Gharib Cinta

Gharib Cinta
Serah Tangan


__ADS_3

>>>Happy Reading<<<


"Tok tok tok,"


Tangan Aini diayunkan menabrak pintu rumah sambil memanggil isi rumah,


"Assalamualaikum, Bu ... Pak ... Buka!"


Berkali-kali ia lakukan; sedangkan pintu tak kunjung dibukakan.


Akal mencari solusi, kaki bergerak melangkah ke terowongan samping rumah, ada jalan ke dua di sana.


"Ah, dikunci semua mana bisa aku masuk! Dipanggil-panggil nggak ada yang dengar pula!"


Hati Aini sudah mulai cemas, dia kembali lagi ke pintu utama. Mengetuk dan mengetuk ...


Setelah sekian lama, hingga rasa putus asa mulai tumbuh;


Tiba-tiba pintu mengeluarkan suara, tanda hendak dibuka.


"Alhamdulillah,"


Napas terhembus lega,


"Lamanya, aku kan takut di luar sendirian. Gelap semua lagi."


Kata terlontarkan spontan di hadapan seorang bapak yang nyawanya belum sepenuhnya kembali.


"Nggak dengar kok,"


"Eeeeeem..."


Kakinya bergerak langsung menuju kamar,


"Kring"


Handphone berdering dengan riang, hingga Aini segera memeriksanya.


"Gimana, Ai? Udah sampai rumah?"


Pesan dari Arif yang berusaha memastikan keberadaan Aini.


"Sudah, Rif. Kamu sendiri bagaimana?"


"Aku juga sudah sampai pondok ini,"


"Eh maaf ya, keluar pertama sama kamu malah bikin kecewa keg gini!" Lanjutnya.


"Iya, Arif .. nggak papa kok, lagian juga kita nggak pernah merencanakan itu. Hehehe."


"Heeeh, Iya sih!"


Aini hanya bisa membalas dengan emoticon senyum.


"Eh, mau lekas tidur ta?"


"Belum tahu, belum ngantuk juga ini."


"Oh, mau aku temenin?"


"Keg mana?"


"Aku temenin chat sampai tidur, Hahaha."


"Oke boleh, daripada gabut juga!"


"Siap,, aku temenin."


Selang beberapa menit, Arif tersadar jikalau Aini tidak seperti biasanya; yang menghilang tidak membalas chat darinya.


"Nah kemana nih orang, lama banget balasnya."


Arif monolog karena Aini yang tadinya setuju mau untuk ditemani sampai tertidur, malah hilang entah kemana.



"Arif ..."

__ADS_1


"Iya, Ai. Kenapa?"


Pagi buta Aini melemparkan pesan pada Arif, siapa tak heran sepagi itu.


"Maaf ya! Tadi malam aku ketiduran!"


"Hah? Kok bisa? Katanya belum ngantuk kok malah ketiduran sih?"


"Hehehe, iya nggak tahu!"


"Ya udah, nggak papa kok!


Awalnya memang belum ngantuk, namun setelah diungkapkan; tiba-tiba Aini bisa tidur hanya dengan beberapa detik.


"Nggak tahu kenapa, aku tuh kalau habis bilang belum ngantuk pasti rasanya mata sudah mau terbenam dan hingga benar-benar terbenam deh! Sekali lagi mohon maaf ya!"


"Lah iya, tadi malam aku heran tahu. Bilang mau ditemenin kok malah menghilang. Hehehe."


"Ya seperti itulah, Rif. Mungkin karena tubuhnya terasa capek juga kali ya!"


"Iya kegnya, eh Minggu depan kamu bedah buku ya?"


Jadwal sudah tersebar dalam lingkup lokal, yang mana Minggu depan Aini akan membedah buku solo pertamanya. Dengan segenap rasa tidak percaya diri, namun tidak menolak untuk tetap beraksi.


"He.em nih, tapi aku belum tahu apa yang mau aku omongin."


"Tinggal omongin apa yang perlu diomongin ajalah."


"Hehehe, iya sih."


Sesimpel itu Arif mengucapkan kata-kata, bagi seorang introver seperti Aini ini rasanya sangat nano-nano alias terasa berat karena belum terbiasa bicara di hadapan publik.


"Gimana, berangkat bareng ta?"


"Boleh, seperti kemarin ya!"


"Apa?"


"Jemput di rumah dong!"


Aini memang anak yang bisa dikatakan los, mau kemana saja dibebaskan. Sehingga menurut dirinya sendiri; menjaga kepercayaan orang tua itu hal paling pokok dalam menjalankan tugas atau kegiatan di luar rumah. Ya meskipun orang tua tidak akan melihat kenalannya secara langsung di luar sana.


"Oke, aku siap-siap berangkat kerja dulu!"


