Gharib Cinta

Gharib Cinta
Lingkaran Luka


__ADS_3

...>>>Happy Reading<<<...


Akal pikir Aini memudar, bukan tanpa sebab; melainkan karena takut bagaimana dia menjelaskan apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya.


Pada dasarnya Aini anak yang tidak enakan, meskipun kepada keluarganya sendiri.


"Bagaimana kalau dimintai ganti rugi ya? Aku harus nyari uang di mana lagi?"


Hati dan pikiran Aini saat ini sangat berisik.


"Apa nanti pinjem ke bos saja ya?"


"Ah nggak berani!"


Pikiran Aini berusaha fokus pada mata kuliah kali ini, namun apalah daya; semua pudar. Akan tetapi, menyalahkan diri sendiri juga percuma. Mau menyalahkan keadaan ya juga salah, apalagi menyalahkan yang menjalankan keadaan; tambah sangat salah.


Aini sudah berkali-kali meminta maaf kepada temannya yang bernama Fia itu, atas kelalaian dan ketidak hati-hatiannya malah menimbulkan masalah besar.


Aini dan Fia memang dari awal sudah menempati bangku bagian depan, akan tetapi dia dipisahkan antara beberapa bangku lainnya.


Dalam jalan pikiran Aini yang melaju dan terus melaju itu, akhirnya menabrak suatu kata yang tadinya sempat terucapkan oleh Fia waktu di parkiran.


"Aku sebenarnya tidak apa-apa kok, cuma nanti bagaimana caraku menjelaskan kepada bapak ibu?"


Ternyata mereka berdua bimbang akan hal yang sama, sama-sama belum tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu kepada orang tua masing-masing.


"Iya, Mbak. Aku juga paham, cuma kan tadi aku sudah berupaya menahan dan kecelakaan itu tidak ada yang tahu kapan datangnya." Aini dengan nada melasnya, dia memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini; karena kecelakaan itu peristiwa yang tidak pernah diminta dan datang secara tiba-tiba.


Memang benar kan, manusia mana sih yang mau kecelakaan dengan sengaja? Paling cuma orang yang begitu frustasi menghadapi kehidupan. Sedangkan Aini berdasarkan apa? Dia masih ingin menempuh perjalanan hidup dengan semestinya.


"Ya udah, Mbak. Nanti aku pulangnya naik bus saja."


Aini bukan hendak lari dari tanggung jawab, toh dia masih satu kelas. Mungkin dengan itu Aini juga merasa agak tenang, tidak dalam tegangan yang tinggi.


"Auh,,"


Spontan Aini kaget, ketika dia yang tadinya merasa hanya hati dan pikiran yang runyam; ternyata salah. Kali ini Aini merasakan perih di bagian lutut dan telapak tangannya. Seperti anak kecil yang jatuh ketika tengah asik berlarian.


Aini sedikit menyampaikan kaki di kursinya, kemudian memperhatikan arah mata dosen yang ada di depannya. Setelah pandangan dosen telah menjauhi dirinya, dengan sigap dia menyingkap sedikit gamisnya;


"Aduuuuuuh,, ternyata luka,"


Aini hanya bisa merintih dalam hati, karena takut mengganggu konsentrasi teman yang lain.


"eeeeeemm,"


Dia hanya bisa menahan perih, sedangkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Ada apa dengan hari ini, Tuhan?"


Aini berteriak kencang dalam hatinya,

__ADS_1


"Tes,,tesssss,,,"


Air mata sudah tak lagi bisa ditahan, dia mengalir begitu kencang.


Dia sadar, kalau posisinya masih tepat di depan dosen. Tapi ya bagaimana lagi, air mata sudah berani membasahi pipi; tidak bisa ditampung lagi. Mata sudah penuh dengan butir-butiran air mata.


Sehingga Aini harus memberikan wadah tambahan buat menampung air matanya, dia masih diberikan tangan; dan itulah yang akan dimanfaatkan oleh Aini untuk menampung air mata yang sudah mulai berjatuhan. Telapak tangan membentuk seperti usai berdoa, di balik telapak tangannya sendiri! Aini mengeluarkan sedikit demi sedikit air matanya; agar tidak diketahui orang yang ada disekitarnya.


