Gharib Cinta

Gharib Cinta
Kepribadian Ganda


__ADS_3

...>>>Happy Reading!<<<...


"Haaaaaaah,"


Cahaya mentari pagi menembus lubang yang biasa dihampiri angin, itu tanda bahwa Aini telah bangun terlambat alias kesiangan.


"Haduh, kok!"


Mata ini terbelalak melihat sinar mentari yang menembus lubang-lubang angin hingga masuk dalam kamar,


"Aaah, jam berapa ini?"


Aini menyentak dirinya sendiri dan lekas melihat jam karena sudah bangun kesiangan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.15, karyawan yang belum genap 1 tahun ini akhirnya loncat dari ranjang untuk segera bersiap-siap berangkat kerja.


Tidak perlu membuang air terlalu banyak pagi ini, ini hanya butuh cuci muka agar terlihat lebih segar dan memberikan sentuhan air pada ketiak agar bau badannya tidak terlalu menyengat di hidung pelanggannya.


Tubuh yang bergerak tergesa-gesa tidak menjadikan pikiran Aini diam. Melainkan isi kepala semakin runyam.


"Kenapa bisa kesiangan gini sih?"


"Padahal kan tadi malam tidak ..."


"Oh, pantesan aja bangun kesiangan ... tadi malam aja aku susah tidurnya."


Tiba-tiba ada orang yang berjalan di hadapannya dan memperhatikan gerak-gerik Aini. Dia adalah bapak ibunya.


"Kenapa?" Bapak Aini menyempatkan bertanya.


"Alaaaaaah,, kesiangan."


Aini menjawab dengan sedikit lemas dan kesal, hingga Air matanya hampir tumpah, namun dia selalu dengan sekuat tenaga menahannya.


"Aku enggak dibangunin Bapak sama Ibu," Aini melanjutkan jawabnya.


"Lo bukan nggak dibangunin, tapi kamu tuh dibangunin berkali-kali cuma iya iya doang terus balik tidur!"


Bapak menyajikan muka masam dan ibu membenarkan apa yang dibicarakan oleh Bapak Aini, bahwa sebenarnya itu dia sudah dibangunin berkali-kali. Namun apalah daya, dia tidur terlalu larut malam sehingga beginilah jadinya.


Aini hanya bisa menutup mulut dan menggerakkan tubuhnya untuk segera berangkat kerja,


Dia mengambil sedikit bedak juga meratakan di wajahnya dan menyemburkan minyak dari botol untuk menutupi jikalau dia belum mandi.


"Assalamualaikum!"


Aini berpamitan dengan ibu seorang, karena bapaknya tadi sudah beranjak lebih dahulu untuk berangkat kerja daripada Aini.


"Wa'alaikum salam, hati-hati!"


Akhirnya Aini berangkat ke tempat kerja pada pukul 07 30. Waktu yang relatif singkat untuk siap-siap tadi.


Kali ini tidak ada konser di sepanjang perjalanan, yang ada hanya rasa bersalah dan rasa sungkan karena sudah datang terlambat.


"Dimarahin Bos nggak ya?"


Hati ini bergumam dengan rasa kecemasan yang luar biasa.


Sesampainya di pasar tempat di mana ayah kerja, orang yang jualannya tetanggaan dengan Aini tengah menyapa.


"Kok tumben jam segini baru berangkat?"


"Iya, ada apa gerangan?"


Dan masih ada beberapa pertanyaan lagi. Aini hanya menjawabnya dengan senyum dan hanya dengan kata iya.


Aini menata dagangan dengan penuh semangat, sebagai tanda permintaan maaf kepada diri sendiri dan kepada bos atau pemilik toko.


Tanpa diduga ada seorang perempuan mampir dan bertanya,

__ADS_1


"Baru datang kah, Mbak?"


"Iya nih, Mbak! bangunnya kesiangan."


Aini menjawab sambil tersenyum masam karena sungkan.


"Mbak, ada kain Crab yang warna hitam nggak?"


Dengan sigap mata mulai berjelajah, sampai dia telah menemukan apa yang customer mau.


"Ada, Bu. Ini kainnya!"


Tangan Aini menjamah kain yang dimaksud, dan mengambilnya untuk diperlihatkan oleh customer.


"Cocok apa nggak yang ini?"


Customer memegang juga memastikan kain yang dia mau.


"Eeeeeemm, iya. Cocok kayaknya!"


Aini menyajikan senyuman dan berusaha untuk meyakinkan.


"Kok kayaknya, Bu. Iya atau tidak?"


Tawa kecilnya muncul bersamaan dengan tawanya customer.


