
...>>>Happy Reading<<<...
Hati yang menggaung berimbas pada jantung yang memeras diri.
Sepanjang perjalanan bersama seorang bapak, dia hanya ngobrol-ngobrol hal yang tidak begitu penting. Hanya untuk menghapus rasa gelisah dan lelah saja.
"Bapak, tadi udah lama nunggu ya?"
"Lumayan, tadi aku diberitahu adek; langsung tancap gas."
"Eeeeeemm,,, pantesan sudah nunggu."
Iya, dalam tengah perjalanan Aini sudah sempat memberitahukan adek kalau mau pulang naik bus; tanpa menjelaskan kenapa dia naik bus, tidak pulang dengan teman yang mengajaknya berangkat bareng.
Adiknya tidak begitu peduli perihal itu, yang penting tugasnya selesai; hanya memberitahukan bapaknya untuk menjemput.
"Ciiiiiiiiit," rem motor Supra diinjak begitu kuat dan berhenti tepat di depan rumah.
"Assalamualaikum," sapa Aini pada orang yang berada di dalam rumah.
Seperti biasa, apa yang lakukan usai pulang dari kuliah;
Tapi dia tidak mendahulukan makan, karena waktu sudah mepet dengan isya'; dari itu dia langsung bersih-bersih dan segera menunaikan ibadah sholatnya.
…
Suara malam meraup hati yang kalang kabut, dia mulai merenungi perjalanan hidupnya menjelang menenggelamkan mata.
"Ya Allah, apakah hidupku hanya gitu-gitu saja? Kayaknya ceritanya tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya. Akan tetapi kini..."
Aini monolog pada diri sendiri di ruang ternyaman, yang tiap lelah siap menangkap dirinya.
"Hmmm,," napas besarnya keluar dengan begitu lega.
"Akan tetapi hari ini terasa begitu berat, hatiku masih terjerat kuat oleh kisah tadi yang terjadi tanpa aku sengaja."
"Tuhan, apakah aku begitu kuat? Sehingga engkau memberikan ujian seperti ini?"
"Eeeeeemm,"
"Tapi ini terasa berat,"
"Tesssss,, tessss,"
Dengan kesadaran yang tidak penuh, Aini membuang air matanya secara berkala.
Hati siapa yang tidak tertekan? Masalah besar bagi diri seorang Aini dipendam sendiri.
Akhirnya hati tidaklah begitu kuat menghadapi keadaan serumit itu dalam kesendirian.
__ADS_1
"Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaan, toloooooooooooooooooooooooong!"
Muka Aini ditutup oleh bantal, sedangkan mulut menjerit-jerit tak karuan, disertai air mata yang berlinang.
"Jikalau memang kau memberikan takdir, untuk aku mengahadapi sendiri, maka bantu aku! Gandeng aku! Rengkuh aku!"
"Hmmmmmmmmmm," air matanya terus berlinang. Padahal dia tahu efek menangis terhadap tubuhnya, menangis dapat menjadikan imun tubuh Aini melemah secara drastis. Bahkan dia bisa demam hanya dengan menangis.
"Tuhaaaaaaaaaan, jangan biarkan aku melangkah sendiri! Aku masih butuh bimbingan darimu."
"Peluk aku, Tuhaaaaaan!"
Aini meneruskan tangisannya hingga lelah, siapa sangka; mata mulai terbenam manja.
Dalam hening malam, mata Aini memang sudah tenggelam; dia akan menemukan bunga-bunga dalam tidurnya.
Namun, cuitan jangkrik, musik dari katak, dan nyanyian dari burung-burung malam di alam lepas membuat malam menjadi syahdu.
Semua itu menyelimuti malam seorang Aini, yang menjadikan dirinya merasa tenang akan keberadaan hewan-hewan tersebut. Ketika tanpa suara hewan-hewan itu, Aini akan merasakan hening dan merinding dalam nuansa malam yang mencekam.
…
"Kok kok petooooooooooook," suara ayam menggelegar, menandakan hari akan melahirkan matahari, dan suara ayam mengerakkan mata setiap insan dan menggugah orang untuk membangunkan diri yang terlelap dari tidur.
"Haaaaaaaaaaaaaaaah," mulut menganga menarik nyawa untuk kembali masuk dalam raga. Tangannya mulai menangkis bola voli di atas kepala.
"Allahuakbar,"
Namun sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan, di setiap bangun pagi Aini harus membersihkan tubuhnya untuk menghadap kepada Lillah; kecuali kalau dia sedang ada halangan syar'i.
"Alhamdulillah,,, masih diberikan nikmatnya menghirup udara." Sambil menguatkan mata yang terbuka, Aini tidak terlupa untuk bersyukur atas nikmat hidup yang diberikan oleh Allah SWT.
Matanya terasa berat efek tangisan tadi malam yang seakan menjadi lem di matanya pagi ini, maka dari itu dia berusaha menguatkan mata agar terbuka menatap dunia.
