Gharib Cinta

Gharib Cinta
Jentaka


__ADS_3

>>>Happy Reading, Kawan!"


Langit telah kehilangan sinar mentari yang sedari padi menyinari, sekarang bintang berusaha untuk mengantikan posisi.


Pukul 21.30 WIB datang, sedangkan perjalanan pulang bisa ditempuh kurang lebih 45 menit.


Jam terbang sudah hampir usang dan harus kembali ke sarang, namun acara belum kunjung usai.


"Ai, udah malam nih. Mau pulang sekarang atau masih mau nunggu acara sampai selesai?"


Arif sangat mengerti, bahwa orang rumah akan mengkhawatirkan anak gadisnya yang tengah malam belum kunjung pulang.


"Eeeeeem,, gimana ya? Masih lama nggak sih?"


Jadi orang nggak enakan itu nggak enak. Padahal sudah larut malam, namanya perempuan pastinya kan sangat rawan dan sangat dikhawatirkan.


"Nggak tahu sih, kegnya masih lama deh."


"Enaknya gimana, Rif?"


"Yah, malah nanya ke aku."


Tawa Arif pun sedikit pecah, karena tidak dikasih kepastian malah dibalik tanya.


"Kalau aku sih sampai selesai nggak apa-apa," sambung Arif.


Aini mengutak-atik pikiran untuk mencari kunci jawaban.


"Kalau pulang kamu nggak papa kan?"


"Ya nggak papa dong! Kalau iya aku segera izin ke mereka."


"Ya udah deh ... Pulang aja, takut nanti pulangnya kemalaman. Lagian besok aku juga kerja."


Mendengar itu; Arif langsung berdiri tegak di hadapannya dengan mempersembahkan sebuah senyuman.


"Oke, kita pulang."


Kepala Aini mengangguk angguk tanda setuju.


"Ya Allah, baik banget nih cowok!"


Hati Aini memberontak hingga meleleh, dia merasa belum pernah diperlakukan pria se-pengertian dan seenjoy ini.


"Ayo, Ai!"


"Ehm, yok!"


Aini melemparkan senyuman dan bergegas untuk menghampiri Arif yang sudah bertengger di atas motornya.


"Udah, Ai?"


Arif hanya memastikan apakah Aini sudah naik motor apa belum.


"Udah."


"Oke, siap berangkat!"


Dalam hati Aini berdoa, "Bismillahirrahmanirrahim."


Motor yang dinaiki Aini dan Arif telah melaju perlahan,


Jalan masih dalam keramaian karena yang dilalui adalah jalan raya.


Namun dalam menit kesekian, Arif merasakan hal aneh terjadi lagi pada motornya.


Malam semakin sunyi, sedangkan rumah-rumah pinggir jalan sudah tertutup rapat.


"Kayaknya ban motor ini nggak beres lagi deh!"


Arif mengutarakan kejanggalan yang mendesak dalam hatinya.


"Hah? Iyakah? Ayo coba dicek lagi."


Akhirnya mereka berhenti dan mengecek ban motor,


"Tuh, Kan. Kenapa sih harus gini terus?"


"Eeeeeem,, Gimana dong?"


Aini bertanya kelanjutan nasib mereka. Mau menghentikan mobil yang berseliweran itu rasanya tidak mungkin.


"Oh di depan saja ada Ahkan yang kerja di warung makan pinggir jalan itu. Coba kita pinjam pompa di sana, barangkali ada."


Sekilas Arif langsung mengingat Ahkan yang kerja nggak terlalu jauh dari tempat apes kedua kalinya.

__ADS_1


"Ya udah ayo, Rif."


Mereka pun mendorong motor bersama, meskipun cewek; Aini tidak akan tega jika Arif sendirian yang mendorong motor itu.


Sesampai di tempat Ahkan, mereka berdua menemui mbak mbak dan mas siapa yang tengah duduk duduk di teras warung. Ya mungkin karena sudah malam mereka menunggu temannya yang sedang beres-beres di dalam, atau nggak gitu hendak ganti shift.


"Mbak, Ahkanya ada nggak ya?"


Aini tidak berani untuk mendekat ke mereka, dia hanya menunggu Arif di parkiran motor.


"Ada di dalam, Mas!"


"Ahkan ... Ahkan ... Ada temanmu nih!"


"Hah? Iya!"


Ahkan ke keluar dari dalam warung dengan senyuman.


"Ada apa, Rif?"


Dengan wajah yang sudah tak enak; Arif pun menjawab,


"Di sini ada pompa nggak ya, Kan? Ban aku bocor nih!"


Ahkan melihat motor Arif yang berada dijaga Aini.


"Lho, Aini!"


"Iya, aku sama dia. Abis ikut acara lapak sama teman-teman."


"Oh,, gitu!


"Kalau di sini sih nggak ada, coba ke barat deh di sana kegnya ada tukang tambal ban! Ayo aku antar!" Lanjutnya.


