
...>>>Happy Reading<<<...
Buat apa Aini ke warung bu leknya?
Ya tahulah, kan dia berangkat bawa motor dan dititipkan di warung bu leknya.
Namun sayangnya, warung sudah tertutup rapat dan sepi; padahal baru saja maghrib berlalu. Aini tidak begitu khawatir, dia langsung menuju ke arah tempat di mana dia menaruh motornya.
"Kok tumben banget jam segini udah tutup?"
Aini heran kenapa jam segini warung sudah tutup, meskipun dibuat heran; dia tetap mengambil motornya, ya kali mau ditinggal! hehehe.
Dia membuka tas bagian depan, yang mana dia menaruh kunci motor di dalamnya;
Tangannya mulai meraba, yang diraih masih belum juga sesuai dengan apa yang dituju; dia masih berusaha mencoba. Tapi dia gagal, sehingga dia harus memasukkan pandangan matanya ke arah dalam tas untuk penggeledehan.
"Gelap banget!" Aini merasa greget tidak bisa melihat apa yang ada di dalam tas.
Matahari sudah tidak bertugas untuk menyinari malam, sehingga dia meraih handphone terlebih dahulu dan menyalakan senternya.
"Huh, mana sih?" tangannya masih meraba-raba.
"Di mana coba?" matanya berfokus pada sela-sela di dalam tas yang sudah bercahaya itu.
"Nah,, Ini dia! Ya masak harus ribet dulu baru ketemu sih? Bikin kesel aja!"
Dengan raut wajah yang masam, dia berusaha untuk tetap tenang dan memasukkan kunci motor dalam lubang yang semestinya.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
Kakinya mengayun dengan begitu kerasnya, karena starter dekat gas tak lagi bisa digunakan.
Sekali ayunan belum mampu membuat mesin motor menyala, dia harus berusaha lagi untuk menyalakan mesin motor Supra-nya.
Ketiga kalinya suara menggelegar dari motor yang tengah dia naiki,
Tanpa berpikir panjang, motor pun melaju dengan begitu santai; tidak pelan dan tidak begitu kencang.
Seperti biasa, Aini berdendang mengungkapkan isi hati lewat syair lagu yang dirangkai secara instan.
"Di detik hari ini, menunggu dan menunggu telah kulakukan. Dengan penuh rasa kesal, dengan penuh rasa bosan. Hooooooooooooooooo,"
"Tergesa dan mencari ketenangan, namun hati gelisah; tiada yang mendamaikan. hmmmmm,"
__ADS_1
Lagu yang dirangkai sendiri dan didengar sendiri ini mengisahkan perjalanannya sendiri, yang dalam sehari ini hanya berisikan penantian yang tidak ada ujungnya.
Ya, meskipun tubuhnya terasa tidak begitu kuat menghadapi keadaan yang merajam; nyatanya dalam seharian ini dia begitu kuat menjalani keadaan yang mengelilinginya.
Malah dalam perjalanan pulang, dengan ditemani motor Supra X; dia bisa merangkai lagu, namun sayangnya lagu itu tidak bisa direplay hanya bisa diucapkan sekali, baik dari segi nada maupun kalimatnya.
Tidak mengapa, setidaknya hal itu bisa menghibur dirinya sendiri dan mungkin itu salah satu cara untuk merilekskan diri.
Menikmati suasana saat berkendara dengan dilengkapi lagu memang hal yang paling menyenangkan, sehingga tak disangka; Aini sudah berada tepat di depan rumahnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," Aini sengaja mengucapkan salam dengan nada centil layaknya anak yang mau menyampaikan pidato.
Ibunya menjawab dengan biasa saja, sedangkan bapaknya dengan sedikit tertawa, menjawab sesuai nada pengucapan salam yang sama.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh,"
"Jam segini kok baru pulang?" Lanjut bapak Aini setelah menjawab salam.
"Iya, Pak. Soalnya tadi keluar kelas jam 5, terus nunggu angkot buat ke arah halte; abis gitu nunggu bus. Capek aku, hehehehe."
Aini menjelaskan sejelas-jelasnya alur pulang terlambat, bapaknya tidak akan marah ketika Aini menjelaskan apa saja yang terjadi.
"Oh, ya udah. Bersih-bersih sana!"
