Gharib Cinta

Gharib Cinta
Kecewa


__ADS_3

...>>>Happy Reading<<<...


Malam sunyi kembali menyertai di sepanjang jalan arah pulang,


"Anterin lo ya!" dalam keheningan Aini sedikit mengajak Diki berbicara untuk sekadar memecahkan kesunyiannya.


"Iya, aku anter pulang!"


Bulu kuduk Aini mulai berdiri, tubuhnya bergetar hebat entah apa yang menjadi sebab.


"Hmmm, ada apa ini?"


Aini menggigit bibir bawahnya, tak kuasa mau berkata.


Sedangkan Diki masih terlihat santai, malah dia sangat menikmati suasana malam.


Tubuh Aini masih terasa gemetar, keringat mulai berjatuhan, dan angin malam ikut menyapa tubuhnya. Suhu badannya berubah menjadi dingin sekali,


"Kenapa, Ai?"


Tidak disangka Diki sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Aini, yang tiba-tiba menggigit bibir bawah dan sesekali seperti orang kaget.


"Eeeeeemm, nggak tahu kenapa nih. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri dan tubuhnya terasa dingin banget."


Mendengar hal itu Diki merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Kamu lagi sakit?"


Aini tidak merasa kalau dirinya itu sakit, namun dia tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan.


"Nggak kok, nggak sakit."


"Ya sudah, pelan-pelan saja bawa motornya. Aku dampingi dari belakang!"


Aini hanya mengangguk kepala tanda setuju,


Kembali pada jalan yang ditempuh, memang perjalanan tidak begitu jauh; akan tetapi malam membuat perasaan menjadi perjalanan yang cukup lama dan tidak sampai-sampai.


Sambil menenangkan hati yang sedari tadi tidak menentu, Aini mencoba untuk ritual perjalanan.


Iya, mencoba bernyanyi satu dua bait untuk melupakan keheningan malam.


Aini juga berusaha menikmati suasana malam yang begitu tenang, sehingga ritual itu berhasil menjadikan dia lupa keheningan.


"Andaikan malam yang sunyi dapat bicara, mungkin aku tak kan kesepian ..."


Dia memang berdua dan bersampingan, akan tetapi mulut sama-sama saling bersahutan. Mungkin hanya hal perlu saja yang diutarakan. Bisa jadi mereka masih canggung untuk saling ngobrol hal yang tidak begitu dibutuhkan.


"Sama saja jalan sendiri kalau keg gini ceritanya." Aini ngoceh pelan karena sedikit kesal, karena pulang pergi serasa sendirian.


"Hah?"


Dalam keheningan malam bukan menjadi hal yang tak mungkin dalam mendengar suara kecil. Justru suara perlahan bisa terdengar begitu jelas.


Aini juga kaget ketika Diki berucap kata itu, dia mengira kalau Diki tidak mendengar apa yang dia ucap dengan bisikan.


"Eeeeeemm,, nggak, nggak papa kok."


Aini mencoba untuk mengelak, karena pas berangkat tadi dia sudah menyampaikan hal yang serupa.


"Masak iya sudah lupa sih, nggak peka banget ih,"


Hati Aini bergumam dengan otomatis.


Diki sebenarnya juga tidak percaya dengan kata nggak yang diucapkan oleh Aini, namun tadi dia hanya meyakinkan benar atau nggak apa yang didengarnya.

__ADS_1


Dengan logat gugup Aini, Diki bisa menebak benar atau nggak apa yang barusan dia dengar.


Tinggal beberapa putaran roda lagi Aini sudah mau sampai, namun ...


"Aku antar sampai sini aja gimana? Berani tak?"


Bukan masalah berani atau nggak, Aini sudah terbiasa pulang pergi sendirian. Di sini adalah masalah tanggung jawab, yang mana katanya mau mengantarnya pulang.


"Ya ngantar pulang sih ngantar pulang, tapi kan ..." Hati Aini terjerat rasa kecewa, namun wajahnya sama sekali tidak membiaskan kekecewaannya.


"Kenapa nggak sampai depan rumah?"


Aini mencoba menanyakan keganjalan dengan baik-baik


"Nggak papa sih!"


"Ya udah deh, aku berani kok. Terima kasih sudah diantar sampai sini!"


Dengan rasa kecewa, Aini berusaha untuk bersikap biasa saja. Dia juga tidak lupa untuk berterima kasih tanda menghargai apa yang dilakukan Diki.