"Ya Allah, aku merasa ini adalah kejadian yang begitu diluar dugaan. Kenapa harus aku? Sedangkan aku merasa keberatan akan kejadian ini, Tuhan?" Hatinya kembali berteriak seakan tidak terima dengan keadaan.


Sely melihat tingkah Aini, yang dirasa dari tadi menutup mata dan mukanya ditutup dengan telapak tangan.


Sely dengan semangat menepuk pundak Aini,


"Hey! Kenapa, guys?"


Aini tidak begitu kaget kali ini, mungkin karena dia tengah menikmati tetesan air mata.


"Hehehe, tidak apa-apa kok. cuma ngantuk parah!"


Alasan yang masuk akal ketika mata yang mulai memerah dan mengeluarkan percikan air dari mata.


"Oh, aku kira ada apa gitu!"


"Nggak kok, aku nggak apa-apa."


Siapa sih yang tahu tentang masalah yang dihadapi? Sedangkan dia tidak pernah membicarakan masalahnya pada siapapun. Dia merasa bahwa masalahnya tidak begitu penting untuk orang lain, paling hanya sekadar dikepoin saja, dan beranggapan bahwa mereka tidak benar-benar peduli kepadanya.


Aini dengan lutut yang berdarah menjadikan gerak kakinya terganggu,


"Haduuuuuh,, perihnya!"


Dia hanya bisa mengeluh pada dirinya sendiri, karena tidak ada yang bisa digandeng ketika dia akan pulang.


Dalam kesendirian dia hatinya begitu lemah, isinya hanya mengeluh, mengeluh dan mengkhawatirkan hal yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkan.


Seperti biasa, Aini harus menunggu angkutan kota untuk mengantarnya ke halte.


"Tit , tiiiiiiiiiiiiit,,,"


Klakson kendaraan kuning berbunyi seakan menyapa Aini,


"Ayo, Mbak! Mau ke mana?"


Benar, dia disapa seseorang yang mengemudi mobil kuning (angkutan kota), yang diharapkan segera atas kehadirannya.


"Ke Halte, Pak!"


Dari seberang Aini menjawab sapaan mang supir itu, dan dengan segera dia hendak menyeberang menuju mobil kuning atau angkutan kota.


"Woke, Ayo!"

__ADS_1


Dengan sabarnya mang supir menunggu Aini yang tengah asik noleh kanan, noleh kiri untuk memastikan apakah ada kendaraan yang telah dekat di hadapannya?


"Prok,,, prok,, prok,,,"


Suatu sepatu Aini terdengar begitu jelas, meskipun sambil menahan rasa sakit; Aini tetap berusaha lari agar tidak tertinggal oleh angkutan kota.


"Alhamdulillah,, langsung dapat angkot."


"Aaaauh,"


Lututnya kembali merasakan perih dan kakinya terasa kaku, apalagi usai diajak berlarian.


Aini tidak lagi meneteskan air matanya kali ini, dia sudah merasa kuat dengan keadaan.



Sesampai di halte Aini bisa mengayunkan kaki untuk meminimalisir rasa perih yang sedang dia rasakan, ya karena kursi yang ditempati lumayan tinggi; dia masih bisa duduk dan mengayun-ayunkan kakinya sambil menunggu bus datang menjemputnya.


Matanya sesekali melihat kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya, dan sesekali melihat layar handphone yang belum tentu ada yang menghubunginya.


Tapi ternyata;


Matanya tertuju layar handphone di halaman WhatsApp,


"Assalamualaikum,"


Nomer baru telah mengunjungi WhatsApp-nya. Kira-kira siapa ya?


Bukan Aini kalau menunda-nunda sesuatu yang membuatnya kepo dan penasaran.


"Wa'alaikum salam, siapa ya?"


"Aku Hasan, Save ya!"


"Aaah, ternyata temen sendiri toh." tidak dituangkan dalam tulisan, hanya diobatin saja.


"Oalah, aku kira siapa. Oke, aku save!"


Tanpa berpikir panjang, dia langsung save nomer sesuai perintah; karena dia tahu kalau itu temannya sendiri;


"Hehehe,,, Iya. Terima kasih!"


"Sama-sama!"


"Telolet, teloteeeeeeeet."


Klakson bus terdengar dan menggugah tubuh Aini untuk segera bangkit dari tempat duduknya.


Dia pun berdiri sambil mengembalikan handphone dalam tasnya, dan segera masuk dalam bus.


>>>Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2