…
Bersih-bersih tubuh telah usai, sujud pada Tuhannya telah tunai, saatnya memasukkan makanan dalam perut.
"Ah, mulai laper nih! Seharian ini capek banget, Ya Allah." Aini memberikan sentuhan manja pada perutnya yang ingin dimasuki sesuatu itu.
"Butuh nutrisi tambahan! ya kan, peyuut?"
"Iya, ayo segera ambil nasi, dan lauknya!"
Lagi-lagi Aini monolog, berbicara sesuka hati pada diri sendiri.
Di samping itu Aini segera mengambil satu piring kaca, membuka penutup makanan; dia telah melihat nasi dan lauk yang sudah siap untuk diambil. Aini pun langsung gercep mengambil secukupnya.
"Segini cukup nggak ya? nanti bakal habis nggak sih?"
Di tengah perjalanan menuangkan nasi di piringnya, Aini bimbang; mau mengambil banyak takut kebanyakan, mau mengambil sedikit takut kurang.
"Nanti kalau ngambil sedikit dan kurang, mau nambah lagi itu rasanya beda."
__ADS_1
"Aaaah,, ya sudah deh, ambil tengah-tengah saja."
Aini mengembalikan nasi kiranya satu sendok makan saja, karena dilihat memang yang dikembalikan itu kurang menggugah selera makannya.
"Sudah,"
Dia telah finis mengambil makanan dari dapur, langkah kakinya menuju ruang depan. Di mana ada televisi menyala. Yups, di sana keluarga Aini sedang pada nonton televisi.
Aini Akhirnya mengambil posisi yang tidak menggangu penglihatan mereka yang tengah fokus melihat sinetron.
Dengan lahap Aini menikmati makan malam, ya meskipun belum melewati jam 9; tapi kan langit sudah gelap gulita, ya di situ orang jawa mengatakan sudah malam.
Begitu lahap Aini menyuapi diri sendiri, ya namanya juga jomblo; pasti menyuapi diri sendiri dong.
Imajinasi Aini mulai muncul,
Terpampang begitu jelas alurnya namun tidak begitu jelas orang yang ada di dalamnya.
"Seandainya punya ayang, pasti akan ada yang memperhatikan aku. Nggak kayak gini; makan nggak makan tidak ada yang mengingatkan."
"Eeeeeitz, ada ding. Kan ibu selalu mengingatkan. Tapiiiiiii,,,"
Aini seakan-akan berpikir sejenak, meskipun dia sudah tahu jawabannya.
"Hmmmm,,,, tapi kalau terlihat aku belum makan saja. Ya sudah, tidak apa-apa deh! yang penting ada yang mengingatkan, daripada tidak ada sama sekali."
"Tapi rasanya pengen punya ayang,"
Bukan Aini namanya kalau tidak berandai-andai dan bukan Aini namanya kalau tidak punya banyak keinginan.
Dua hal itu tidak pernah lepas dari jiwa Aini, seakan keduanya itu sudah mendarah daging.
Akhirnya Aini memutuskan untuk memantapkan diri dan menyakinkan diri sendiri, jikalau dia ingin punya pasangan berarti dia sudah siap resiko yang akan dihadapinya dalam suatu hubungan.
"Eh ,,, udah habis?"
Sangking lahapnya menyuap makanan dan fokusnya dalam berkecimpung menonton adegan sinetron, Aini sampai tidak sadar bahwa piring yang disanggahnya tinggal piring tak berisi. Isinya ludes, yang tersisa hanya bekas-bekas atau sisa nasi yang melekat pada piring kacanya itu.
Kali ini, mau tidak mau dia harus berdiri dan melangkah untuk mengembalikan piring ke dapur. Sebenarnya dia agak menyesal nasi yang dilahap telah habis dengan perut yang masih mau. Sedangkan dia tahu kalau makan habis dan mau nambah itu yang kedua kalinya rasa tidak sesuai dengan yang pertama. Sehingga dia enggan mengambil atau nambah suapan lagi.
Akhirnya dia memutuskan untuk menghilangkan penyesalan dan berusaha menghirup keikhlasan.
Setelah ke dapur, dia kembali bergabung di depan televisi untuk melanjutkan kesadarannya pada sinetron yang ditontonnya tadi; yang membuat kesadarannya hilang sekejap.
__ADS_1
>>>Bersambung.......