
>>>Happy Reading<<<
Hari selalu berjalan dengan rasa lebih cepat, tiba sudah malam Minggu yang telah direncanakan.
"Berangkat jam berapa?"
WhatsApp Aini yang berbentuk tulisan telah dilemparkan dengan baik, sehingga Arif dengan gercep menanggapi.
"Jam 4 sore aja ya!"
"Oke, berarti aku bisa bobo siang dulu. Hehe ... "
"Ya udah, bobo siang dulu sana!"
"Siap, Bos!"
Aini telah mengungkapkan bahwa dia akan bobo siang kali ini, namun apalah daya ketika mata tak mau diajak untuk bekerjasama.
"Ah, kok nggak bisa bobo ya?"
Aini melontarkan kata tanya tapi tiada telinga yang menangkap kecuali telinganya sendiri.
Percuma dia bergumam, kalau hanya sepasang telinga yang mendengarkan. Namun baginya hati mulai lega ketika kata yang mengganjal pada lubuk sanubarinya telah dibuang.
Jari jemari mulai berjelajah hendak menelusuri dunia dalam genggaman, yang tidak ada batas kecuali kuota terhempas alias habis.
"Ya udah deh, nonton YouTube aja."
Jari jempol Aini menekan icon merah yang berlambang video usai mata berjelajah menjadi penunjuk arah.
Aini tidak begitu senang dengan dunia perfilman yang ditayangkan di layar televisi, karena baginya tayangan di televisi sangat biasa biasa saja dan ceritanya pun bisa ditebak, atau bahkan hanya ganti orang yang berperan dengan cerita yang sama.
"Bosan dengan cerita cinta yang kerapkali diselingkuhi terus putus dan ujungnya si selingkuhan tidak setia seperti yang dia kira. Al hasil menyesal dengan tingkahnya sendiri. Enaknya nonton apa ya?"
Aini memang cewek yang super pemikir, sedikit dikit dipikir, sedikit dikit dipikir. Tapi nggak ada salahnya sih kalau menjadi cewek pemikir.
"Mari dengar, Wahai kawan! Hikayat lama berwajah baru, penuh nasihat dan teladan; inilah pada zaman dahulu."
Opening film telah berputar dengan riang, Aini memasang mata dan telinga untuk memperhatikan film yang dia putar.
Ya, cerita pada zaman dahulu; film kartun yang memberikan nasihat dan pembelajaran tentang kehidupan.
"Satu dua tiga lekuk, kepala buaya aku ketuk. Empat lima enam lekuk, jantan betina aku ketuk."
"Kancil oh Kancil,"
Aini tertawa gemes terhadap tingkah kancil yang membodohi buaya ganas.
"Buaya tuh gimana sih, padahal kan dia sering dibodohi Kancil. Kenapa percaya juga dengan tipu muslihat Kancil."
Aini melihat film Zaman Dahulu ini tidak hanya sekali dua kali saja, sebelumnya dia nonton di televisi. Namun seiring berjalannya waktu, jadwal tayang diubah jadi dia tidak lagi mengikuti perkembangan cerita si Kancil dan Buaya itu.
Di era gempuran para kaum hawa mengidolakan opa-opa Korea, seorang gadis desa ini lebih menyukai film kartun Pada Zaman Dahulu. Bukannya dia tidak menyukai orang yang berparas tampan seperti opa-opa Korea,
"Eeeeeem,, Yang lain suka film Korea, tapi kenapa aku tidak begitu suka ya?"
Monolog berjalan dengan perlahan,
__ADS_1
"Apa sih yang disukai mereka dari film Korea? Lagunya aja nggak jelas, aku nggak ngerti artinya. Lagian tingkah mereka di luar syuting juga kayak kekanak-kanakan gitu, tapi lucu sih dan mereka memang ganteng juga."
"Ya tapi bagaimanapun juga aku nggak begitu suka dengan film Korea
…
Beberapa film kartun telah Aini habiskan, namun mata tak kunjung mau terbenam. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB, nanggung kalau mau tidur.
"Hah, nggak jadi bobo. Padahal sudah habis banyak video lhoo."
Tapi ya bagaimana lagi,
Tubuh Aini ditegakkan, berniat hendak mengisi perut yang mulai keroncongan.
"Sampai lapar banget gini,"
Tangan memegang perut yang sudah tak sabar untuk bekerja. Kaki pulang beraksi menginjak tanah dan berayun menuju dapur.