Diki memutar motornya perlahan, dan Aini beranjak pergi meninggalkan.


"Duluan ya!"


Aini meninggalkan Diki bersama rasa kecewanya.


"Iya, hati-hati!"



Tubuh Aini sudah tak terasa gemetar dan tak lagi merasakan basahnya keringat berjatuhan.


Tubuh tenang, hati bergumam.


"Perasaan semenjak dia putus denganku dan putus sama Delia, dia tidak pernah main lagi ke rumah."


"Ibu juga pernah bilang, kalau dia sempat simpangan dengan Diki. Tapi ..."


"Hmmm, dia hanya Diam tak menyapa. Kira-kira kenapa ya?"


Pikiran dan hati Aini bertarung hebat dalam waktu yang relatif singkat, karena roda motor sudah menyentuh pintu yang tertutup.


"Tok-tok-tok"


"Assalamualaikum!"


Aini turun dari motor dan menjulurkan tangan untuk memukul pintu perlahan tapi wajib terdengar orang yang ada di dalam.


Tanpa menunggu lama, akhirnya pintu dibukakan oleh ibu Aini.


"Kok baru pulang?"


"Iya, Bu. Tadi kan aku mampir di lapak perpustakaan jalanan."


"Oh, ya udah!"


Seketika ibu Aini langsung balik ke kamar untuk melanjutkan mimpinya.


Aini juga segera masuk rumah dengan motor Supra nya dan parkir di dalam rumah.


"Kring,"


Handphone Aini tiba-tiba berbunyi, terpampang jelas kata,


"Sudah sampai rumah?"

__ADS_1


Iya, pesan dari Diki yang sudah tiba di pondok.


"Alhamdulillah, sudah kok. Terima kasih ya!"


Aini membalas dengan ramah seperti tidak ada apa-apa, padahal hatinya masih digulung rasa kecewa.


"Iya, sama-sama. Maaf ya tidak bisa ngantar sampai depan rumah!"


"Hmmm, nggak papa kok. Aku cuma heran aja, kenapa tidak mau ngantar sampai depan rumah gitu?"


"Aku sebenarnya masih sungkan sama orang rumah sih, sungkan sama bapak ibu."


"Kenapa coba? Lagian mereka juga tidak mempermasalahkan tentang hubungan kita kok."


"dan hubungan kita dari dulu juga hanya dianggap teman biasa oleh mereka," Aini melanjutkan isi pesannya.


"Iya sih, tapi aku yang masih nggak enak saja!"


"Oh, ya udah deh nggak papa. Mungkin lain waktu saja."


Aini sudah ingin mengakhiri komunikasi tersebut, namun Diki kembali membalas isi pesannya.


"He.em, mungkin lain waktu ya! Oh iya, sudah mau tidur kah?"


Bukan karena atas dasar masih mencintai, namun pada dasarnya Aini tidak enak jika mengabaikan pesan dari siapapun itu. Sehingga hal tak penting pun dia sigap membalasnya.


"Iya, mau tidur; udah ngantuk."


"Eeeeeemm,, oke, Good Night!"


"Good Night!"


Aini mencoba untuk menenggelamkan mata, namun nihil


Nyamuk menggigit perlahan hingga tangan memukul kulit yang tengah digigit, dan mata malah memancarkan cahayanya dengan begitu terang benderang.


"Gini amat mau tidur."


Sambil memukul-mukul bagian yang digigit nyamuk, Aini mengeluh dengan malam.


Tubuhnya sudah mulai merebah, mata yang hampir tenggelam kembali bersinar. Sedangkan dia tidak ada teman untuk sekadar berbicara dalam keheningan.


Tangannya meraih sesuatu, supaya ada teman untuk melarutkan pandangan.


"Ngantuk tapi belum bisa tidur," diiringi emot menguap; telah meluncur di layar story WhatsApp.


"Kring,"


"Kring,"


"Kring,"


Banyak pesan yang meluncur di WhatsApp Aini, mulai dari Arya, Reza, Diki dan bahkan teman Diki.


Isi pesannya bermacam-macam,


"Kenapa belum bisa tidur?"


"Mau ditemenin sampai tidur kah?"


"Boleh telpon?"


Kali ini Aini tidak membalas pesan siapapun, karena dia merasa setelah update story matanya kembali redup, dan tangannya mulai lemah.


>>>Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2