Gharib Cinta

Gharib Cinta
Tahan!


__ADS_3

...>>>Happy Reading<<<...


"Selayaknya kau mengerti, betapa engkau ku kagumi,"


Konser telah dimulai, hehehe


Iya, sudah menjadi kebiasaan Aini ketika berada dalam suatu perjalanan.


Dengan dendang lagu yang dinikmatinya, selalu terbawa suasana yang akhirnya tiba-tiba sudah sampai depan rumah.


Kali ini Aini akan berangkat kuliah bareng temannya, karena dia ditawarin buat berangkat bareng.


"Ai, berangkat bareng yuk! gantian nyetir." Pesan yang masuk dalam via WhatsApp nya


"Oh iya, Gengs! Insyaallah!"


Teman yang mengajaknya ini rumahnya masih tetangga kecamatan, dan berhubung temennya yang searah kampus lewat rumah Aini, jadi temannya itu menjemput ke rumah.


Aini orangnya tidak enakan meskipun dengan teman sendiri, dia takut sangat takut melukai hati temannya. Akan tetapi hal ini juga kesempatan Aini untuk ikut berangkat bareng, karena Aini tengah mengalami krisis keuangan.


"Alhamdulillah,, mungkin ini jalan dari Tuhan. Supaya aku tidak bolos kuliah, tetap semangat diri sendiri!"


Bukan apa-apa, Aini memang selalu menerka-nerka dan selalu belajar untuk tetap bersikap husnudzon.


Sampai di rumah, Aini segera bersiap-siap seperti biasanya; karena Aini tidak enak hati kalau temannya itu harus menunggu dia siap-siap, jadi bagaimana pun caranya dia harus siap dulu sebelum temannya sudah sampai di depan rumah.


"Mbak, kalau mau otw bilang ya!"


Pesan singkat yang dilemparkan di via WhatsApp kepada temannya itu, bukan apa Aini sudah biasa memanggil siapapun dengan sebutan mbak; baik kaula muda maupun lebih tua sedikit di atasnya.


"Oke, ini aku baru siap-siap; habis ini langsung berangkat."


Pesan terjawab begitu cepat dengan hanya beberapa detik, dan ketika mendapat jawaban itu;


"Hah? Sudah pukul 12.15? waktunya persiapan hanya tinggal 15 menit dari sekarang!"


"Brak!"


Aini menarik pintu hingga tertutup rapat dengan suara yang begitu menggelegar. Dia sedang buru-buru melakukan semua aktivitas atau persiapan berangkat kuliah dengan waktu yang relatif singkat;


"Untung rumah lagi sepi,"

__ADS_1


Aini sadar kalau pintu mengeluarkan suara yang begitu hebat, namun dia tetap berlari kencang menuju kamar mandi.


Dia mencari jalan alternatif ketika waktu sangat singkat, kali ini dia berani tidak mandi untuk berangkat ke kampus; namun untuk menutupi bau badan, dia tetap membersihkan bagian tubuh yang dirasa dapat mengeluarkan bau tidak sedap.


"Beeeeeeeeeeer, padahal sudah siang; tapi kok airnya dingin ya?" Aini hanya bergumam dalam hati.


Sambil menahan rasa dingin yang agak mulai menusuk tulang, Aini mulai melajukan gerakan agar kegiatan di kamar mandi cepet terselesaikan. Sekilas bersih meskipun belum mandi, dan jernih ketika sudah dibasuh air wudhu.


Kemudian Aini kembali ke kamar untuk mengganti pakaian, sujud pada Tuhannya, dan Kembali bersiap-siap.


"Ya Allah, aku nggak mandi! tidak apa-apa dah; dari pada nanti ditungguin."


Jilbab telah melekat membalut kepala;


"Tit, tiiiiiiiiiiiiit.......,.."


Klakson motor yang dikenakan temannya telah menyapa di depan rumah, tanpa basa-basi Aini langsung menutup rumah sekaligus menguncinya. Sebab rumah sedang tidak berpenghuni dan menghampiri teman yang sudah menjemputnya di depan.


"Berangkat jam berapa tadi, Mbak?"


Akhirnya basa-basi Aini meluncur untuk menghilangkan keheningan.


"Nggak ada setengah jam yang lalu kok, eh aku yang di belakang ya! kamu yang nyetir."


"Oke, siap!"


Roda berputar di atas aspal yang berdebu dan di bawah sengatan matahari yang begitu tajam. Bagaimana tidak disengat? Kepala hanya tertutup helm, tubuh memang berbusana; akan tetapi mudah diterabas oleh sinarnya matahari.


