Gharib Cinta

Gharib Cinta
Hambar


__ADS_3

>>>Happy Reading!<<<


Jingga mentari mengiringi perjalanan Aini, Arif dan 2 teman Arif yang telah menunggu di salah satu tempat yang berhubungan dilewati.


Beberapa teman Arif dan juga teman Aini di Perpusjal mengira bahwa mereka berdua ada hubungan spesial, namun yang mereka kira itu tidak benar.


"Rif, tempatnya jauh nggak sih?"


Aini bertanya dengan polosnya, karena selama ini Aini tidak pernah berjelajah meskipun di kecamatan sebelah.


Sepanjang perjalanan, mata Aini tidak berhenti memandangi pemandangan yang ada.


"Aku pernah tahu tempat ini di beberapa tahun yang lalu."


Hati Aini bergumam apapun yang ia lihat, mulutnya memang terlihat diam namun mata dan hati selalu berkeliaran. Mulut terbungkam bukan karena tidak berani ngomong, akan tetapi tidak ada topik untuk memulai pembicaraan.


"Oh, tempat itu!"


"Kurang lebih 4 tahun yang lalu, aku melihat orang yang memungut makanan di sampah berserakan dan memakannya. Hati merasa iba namun tidak ada keberanian untuk mengutarakan pada orang yang mengemudi, iya itu guruku."


"Waktu itu pas hendak berangkat ke technikal metting Aksioma."


Tempat itu memang sering Aini lewati ketika hendak ke kampus, namun dia tidak begitu memperhatikan. Sebab tidur saat naik angkutan umum itu nikmatnya luar biasa.


Aini kembali mencari pusat pandangan yang menurutnya menarik,


"Ah bingung aku lihat jalan keg gini, kelihatan pohonnya yang berjalan; bukan aku yang semakin berlalu."


"Duh, kenapa nih?"


Arif merasa panik dengan yang ia rasakan terhadap motornya.


"Kenapa, Rif?"


Aini mencoba untuk bertanya, karena terlihat dari suara Arif sedang tidak baik-baik saja.


"Nggak tahu ini, kegnya ban bocor deh!"


"Hah, serius? Coba menepi dulu!"


Mereka berdua mulai panik dengan keadaan yang tidak memungkinkan ini,


Akhirnya mereka menepi dan ngecek keadaan motornya.


"Tuh kan!"


Lemparan suara Arif yang sedikit kecewa,


"Masih jauh apa nggak sih, Rif?"


"Nggak, kayaknya bentar lagi nyampe."


"Oh ya udah, ayo nyari bengkel!"


"Bentar, aku telpon Mas Iyan dulu."


Satu nama yang Arif sebut itu karena dia juga ikut ke acara ini.


"Eem, Oke!"


"Tuuut,, tuuuuut, tuuuuut ... "


"Ada apa, Guys?"


Ada suara remang-remang yang terdengar di telinga Aini, itu dari balik ponselnya Arif.


"Ban motorku bocor, Mas."


"Di mana?"


"Ini udah melewati lampu rambu lalu lintas."


"Oh deket."


"Ya udah, tunggu!"

__ADS_1


Orang baik akan dipertemukan dengan orang baik,


Sambil menunggu kedatangan Mas Iyan, mereka berdua mendorong motornya.


Setapak demi setapak ia lalui, hingga sampailah Mas Iyan menghampiri mereka.


"Mas, minta tolong dong! Aini dianter dulu aja ke tempat acara. Nanti jemput lagi bantu dorong."


"Oh gitu," Iyan sedikit mikir dan berujung menyetujui pendapat Arif.


"Oke oke, ayo Ai!"


"Beneran ta, Rif? Nggak ah, aku nemenin kamu aja!"


Seorang perempuan memang mengedepankan perasaan, Aini merasa dia tadi berangkat bareng; kenapa saat susah seperti itu malah dia pergi.


"Nggak papa, Ai. Ikut sama Mas Iyan dulu aja, nanti aku gampang kok."


Terlihat jelas akan ketulusan Arif, dia juga kasian melihat Aini kalau harus ikut mendorong motornya.


Sebagai perempuan, Aini juga menghargai pendapat Arif. Takutnya dia malah menyusahkan lagi jika ikut mendorong motor.


"Okelah, aku ikut Mas Iyan ya? Maaf ya, Rif!"


"Santai, Ai."


"Oke, hati-hati ya!"


