
...>>>Happy Reading<<<...
Aini mulai naik bus dengan raut muka yang masam, melihat-lihat kursi yang berada di dalam bus dan mencari-cari kursi yang kosong.
Dia tidak menikmati perjalanan sama sekali, pikirannya runyam tidak tahu harus melakukan apa. handphonenya masih stay di dalam tas, lagian tidak akan ada yang peduli dengan dia.
"Capek, harus cerita ke siapa?" Aini menjerit keras di hati terdalam.
Seorang gadis ini berusaha menikmati perjalanan dengan memutar musik yang bisa didengar oleh dirinya sendiri, akan tetapi di tengah perjalanan;
Dia terlalu menikmati lagunya hingga tak sadar air matanya jatuh bercucuran. Begitu sulit diungkapkan, namun apalah daya teman hanya sekedar teman.
"Aku tidak mungkin bercerita dengan siapapun, karena mereka tidak benar-benar peduli melainkan hanya kepo dengan kehidupanku saja. Bahkan jika mereka tidak suka sama aku, maka mereka akan tertawa paling kencang di belakangku."
Tiba-tiba,,,
"Puk,"
Tepukan tangan menyapa pundak Aini, sedangkan dia berusaha menghapus air matanya dengan telapak tangannya seperti kala itu.
"Mbak, turun di mana?"
Seorang kondektur menghampiri dia dari belakang, karena di depan kondektur itu ada orang yang masih berdiri mencari tempat duduk.
"Turun di dekat lampu merah depan, Pak!"
Aini menjulurkan jari telunjuknya ke depan, seakan mengarahkan jalan yang akan dituju.
"Berapa, Pak?"
Iya, Aini belum menyampaikan selembar kertas pun pada kondektur tapi sudah mau sampai tujuan.
"Lima ribu aja deh!"
Kondektur memberikan harga yang lebih rendah dari biasanya, karena pada waktu itu hari itu; Aini tidak dengan sengaja memakai jas almamater. Bahwa dia sedang berada di jenjang pendidikan, atau biasa disebut dengan pelajar.
"Oh; ini, Pak!"
Aini sudah menyiapkan uang untuk bisa pergi dan pulang, atau untuk keperluan yang lain; yang datang secara tiba-tiba.
"Siap," jawab si kondektur dengan mencatat struktur yang dipegangnya.
"Sayangilah diriku, jangan melupakanku, cintailah diriku, dengan sepenuh hatimu."
Mutiara aksa kembali mengalir dengan begitu deras. Lagu yang diputar menjelaskan tentang hadirnya seseorang terkasih. Apalah daya ini yang tidak ada yang mau mengerti, apalagi memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Gini ya, udah pernah merasa jadi anak buangan. Udah pernah mencoba untuk pergi dari rumah, dan masih banyak lainnya yang belum sepenuhnya aku sadari."
Monolog Aini kembali terjadi; dia mengeluh bukan karena dia tidak kuat, karena mengeluh juga salah satu obat untuk menumbuhkan semangat.
"Jadi gini ya caranya menyikapi kehidupan; penuh liku-liku, penuh caci makian, pokoknya penuh dengan pahit, manis, dan asamnya kehidupan. Merasa tidak dihargai sama sekali."
"Dengan masalah yang seperti, apakah aku bisa bercerita sama
Bapak sama ibu atas kejadian tadi? aku takut, pastinya akan memberatkan mereka."
Keluh kesah yang dinyatakan dan didengar sendiri telah memenuhi pintu hatinya. Aini merasa harus punya rumah untuk dijadikan pulang.
Rumah yang ditempatinya saat ini terasa bukan rumah, yang tiap kali dia datang hanya untuk numpang makan, numpang minum, numpang mandi, dan numpang tidur saja. Satupun orang tidak akan mau tahu tentang cerita kita masing-masing.
Semua orang pasti punya masalah masing-masing, punya cerita masing-masing, akan tetapi tidak semua orang mau menceritakannya; kadang juga semua orang tidak mau mendengar ceritanya.
Tangan Aini mulai meraba masuk dalam tas ranselnya untuk mengambil handphone yang telah terdengar suara musiknya. Iya, suara musik itu dia dapatkan dari headset yang telah menempel di telinganya.
Kemudian Aini membuka paket data yang tadinya dimatiin,
"Ddrrrrrt,, ddrrrrrt.."