"Ah, lupa bawa jaket lagi. Panasnya, masyaallah."


Aini tidak berani mengungkapkan lewat lisannya saat itu, melainkan hanya diungkapkan dalam hatinya saja.


Sepanjang perjalanan terasa hening, hanya sebait dua bait kata yang terucap. Sebab mereka berdua tidak begitu akrab, masih saling tertutup dan masih saling sungkan hendak berbicara banyak.


Meskipun hening, perjalanan Aini kali ini begitu menegangkan. Sebab yang di depan sama yang di belakang BB nya lebih berat yang belakang. Dengan motor Vario yang sudah terbilang gede,


"Wow,,"


Angin menerabas kendaraan, hingga motor sekalian orangnya terasa hendak dihempaskan oleh angin. Namun dengan kekuatan yang begitu ekstra, Aini telah berhasil menahan kekuatan angin yang berusaha menjatuhkannya.


Aini kembali fokus, namun hanya kurang seperempat perjalanan; Aini gagal fokus oleh sebuah truk yang akan menyebrang tanpa haluan. Sehingga,

__ADS_1


"Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit," rem ditekan kuat hingga motor berhenti dengan menabrak pemotor lain.


"Brruuuuk,"


Aini sudah tidak bisa menahan beban diri, teman, dan motornya; hingga akhirnya terjatuh.


"Kamu ngantuk ta?" Pertanyaan itu dilemparkan oleh temannya.


"Bagaimana, Mbak? ada yang luka? atau gimana?" Respon orang yang ditabrak malah menghawatirkan keadaannya, mungkin karena tahu bahwa truk di depan yang menjadi sebabnya.


Teman Aini bertanya seperti itu karena sudah pernah tahu, kalau Aini pernah nyetir dalam keadaan tertidur pulas. Hingga keadaan motor melaju di area pertengahan jalan, yang di mana hal tersebut sangat mengkhawatirkan. Namun hal itu diketahui temannya setelah sampai di kampus.


"Aku nyetir dalam keadaan tidur bisa selamat sampai tujuan, tapi kali ini aku nggak ngantuk; kok terjatuh."


Aini belum sadar bahwa sedari tadi pikirannya berkeliling entah kemana saja, sehingga bola mata tidak mampu menangkap pemandangan meskipun dalam jarak dekat.


"Astaghfirullah,, Alhamdulillah,, sudah diberi keselamatan, meskipun aku terluka."


Kaki bagian lutut Aini berdarah, namun darahnya mengalir pada satu titik saja; alias tidak begitu banyak, sehingga dirasa masih baik-baik saja.


"Allah masih memberikan kesempatan buat aku untuk selalu memperbaiki diri dan untuk lebih hati-hati lagi dalam berkendara, apalagi di area metropolitan."


Dengan ketabahan Aini menahan rasa sakit dan dapat omongan tidak enak dari temannya waktu sampai di kampus.


"Ini rusak, ini pecah, bagaimana ini?"


"Ya udah, Mbak.. nanti sampean perbaiki dulu, besok-besok aku ganti uangnya." Aini memang merasa sangat bersalah tidak bisa menahan motor itu.


Hatinya bergumam,"Namanya juga musibah, mana ada yang merencanakan sih kecuali Tuhan? Kalau minta ganti rugi, ya sudah bismillah semoga tidak mengeluarkan biaya banyak."


Meskipun tidak mengeluarkan biaya banyak adalah suatu hal yang mustahil, karena yang pecah itu spion dan terjadi retakan dibagian bawah belakang kepala motor.


Hati dan pikiran Aini tidak karuan,


"Nanti kalau biayanya mahal, aku dapat uang dari mana? Gajianku apa cukup? lagian aku juga belum gajian. Hadeeeeh,,, bagaimana ini?"


"Eeeeeemm,, lagian kenapa kamu harus mau diajak berangkat bareng sih kalau bakal kejadian seperti ini?"


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah,," hati Aini menjerit, namun tak terdengar.


Dia juga bingung kalau dengan biaya yang banyak atau besar, bagaimana cara menjelaskan di hadapan kedua orang tuanya?

__ADS_1


Aini dalam kelas kali ini begitu tidak bisa fokus sama sekali, akal pikirannya sudah nampak mau meledak. Matanya memandang hal yang terlihat kasat mata, tidak memandang teman yang sedang menjalankan tugas; meskipun mata tertuju pada kelompok yang berada di depannya.


>>>Bersambung.....


__ADS_2