Gharib Cinta

Gharib Cinta
Pernah Ada


__ADS_3

...>>>Happy Reading, Bestiiiiiii<<<...


Akal pikiran yang sudah tenang, dengan spontan mulai menerkam bayangan yang melintang tanpa sengaja.


"Kalau sudah mantan, kenapa masih bisa berteman?"


"Huuuuh,"


"Apa salahnya sih kalau hanya berteman?"


Mata kembali fokus pada video di layar handphone,


Iya, Aini bukan wanita seperti tayangan di film-film; yang mana siap-siap jam 3 sore, berangkatnya abis isya'.


Tanpa disadari;


"Allahuakbar, Allahuakbar"


Gema suara adzan berkumandang dengan begitu indah dan enak didengar oleh telinga.


Tombol pause ditekan untuk menikmati keindahan itu,


Ketika gema adzan berakhir, Aini melangkahkan kakinya satu persatu menuju ruang tempat berwudlu.



Sujud Maghrib-nya telah usai, Aini bergegas berdandan sedikit dengan menempelkan pupur bedak ke wajahnya juga memberikan celak hitam di bulu mata bagian bawah, kemudian memilih jilbab dan menyelimuti mahkotanya.


Dia mau kemana serapi itu?


Sekarang malam Minggu, yang mana Aini akan berangkat ngaji terlebih dahulu sebelum ikut lapak perpustakaan jalanan.


"Bu, salim!"


Aini meminta uluran tangan ibunya untuk meminta ridlo atas menuntut ilmunya,


Ibunya pun langsung mengulurkan tangannya, serambi berpesan;


"Iya, hati-hati dan jangan pulang malam-malam banget ya!"


Pesan yang selalu diucapkan sang ibu kepada buah hati ketiganya ini hendak bepergian.


"Ehm, Assalamualaikum,"


Tangan Aini melambai-lambai, kakinya sambil menyalakan motornya dengan perlahan; pertanda sesi berpamitan telah usai.


"Wa'alaikum salam,"


Tubuh Aini sudah nampak jauh dari depan pintu, motornya memang melaju perlahan; namun keberadaannya sudah tidak nampak dari dalam rumah.


"Suatu hari nanti, kau akan mengerti saat aku pergi. Suatu saat nanti, saat aku pergi dan tak akan kembali."


Konser jalanan sudah dimulai, hehehe.


Bukan sekadar kesepian tidak ada yang mengajaknya berbicara, Aini mulai gabut entah mengapa.


Sepanjang perjalanan dari rumah ke tempat ngaji atau pondok, tidak ada satu pun lampu penerang jalan yang berdiri. Hanya saja lampu-lampu dari sesama pengguna jalan.


"Astaghfirullah, silau!"

__ADS_1


Dengan spontan Aini mengubah arah kaca yang memantulkan cahaya dari pengendara yang ada di belakangnya.


Matanya tidak bisa melihat arah jalan ketika pantulan cahaya mengenai mata.


"Aduh,"


Aini hampir terjatuh ketika ada lobangan di jalan yang tidak terlihat karena efek pantulan cahaya tadi.


"Ya Allah, Ya Allah, padahal baru juga mau berangkat."


Mulut Aini mengucapkan bukan maksud Aini menyalahkan Tuhan, melainkan dia bertanya-tanya mengapa baru mau berangkat aja udah ada ujian seperti itu.


"Ah, yang namanya mau melakukan kebaikan pasti ada rintangan-lah,"


Batin Aini ikut campur dengan masalah kali ini, meskipun tidak diundang; Batin kan yang paling peka terhadap apapun yang berhubungan dengan rasa.


"Allahumma sholli'alaa sayyidina Muhammad,"


Batinnya memang tiada henti berdebat, namun mulut berusaha untuk bersalawat.


Malam yang mencekam memang tidak membuat Aini takut yang berlebihan.


Aini memang seperti orang pemberani, tapi sebenarnya tidak begitu berani. Cuma keadaan-lah yang mengajarkan keberanian.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga."


Perjalanan ke desa sebelah memang tidak begitu jauh, tidak pula begitu dekat; yang menjadikan Aini gemetar hanyalah kegelapan malam, sedangkan dia bawa motor sendiri. Adakalanya takut makhluk kasat mata, dan adakalanya takut begal."