Tubuh Aini telah bertempat di motornya Iyan, dengan rasa canggung Aini menaikinya. Namun tak apa, ini juga yang Arif sarankan.


"Tapi nanti dia gimana ya?" hati Aini kembali mengusik.


Sesampai di tempat acara, Aini mencari tempat yang nyaman. Namun seribu sayang, hati dan pikirannya masih saja mengkhawatirkan Arif.


"Ketemu bengkel nggak ya? Dia udah selesai apa belum ya?"


Mata Aini berkeliaran mencari wajah Arif yang belum juga nampak di tempat acara.


"Mas Iyan!"


Aini pun melanjutkan pembicaraannya.


"Arif gimana? Udah ketemu bengkel?"


"Sudah, paling bentar lagi selesai kok. Tenang saja, aman aman."


Nafas lega terhempas dengan ramah.


"Syukurlah kalau gitu; terima kasih ya, Mas!"


"Oke, sama-sama."


Iyan pun langsung meninggalkan Aini yang masih dalam penantian.


Nafas memang terhempas lega, namun kembali tertahan ketika penantian tak kunjung usang.


Mata Aini berusaha untuk menikmati suasana dalam acara, namun hatinya masih saja gelisah.


"Ai, Aini!"


Jiwa Aini telah melaju dalam alam bawah sadar, sehingga beberapa panggilan Arif tak sampai dalam telinganya.


"Hah, iya!"


Sontak Aini kaget melihat Arif yang ternyata sudah ada di sampingnya.


"Sejak kapan kamu di sini?"


Dengan polosnya Aini menanyakan hal tersebut.


"Sudah sejak tahun kemarin!"


Arif mencoba untuk mencairkan suasana dan berusaha menghilangkan rasa kagetnya Aini yang seakan nyawanya baru kembali memasuki tubuh.


"Hehehe, maaf! Aku nggak tahu!

__ADS_1


Tangan berperan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, dan bibirnya cengengesan menahan malu.


"Lagian melamun apa sih? Sampai khusyuk banget gitu?"


"Eng eng nggak!


Suara hatinya mengentikan apa yang mau diutarakan.


"Kalau aku jawab jujur, nanti aku bakal sungkan dan dia juga malah kepedean."


"Nggak melamun apa-apa kok, tadi tuh lagi fokus lihat performance mereka aja; keren tahu!"


"Melihat performance mereka sampai segitunya?"


Arif mencoba meyakinkan perkataan Aini, dikala dia tidak begitu percaya dengan apa yang katakan oleh Aini,


"Dari matanya dia kelihatan sedang berbohong, mana mungkin dia melihat pertunjukan sampai segitu fokusnya; pasti ada yang disembunyikan."


Hati Arif berkutik tidak setuju dengan omongan Aini.


"Iya, eh bagaimana motornya?"


Sekian lama Aini menanti kehadiran Arif, karena dia merasa bersalah tadi tidak menemani penuh saat perbaikan.


"Udah, udah beres kok!"


"Berapa?"


Aini yang berhati tidak enakan ini mencoba untuk menanyakan biaya perbaikan motor,


"Apanya?"


"Biaya perbaikan dong! Apalagi?"


"Oh, udah kok!"


"Berapa?"


"Nggak berapa berapa."


"Jangan gitulah, kan aku jadi nggak enak. Lagian motornya kita berdua yang naikin,"


"Udah ... nggak papa, Ai."


"Eeeeeem ... Iya deh, makasih banyak ya! Maaf udah ngerepotin!"


"Apa sih? Santai aja,"


Hanya kepala yang mampu memberikan jawabannya.


Arif pun menganti topik pembicaraan dengan sigap.


"Ai, mau pesan apa?"


Ya, acara tersebut diadakan di sebuah Cafe. Mungkin juga sekalian promosi tempat, jadi diadakan acara di sana.


"Aku dah pesan ini!"


Jari telunjuk dilemparkan kearah gelas yang berisikan minuman rasa coklat.


"Oh, oke! Aku pesan ke sana dulu ya!"


"Oke, Rif!"


Bukannya tidak mau memesankan buat Arif, melainkan Aini belum begitu tahu apa yang disukai olehnya. Apalagi di hari pertama mereka pergi bersama.


Langkah demi langkah Arif menuju tempat pemesanan,


"Alhamdulillah, akhirnya beres juga masalah motor."


"Dari tadi hati dan pikiran selalu saja gelisah, karena perbaikan motor tak kunjung usai."


Aini monolog dengan penuh rasa syukur,


>>> Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2