
...>>>Happy Reading<<<...
Sahabat memang tidak mudah untuk diraih, namun orang yang selalu menyayangi tidak pernah pergi itu benar adanya. Iya, orang tua.
"Assalamualaikum, Bapak Ibu!"
Teriakan Aini dari depan rumah terdengar menggelegar tapi lembut agak sedikit manja.
"Wa'alaikum salam ... "
Isi rumah pun menjawab dengan kompak dan serentak,
"Mbreeeeeem,,,"
Aini memasukkan motor dalam rumah dengan menirukan suaranya, karena jalan yang dilalui sedikit nanjak di bagian depan.
Usai masuk rumah dia tak langsung meminta izin untuk pergi di Malam Minggu depan, melainkan langsung masuk kamar.
"Ceklik"
Perlahan jari jemari Aini meraba hingga memegang gagang pintu kamar dan mengarahkan ke arah bawah tanda ingin membuka pintu kamar.
Dengan tubuh yang memikul lelahnya hari ini,
"Ah, capek!"
Aini melepas semua yang melekat di tubuhnya kecuali pakaian.
"Bruk!"
Tubuh Aini ambruk di atas kasur yang keras, selain menaruh apa yang melekat pada dirinya; Aini juga berusaha melepas lelah yang ada di batin dan tubuhnya.
Namun sayang seribu sayang, tubuhnya merasa gerah dan lengket. Sehingga tubuh harus bangkit untuk menghempaskan rasa gerah juga lengketnya tubuh itu.
"Mandi ah, lengket banget kena debu yang sepanjang jalan bersandingan dengan pantai."
Tangan saling meraih berbeda barang atas perintah otak, satu mengambil handuk dan menaruhnya di pundak. Satunya mengambil gayung yang berisikan alat mandi. Kakinya pun melangkah ke arah kamar mandi.
Langkah demi langkah Aini melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya sambil berbisik,
"Bismillahil ladzi lailaha illa huwa."
Air yang dingin mulai menjamah tubuh Aini,
"Beeeeeeerm,"
"Huh dinginnya,"
Aini mempercepat langkah mandinya, karena air bersifat dingin dengan tubuhnya. Hanya dengan beberapa guyuran dan sekilas sabun untuk menghilangkan rasa lengket di tubuh.
"Udah ah,, dingin banget."
Tubuh Aini mulai menggigil karena sikap air terhadap tubuhnya.
Kaki mulai terhentak dan berlarian menuju kamar, sesegera Aini mengambil pakaian ganti.
Otak Aini tak pernah berhenti mengejar apa yang akan datang,
"Mau mengawali pembicaraan keg mana ya? Biar diizinin untuk ikut acara Minggu depan,"
__ADS_1
Aini pun menyelesaikan ganti pakaiannya dan bergegas ke ruang depan untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.
"Bu ..."
"Iya, ada apa?"
"Nggak, manggil aja sih."
Aini mengambil tempat dan menyilakan kaki dengan senyaman mungkin,
Pikiran masih mengoyakkan isinya dengan begitu kencang.
Izin orang tua sangat amat berguna bagi masa depan buah hati mana saja, sehingga Aini tidak pernah lepas dengan izin orang tua. Kemanapun ia pergi, izin paling utama meskipun hanya di samping rumah.
Dalam pembicaraan yang sangat amat random itu, Aini menyelipkan beberapa kata sebagai umpan mengawali topik dari dirinya.
"Pak, Bu."
Semua orang berhenti menggerakkan mulut dan pandangan mata terpaku pada satu titik, yaitu Aini.
Dia telah mengalami kesalahan teknik dalam mengawali topik pembicaraan, seharusnya kata lain yang harus dia gunakan; bukan malah memanggil bapak ibunya.
"Iya, kenapa?"
Aini sudah terlanjur membuat semua orang terdiam kompak, kalau yang diungkapkan hanya kata basa-basi akan membuat beberapa pasang mata terpaku olehnya.
"Aku malam Minggu depan mau ada acara di kecamatan sebelah, boleh ikut nggak?"
"Sama siapa?"
Mulut Aini hendak terhenti, namun apalah daya. Mau tidak mau dia harus mengatakan dengan jujur.
Kali ini orang tua Aini yang sejenak diam untuk memikirkan sesuatu.
"Arif? Orang mana dia?"