Sesampai di pondok, Aini langsung menuju tempat duduk bagian putri.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh,"


Pengasuh pondok menjawab salam tanpa Aini mengucapkan salam,


Aini merasa malu menjadi pusat pandangan, dengan menundukkan kepala sesegera Aini mengucap,"Assalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh,"


Ya mungkin karena jarak pintu masuk dengan pengasuh pondok agak lumayan jauh, dikiranya Aini mengucap salam; sehingga pengasuh pondok yang kerapkali dipanggil abah ini menjawab salam.


Kaki Aini tetap melangkah ke arah yang telah dituju, yaitu tempat duduk ternyaman ketika menuntut ilmu. Di temani meja panjang yang siap menopang ketika kantuk menerjang. Hehehe,,,


"Bismillahirrahmanirrahim, niat menuntun Ilmu, Ya Allah!"


Aini duduk di barisan depan jarak 2 meter menghadap ke arah pengasuh pondok yang duduk di depan tengah antara tempat putra dan putri. Sehingga semua bisa memandang pengasuh pondok.


Selang 40 menit;


"Wallahuua'lam bishowab. Al-Fatihah."


Ngaji di malam Minggu telah berlalu, kini saatnya bermalam Minggu.


"Gimana? Jadi?"


Pesan dari Diki masuk di WhatsApp dengan bertahap. Namun Aini tidak langsung mengajaknya langsung beranjak, melainkan;


"Iya, Jadi. Ikut jama'ah dulu sana!"


Aini menyuruh Diki untuk ikut jama'ah Isya' di pondok, karena usai ngaji pas sudah masuk waktu Isya'.


"Oke, Bos!"

__ADS_1


"Sejak kapan aku jadi bos-mu?"


"Sejak ini."


"Dahlah, sana ikut jama'ah dulu!"


"Iya-iya, see you!"


"Oke,"



"Ayo!"


"Iya, aku bawa motor sendiri. Tapi nanti kalau pulang anterin ya!"


Bukan Aini tidak berani pulang sendiri, namun ya bagaimana; anak cewek masak pulang tengah malam sendirian. Kalau ada orang jahat bagaimana? Ya kan?


"Iya, nanti aku anter pulang kok. Tenang saja!"


Diki begitu masih perhatian dengan Aini, terlihat jelas di wajahnya.


Mungkin karena Aini adalah cinta pertamanya, yang belum bisa tergantikan oleh siapapun. Apalagi dengan Diki bersama pacar keduanya hanya bertahan dua sampai tiga bulan saja.


Ya, Aini memang sempat ada rasa panas ketika kumpul dengan teman-teman masa SMP-nya; dan salah satu di antara mereka yang mengenali dia, kemudian Aini dapat cerita kalau si Diki main ke rumah Delia;


Aini memang sadar, sudah tidak menjadi bagian dari kehidupan Diki lagi; tapi kenapa tiba-tiba Diki kembali lagi membawa segudang perhatian dan sikap-sikap menunjukkan rasa sayang yang belum hilang.


"Nih anak kenapa ya? Masak iya sih dia masih ada rasa sama aku?"


Motor Aini berjalan diiringi motor Diki, bukan hanya mengiringi; si Diki ngajak Aini ngobrol yang tidak begitu penting.


Dengan logat yang sedikit gemetar hingga timbul ucapan gagap, menandakan bahwa Diki masih gerogi di hadapan Aini.


Walaupun seperti itu, Aini berusaha biasa saja menghadapi sikap Diki.


"Dah makan belum?"


Tanya Diki yang terdengar remang-remang,


"Sudah kok,"


Efek udara malam yang diiringi suara motor, suara Aini hampir tidak terdengar. Sehingga dia harus sedikit berteriak meski motor mereka beriringan.


"Tadi pas mau berangkat aku makan dulu,"


Aini menyambung jawaban dengan nada seperti jawaban tadi.


"Oh, kirain belum."


Malam kembali hening, belum ada yang mau mengawali pembicaraan; keduanya saling tidak enak, saling nervous dan entah bagaimana perasaannya mereka.


Malam mingguan bersama mantan bukan suatu hal yang mudah bagi mereka, sebab Aini juga masih banyak luka yang belum dikemasi dengan rapi. Diki pun masih tidak enak hati karena sudah pernah pindah ke lain hati.


"Ai, beneran tidak apa-apa kah kalau aku ngajak berangkat bareng?"


Diki membuka suara untuk menghilangkan kebisuan malam,


"Ya nggak papa, emang kenapa?"

__ADS_1


"Ya nggak papa juga sih, takutnya ada yang marah nantinya."


>>>Bersambung.........


__ADS_2