"Iya, Mbak. Sudah cocok, ini saja kasih 3 meter ya!"


Kebetulan Customer tersebut sudah biasa berbelanja di toko yang ditempati Aini, jadi tidak butuh tawar menawar lagi.


"Fiks, Bu?"


Aini berusaha memastikan, karena khawatir kalau semisal sudah dipotong si customer nggak jadi beli. Jikalau sudah fiks dan usai dipotong customer menyatakan pembatalan, maka hal itu ditanggung oleh customer.


"Iya ... Fiks, Mbak!"


"Siap, Bu! Aku potongkan,"


"3 meter kan, Bu?"


Aini memastikan kembali, agar tidak salah dalam melayani.


"Iya, Mbak. Tiga meter saja sudah cukup kok."


"Oke siap!"


Tangan Aini yang membawa pita ukur melanjutkan untuk mengukur kain yang sudah mulai terurai.


Dalam naungan pekerjaan, Aini tidak luput dengan yang namanya musik sebagai teman kerja tanpa mengganggu. Jadi di samping memotong kain, Aini juga menikmati musik yang sedang berputar.


Hati ingin mengajak bicara pada customer, namun mulut tidak mau bersinergi karena tengah asik turut menirukan lagu yang sedang berdendang.


Tidak sampai 10 menit, Aini sudah tuntas melayani customer.


"Ini, Bu!"


"Oh, iya. Ini uangnya!"


"Oke, Bu Kembali 25 ya?"


Kebetulan harga kain dua puluh lima ribu, dan uang yang diberikan tertera angka satu diiringi lima nol berjejeran.


Aini pun mengorek-ngorek isi loker tempat penyimpanan uang untuk memberikan kembalian pada customer.


Seperti biasa, dia menyuruh costumer untuk menghitung kembali di tempat agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Belum sempat duduk, ada anak usia SMA berkunjung hendak mencari kain.


"Kak, ada kain batik?"

__ADS_1


"Oh, ada. Tapi sudah potongan, sepotong ukuran 2 meteran. Bagaimana?"


"Boleh lihat dulu, Kak?"


"Boleh banget dong!"


Aini kembali menebarkan senyum untuk customer, sambil mencari kain batik yang kira-kira cocok untuk customer.


"Ini, Kak! Coba dilihat dulu!"


"Wow, harga satuannya berapa ya, Kak?"


Terlihat jelas di matanya, jikalau dia tertarik dengan kain yang Aini tunjukkan.


"Beda-beda harganya sih, Kak!"


"Kakak tertarik sama yang mana?"


Aini melanjutkan pertanyaan dengan begitu ramah.


"Yang ini, Kak!"


Jari telunjuk mengarah pada salah satu kain motif batik.


"Oh yang ini 38 ribu, Kak!"


"Eeeeeemm, kalau yang ini, Kak?"


"Kalau yang itu agak mahal lagi, Kak! 58 ribu."


Aini memberikan jeda bicara, agar customer mempertimbangkan mana yang cocok dan mau dia beli.


"Ya udah, Kak. Mau yang ini aja," lagi-lagi jari telunjuk diarahkan ke kain batik motif yang dipilih di awal.


"Oke! Mau berapa pcs, Kak?"


"3 pcs ya, Kak! Motif yang sama."


"Sudah? Fiks ya?"


Sebelum akad jual beli dimulai kembali, Aini selalu menanyakan untuk memastikan barang benar-benar mau dibeli atau tidak.


"Iya, Kak. Sudah Fiks, ini 3 pcs."


"Siap, Kak! Aku bungkus ya!"


Sebelum Aini memberikan barangnya, yang dilakukan ialah menjumlah seberapa banyak yang harus dibayar oleh customer tersebut.


"Satu pcs-nya 38 ribu ya, Kak. Jadi totalnya 114 ribu. Kakak bayar 110 saja nggak papa."


Sesuai amanah dari bosnya, yaitu ketika ada orang yang beli cukup banyak boleh dikasih diskon. Paling nggak setiap satu meter bisa kamu kurangin seribu. Berhubung 3 kain sama dengan 6 meter, berarti Customer berhak dapat diskon dong.


"Ini uangnya, Kak!


"Oke siap! Uangnya pas 110 ya, Kak?"


Aini menghitung uangnya kembali seperti biasa, sekaligus menyakinkan.


Ya seperti itulah jual beli, cewek yang awalnya Introvert kini menjadi cewek yang serba bisa. Sehingga sifat Introver dan ekstrover-nya akan muncul sesuai dengan yang dia butuhkan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


>>>Bersambung ...


__ADS_2