
>>>Happy Reading, Bestiiiiiii!<<<
...🤗...
Siang yang penuh halang rintang, membanting hati yang hampir kehilangan rasa dan memeras otak untuk tetap berkiprah di dunia fana'.
Minta hidup di dunia kedua bukanlah solusi, itu hanyalah kebahagiaan dalam ilusi. Nyatanya di dunia kedua akan dibenturkan dengan pertanggung jawaban apa yang sudah dilampaui semasa dalam dunia pertama.
Sengatan mentari siang begitu menusuk, Aini berdiri tegak menantikan kehadiran bus atau angkutan umum.
"Uh, panas sekali."
Aini merasa tubuhnya meneteskan keringat yang berangsur-angsur. Sedangkan tempat penantiannya tidak menyediakan tempat duduk, apalagi tempat teduh.
Sesekali Aini menjadikan tangannya sebagai kipas yang minim hasilnya. Bukannya mengurangi justru hal yang dilakukan hanya menambah jumlah banyak keringat.
Setengah jam telah berlalu, namun bus atau angkutan umum belum juga segera menghampirinya.
"Mana sih ini? Mana udah jam segini lagi. Masak harus telat lagi sih?"
"Apa aku harus lari aja kali ya? Tapi kan naik angkutan aja bisa sampai satu jam bahkan bisa lebih, bagaimana kalau lari?"
Hati dan pikiran Aini mulai gaduh, mengoyakkan segenap isinya yang belum tentu bisa merapikan kembali.
Meskipun Aini alumni atlet lari jarak jauh, namun tidak memungkinkan untuk dilakukan.
"Andaikan aku punya cowok, kalau masa keg gini kan bisa minta bantuan. Tapi ... semenjak aku putus sama Diki, kenapa aku merasa belum berani untuk menciptakan rasa kembali ya?"
"Padahal kan ..."
Aini merasa hidupnya kurang lengkap kalau hanya seorang diri.
"Tiiiiiiiiiiiiit,"
Tangan seorang kernet melambai-lambai dan pandangan matanya menuju ke arah Aini. Sebenarnya dia sedikit kaget dengan klakson yang menyapanya itu, hingga anggukan kepala menjadi wakil untuk membalas sang kernet angkutan umum.
Sambil melangkahkan kakinya, pikiran dan hati tidak bisa berhenti membicarakan hal yang tak pasti.
"Ah udahlah!"
"Yang terpenting saat ini adalah menjadi lebih baik lagi dari yang kemarin."
Seperti biasa, matanya meraba isi angkot; agar selama perjalanan dia merasa nyaman.
Aini memang seorang yang introver, makanya hati selalu merasa kosong; tiada tempat untuk meluapkan isi kepala dan teriakan-teriakan dalam hati.
Setiap kali memeras pikiran, setiap kali membujuk diri, setiap kali pertengkaran antara pikiran dan hati terjadi.
"Kring ..."
Handphone berbunyi memutus ilusi tak bertepi yang sedari tadi Aini terjang sendiri.
"Ai, malam Minggu depan ikut ke acara lapak di kecamatan tetangga tak?"
Pesan dari Arif teman dekatnya Diki yang emang masih satu klop sama perpustakaan jalanan, yang kemana-mana selalu berkolaborasi. Namun Arif terjun di Buka suara, dalam komunitas ini merangkul generasi musik lokal.
__ADS_1
"Tumben,"
Hati Aini tidak paham dengan kenapa tiba-tiba Arif bertanya seperti itu.
"Eeeeeemm, nggak kayaknya. Soalnya aku nggak ada motor sih."
"Oh, nggak papa. Ayo boncengan sama aku, kalau mau!"
Ketika Aini ikut dalam sebuah komunitas, grup atau apapun itu; tidak bisa ikut kegiatan yang ada. Dia akan merasa sangat amat tidak enak. Padahal mereka atau komunitas tersebut tidak begitu butuh akan keberadaannya.
"Ya udah, nggak apa-apa sih kalau ikut."
"Oke, siap!"
Sesingkat dan padat itu percakapan antar keduanya, ya emang karena Aini dan Arif tidak begitu akrab. Hanya sekadar tahu nama saja.
"Enaknya ikut nggak ya?"
Aini bertanya pada diri sendiri, untuk memastikan apakah dia benar-benar mau ikut atau tidak.
"Nanti izin sama ibu dulu aja deh,"
Bukan Aini namanya kalau pergi tanpa izin,
…
Mata kuliah hari ini telah Aini lampaui, meskipun sedikit terlambat.
