
...>>>Happy Reading<<<...
"Eeeeeeeeeeem,"
Tangan Aini menjulur ke atas dengan tenaga untuk menegakkan otot-otot yang sejak kemarin diajaknya berkelana.
Matanya memang masih terpejam, namun gerakannya begitu tajam. Akibat gerakkannya sendiri, mata Aini tiba-tiba terbelalak melihat keadaan sekitar.
Sambil mengumpulkan nyawa yang bertebaran, Aini berusaha senyum untuk dirinya sendiri.
Akan tetapi di dalam setengah sadarnya, Aini melihat handphone yang tadinya bernyanyi riang; kini terdiam membisu, dan ketika dia meraih handphone di sampingnya dan membuka layarnya; waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB.
"Hah? Baru jam 1? ngapain aku terbangun?" Pertanyaan Aini dilemparkan pada dirinya sendiri.
Dengan itu dia membulatkan niat untuk membiarkan nyawanya kembali berkelana mencari mimpinya masing-masing, didukung oleh mata yang menenggelamkan diri kembali; sebelum hari pagi menghampiri dan sebelum dunia pekerjaan diarungi.
…
"Allahuakbar,, Allahuakbar,"
Gema adzan berkumandang di hari masih remang-remang, ayam berkokok turut memeriahkan.
Aini pun membuka mata dengan tenang, tidak tersentak apalagi terbelalak.
Senyum simpul menyambut pagi yang terlihat berseri, sesegera dia berdiri menegakkan diri; guna persiapan sujud pada Illahi Robbi.
Aini akhirnya meraih peralatan mandi dan membuka pintu kamar dengan perlahan, dia akan melewati dapur;
Setiba di dapur Aini melihat ibunya yang tengah disibukkan oleh masak memasak. Ya, Aini tidak pernah membantu ibunya kalau tidak diminta; bukan karena dia tidak mau membantu. Akan tetapi seringkali kalau sudah mau ikut membantu, Aini merasa bukan membantu malah makin merepotkan saja.
Aini yang masih dengan muka-muka bangun tidur itu dengan permisi lewat dan masuk ke kamar mandi.
"Bu, permisi ya! mau ke kamar mandi," dengan senyuman manjanya Aini tetap melangkah.
…
Pagi kembali bersinar, menembus sudut-sudut ruangan.
Sudah menjadi suatu kebiasaan; Aini harus menjalankan kewajibannya, yaitu kembali bekerja sambil belajar.
"Hari ini seperti hal yang biasa saja, tidak ada yang istimewa."
Aini sudah mulai bosan dengan kehidupan yang setiap hari hanya itu-itu saja, tidak ada yang istimewa.
Apa yang bisa menghilangkan rasa bosan Aini ya kira-kira?
Bukan Aini kalau tidak bisa berinovasi, bagaimanapun caranya dia pasti akan mencoba satu persatu.
Musik YouTube telah memenuhi ruangan, namun hati masih saja hampa.
"Eeeeeemm, apa ya?"
__ADS_1
Semakin larut dalam suasana, syair mulai sedikit demi sedikit merasuk dalam relung kalbu yang tadinya hampa tanpa ada rasa.
Aini yang dalam keadaan sendirian, hanya berteman handphone yang sedang berdendang. Akhirnya dia monolog dalam keseruan dendang syair lagu itu.
"Kenapa harus hidup kalau tidak bisa menikmati kehidupan?"
"Ya, kenapa kerja kalau aku tidak bisa menikmati pekerjaan."
Pikiran kembali runyam, ingin menangis tapi banyak orang yang berseliweran di depan. Namanya juga pasar, sudah jelas bakal ada orang yang berseliweran di depan toko. Ya meskipun orang-orang tidak akan begitu memperhatikan mata kacanya.
Aini telah menjerit dalam hati, dia tidak kuasa mempertahankan rasa bosannya kali ini. Hati yang ingin senang, pikiran yang ingin tenang, dan raga yang ingin rebahan.
Hatinya sedang tak tahu arah, pikiran yang berkelana menyayat suasana, raga yang harus tetap strong bekerja.
"Mbak, ada kain crab warna abu-abu?" Dia sedikit kaget dengan kedatangan mbak-mbak yang tiba-tiba ada, sebenarnya bukan benar tiba-tiba ada sih; cuma dia saja yang tidak begitu fokus hari ini.
"Eeeeeemm,,, bentar ya, Mbak!"
Aini memainkan mata dan tangannya untuk menjadi detektif kali ini,, hehehehe, detektif mencari kain yang diharapkan pembeli. Pencarian terhenti ketika mata dan tangan kompak menuju satu arah; kain crab berwarna abu-abu.