"Eeeeeeeeeeem, ,. "
Tangan kirinya berusaha meraih peralatan mandi, tangan kanannya meraih pintu, dan kakinya melebar antar keduanya.
"Haaaaaaaaaah,"
Tangan kanannya lepas dari pintu untuk sekadar menutup mulut yang menguap lebar itu.
Handuk sudah menempat di pundak, tangan kirinya sudah membawa peralatan mandi, tangan kanannya sudah membukakan pintu, dan sekarang tugasnya kaki melangkah ke arah kamar mandi.
Setiap ke kamar mandi, Aini akan melewati dapur tempat kesibukkan ibunya di pagi hari.
"Lhoooo, ibu kemana? Kok tumben nggak kelihatan di dapur," Aini terheran-heran, hingga bertanya pada diri sendiri; karena ibunya tidak ada di dapur. Namun dia tetap melaju menuju kamar mandi, biar tidak telat untuk berdialog dengan Tuhannya.
Aini telah usai bersih-bersih dan membasuhkan air suci mensucikan ke sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Dia kembali melewati dapur yang sepi, dengan kompor alami yang tengah menyala.
"Ibu, kemana ya? Kok nggak ada di dapur?" kali ini hatinya yang bergumam.
Selain melewati dapur, dia juga melewati kamar ibunya;
"Di kamar juga nggak ada, di mana ya? ah, mungkin lagi sholat,"
Kakinya tetap melangkah menuju tempat sholat, ternyata; di sana juga dia tidak menemukan sesosok ibu.
Namun semua tidak bisa mengurungkan niatnya untuk berdialog pada Tuhan alam semesta.
"Allahuakbar,"
Takbir pertama dalam sholat telah dia gerakkan, ada sesuatu yang mengguncang hatinya dalam bacaan Surat Al-Fatihah.
Kejadian-kejadian kemarin yang telah membuat hatinya terjerat ditayangkan dalam pikirannya. Kekhusyukan seakan memudar,
"Allahuakbar," di sujud pertama, mata Aini sudah berkaca-kaca; ingin rasanya menetes, namun dia masih menahan.
"Ya Allaaaaaaaaah,"
Hatinya menjerit tak karuan, air matanya mengalir membasahi tempat sujud-nya. Dia tak lagi mampu menahan air mata yang sudah ingin dia tumpahan sejak sujud pertama.
Aini menekan bibir bawahnya dengan bibir atasnya, dia ingin merasakan pelukan hangat; entah dari siapapun itu.
"Kuatkan aku! Peluklah aku!"
Sudah lama Aini tidak dapat pelukan dari siapapun, bahkan orang tuanya sendiri. Dengan saudara juga tidak pernah yang namanya pelukan, bagi keluarganya; pelukan adalah hal yang asing, sangat amat asing.
Aini melanjutkan gerakan sholatnya meskipun air mata mengalir dengan begitu derasnya.
Di dalam sujud ke-3, Aini sujud dalam keadaan mata tertutup; tiba-tiba dia merasakan ada sosok berjubah hijau sedang asik menguatkan hati Aini, meskipun bukan dengan pelukan; namun kedua tangan sosok berjubah hijau dengan sorban putih hijau itu dia merasakan ketenangan dan tumbuh rasa syukur yang tak terhingga.
"Yang sabar ya, kamu kuat kok! Jangan pernah menyerah, atas izin Allah; di sini aku mendampingi langkahmu!"
Kata yang tidak terucapkan tapi bisa dirasakan oleh hati si gadis ini.
"Benarkah itu?"
"Iya, sudah jangan menangis lagi! Jika kamu merasa tidak kuat, kembalilah dalam sujud-mu; akan Tuhan kasih asupan agar hatimu menjalani semua yang terjadi padamu."
Keduanya seakan berdialog, namun tidak ada kata sedikit pun yang terdengar di telinga; namun semua didengar dan dijawab oleh hati.
Aini pun kembali mengalirkan air matanya hingga terkuras habis, dia bersyukur didatangkan seseorang yang tidak terlihat oleh mata; namun terlihat oleh hati dan berbicara dari hati ke hati.
"Engkau memang Maha Baik dan Maha Berkehendak, Tuhan! Aku percaya bahwa langkah demi langkahku akan kau bimbing dengan penuh, sehingga tidak ada satupun orang yang kau hadirkan untuk menebarkan bunga di hatiku. Namun kau telah hadirkan sosok yang tak terlihat untuk menjadi perantara antara aku dan engkau."
Sebenarnya Aini masih ingin bersujud dan berdialog dengan sosok orang alim itu, akan tetapi tidak tahu kenapa dia bangun dari sujud-nya dan mengakhiri dialog dengan sosok tak terlihat dan dialog dengan Tuhannya.
__ADS_1
>>>Bersambung....