Gharib Cinta

Gharib Cinta
Tak Bisa Mengelak


__ADS_3

Aini sudah mulai frustrasi,


setengah jam lebih dia menanti bus ataupun angkutan umum yang lewat, namun transportasi itu tak kunjung menghampirinya.


"Hmmmmmmmm, ya sudahlah. Telat tidak apa-apa, yang penting aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak telat ke kampus."


Jantungnya tidak tahu aturan, dia berdegup begitu kencang seperti habis main kejar-kejaran.


Monolog pun terjadi lagi,


"Jantung, yang tenang dong! Aku kan jadi ..."


"Aaaah,,, entahlah."


Begitu jengkel bercampur rasa ingin sekadar pasrah, Aini dengan keadaan yang ingin pasrah itu sudah dalam keadaan lemah lesu, tapi dia tetap berusaha menenangkan diri.


Dalam pasrah dia masih berusaha sabar menunggu bus ataupun angkutan umum melintas di depannya. Dia tak henti-hentinya komat-kamit, karena jikalau nanti angkutan umum yang didapat; maka dia akan sangat amat terlambat.


Kecepatan laju angkutan umum memang bisa sepadan dengan bus, namun bus bisa langsung jalan; sedangkan angkutan umum bisa menunggu orang yang belum jelas mau ikut atau nggak.


Jadi Aini berharap kali ini bus akan menghampirinya.


"Tiiit," suara klakson berbunyi dan sebuah mobil angkutan umum berhenti tepat di hadapannya.


"Mau ke mana, Mbak?" Tanya supir angkutan umum itu.


"Ke Kampus, Pak." Jawabnya penuh dengan rasa lelah.


"Ya udah; masuk, Mbak!" perintah supir dengan muka agak kasihan.


Dengan amat terpaksa dia ikut dalam mobil angkutan umum itu, tapi ya bagaimana lagi. Waktu terus berlalu begitu saja,


Mobil angkutan umum mulai melaju dengan sempurna, Aini kembali komat-kamit dalam hatinya.


"Semoga tidak telat, semoga tidak telat. Semoga tidak berhenti-henti."


Dengan berusaha menikmati bangku mobil angkot dan angin sepoi-sepoi dari balik jendela, ya berhubung dia duduk di dekat jendela, di seperempat perjalanan Aini tertidur pulas. Dia tidak peduli bakal bertingkah seperti apa dalam tidurnya.


Aini sudah begitu lelah,,, lelahnya kali ini semakin bertambah ketika menunggu tranportasi umum yang sangat lama dalam keadaan berdiri, seakan siap naik.



45 menit telah berlalu, dia terbangun dari tidurnya; entah kenapa seakan-akan ada alarm yang membuat dia bangun begitu saja.

__ADS_1


Namun sayangnya, transportasi yang dinaiki belum sampai tempat tujuan.


"Aaaah, belum sampai juga ya?"


Langsung saja dia mengeledah tas hitam miliknya dan mengambil handphone dari dalamnya, Dia hanya ingin tahu sudah jam berapa.


ya, jarak antara rumah sampai ke kampus cukup menguras waktu dan tenaga.


"Hah? Jam 12.55?"


"Haduuuuuh, telat banget ini kayaknya."


Hati Aini kembali ketar-ketir ketika usai melihat jam dan dia juga berusaha menenangkan diri.


"Aini, yang tenang ya! Jangan terbawa suasana, semoga tidak dapat hukuman dari dosen."


Mobil angkutan itu berjalan dengan perlahan, seakan-akan Aini ingin turun dan berlari saja. Tapi ya bagaimana, tubuhnya yang begitu lelah tidak kuasa untuk melakukan tindakan yang ada dipikirannya itu.


Jeda beberapa menit, mobil angkutan telah berada tepat di depan kampus. Aini segera menyerahkan ongkos,


"Pak, ini uangnya! Terima kasih ya, Pak."


Meskipun jalan terasa begitu santai, bapak supir begitu mengutamakan keselamatan; dan sudah sepatutnya Aini berterimakasih.


"Hadeeeh,,, Aku merasa tidak berani masuk kelas. Masuk nggak ya? Tapi aku sudah di sini."


Aini sambil menunggu mobil berlalu lalang hingga agak sepi, untuk segera melintas dari bahu jalan kiri ke bahu jalan kanan.


