Gharib Cinta

Gharib Cinta
Terbuai Keadaan


__ADS_3

...>>>Happy Reading<<<...


Handphone yang selalu mendampingi hidupnya tidak akan pernah ditinggalkan meskipun sudah begitu fokus dengan televisi.


Ya, betul sekali; sesekali pandangan bola mata menghadap handphone, telinganya masih aman pada posisi menyaring suara yang timbul dari televisi.


Seringkali dia dibuat heran akan hal itu, kenapa orang lain kalau sudah fokus pada handphone itu ketika dipanggil jadi slow respon.


Sehingga yang memanggil harus dengan nada yang bisa membuat mereka terkejut.


Sedangkan dirinya sendiri; tanpa dibuat terkejut, bahkan dengan suara lembut Aini bisa mencerna.


Sama halnya ketika dia menggunakan headset; Ketika yang lain tidak respon dengan alasan menggunakan headset jadinya tidak mendengar.


Dia malah pernah mencoba menggunakan headset dengan volume sedang; suara sekitar masih terdengar begitu jelas, meskipun terdengar remang-remang; ketika dipanggil juga masih bisa menjawab.


Nah ketika mencoba dengan volume full alias paling kenceng; dia juga bisa menangkap suara yang ada di sekitarnya.


Kring..


Hp Aini bernotifikasi, tidak lagi di silent seperti tadi.


"Siapa sih yang chat?"


Sedikit geram, tapi tetap mengalihkan pandangan ke handphonenya.


"eeeem,,, hanya pesan grup."


Terpampang jelas di situ grup bernama PERPUSJAL (perpustakaan jalanan), tertulis pesan bahwasanya di grup itu ada undangan terbuka.


Waktu usai maghrib hingga bosan, di hari Sabtu untuk membuka lapak di depan perumahan, sebut aja Pandawa.


Kenapa malam Minggu? Biasa malam Minggu banyak orang yang keluar malam, dan berhubung anggota mayoritas masih duduk di bangku SMA sederajat; malam Minggu adalah waktu yang tepat, karena besoknya mereka tidak akan telat berangkat ke sekolah.


Aini kembali fokus pada televisi yang ditonton bareng keluarganya.


"Kring,"


Handphone Aini kembali berbunyi, entah siapa lagi yang memberikan pesan. Aini orangnya selalu merasa penasaran, jadi ketika ada pesan masuk dia selalu melihatnya. Membalas atau tidak itu masalah belakang.


Dengan rasa penasarannya, Aini membuka pesan dan membacanya dalam hati.


"Sudah sampai rumah ta?"


Pesan WhatsApp lagi-lagi dari Reza, pria itu selalu saja selalu saja ingin mengetahui keadaan Aini. Namun Aini menanggapinya dengan biasa saja, dan menganggap Reza sebagai teman biasa.


"Sudah, Mas." Balasan singkat yang dilontarkan Aini.


"Ya sudah istirahat! Jangan lupa makan ya!"

__ADS_1


Dengan segenap kemampuan Reza selalu saja memberikan perhatiannya pada Aini, sedangkan Aini? Ya, beranggapan itu biasa saja. Karena dia juga tidak pernah bertatap muka, maka sebuah perhatian hanyalah perhatian semata.


Sebenarnya Aini juga sedikit risih dengan perhatian itu, akan tetapi berhubung tidak ada yang chat lagi selain orang-orang itu; Reza dan Arya. Jadi Aini sedikit menghargai keberadaan mereka.


"Kriiiing,,"


"Ah, siapa lagi sih?"


Baru saja Aini hendak meletakkan handphonenya, tapi handphonenya tidak mau; sehingga ada saja pesan masuk satu persatu di WhatsApp-nya.


Kali ini bukan Reza maupun Arya, melainkan Diki.


Dalam pesan dia bertanya,


"Bagaimana, malam Minggu ikut buka lapak kah?"


Aini menjawab pesan dengan semestinya,"Belum tahu ya, kalau nggak ada kegiatan lain atau tugas kuliah; insyaallah ikut."


"Kalau ikut berangkat bareng yuk!"


Sebenarnya Aini lupa bahwasanya Diki itu gabung di grup perpusjal, Nah sedangkan Diki ini merupakan mantan pacar Aini yang hubungan terbilang lama dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka berhubung kurang lebih 2 tahun dan kandas begitu saja.


