
...>>>Happy Reading<<<...
Setelah sekian lama menanti bus menuju jalan pulang, akhirnya datang juga meskipun matahari sudah mulai tenggelam.
Aini naik bus lewat pintu depan, dengan tubuh yang layu dia menyusuri jalan sambil matanya meraba setiap kursi, guna menemukan tempat duduk ternyaman.
"Di mana ya enaknya?" Aini mulai bertanya-tanya sendiri.
"Nah, Di sini saja deh," dia menemukan tempat duduk di bagian baris ke tiga sisi kanan dan tepat di samping jendela.
Aini merasa bahwa suatu nikmat naik kendaraan apapun itu tidak luput dari memandang kiri dan kanan bahu jalan. Meskipun dia tidak akan hafal apa yang ada di setiap bahu jalan itu. Setidaknya dia melihat pemandangan yang ada.
Handphone bergetar menyengat telapak tangannya; ya setiap dia di kelas menggunakan mode getar ataupun silent dan ketika itu dia belum menyalakan kembali.
"Wow, siapa nih?"
Getaran yang begitu kuat membuatnya kaget, meskipun tak bersuara.
Notifikasi itu muncul lewat WhatsApp, kira-kira siapa ya yang menghubungi dia?
"Gimana? Udah dapat bus?"
Pesan itu disampaikan oleh salah satu pria yang bekerja di ruang lingkup kampus, yaitu sebagai operator di sana.
Dia berkenalan dengan operator kampus baru-baru ini saja, lucunya dia berkenalan bukan bertemu langsung di kampus, melainkan di aplikasi datang warna hijau dan melaju ke warna hijau juga.
"Sudah, Mas. ini baru saja naik." Balas singkat dari Aini.
"Oh oke, Alhamdulillah. Hati-hati ya!"
"Siap, Mas!"
…
Sebelum akrab ini, Aini sempat dikira ayam kampus oleh; sebut saja Mas Arya. Karena aplikasi hijau ini ternyata mayoritas orang jual diri, sedangkan waktu itu Aini hanya coba-coba aplikasi sebab rasa penasaran isi dalam aplikasi tersebut.
Seperti itulah Aini, yang jiwanya memang tertanam rasa suka kepo pada apapun dan sama siapapun. Terutama pada aplikasi-aplikasi yang kerapkali dia jumpai pada iklan yang berseliweran di media sosialnya.
Ketika dia memasuki aplikasi hijau yang terkenal kotor itu, dia belum sadar jikalau aplikasi itu mayoritas jual diri. Nah,, yang menjelaskan bahwasanya aplikasi hijau yang dia masuki itu buat nyari cuan para wanita dan nyari kesenangan buat pria itu ya operator kampus itu.
__ADS_1
Menjadi suatu tanda tanya yang disimpan sendiri; "Kenapa si operator kampus itu berkunjung di aplikasi tersebut, kalau memang dia sudah tahu?"
Namun Aini berusaha untuk husnudzon terhadap siapapun, toh dia juga sudah menjelaskan mengenai kegunaan aplikasi itu. Ya meskipun sebelum berawal dari berpikir keras. Dalam artian Mas Arya ini tidak menjelaskan secara gamblang, melainkan dengan kode-kode yang sedikit demi sedikit bisa dipahami.
Selama di aplikasi hijau Aini bisa match random entah lewat tulisan maupun voice, ketika dia mencoba buat match tulisan; eh yang balas itu tidak hanya satu sampai lima orang. Sekali match bisa dibalas dengan berpuluh orang.
Bahkan dengan hal seperti itu Aini merasa bakal punya teman baru, tahu sendiri kan? bahwasanya Aini itu tipe orang introvert, yang tidak semua orang dia jamah begitu saja. Namun berbeda dengan yang tidak bertatapan langsung, dia bisa bercerita kesana-kemari tanpa haluan.
Sebelum mengenal Mas Arya, sebenarnya Aini sudah mulai bertanya-tanya aplikasi ini kegunaannya apa? Karena yang dia dapatkan dari balasan itu mayoritas pertanyaannya aneh. "Open?"
Waktu itu Aini sangat amat polos, dia tidak tahu yang dimaksud open itu apa. Sehingga dia juga membalas dengan bertanya maksudnya apa? Dia memang benar-benar tidak tahu yang dimaksud.
