Gharib Cinta

Gharib Cinta
Sanding tak Sandar


__ADS_3

...>>>Happy Reading, Besti...<<<...


Melewati jalanan yang hening ditemani suara-suara hewan malam,


Keheningan semakin mencekam ketika kata tak terucap dari bibir Aini maupun Diki.


Dalam hati Aini berkutik,"Kenapa pula ngajak berangkat bareng, kalau ujungnya sama dengan berangkat sendiri?"


Niat hati ingin melemparkan kata itu pada Diki, namun sayangnya; entah kenapa mulut malas bergerak hanya untuk mengucapkan hal yang dianggap tidak begitu enak.


Di sini lain Aini ingin melemparkan kata, di sini lain lagi dia tidak ingin ada hati yang tersinggung.


"Dik, kenapa diam aja?"


Aini mencoba untuk mengawali pembicaraan, agar kesunyian malam tidak terasa mencekam lagi.


"Oh, tidak apa-apa kok,"


Seakan Diki kaget dengan pertanyaan Aini, mungkin pas waktu itu Diki sedang memikirkan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata Aini. Ya karena Diki bawa motornya mengiringi motor Aini, otomatis dia tidak memungkinkan untuk memandang gerak-gerik Diki.


"Aku nggak tahu mau ngomong apa,"


Diki melanjutkan jawabannya, serasa dia sangat canggung berada di dekat Aini. Sehingga tiada kata yang bisa dilontarkannya.


"Oh iya, nggak ada tugas kuliah kah? Kok bisa ada waktu buat ikut lapak."


"Penting nggak sih pertanyaan-ku ini?" Diki mempertanyakan pada diri sendiri, namun apa yang diucapkan sudah tidak bisa ditarik kembali.


"Ada sih tugas kelompok, tapi deadline-nya bukan besok banget. Jadi amanlah,"


Sebenarnya Aini tidak suka membahas tugas kuliah dengan seseorang, bahkan Aini tidak pernah mempermasalahkan tugas kuliah dengan teman-teman dekatnya. Hanya saja pertanyaan seperti tidak ada salahnya untuk dijawab.


"Daripada tidak ada perbincangan, ya udahlah terima dan jawab pertanyaan dari dia aja." Isi hati Aini yang tidak mau larut dalam keheningan malam.


Seminim-minimnya cahaya malam, akan ditemui ujung yang cemerlang.


Aini dan Diki telah sampai ditujuan, dengan bulu kuduk yang masih merasakan keheningan malam; mereka berdua sama-sama parkir motor bukan dengan sembarangan. Sambil menatap banyak buku yang sedang berbaris, dihimbau oleh remaja muda yang kreatif.


"Assalamualaikum!"


Aini melangkah menuju posko lapak, yang mana di situ sudah ada 5 anak. Namun sayang, belum ada satupun personil cewek yang ikut andil dalam lapak.


Lima anak antara lain, ada Riki, Alfin, Huda, Rosi, dan Heru.


"Wa'alaikum salam,"


Dengan kompak 5 remaja itu menjawab salam,


Sedangkan Diki sudah sigap memilah dan memilih buku yang hendak ia baca.


"Sejak kapan dia hobi baca?"


Sambil mencari tempat duduk yang nyaman, mata Aini tertuju pada gerak-gerik Diki yang tengah sibuk memilih buku bacaan.


"Aku yang suka menulis aja di sini bukan untuk baca, hanya niat untuk ikut buka lapak. Tapi nggak ada salahnya juga sih."


Tangan Aini mulai meraba buku satu ke buku yang lain, mencari buku yang bisa menarik hatinya untuk membaca.


Namun ternyata tidak ada satupun buku yang bisa menarik hati Aini, sehingga dalam lapak malam Minggu malah menciptakan kegabutan yang hakiki.


"Sepi banget ya, sudah ada yang berkunjung belum sih?"


Aini menanyakan hal tersebut dengan teman yang sudah dari tadi membuka lapak.


"Ada, Mbak. Tapi ya gini memang, sepi." salah satu dari lima orang itu memberikan informasi.


"Oh, oke.. Semangat!"

__ADS_1


"Siap!"


Kembali ke hati yang selalu merasakan keadaan,"Di era yang serba digital ini, memang mulai minim ya minat baca di tingkat remajanya. Jangan kan remaja, anak belum masuk usia sekolah saja sudah dipengaruhi gadget."


Hati Aini belum sadar, bahwa tadi dia juga sempat mengatakan bahwa di sini dia hanya niat untuk buka lapak; bukan niat untuk membaca buku yang dipamerkan di lapak.


Iya, Aini termasuk remaja yang tidak minat untuk membaca. Namun ketika sudah membaca, dia butuh sekadar fokus untuk meresap apa yang dia baca. Bukan sangat fokus, karena hal tersebut hanya akan membuat Aini cepat jenuh dan mengantuk saat membaca.


"Ai, boleh duduk di sampingmu?"


Diki meminta izin agar bisa duduk di samping Aini, dengan satu eksemplar buku yang mungkin menarik bagi hati seorang Diki.


"Boleh!"


Tanpa ragu Aini memberikan izin kepada Diki untuk duduk bersanding dengan jarak kurang lebih setengah meter.


Aini tidak mau tahu apa judul buku bacaan yang dipegang Diki, sehingga dia melemparkan pandangan ke handphone yang digenggamnya.


