Gharib Cinta

Gharib Cinta
Penantian Estafet


__ADS_3

Wajah-wajah Aini memang membiaskan betapa lelahnya hari ini, namun dia tetap berusaha untuk selalu fokus pada materi yang diberikan dosennya. Hal itu juga karena dia merasa bersalah sudah datang terlambat.


Tangan Aini meraba tengkuk leher yang tiba-tiba gatal, kemudian memberi gesekan perlahan agar tidak terdengar oleh teman-teman dan dosennya.


"Haaaaaaaaaaaah," Aini menutupi mulutnya dengan rasa malu.


Kali ini bukan hanya lelah yang dialami pada diri Aini, melainkan bertambah rasa kantuk karena mungkin efek dari lelahnya itu.


Dalam hati dia membentak diri, "Dasar, diri tak tahu diuntung! Dosen sudah mengizinkan untuk ikut pembelajaran dengan baik, eh malah ngantuk. Dasar, aku!"


Aini sangat berusaha menahan kantuknya, dengan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk tetap fokus pada materi yang disampaikan dosennya.


Dosen menyampaikan materi yang telah disampaikan oleh kelompok bagian presentasi, dia hanya sekadar mengulas dan mempertebal materi atau topik pada hari ini.


"Haaaaaaaaaaaaaaaah," Aini kembali menguap kedua matanya yang hampir saja terbenam.


"Astaghfirullah," Aini mengusap kedua matanya dan memaksa agar mau benar-benar memancar.


Keadaan seakan memaksa dia untuk frustrasi, tapi dia selalu mencoba untuk kuat dalam menghadapi semua yang terjadi.


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Mata Aini terbelalak kaget, mata kuliah pertama telah usai ketika kesadaran Aini yang tadinya telah memudar.


"Alhamdulillah, Ya Allah..."


Waktu istirahat telah tiba, yang lain pada keluar kelas untuk menunaikan kebutuhan masing-masing. Sedangkan yang Aini butuhkan tidak perlu keluar kelas. Aini menyilakan tangan di atas meja, kemudian menjatuhkan kepala di atasnya.



"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," suara dosen mengawali pembelajaran.


Terasa baru sekejap dia memejamkan mata, akan tetapi dosen mata kuliah kedua telah berada tepat di hadapannya.


"Eeeeeeeeeeem," tangannya dengan spontan merentang.


Matanya kembali disentuh dan diberi sedikit gesekan oleh tangannya.


Dalam batin dia berkata,"Ya Allah, lelah banget hari ini; ditambah lagi ngantuk berat."


Benar, Aini merasakan matanya begitu berat untuk diangkat. Tapi bagaimana lagi? Dia harus menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa, yang mana harus mengikuti pembelajaran sampai selesai.


Dengan begitu lemas, Aini menyangga kepala dan berusaha memancarkan mata merahnya, sembari menyimak presentasi teman yang bertugas.


Siapa sangka;

__ADS_1


Deg


Tangan penyangganya melemah, hingga bersila otomatis di atas meja; tanpa sengaja malah menenggelamkan mata merahnya itu. Padahal dia duduk tepat berhadap-hadapan dengan dosen, ya bagaimana lagi; Aini tidak sengaja melakukan itu.


Aini memang begitu malu telah tidur nyenyak di hadapan dosen, namun untungnya juga dalam kelas itu tidak ada yang ditaksir oleh Aini, jadi dia merasa hidupnya baik-baik saja.


"Prok-prok-prok." Tepuk tangan begitu mengguncang kelas.


Aini kembali terbelalak kaget mendengar tepukan tangan sekelas dan kali ini mata Aini benar-benar terang benderang.


Selama Aini memejamkan mata dosen tidak membangunkan dia, teman di samping kanan dan kirinya juga tidak ada yang membangunkan dirinya. Mungkin mereka sangat memahami Aini yang hari ini terlalu lelah.


Setelah presentasi berlalu, kini giliran dosen yang memperkuat jawaban dari pertanyaan teman-teman atau menjabarkan lebih luas materi yang telah disampaikan;


"Bagaimana? Sudah bisa dipahami? Barangkali ada yang mau ditanyakan lagi?"


Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, Aini tertarik untuk bertanya. Namun sayang sekali; Dia tidak tahu apa yang harus ditanyakan.