Banyak WhatsApp bertebaran di dalam kolom chat. Memang mayoritas didapatkan dari grup, akan tetapi ada pun beberapa personal yang memberikan sebuah pesan pada dirinya.
"Posisi di mana?"
"Lagi ngapain?"
"Halooo!"
"Kalau pulang hati-hatinya."
Pesan-pesan dalam chat ini seakan menggugah selera Aini untuk mendeteksi tingkah laku mereka, dan menyeleksi siapa yang akan menjadi rumah tempat dia singgah.
Satu persatu dia membalas chat-chat itu dengan wajah yang biasa-biasa saja,
Masih sambil berusaha dengan menikmati perjalanan pulang, masih mengumpulkan kesadaran dalam berpikir, masih merangkai strategi yang tepat untuk menjelaskan kejadian kecelakaan yang terjadi tadi.
Sedangkan tiba-tiba dia malah teringat kejadian tak sengaja di beberapa tahun silam, yang mana dia dapat pesan dari ibunya untuk menyisakan uang jajan. Namun di tengah perjalanan yang penuh dengan kenangan air karena usai hujan; uang yang disisakan itu jatuh dalam genangan. Dia sudah berusaha mencari, akan tetapi hasilnya nihil tidak ditemukan.
Ketika di rumah dia bercerita tentang kejadian itu, eh ibunya tidak percaya malah ngatain uang itu dibuat jajan.
"Hmmmmmmmmmm," napas Aini terurai tanpa diminta.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
__ADS_1
…
Bus telah berhenti di tempat langganan, dan dengan jalan santai dia hendak menghampiri bapaknya yang telah stay menanti.
"Sudah pulang? Nggak mau mampir dulu?" Suara bu lek terdengar jelas.
Warung bu leknya Aini ternyata masih buka, dan ketika bu leknya tahu kalau Aini sudah pulang; bu leknya menawari Aini untuk mampir sekejap, bahkan sampai nawarin untuk makan dulu sebelum pulang.
"Hmmm," Aini melebarkan bibirnya dengan begitu sok ceria.
"Pulang langsung saja deh, bu lek! Udah jam segini juga. Itu sudah dijemput!"
Kaki Aini menuju ke arah bu lek hanya sekadar hendak salaman.
Ketika tangan bu lek sudah tepat berada di hidungnya,
bu lek kembali menawari hal yang sama.
"Ayo mampir dulu,, tak kasih makanan ya!"
Aini kembali menolak dengan lembut, "Inggih, bu lek. Lain waktu ya, soalnya sudah jam segini juga."
Bu Leknya langsung pasrah dengan apa yang diucapkan Aini, karena ucapannya tidak ada yang salah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18 lebih , sudah waktunya dia sampai di rumah. Jika tidak, maka akan menjadikan seisi rumah mengkhawatirkan dia. Dengan pulang tepat waktu dia akan mendapatkan kepercayaan penuh, dengan pulang terlambat; dia akan menjumpai dengan soal-soal yang butuh jawaban cepat dan tepat.
…
Saat memasuki usia remaja, Aini mulai mendapatkan apa yang dia mau selama ini; yaitu kasih sayang orang tua, yang tidak membeda-bedakan antara dia dengan orang lain.
Saat ini dia sudah tidak bisa lagi dituntut untuk sama dengan si A ataupun si B, apalagi dibedakan; karena semua sudah jelas beda dan sangat tidak bisa untuk disamakan.
Meskipun saat ini Aini sudah termasuk dalam kategori anak kesayangan orang tua, dia tidak akan pernah lupa kisah-kisah ketika dulu pendidikan orang tua terhadapnya tidak sesuai ranah.
Kekerasan tangan telah menjadi asupan di setiap harinya, namun dia sadar dan bersyukur.
Setelah dia masuk pondok, kasih sayang orang tuanya begitu lebih-lebih. Ternyata keadaan ekonomi telah membaik, dan bersyukur; ketika kekerasan dilakukan, dia tidak pernah sama sekali ada rasa dendam. Hanya saja kisahnya masih membekas dalam ingatan dan akan selalu jadi pembelajaran berharga dalam kehidupan.
Dalam perjalanan dengan motornya, Aini kembali gelisah dan kembali menggaung dalam batin;
"Cerita nggak ya sama bapak ibu soal tadi?"
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah"
>>>Bersambung...
__ADS_1