Bapak menanyakan hal yang sangat perlu ditanyakan, karena orang tua tidak akan mau ketika anaknya terjerumus ke pergaulan yang tidak diinginkan.
"Orang sana lo, Bapak pasti tahu. Dia bilang rumahnya deket dengan pasar kecamatan."
"Dijemput?"
"He.em,,"
Kepala Aini mengangguk angguk tanpa membenarkan perkataan bapaknya.
"Ya udah, nggak papa. Penting hati-hati aja, jangan pulang terlalu malam."
Sebenarnya bapak ibu Aini kurang setuju dengan keputusannya itu, karena bagaimanapun juga anak perempuan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Namun Aini anak yang keras kepala, ketika dia berkemauan; pasti akan merayu rayu sampai dikabulkan.
"Yeeeeeey! terima kasih, Bapak Ibu!"
…
Seperti halnya beberapa tahun silam, ketika Aini masih duduk di bangku SMP.
Sebelumnya dia telah diberikan sebuah janji oleh sang ibu,
"Bu, aku lo pengen dibelikan sepeda ontel! Yang lain aja punya, aku nggak."
__ADS_1
Hati mana yang tidak merasa iba kepada seorang anak yang minta sepada, namun sayang beribu sayang. Waktu itu ekonomi belum begitu membaik.
"Iya, besok besok kalau panen ya!"
Aini juga sadar, ibunya sering mengeluh tentang keuangan di hadapannya. Ketika Aini ingin sesuatu meskipun bernilai kecil, dia harus menangis terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang menjadi kemauannya.
Oleh sebab itu pula Aini yang masih usia bermain (SD) malah digunakan untuk kerja mencari uang sekadar buat jajan.
Kemudian pembina Pramuka memberikan pengumuman akan diadakannya Dianpinru (Gladian Pimpinan Regu) yang dilakukan oleh anggota Pramuka se-kabupaten. Akan tetapi dalam satu lembaga hanya ada beberapa peluang saja, yaitu 2 putra dan 3 putri.
Dalam pengumuman juga dipaparkan mengenai biaya selama acara, kurang lebih dua ratus ribu. Di tahun 2013-2015 uang segitu sudah terlihat banyak menurut Aini, tapi dia sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Tanpa berpikir panjang, sepulang sekolah dia langsung mencari ibunya.
"Bu, Ibu ... Ibu,"
Dari depan rumah sampai bilik bilik Aini telusuri, dan bertemulah dengan ibunya.
"Bu, tadi ada pengumuman ... "
Aini menjelaskan dengan perlahan agar ibunya lebih paham.
"Aku boleh tak ikut kegiatan itu?"
Di pungkas cerita Aini minta persetujuan untuk ikut kegiatan yang telah diumumkan oleh pembina Pramuka di sekolah.
"Nggak usah, jauh!"
"Hmmmmm,"
Kepala Aini menunduk dengan penuh rasa kecewa.
Namanya juga Aini, tidak akan menyerah ketika diserang badai yang mengguncang. Ketika dia diguncang, sekuat tenaga pula dia akan lebih mengguncangkan.
"Kamu boleh ikut, asal nggak usah minta dibeliin sepeda."
Aini terdiam dan ibunya melanjutkan pembicaraannya,
"Jadi uang sepeda ditukar sama uang saku kegiatan."
Pikiran mulai dikorek-korek, hati terguncang sedikit kebingungan.
(Hening sesaat)
"Ya udah, nggak usah sepada. Aku mau ikut kegiatan aja,"
tak disangka, hasil dari bongkar isi otak; Aini lebih memilih ikut kegiatan daripada dibelikan sepeda.
Aini tidak peduli dengan lebih banyak mana manfaat dan nggaknya, dia hanya berpikir untuk ikut kegiatan kepramukaan itu. Ya meskipun dia tidak punya tujuan kenapa ingin sekali mengikuti kegiatan Dianpinru.
"Beneran mau ikut kegiatan? Ini sepeda yang sejak kemarin-kemarin kamu inginkan juga lo."
Ibu Aini kembali ingin mengguncangkan hati,
Sedangkan Aini masih kekeh teguh pendirian dengan keinginannya yang saat ini, bukan yang kemarin kemarin.
"Ikut kegiatan aja,"
"Ya udah, boleh kalau gitu nggak jadi sepeda."
__ADS_1
>>> Bersambung ....