Usai itu dia tidak mampir kemana-mana, hanya rumah dan perjumpaan dengan kasur yang Aini inginkan.
Sambil menunggu kendaraan untuk pulang; Aini tiada henti untuk mengotak-atik pikiran.
"Ya Allah, jangan biarkan aku mengeluh yang seakan-akan tiada engkau di sisiku!"
"Selalu arahkan langkah kakiku menuju Ridho-Mu, jangan biarkan aku tersesat di jalan yang lain."
Aini sangat mengait dengan nama tuhan, meskipun kewajiban belum tentu semua terlaksanakan.
Setiap dalam kesesatan atau kemaksiatan Aini selalu diingatkan oleh Tuhan melalui rasa yang timbul secara bergejolak di hati.
"Aku percaya bahwa engkau Maha Pengasih, tidak akan meninggalkan hamba yang lemah meskipun lewat tangan-tangan manusia lainnya."
Sepanjang jalan dengan menyimak pemandangan, Aini juga berilusi yang tak bertepi.
…
"Turun di mana, Mbak?"
"Di timur lapangan depan ya, Pak!"
"Oke, siap!"
Perjalanan memang tidak begitu melelahkan, namun hati masih terasa lemah untuk menjalankan jiwa raga yang harus berkolaborasi.
Hingga seakan-akan tubuhnya tak bisa untuk ditarik berdiri, sudah terlalu nempel dengan kursi yang dia duduki. Begitu nyaman, karena diiringi alunan angin sepoi-sepoi yang menerjang masuk dari balik jendela.
__ADS_1
"Kok cepet ya!"
Tubuh Aini menolak untuk segera turun, tapi hati memberontak atas keegoisan tubuh.
"Kiri, Pak!"
"Iya,"
Aini memberikan instruksi stop sampai di sini saja kepada supir angkot, agar perjalanan tidak semakin jauh alias keblabasan.
Supir pun menghentikan mobil dengan perlahan dan pasti,
Sambil membuka pintu, Aini memanggil pak supir kode untuk memberikan haknya. Dengan spontan supir menoleh ke arahnya.
"Terima kasih, Pak!"
Aini melepaskan uang dari genggamannya ke telapak tangan supir.
"Iya, sama-sama!"
"Prok-prok-prok,"
Suara langkah kaki membentuk suara yang mirip seperti sepatu kuda.
Setapak demi setapak Aini lalui, untuk berjumpa lagi dengan motor Supra X yang dari tadi menanti.
Hanya beberapa langkah saja, Aini bisa menemui motor pendampingnya dan sesegera menaiki agar cepat sampai ke rumah.
Matahari hampir tenggelam, apakah api semangat Aini akan ikut padam?
Dengan penuh kesadaran, Aini selalu berusaha mewaraskan diri. Tidak akan membiarkan semangat yang dia tanam menjadi layu.
"Sadarkah kekasih kelakuan kamu, sungguh sangat menyiksa aku ..."
Lagu tersebut sebagai lagu pembuka dalam perjalanan Aini kali ini, entah kenapa tiba-tiba yang muncul dan diwakilkan mulut adalah salah satu lagu yang berisi tentang ditinggal pergi oleh teman-temannya.
"Selalu kupikir bahwa aku tegar, aku tak pernah menyangka kan begini. Dan saat engkau tak di sisiku lagi,"
"Hooooooooh,"
Menelusuri jalan dengan menikmati perjalanan, langit sebagai saksi dan pepohonan sebagai penonton sejati.
Tiada teman yang menemani, hanya kesendirian yang dialami.
"Pengen sih punya sahabat, tapi sayangnya aku tidak begitu mudah untuk percaya dengan siapapun."
Bagi Aini kesendirian bukan berarti kesepian, justru kesendiriannya adalah obat diri. Yang mana agar hati lebih baik, lebih damai, dan yang paling penting lebih sehat.
"Tapi ... buat apa ada sahabat kalau sendirian bisa kuat?"
Bukan tidak berkeinginan untuk memiliki sahabat, tapi pada kenyataannya semua tidak sesuai realita. Semua datang hanya saat butuh saja, tidak ada yang benar-benar tulus dalam menjalin hubungan persahabatan.
Bersahabatlah dengan Tuhan, sudah dapat dipastikan ia tidak akan pernah ingkar.
>>>Bersambung
__ADS_1