"Ayo, Ai. Aku boncengin, nanti aku bantu Arif buat dorong motornya dari samping.


Aini tidak berpikir panjang, dia langsung naik ke motor Ahkan. Sebenarnya Aini sudah pernah PDKT sama Ahkan, namun tidak pernah jadian.


Pernah juga waktu lebaran kemarin, masih sangat terngiang-ngiang. Kebetulan Aini dengan bapaknya, Ahkan dengan ibunya, dan banyak teman juga di pondok dekat rumahnya.


Ibu Ahkan dengan langsung berkata seperti ini,"Pak, besok-besok Aini sama anakku aja ya!"


Hati Aini deg, "Kenapa tiba-tiba ibunya bilang keg gini sih, banyak orang pula."


Bapak Aini pun menjawab,"Hehehe, ya terserah anaknya nanti mau bagaimana."


Seorang bapak akan selalu menjadi suport sistem bagi anaknya.



Ban telah di tangan orang yang tepat, alias di tambal ban.


"Gimana tadi awalnya?"


Ahkan mencoba untuk membuka topik, karena selama penantian tidak mungkin hanya diam saja.


"Iya, tadi udah aku tambal pas dekat di tempat acara. Tapi tadi di timur tempat kamu kerja aku merasa bannya nggak beres lagi, ternyata benar."


"Hmmmmm, untung kamu belum pulang." Lanjutnya.


"Tadi sudah mau pulang sebenarnya, cuma ada yang perlu dibereskan jadi aku bereskan dulu."


"Oh, tapi sudah selesaikan?"


"Iya, sudah kok!"


"Mas, Mbak, duduk sana lho! Capek nanti kalau berdiri terus."


Pak tukang tambal ban yang baik hati mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dahulu, agar diapun tenang dalam mengerjakan tugasnya.


"Iya, Pak. Terima kasih!"


Mereka pun menuruti perintah dari bapak itu.


"Triiiing, triiiiiing ..."


Handphone Arif berdering kencang, diapun sesegera mengangkat.


Aini sedikit menguping, namun yang dia tangkap tidak begitu jelas.


"Tuuuuut," teleponnya pun terputus.


"Siapa, Rif?"


Tanpa sungkan Aini bertanya,

__ADS_1


"Abah,"


"Oh,"


Aini tidak melanjutkan pertanyaannya, karena mungkin itu masalah pribadi antara Arif dan Abahnya.


"Pak, masih lama ta?"


"Lumayan ini, Mas."


Wajah Arif nampak gelisah, lain dari ban motor bocor. Aini sangat melihat jelas di mata Arif.


"Rif, kenapa?"


"Ah, nggak papa kok."


"Nggak mungkin!"


Aini tidak akan percaya begitu saja, karena wajah Arif sudah menunjukkan kebohongan.


"Kenapa, Rif?"


"Itu, aku takut dimarahin sama abah. Tadi aku berangkat nggak bilang-bilang, ini udah terlanjur malam pula."


"Apa? Serius nggak bilang?"


"Iya, Ai. Aku nggak bilang tadi."


"Ya udah, tenang dulu!"


Dalam hati Aini sebenarnya juga nggak tenang, tapi dia berusaha untuk menenangkan.


"Lha kenapa nggak bilang kalau mau berangkat ikut acara?"


"Iya karena belum dibolehin untuk keluar jauh jauh."


"Eh alah,, terus gimana dong?"


"Dahlah nggak papa, tadi aku bilang ke abah kalau aku tidur di pondok kok."


"Beneran nggak papa?"


"Beneran!"


Ujungnya Arif dan Ahkan lanjut ngobrol dengan topik lain, sedangkan Aini hanya khusyuk mendengarkan.


"Mas, Mbak, udah!"


Selang ber-bab bab dalam bercerita, akhirnya motor sudah selesai diperbaiki.


"Iya, Pak!"


Arif menghampiri tukang tambal ban untuk membayar biaya perbaikan.


"Ai,"


Arif memanggil Aini untuk menyampaikan sarannya.


"Iya, Rif. Gimana?"


"Jadi gini, kamu diboncengin Ahkan nggak papa kan? Biar nanti aku langsung ke pondok."


"Eeeeeem,, ya udah deh nggak papa. Tapi hati-hati ya jangan ngebut."


"Oke, Ai. Kalian juga hati-hati ya!"


"Siap, Bye-bye!"


Aini pun diantar Ahkan sampai tepat persis di depan rumah.


Sedangkan waktu sudah semakin malam, Aini hanya mengucapkan terima kasih sudah diantar sampai rumah dengan selamat.


"Hati-hati ya!"


"Oke, sampai jumpa lagi."


Berujung Aini bengong ketika Ahkan bilang sampai jumpa lagi


"Oh iya,"


Gelagapan Aini menjawab.


Motor Ahkan melaju meninggalkan Aini yang belum dibukakan pintu masuk.


>>>Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2