar api murni tidak ada yang lainnya, segera saja Budi menggerakkan tangannya dan mulai terlihat api itu mulai bergerak gerak dengan sendiri, menari nari diudara, tepuk tangan pun mulai terdengar.


“Wow.”


“Mantaps.”

__ADS_1


“Gokil.”


Banyak sekali pujian yang diberikan pengunjung warung itu kepada Budi, karena semangatnya tak sengaja Budi menggerakkan tangan terlalu lebar hingga api yang ada diudara bergerak lebih keatas dan mulai membakar atap warung tersebut, atap yang sebagian terbuat dari kayu mulai terbakar tapi karena mungkin dikarenakan api itu sendiri tidak seperti api biasanya dengan cepat mulai membakar habis kayu penumpang atap warung itu, segera saja Budi dan semua pengunjung panik, semua pada teriak.


“Kebakaran... kebakaran...”


“Kebakaran.... kebakaran...“


Bapak Budi yang merupakan pemilik warung terlihat membawa satu ember penuh air segera ia menyiramkan air yang dibawa ke kayu yang terbakar, namun apinya sama sekali tidak padam dan terus menjalar dengan cepatnya kekayu yang ada disampingnya dan apipun semakin membesar, sangat disayangkan tidak ada alat pemadan kebakaran disana dan itu wajar untuk ukuran warung warung nasi goreng yang ada di Indonesia jarang sekali ada yang memiliki alat tersebut tak terkecuali warung favorit Rangga ini.


Rangga yang melihat kejadian tersebut bahkan dengan air, api itu susah padamnya terlihat panik juga tapi Rangga tidak mencoba berlari keluar seperti yang lainnya, sebagian pengujung bahkan para tetangga mulai berdatangan sambil membara ember yang berisi air dan ada juga yang mengambil selang air, Rangga yang melihat api itu berharap agar api itu segera padam ketika terkena air.


“Kenapa tidak padam? Padamlah api...”


Dan tiba tiba sebuah jendela notifikasi muncul Dihadapannya


‘Tingkah penyelesai ‘Sesuai Kehendak’ meningkat 0,02 %’


Tak berapa lama api itu mulai menunjukan tanda tanda akan padam namun sama sekali belum padam, Rangga sendiri yang terkejut melihat tanda notifikasi tersebut segera saja Rangga teriak.


“Padamlah api.”


Namun api itu tidak padam seperti yang diharapkannya, dan api semakin membesar


mulai merembet ke bawah dan menyentuh tiang tiang penyangga.


“Water splash.”


Terdengar sebuah suara yang keluar dari kerumunan warga yang berkumpul, dan dari kerumunan tersebut keluar seorang cewek seumuran dengan Rangga, tiba tiba percikan percikan air bermunculan dan mengarah ke kebakaran, walau dibilang percikan tapi percikan air itu sendiri sangat besar bahkan satu percikan air itu sepeti mengandung satu gayung air dan percikan itu ada banyak dan segera api yang membakar atap warung itu segera menunjukan arah arah akan padam namun susah sekali untuk padam.


“Deep ice.”

__ADS_1


Suara seseorang kembali muncul tetapi asal suara bukan berasal dari cewek tersebut melainkan berasal dari kerumunan diseberanginya muncul seorang anak kecil perempuan diperkiraan seperti anak setingkat SMP.


langsung saja tiang tiang, atap dan disekiling api itu mulai menunjukan tanda tanda kebekuan, kebekuan terus menjalar hingga tiang tiang yang terbakar menjadi beku dan api terasa kesulitan untuk membakar kembali tiang yang telah membeku apalagi api terus menerus diterpa oleh percikan percikan air.


Tak lama apipun segera padam, terlihat si Budi terduduk lemas menyaksikan hasil perbuatannya. walaupun tanpa dia sengaja namun semua itu berasal dari dirinya dan itu disadarinya.


“Maaf pak, ini salah Budi hingga warung kita terbakar.”


“Ahhhh...” bapaknya Budi hanya menghembuskan nafasnya dan segera tertuju pada dua orang yang telah memadamkan api di warungnya, walau tidak yakin sepenuhnya tapi bapaknya Budi percaya kalau kedua orang tersebut merupakan Pejuang juga sama seperti anaknya dan mengucapkan terima kasihnya.


Tak lama mobil kebakaran pun tiba di lokasi, segera anggota pemadan kebakaran itu mencari tahu asal usul mula kebakaran hingga terjadi pemadaman semunya dicatat oleh mereka dan akan masuk sebagai laporan untuk dievaluasi lebih lanjut mengenai fenomena aneh ini.


Rangga sendiri segera mendatang Budi.


“Bang Budi nggak pa pa kan?”


“Oh... dek Rangga maaf ya sepertinya tidak ada nasi goreng lg yang ada.” Budi sudah mengenal baik Rangga yang merupanya pelanggan warung nasi goreng bapaknya sedikit bergurau.


“Nggak pa pa bang, lagian kejadian ini sama sekali tidak disengaja, tapi ngomong ngomong bang, Abang Pejuang?”


“Iya dek, Abang Pejuang tepatnya sih Pejuang kelas Mage.”


“Abang punya grade?”


“Grade? Kok tahu dek Rangga tentang Grade?”


“Tahunya cuma dari berita internet aja.”


“O.... kirain dek Rangga Pejuang juga hahaha , Grade B Abang Mage, dengan atribut api tepatnya.”


“Saya Grade D” terdengar suara yang berasal dari arah belakang Rangga yang ternyata berasal dari suara cewek yang mengeluarkan serangan air tadi.

__ADS_1


https://rairinproject.blogspot.com/p/gerbang\-hitam


__ADS_2