Gharib Cinta

Gharib Cinta
HTS


__ADS_3

>>>Happy Reading<<<


Sambil tertawa tipis, ayahnya mengungkapkan uneg-uneg.


Dan kembali mengajak Zahra untuk pulang, akhirnya Zahra dan Agus beranjak pergi meninggalkan Aini seorang diri.


"Sepi lagi nih!"


Aini bergumam, karena keramaian inti tiada lagi. Hanya keramaian luar orang berlalu lalang berbicara satu dengan yang lainnya.


Ramai namun masih saja terasa sepi, itulah Aini.


Terkadang telinga terasa tertutup rapat oleh kefokusan apa yang ia jalani, dan terkadang hati mulai ramai dengan apa yang ditelusuri oleh pikiran.


Tak semudah itu mengendalikan keadaan,


"Tring ..."


Notifikasi bermunculan di handphone Aini, satu persatu dibaca juga dibalas.


["Ai, lagi ngapain?"]


["Dek, bagaimana kabarnya?"]


["Sibuk banget ya?"]


["Kapan-kapan ketemu yuk!"]


Meskipun semua pesan terbalas; dari banyaknya pesan yang meluncur itu Aini hanya terpaku pada satu pesan yang menanyakan suatu kegiatannya.


Iya, pesan dari Rudi. Seorang pria yang sedang berusaha mendapatkan hati seorang Aini. Perkenalan mereka sudah bisa dibilang lama, kurang lebih 3 sampai 4 tahun.


Seringkali Rudi menyinggung mengenai hubungan mereka, namun balasan Aini hanyalah mengalihkan pembicaraan. Rudi sangat sabar menghadapi sikap Aini, dia juga yang selalu menghibur Aini tanpa bertanya kenapa.


["Ini lagi kerja, Kak. Kenapa?"]


["Nggak papa, emang nggak dimarahin bosnya apa? Kerja sambil main hp mulu."]


Aini terbilang wanita jenius, dia bisa membagi perhatian antara pekerjaan dengan pesan-pesan dalam telepon genggam. Hal yang paling penting adalah dia bisa membagi waktu, artinya meskipun main hp; kerjaan harus selesai.


["Hehe,, Nggak kok, Kak. Penting kerjaan beres dah."]


Dalam hati,"Aku pernah ditegur teman kerja karena keseringan main handphone, katanya sih dia dapat laporan dari pelanggan; jikalau aku keseringan main handphone. Ya benar sama-sama bekerja, tapi kan yang terpenting kerjaanku selesai."


["Oh, gitu ya? Btw nanti sibuk nggak?"]


["Kegnya nggak deh, ada apa nih?"]


['Nggak, nanti siang keluar yuk!"]


["Keluar? Kemana, Kak?"]


["Biasa!"]


["Oh, boleh!"]


["Beneran ya?"]


["Iya, nanti jemput sampai rumah!"]


"[Oke, siap!"]


Siang ini Aini dan Rudi akan keluar untuk menghirup udara segar, yaitu pantai.


Hidup di antara bukit dan pantai, Aini lebih sering ke pantai dibandingkan di bukit.


Siang siang ke pantai? Apa nggak panas?


Hehehe, jelas panas dong!


Tapi mereka tidak akan keluar di siang bolong kok, Aini juga butuh istirahat sejenak usai lelahnya dalam dunia pekerjaan.


["Ai, nanti jam berapa?"]


["Jam 2 ya, Kak?"]


["Woke!"]"



Pukul 14.30 WIB telah berlalu,


"Drrrrrrrrt, drrrrrrrrt ..."


Aini jelalatan bangun dari tidur ketika ada panggilan masuk.


"Astaghfirullah, aku punya janji."

__ADS_1


Sesegera Aini mengangkat telepon yang sedari tadi berbunyi.


["Ai, jadi jam berapa?"]


Suara yang terdengar samar dari dalam ponsel,


["Oh iya, Kak. Maaf,, aku ketiduran!"]


Sebagai perempuan baik, Aini tidak pernah gengsi untuk mengungkapkan kata maaf. Sebab dia memang sedikit salah, tidak menata alarm ketika hendak memejamkan mata. Padahal tadi seharusnya bisa untuk menyempatkan sejenak sebelum benar-benar terbenam.


["Is is is,, kirain kemana kok nggak ada WhatsApp."]


["Hmm,, Maaf! Jam 3 ya, aku akan siap-siap dulu."]


["Ya udah,, nggak papa, buruan siap-siap gih!"]


["Iya, Kak. Makasih!"]


["Sama-sama!"]


Aini bergegas untuk menyiapkan diri, dengan gelagat tergesa-gesa.


Cuci muka, ganti pakaian, poles muka dikit, lanjut nyari jilbab ...


"Tok tok tok..."