Baru saja tadi dia bilang bahwasanya generasi saat ini sudah teracuni gadget, eh dia sendiri tidak bisa lepas dari itu.


Aini merasa malu dengan Diki yang tengah sibuk meniti kata perkata di dalam buku yang dipegangnya.


Sedangkan Aini yang seorang penulis amatir ini tidak ada niatan untuk membaca satu buku pun di tempat lapak,


Akhirnya Aini mengulurkan tangan untuk kembali memilih buku, bukan memilih sih; lebih tepatnya mengambil buku manapun dengan judul apapun untuk memanipulasi keadaan.


"Buku apa ya?"


Pikiran Aini mulai terbengkalai, tidak niat baca tapi harus baca.


"Ah, ya udahlah ini saja."


Tangan Aini mematuk satu buku hanya sekadar untuk berpura-pura.


(Rentang beberapa menit)


Tempat duduk Diki mulai mendekati Aini,


Aini sedikit agak risih, tapi dia membiarkan aksi Diki;


"Enaknya jam berapa ya?"


Sambil membuka handphone, mata Aini merayap pada layar hanya untuk menemukan waktu.


Dan di layar tersebut menunjukkan pukul 21.30 WIB, tanda hari sudah begitu malam.


"Ya udah, nanti jam sepuluh tepat kita pulang."


Aini dengan santainya memastikan jam pulang, karena dia tahu sesampai di rumah tidak akan kena marah meskipun pulang tengah malam.


Dengan duduk yang telah berdekatan hingga sedikit menempelkan pakaian, Diki kembali membaca buku yang masih di tangannya itu.


"Ai, nggak pengen pesan minuman gitu?"


Diki merasa tidak enak jikalau dia ngajak berangkat bareng tapi tidak memberikan apa-apa, sedangkan Aini ...


Dalam hati Aini berbisik,"Sebenarnya pengen sih, cuma aku kan nggak bawa uang. Iya kalau dia yang mau bayarin, kalau nggak keg mana?"


"Nggak ah males!"


Mungkin itu pemilihan kata yang tepat,


"Kalau aku bilang nggak bawa uang sama sekali, jadinya; ah gengsi-lah! dikira minta dibeliin lagi, oh no!"


"Beneran nih?"


Diki berusaha meyakinkan jawaban yang terucap oleh bibir Aini, namun Aini masih kekeh dengan kata malasnya.

__ADS_1


"Males, aah!"


"Peka napa sih, perasaan dari dulu nggak pernah peka-peka deh!"


Hati Aini geram dengan pertanyaan sederhana yang keluar dari Diki.


"eeeeeemm,,, oke!


Wajah Diki sedikit kecewa dan hanya bisa mengangguk kepala.


"Aaaaaaaaaaaaaaah,, nggak peka-peka jadi cowok. Aku tuh sebenarnya haus, tapi nggak bawa uang."


Aini mulai gemas dengan sikap Diki yang seperti tidak niat untuk menawari sebuah minuman.


Toh sebenarnya Diki juga masih malu-malu untuk menawari itu.


"Ya udah deh,, lanjut baca aja!"


Setengah melihat Diki, pandangan Aini juga kembali ke buku yang ia pura-pura baca tadi.


Kini bukan sekadar pura-pura, akan tetapi mata dan hatinya sudah mulai berkolaborasi untuk menikmati bacaan yang disediakan.


Sedangkan Diki juga sangat menikmati buku yang dipilih tadi.


Namun hari semakin larut, sedangkan buku bacaan belum habis dan belum layak untuk ditinggalkan.


Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, bagaimanapun juga mereka harus meninggalkan buku-buku itu kecuali dapat izin untuk membawa pulang buku bacaan tersebut.


"Gimana? Udah jam sepuluh nih? Pulang sekarang?"


"Hah? Jam berapa emang?'


Aini terlihat kaget dengan pertanyaan itu, karena dia berasa baru beberapa detik saja membaca;


"Perasaan baru baca deh."


Tangan Aini berisi buku mengulur ke tumpukan buku hingga melepaskan bukunya.


"Hay, Guys! Aku nak pulang dulu ya, dah terlalu malam soalnya!"


Semua serentak memberikan jawaban,"Siap, Mbak!"


Salah satu di antara mereka menyambung ucapannya,


"Hati-hati lho ya, pulang sama siapa? minta dianter tak?"


Mata Aini menunjuk ke arah Diki sambil bilang,"Oke, aku pulang sama ini!"


"Oke, Hati-hati!"


Tubuh Aini sudah di atas motor Supranya, dengan ramah dia melambaikan tangan pada semua teman yang ikut lapak.


"Bye-bye!"


"Bye!"


Kenapa mereka pulang jam sepuluh malam? Bukankah lapaknya sepi?


Ya berhubung malam Minggu tidak ada kerjaan kan lumayan dapat ilmu dari bacaan yang masing-masing mereka pilih,


Aini memang meletakkan bukunya, namun ilmu yang diserap tadi tidak ikut terletakkan di atas tumpukan buku di lapak tadi.


Lagian di sana Aini jadi satu-satunya gadis yang ikut lapak, tidak enak juga dilihat banyak orang yang berseliweran di jalan raya.


Kalau pulang jam 9 dia merasa tidak enak sama teman-teman yang sedari tadi membuka lapak, sedangkan tadi Aini dan Diki sudah berangkat telat pakai banget.


>>>Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2