"Ini ada, Mbak. Cocok nggak? coba dilihat dulu!"
"Aku lihat dulu ya, Mbak!"
"Siap, Mbak!"
"Sudah cocok, Mbak. Ini saja!"
"Butuh berapa meter nih, Mbak?"
Aini melontarkan pertanyaan yang sudah semestinya ditanyakan,
"Kira-kira berapa meter ya, Mbak? Buat aku sama suami."
Pembeli malah balik bertanya karena belum terlalu biasa membeli kain dan atas dasar ingin;
"Mbaknya buat gamis atau bajunya saja? dan buat suaminya hanya kemeja kan?"
Seakan-akan di sini adu pertanyaan, hehehehe.
"Kalau aku gamis, Mbak. Kalau suami ya kemeja itu."
Aini tidak akan tahu berapa ukuran yang cocok buat suaminya, karena suami mbaknya tidak ikut membeli kain.
"Oh, kalau mbaknya buat gamis kira-kira 2 setengah meter sudah cukup kok, kalau boleh tahu suaminya mbak kira-kira orangnya seberapa ya?"
Bukan niat kepo tentang suaminya pembeli, akan tetapi ya bagaimana caranya mengetahui berapa ukuran yang cocok kalau orangnya saja tidak ada. Jadi Aini menanyakan hal itu hanya sekadar komunikasi antar pelanggan dan pembeli.
Tapi berujung mbaknya mendeskripsikan postur tubuh suaminya.
"Oh, mungkin 1 setengah meter kalau lengan panjang mungkin sudah cukup kok, Mbak."
__ADS_1
Aini hanya mengira dengan perkiraan yang tidak kurang dan tidak lebih, dia mengira itu sudah sangat cukup.
"Berarti 4 meter ya, Mbak?" Pembeli menyakinkan apa yang didengarnya.
"Iya, Mbak. insyaallah itu sudah cukup kok, bahkan bisa lebih dikit."
Perkiraan Aini tidak sekadar perkiraan, melainkan dengan pemikiran penuhnya.
"Ya udah, Mbak. 4 meter kalau gitu, jadi totalnya berapa ya?"
Al hasil dari diskusi telah disetujui,
"Bentar ya, Mbak. Aku potongkan dulu, 4 meter; fiks kan?"
Aini kembali menyakinkan keputusan si pembeli, sebagai bentuk akad.
"Iya, Mbak. Fiks!"
Pembeli sudah bulat akan keputusannya, dia sudah yakin dengan diskusi yang dilakukan tadi.
Kemudian tangan Aini menjalankan gunting di batas meter yang telah diukur olehnya. Otaknya pun berjalan mengeja total belanjaan pembeli itu,
"Empat kali dua puluh lima,. eeeeeemm,,,,, 200 rb."
Setelah memotong kain yang dipesan, Aini langsung membungkusnya dalam kantong plastik yang sudah tersedia di toko.
"Finis!"
"Ini, Mbak! permeter 25 ribu, jadi totalnya 200 ribu ya!" Aini menyampaikan hasil jerih payah otaknya.
"Iya, Mbak. Ini uangnya!" Pembeli memberikan dua lembar uang merahnya.
"Inggih, Mbak. Terima kasih ya!"
"Iya, Mbak.. Terima kasih kembali!"
Akad jual beli telah berlalu, kini Aini kembali ke singgasana ternyaman di kala sedang bekerja.
Bukannya fresh, otaknya malah berkelana kemana-mana lagi. Entah apa yang dituju, dia kembali fokus pada kain yang berjalan di depannya. Ya, kain yang sedang dalam proses menjadi sebuah pakaian.
Namun tak apa, semakin waktu berlalu dia selalu berusaha menikmati suasana dan di situ pula dia sudah mulai merasa reda dalam kerumitan otaknya.
Tanpa sadar, hari sudah mulai siang. Aini harus segera prepare dan pulang.
Di beberapa putaran roda, dia terhenti mengantri giliran untuk menyebrang.
"Ah, panas banget. astaghfirullah, nanti dikasih hujan ngeluh; dikasih panas masih saja ngeluh."
Memang, cuaca kali ini tidak seperti panas biasanya; sungguh luar biasa panasnya, apalagi ditambah asap kendaraan yang sedang berlalu lalang di depan, belakang, samping kanan dan kirinya.
Hati memang suka ngeluh, tapi raga sudah terasa lelah; dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.
__ADS_1
>>>Bersambung....