Lewat match yang ditemukan hingga akrab bukan hanya Mas Arya. Melainkan ada juga yang namanya Reza, pria asal Jepara ini menyatakan bahwa dia tersesat di dalam aplikasi ini.
Awal mula dia akrab itu dari match ngobrol-ngobrol lewat chat akhirnya nyambung, hingga saling follow. Ketika saling follow; Aini up stori di berandanya berisikan sebuah puisi singkat yang pada ujungnya jadi puisi berantai.
Dari sebuah puisi berantai itu akhirnya mereka berdua lanjut di via WhatsApp. Bercerita kesana-kemari sekadar lewat chat, pada suatu kesempatan Aini bertanya kepada Reza.
"Mas, Btw boleh nanya sedikit tak?"
"Boleh, nanya saja!" Reza mengizinkan Aini bertanya padanya dengan ikhlas.
"Kan kita dipertemukan lewat aplikasi hijau kala itu. Nah yang ingin aku tanyakan; sebenarnya kegunaan aplikasi tersebut buat apa sih?"
Terlihat centang dua abu-abu tengah berubah menjadi biru, pertanda chat sedang atau telah dibaca.
Handphone Aini mulai berbunyi, di atas layar dia melihat notifikasi dari Mas Reza.
"Oh, Aplikasi hijau. Sebenarnya aku tersesat di sana, hanya coba-coba aplikasi saja. Ternyata di sana itu mayoritas jual diri, aku saja sering ditawarin sama mbak-mbak bahkan tante-tante di sana kok."
Aini kaget dengan balasan itu, jadi selama itu dia berjelajah di jalan yang terjal dan bodohnya dia baru saja menyadari akan hal itu.
Dari situ Aini baru paham, karena dia juga tidak paham yang dimaksud ayam kampus seperti halnya yang diucapkan Mas Arya kala itu. Sehingga dia berusaha untuk mencari tahu dan tahu.
…
Sepanjang perjalanan Aini sangat menikmati pemandangan,,,
"Deerrrrrrrrrrt deerrrrrrrrrrt,"
__ADS_1
Notifikasi meluncur kembali, kali ini bukan chat dari Mas Arya;
"Sudah pulang belum, dek?"
Chat ini berasal dari nama Mas Reza, ya si pria asal Jepara itu.
Aini masih menjalin hubungan baik dengan Mas Reza, sehingga tidak ada salahnya dia membalas chat tersebut.
"Ini baru otw, Mas!"
"Masih di dalam bus?" tanyanya kembali.
"Hehehe, iya. Masih di dalam bus nih."
"Oh ya udah, hati-hati ya!" Dengan dibarengi emot peluk manja.
"Ups," sekadar emot tutup mulut dengan wajah malu-malu, disusul beberapa huruf terangkai.
"Iya, Mas."
Setelah membalas pesan-pesan singkat, Aini merasa bosan dengan perjalanan kali ini. Tubuhnya masih merasakan lelah, karena tidur di kelas tidak seenak tidur di kasur.
Dalam bosannya itu, Aini segera memasukkan handphone ke dalam tas dan memilih untuk memejamkan mata sejenak. Lumayan, perjalanan masih kurang lebih sekitar 45 menitan.
Mata yang mulai ditenggelamkan dan lagi-lagi pikiran mulai kembali aktif berjelajah.
"Nanti kalau keblabasan gimana ya?"
"Ah, tidak akan! Nanti juga bangun kalau memang sudah waktunya turun."
"Udah ah, tidur dulu. Capek nih."
Akhirnya Aini tertidur begitu pulas hingga tidak lagi peduli pemandangan yang akan dia pandang setelah membalas chat-chat yang menghampiri WhatsApp nya.
Beberapa menit berlalu, praduga Aini benar. Dia akan terbangun ketika hendak sampai, dengan jarak yang tidak jauh dan tidak dekat itu Aini langsung saja berdiri dan bergegas menuju ke depan dekat supir dan kondektur. Supaya dia turun di tempat yang tepat, tidak melewati warung bu leknya.
Buat apa dia ke warung bu leknya?
>>>Bersambung.....
__ADS_1