"Siap, jangan lupa sarapan!"


Aini membalas pesan dengan emoticon anak kecil yang super gemoy sedang mengangguk angguk.


Kemudian badan berdiri tegak, hendak ke kamar mandi.



"Tidak ada yang menarik hari ini,"


Aini tidak hanya geram dengan apa yang dirasakannya, namun dia juga geram dengan apa yang ada di hadapannya.


"Sudah dong, Ra! Jangan diberantakin seperti itu!"


"Biarin, Wleeeek ... Wleeeek ..."


Hati dan mata siapa yang tidak geram dengan keadaan seperti hal tersebut?


"Aku bilangin ke ayah ibumu lho!"


Si Zahra hanya diam tak menghiraukan apa yang Aini katakan.


"Ya Allah, Ra! Aku lo capek! Astaghfirullah!"


"Sudah kerjaan menumpuk, ditambah lagi satu ini yang super duper aktif. Ya Allah rasanya pengen nangis sekencang kencangnya."


Hati Aini memberontak, sedangkan pikiran mulai menghentikan.


"Sabar! Dia anak kecil, lagian itu anak orang juga; nggak memungkinkan untuk kamu hukum."


Mata Aini memperhatikan tingkah laku Zahra yang tengah mengacak-acak tatanan kain, dia hanya bisa diam. Sebab jika dikasih tahu, justru Zahra akan semakin menjadi-jadi.


"Heh, Ra! Kok diberantakin, nanti dimarahin sama bosnya lo!

__ADS_1


Tetangga toko memberikan peringatan kepada Zahra yang masih sibuk mengacak-acak kainnya dan Zahra pun tidak memperhatikan sama sekali.


"Kok kamu biarkan toh, Mbak!"


Tetangga lain juga menyetujui omongan dari Pak Kayan ini.


Kali ini tetangga toko menegur Aini, sedangkan bibir sudah capek memberikan petuah jika petuah itu dibuang dengan percuma.


Dikatain seperti itu, hati Aini mulai memanas; karena orang luar tidak pernah tahu kejadian orang dalam, begitu juga sebaliknya.


"Eh, Pak. Percuma! Dari tadi aja aku ngomong nggak didengarkan kok. Malah kalau dibilangin nambah kayak disuruh. Sampai capek mulutku,"


Dengan lembut Aini membalas perkataan dari bapak tetangga.


"Panggil bapaknya saja lo!"


"Hehehe, nanti juga tahu!"


Akhirnya Pak Kayan terdiam dan melanjutkan aktifitasnya.


"Kalau di sini tuh jangan acak-acak toko kenapa sih?"


Aini berbisik pada dirinya sendiri,


"Kak, Zahra nih lo! Sukanya ngacak-acak kain!


Ayah Zahra sudah akrab dengan Aini, sehingga dia tidak perlu sungkan-sungkan untuk melaporkan kelakuan anaknya yang super aktif.


"Ra ... Sudah, kasihan mbaknya itu lo!"


"Tapi aku masih mau main,"


"Sudah, nanti dimarahi sama yang punya lo!"


"Eeem, iya deh!"


Akhirnya sang ayah membereskan kain-kain yang sudah berantakan, hingga tuntas sebagai rasanya tanggung jawabnya.


Kain yang tergulung rapi terdorong jatuh satu persatu, karena ulah Zahra yang tengah hyper aktif. Tidak hanya 1-2 meter, pergulung bisa sampai 50 sampai ratusan meter.


Badan Aini yang kurus tinggi bisa patah tulang jika membereskan sendiri.


"Terima kasih, Kak!"


"Sama-sama, maaf juga; Zahra emang kayak gitu anaknya. Super aktif."


"Iya, Kak. Nggak papa!"


"Ayo, pulang!"


Seorang ayah mengajak anaknya untuk pulang agar tidak berulah lagi.


"Nggak mau!"


"Ayo!"


"Aaaah,, nggak mau; Mbak Nakal!"


Zahra seolah-olah tidak terima jika permainannya dihentikan begitu saja dan malah berujung diajak pulang.


"Nakal gimana? Bukannya kamu ya yang nakal? buktinya dibilangin malah kayak disuruh."


Aini pun sama, serasa tidak mau mengalah dengan anak kecil. Sekalipun sang ayah Zahra masih di hadapannya.


"Mbak nakal, temannya setan!"


"Oh aku temannya setan, berarti kamu dong setannya; kan aku berteman sama kamu!"


"Yah, Mbak lo nakal!"


"Emang ya,,, Aini nih nggak mau ngalah sama anak kecil."


Sambil tertawa tipis, ayahnya mengungkapkan uneg-uneg.


Dan kembali mengajak Zahra untuk pulang,


>>>Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2