Pintu rumah diketuk membentuk nada,


"Assalamualaikum ..."


"Hah, wa'alaikum salam!"


Hati Aini berbisik-bisik dengan sedikit gugup karena belum kunjung siap,


"Kok udah nyampe duluan sih! kan aku belum selesai."


Akhirnya dia mengambil jalan pintas; menyelempangkan jilbab dan menyambut kehadiran Rudi.


"Silakan masuk, Kak!"


Tanpa basa-basi Rudi pun masuk dalam rumah, keadaan rumah tampak kosong. Hanya Aini yang ada di dalamnya.


Rudi duduk dalam kesendirian menunggu kesiapan Aini,


"Dah!"


"Sudah?"


Rudi memastikan apakah Aini sudah benar-benar siap atau belum.


"Sudah ini,"


"Oke, yok!"


"Ayok!"


Langkah Rudi mendahului Aini, karena Aini harus mengunci pintu dari dalam dan keluar dari pintu belakang.


"Ayok, Kak!"


Tubuh Aini telah naik ke motor Rudi dan mereka siap berangkat.


Di sepanjang perjalanan Aini masih canggung untuk berkata-kata, namun tidak memungkinkan kalau hanya diam diaman saja.


"Mau ke pantai mana, Kak?"


"Nanti juga tahu!"


"Eeeeeem, Okelah!"


Aini hanya pasrah mau diajak kemana, karena pada dasarnya dia juga sudah percaya dengan Rudi; dia tidak akan macam-macam



"Dah sampai!"


"Kok di sini?"


"Iya, di sini lebih nyaman. Nggak terlalu ramai juga."


"Iya sih!"


"Tempat ini kabarnya akan digunakan sebagai tempat wisata."


"Loh, iya ta?"


"Iya, mungkin 2 sampai 3 tahun ke depan."

__ADS_1


Tempat yang begitu indah, pohon cemara berjejer dari setengah barat hingga ujung timur. Duduk beralas pasir berselimut rerumputan, beratap langit biru, disertai deburan ombak, dan dengan pemandangan panjangnya pelabuhan pabrik semen.


Panjang kali lebar kali tinggi pembicaraan, datanglah senja di barat hamparan laut.


"Ayo balik!"


Rudi mengajak Aini untuk lekas balik,


"Eeeeeem,, Balik ya? bisa bentar lagi nggak, Kak? Aku masih pengen di sini."


Wajah Aini memelas, karena jarang-jarang dia keluar dengan rasa nyaman seperti yang dirasakan saat ini.


"Ya udah,, jam 5 tepat ya!"


"Oke, Kak. Terima kasih ya!"


Aini sangat senang kemauannya dituruti.


"Kak,, Terima kasih untuk hari ini."


"Iya, sama-sama. Kalau mau keluar bisa ajak aku kok!"


Rudi menawarkan diri dengan begitu tulus, dan benar saja; Rudi sangat menjaga Aini layaknya adek sendiri.


"Udah, ayo pulang!"


Hati serasa tak ingin beranjak, namun hari sudah hampir gelap.


"Iya deh, ayok!"


Ikhlas nggak ikhlas Aini dan Rudi harus segera meninggalkan tempat itu.


"Kak,,,"


"Kenapa?"


"Sebenarnya aku belum mau pulang tahu, tapi sudah diajak pulang."


Aini mengeluarkan segala uneg-unegnya. Dia merasa nyaman bersama suasana syahdu bersua langsung dengan alam.


"Tapi udah mau malam, nanti bapak ibu khawatir."


"Hehehe, iya."


"Is, kamu ini!"


"Maaf, tapi kapan-kapan keluar lagi ya!"


"Iya, tenang aja; kapan-kapan kita keluar lagi."


"Yeeeeeey,"


Sungguh sangat luar biasa rasa aman, nyaman, dan bahagianya Aini bersama Rudi.


Namun sayang, semenjak putus dengan Diki; seolah Aini telah menutup hati. Dia tak percaya lagi dengan sebuah hubungan yang namanya pacaran.


Sedangkan Rudi tengah terjebak dalam HTS (Hubungan tanpa status), dan Aini merasa lebih nyaman seperti itu.


(Tiba di rumah)


"Nggak mampir dulu, Kak?"


"Langsung saja, udah terlalu sore."


Rudi menghampiri Ibu Aini yang tanpa disengaja menyambut depan pintu dan menjabat tangannya.


"Bu, pamit ya!"


"Nggak mampir dulu ta?"


"Mungkin lain waktu,"


"Oh, ya udah ... Hati-hati."


"Iya, Bu ..."


"Ai, balik dulu ya!"


Dengan senyum manisnya, Aini menghantar di depan rumah.


"Terima kasih, Kak!


"Sama-sama!"


Kepala Rudi mengangguk tanda setuju.


>>>Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2