Tangan berjelajah pada layar ponsel yang membuka makalah, sedangkan pikiran berjelajah mencari apa yang belum Aini pahami. Ya bagaimana dia akan paham, sedari tadi dia tertidur pulas.


Aini yang biasanya mampu sedikit demi sedikit mendengar sesuatu ketika tertidur, kali ini tidak. Tidak sama sekali, dia tidak mampu mendengarkan satu katapun dari presentasi tadi.


"Aku ingin bertanya, tapi apa ya?" Bukannya bertanya kepada dosen yang mempersilahkan siapapun untuk bertanya, Aini malah bertanya pada diri sendiri.


"Aaaah, tidak!"


Raungan dalam hati tidak bisa didengar oleh siapapun, Aini sudah berusaha untuk bertanya tentang topik materi hari ini.


"Sial!"


Aini kembali membentak diri, dari tadi dia ingin sekali mengajukan pertanyaan; sedangkan otak tak mau berjalan, tidak tahu apa yang ingin ditanyakan.


Bingung nggak sih?


Ingin bertanya, tapi tidak tahu apa yang ingin ditanyakan. Kemudian malah menanyakan pada diri sendiri.


Bagaimana jika kalian dalam posisi itu?


Pasti akan geram sendiri kan?


Jelas! tidak mungkin tidak geram.


Akhirnya Aini pasrah, tidak jadi mengangkat tangan sebagai lambang ingin bertanya, jengkelnya masih merajam diri. Sehingga dia lebih memilih untuk melipat tangan di depan perutnya saja.


"Aku nyesel tadi tertidur, jadinya tidak bisa bertanya apa-apa dalam perkuliahan ini."

__ADS_1


Bagaimana pun juga, penyesalan tidak mampu merubah apa yang sudah terjadi.


Berhubung tidak ada yang mengajukan pertanyaan, dosen beranggapan bahwa mahasiswanya telah memahami apa yang dijelaskan secara gamblang itu. Sehingga dosen memilih untuk mengakhiri pembelajaran, hal itu tengah disetujui oleh seluruh mahasiswa yang hadir.



Kaki melangkah keluar dari ruang kelas, terus melangkah hingga melewati lantai putih; sekarang mulai menginjak jalan beraspal.


Langkah demi langkah, tibalah dia di samping kanan bahu jalan raya; hingga dia harus menyebrang terlebih dahulu untuk menunggu angkutan kota,


Ya, angkutan kota; karena sudah jam 5 sore yang ada hanya angkutan kota, angkutan umum sudah tidak ada yang berlalu lalang. Dia naik angkutan kota hanya menuju halte, kemudian dia akan pulang naik bus. Kalau dia naik bus dari kampus, maka yang terjadi tidak sampai ke arah rumahnya malah semakin jauh dari rumah. Artinya; jalan di depan kampus hanyalah jalan satu arah dan itu berlawanan dengan jalan pulang Aini.


"Ayo, Mbak!" Ajak supir angkot yang berhenti tepat di hadapannya.


"Oh iya, Pak."


"Turun di mana, Mbak?" tanya si supir pada Aini.


"Turun di halte saja ya, Pak!


Bapak supir angkot itu mengangguk tanda mengerti di mana dia akan mengantarkan Aini.


Supir tancap gas tanpa ragu, dengan menikmati lagu yang mengiringi perjalanannya sekaligus penumpang yang dibawa.


ciiiiiiiiit,,,


Mobil terhenti; hendak menyusuri jalan berbelok, sehingga mobil angkutan umum itu harus antri demi keselamatan bersama.


Ketika para mobil yang berlalu lalang tidak begitu ramai, mobil angkutan umum itu segera menancapkan gasnya.


ciiiiiiiiit,,,


Rem kembali sengaja diinjak, Aini telah sampai di halte dan di situ dia kembali menunggu.


Menunggu apa?


Jelas menunggu bus yang akan mengantarkan dia pulang dong,


"Huuuuuuuuh," Aini menghela nafas untuk meringankan sesak di dadanya.


"Menunggu lagi, menunggu lagi,"


Dalam seharian ini sepertinya Aini selalu dapat job buat menunggu dan sebenarnya dia sendiri kesel, namun seperti biasanya; Aini selalu berusaha untuk selalu sabar.


>>>Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2