"Ada makanan apa ya di dalam?"
"Bu ... "
"Ibu ... "
Mata Aini berjelajah dengan mulut yang tidak henti memanggil ibunya.
"Hmm, ada apa?"
Ibunya dari dalam entah usai ngapain,
Ah, jadi dari tadi manggil manggil hanya sekadar mau bertanya makan dengan lauk apa. Duh ...
"Eh eh, aku kira ada apa. Cari sendiri sana di dapur, kebiasaan!"
Ibu Aini agak jengkel dengannya, karena dari tadi teriak-teriak nggak jelas yang ternyata hanya menanyakan hal sesepele itu.
"Eeeeeem, lauk apa?"
Muka Aini memelas supaya ada jawaban sesuai apa yang dia mau.
"Cari sendiri!"
Namun sayang sekali, dia kecewa dengan ekspektasi.
Jawaban yang diucapkan lagi-lagi disuruh mencari sendiri,
"Ah, padahal tinggal jawab apa susahnya sih?"
Mulut Aini komat kamit mengeluarkan kata tanpa sepengetahuan ibunya.
"Kebiasaan keg gitu, tinggal lihat sendiri aja kok nanya."
Sahut sang ibu yang sedikit mendengar perkataannya meskipun dengan suara pelan.
"Ah, dia dengar."
Kali ini hatinya yang berbicara,
__ADS_1
Muka mulai manyun, rasa lapar seketika hilang, sedangkan kaki masih peduli dengan perut yang tadi merasa lapar.
Kaki mendekatkan tubuh ke rak piring dengan jarak kurang lebih 30 centimeter, agar tangan tak kejauhan untuk meraih piringnya.
Meskipun tak punya nafsu untuk makan, Aini memaksakan diri untuk tetap makan; karena dia tahu bahwa perutnya sudah sedikit perih dan keroncongan. Bagaimanapun juga dia harus makan, apalagi nanti dia akan ikut acara di luar kecamatan.
(Beberapa waktu berlalu)
Aini bersiap-siap untuk berangkat ke acara bareng dengan Arif, ya teman akrabnya Diki.
"Assalamualaikum,"
Suara Arif terdengar sampai kamar Aini,
"Belum juga mengenakan jilbab,"
Batin Aini berbisik.
"Wa'alaikum salam, silahkan masuk! Aku benerin jilbab dulu."
"Iya, silahkan!"
Mereka tidak jadi berangkat sesuai perjanjian awal, karena Arif ada suatu kendala di rumah.
Kemudian di ruang tamu Arif tengah disambut bapak dan ibu Aini.
Panjang kali lebar kali tinggi pembahasan mereka, mulai dari pertanyaan rumahnya mana? Sebelah mana? Anaknya siapa? Kenal ini apa nggak? Ini mau kemana dan lain-lain.
Sampai sampai Aini sudah selesai membenahi jilbabnya dan turut menyimak pembicaraan Arif dengan orang tuanya itu.
Telapak tangan dibuat sandaran, telinga dipertajam, dan mata diputar putar ke arah siapa saja yang berbicara.
Melihat waktu yang semakin menghantarkan matahari terbenam, Aini memberanikan diri untuk memutus pembicaraan.
"Jadi berangkat nggak ya?"
Masih dengan posisi menyandarkan muka di atas telapak tangan, sebenarnya Aini tidak ingin memutuskan pembicaraan karena mereka terlihat sangat seru. Namun jika tidak diputus Aini dan Arif tidak akan berangkat berangkat. Sedangkan hari sudah mulai petang.
"Hehehe, iya jadi."
Arif menyetujui pertanyaan Aini, dia juga merasa terlalu asik ngobrol dengan orang tua Aini. Seakan tidak mau menyudahinya.
"Ya udah, Bapak, Ibu. Aku berangkat ya!"
"Iya, hati-hati." Kata singkat dari seorang bapak.
"Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam!"
Pesan ibu yang tidak pernah ditinggalkan ketika anaknya hendak keluar rumah, dengan siapapun itu.
"Iya, assalamualaikum!"
"Pak, Bu, pamit dulu ya!"
Arif tidak mau jika hanya Aini yang berpamitan, dan memang sudah seharusnya dia ikut berpamitan.
>>>Bersambung ...
__ADS_1