"Kayaknya aku ngaji dulu deh, baru nanti kalau mau aku nyusul."


Tolakan halus namun entah disadari atau nggak,


"Ya udah, gpp kalau mau ngaji dulu. Kita berangkat bareng, oke?"


Sedangkan Aini seolah menolak ajakan itu dengan tenang dan tanpa harap.


"Hmmmmm,,, oke, tinggal besok aja ya!"


"Oke, see you!"


"Oke,"


Sekarang Aini meletakkan handphonenya perlahan, dengan hati was-was dan berharap tidak ada pesan masuk lagi.


Harapan Aini terkabul, dia menikmati suasana malam dengan menonton televisi bersama keluarga kecilnya. Bercanda tawa, ngobrol dengan skenario film, greget dengan film, bahkan berkata seakan-akan ingin mengubah alur cerita di film.


"Seharusnya Dini itu menampar si Bunga," Ucap bapaknya geram.


"Iya, is.. Dini terlalu pendiam," tambah ibu.


Sahutan Aini beda dari keduanya,"Orang itu film, diajak ngomong ya nggak bakal direspon."


Pecah sudah gelak tawa hingga sudut ruangan itu penuh.


Menit demi menit berlalu, yang tadinya Aini telah lupa dengan rasa lelahnya; ini tubuhnya kembali mengingatkan.

__ADS_1


Tanpa pamit karena takut mengganggu suasana, Aini langsung berdiri sambil meraih handphonenya dan segera melangkah ke ruang tempat dia bermimpi.


Keluarga Aini juga tidak menanyakan dia mau kemana, karena mereka sudah tahu kebiasaan Aini yang kalau di rumah lebih sering di kamar untuk beristirahat.


"Ups, kok aku mau tidur; kan aku belum sholat!"


Di tengah perjalanan Aini ingat bahwa dia belum sholat isya' dan akhirnya belok kanan menuju kamar mandi,


"Hampir saja kelupaan; Terima kasih, Ya Allah!"


Tubuhnya memang layu, tapi bukan berarti tidak mampu untuk meraih air wudlu.


Sholat bukan sekadar menunaikan kewajiban, melainkan suatu kebutuhan batin yang harus dipenuhi setiap insan yang beriman.


"Aku memang bukan anak baik-baik, tapi aku masih butuh Tuhan yang Maha Baik."


Aini membersihkan farji sebelum menguraikan air wudhu ke bagian tubuhnya,


Jarum jam terus berlalu, Aini telah menunaikan kebutuhannya.


"Saatnya tiduuuuuuuuur," teriakan dalam batinnya.


Kaki melaju menuju tempat ternyaman,


"Braaaak,"


Pintu tertutup dengan agak pelan, namun masih bisa di dengar oleh keluarganya yang sejak tadi fokus dengan drama di televisi. Namun sekali lagi, keluarganya tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Beda lagi kalau pintu ditutup dengan suara kenceng dan disengaja, mungkin akan menimbulkan amarah dari bapak dan ibunya.


"Bruk,"


Tubuhnya langsung dijatuhkan di kasur kerasnya, tidak merasakan sakit malah menikmati akan hal itu.


"Huuuuuuuuuuuuh," helaan nafasnya begitu syahdu.


"Akhirnya,,, bisa merebahkan diri juga."


"Seharian ini begitu melelahkan."


Kemudian dia sengaja membuka layar handphone yang di genggaman, tapi nihil;


"Kok nggak ada yang kirim pesan ya! Kemana sih orang-orang ini?"


Aini tak kunjung menenggelamkan mata kantuknya, dia malah fokus melihat layar handphone yang membuka stori-stori nomer yang saling save di kontaknya.


Banyak model stori yang menjelaskan kehidupannya masing-masing, ada juga yang up stori berbuah nuansa ataupun ilmu. Tapi semakin lama dia melihat stori, semakin bisa juga matanya.


Akhirnya dia membuka laman YouTube, di situ dia mencari syair lagu yang bisa membuatnya tertidur.


Bukan lagu DJ maupun lagu barat, yang dia tuju adalah lagu yang bernada mellow. Dari situlah mata Aini mulai sayup-sayup dan akan redup.

__ADS_1


Syair lagu tetap berdendang, namun pandangan mata Aini sudah hanyut; larut dengan syair lagu yang berdendang.


>>>Bersambung......


__ADS_2