"Aaah masuk kelas nggak ya?" Aini tidak henti-hentinya beradu pendapat dengan otak dan keadaan.


Pemenangnya sudah jelas keadaan, Dia berpikir jikalau nanti tidak masuk ke kelas buat apa tadi menunggu tranportasi umum hingga selama itu.


"Kalau aku tidak masuk, sia-sia dong aku ke sini?"


Mobil yang berlalu lalang mulai sepi, seketika itu pula dia langsung berlari begitu kencang. Wajar saja, dia kan mantan atlit lari jarak jauh waktu masih MTs. Ya meskipun juara 2 tingkat kabupaten.


Aini begitu terburu-buru,, Anak yang masih termasuk Mahasiswa Baru ini sangat tidak ingin dia terlambat. Apalagi yang konon katanya ada dosen killer, sehingga ketakutannya bertambah begitu dahsyat.


Tanpa eskalator dia menuju kelas yang berada di lantai dua, dalam larinya sempat ingin berhenti di pertengahan tangga. Namun dia harus tetap masuk kelas untuk mengikuti pembelajaran.


Dengan perlahan dia menaiki satu persatu tangga itu, sesampai di ujung tangga paling atas; dia kembali berlari hingga tepat di depan kelas.


"Huuuuuuuuuuuuuh," Dia membuang nafas dengan begitu keras di antara nafas lelahnya yang sudah tak beraturan.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga baik-baik saja."


Tangan Aini membuka pintu kelas dengan raut wajah lelah bercampur rasa takut, memberanikan diri masuk kelas walaupun sudah sangat amat terlambat.


"Assalamualaikum,!"


Aini langsung masuk dengan menganggukkan kepala pada dosen pengampu usai mata saling bertemu. Dosen pun memberikan anggukan balik tanda memperbolehkan dia duduk di bangku kosong yang tersedia.


Mata Aini berjelajah terlebih dahulu sebelum kakinya kembali melangkah, dan yang dia temukan ada bangku kosong bagian depan, tengah, dan juga belakang.


Kemudian kakinya kembali melangkah, karena masih ada satu tujuan yang harus dia tuju; yaitu bangku kosong.


"Ternyata masih banyak bangku kosong," hatinya bergumam.


Aini memilih bangku terdepan meskipun dia benar-benar sangat terlambat.


Hatinya masih berkutik,


"Tidak apa-apa datang terlambat, daripada sudah datang tidak mau masuk kelas."


Dia sangat bersyukur, hari ini dosennya tidak terlihat killer. Malah yang ada Aini merasa sangat dihargai, apalagi dia memilih bangku yang berada tepat di depan bangku dosen.


Saat ini Aini bisa duduk dengan begitu tenang dan merasa aman juga nyaman. Dalam pembelajaran berlangsung, mata Aini tidak lepas dari gerakan dosen. Hingga mata dosen pun dia berani melihat dengan jelas.


Dengan memperhatikan gerakan bibir dan sesekali melihat mata pemberi materi itulah jalan di mana Aini akan menerima materi dengan baik. Serasa kurang afdhol jika tidak memperhatikan gerak-gerik tubuh, bibir, dan mata orang yang mengisi kelas.


Aini berdialog pada dirinya sendiri, namun mulut tidak ikut campur dalam hal ini.


"Alhamdulillah, dosen hari ini begitu baik; tidak seperti apa yang aku pikirkan tadi."


"Memang benar, kalau memang niat kita baik; kita akan disambut dengan baik."


"Kini lelahku terbayar sudah dengan kebaikan dosen kali ini, dan berarti aku masih tergolong orang beruntung pada hari ini."


Aini tak henti-hentinya bersyukur bertemu dengan dosen yang begitu baik, tidak memberikan hukuman sama sekali.


Mungkin dosen itu tahu jika Aini benar-benar tidak berniat untuk terlambat, karena nafasnya tadi sudah tidak beraturan ketika masuk dalam kelas.


"Lelah sekali," Ucap Aini dalam hati, sambil berkali-kali mengatur pernafasannya.


Bagaimana tidak lelah? mulai dari pasar hingga ke kampus saja jantung berdegup kencang, yang mampu membuat dia berkali lipat menguras energi luar dan energi dalam.


Sungguh luar biasa lelahnya juga lemahnya.

__ADS_1


>>>Bersambung.....


__ADS_2