Gharib Cinta

Gharib Cinta
Penjahat Kain


__ADS_3

^^^*_Happy Reading, Sobat Daniba_* 🤗^^^


...>>> Bismillahirrahmanirrahim<<<...


Ayam telah bersahutan dari semua penjuru arah, sudah menjadi isyarat akan lahirnya matahari.


Tidak dapay dipungkiri, matahari pagi ini tersenyum lebar pada dunia; terlihat begitu cantik dengan warna khasnya.


"Ya Allah, terima kasih!"


Aini kembali menata hati untuk melanjutkan cerita selanjutnya; dia peran utama dalam cerita hidupnya. Tidak di sangka;


"Kringg,"


Suara yang hampir mirip dengan lonceng, tapi itu muncul dari handphone yang sedang dia pegang.


"Nanti malam berangkat bareng yuk!"


Dari layar ponsel secara to the poin Diki mengajak Aini berangkat bareng, entah mau kemana dia.


"Berangkat bareng? Kemana?"


Aini benar-benar lupa atau bahkan tidak tahu Diki mau ngajak berangkat bareng kemana.


"Berangkat lapak, mau?"


Diki mencoba untuk mengingatkan Aini yang mungkin memang lupa.


"Emang sekarang hari apa?"


Aini heran, karena dia merasa kalau hari ini adalah hari Jum'at; sedangkan lapak itu hari Sabtu.


Pagi-pagi sudah lupa hari, ya seperti itulah Aini yang tidak begitu peduli dengan hari. Lagian kegiatannya juga pasti itu-itu saja, tidak ada yang baru; meskipun baru juga hanya bertahan sebentar saja.


"Hari Sabtu, kamu lupa hari ya?"


Diki mulai menduga-duga, dan Aini masih sibuk heran juga tidak menyangka kalau sekarang sudah masuk hari Sabtu.


Akhirnya dia mencoba membuka kalender yang ada di handphone-nya.


"Ups," Aini menutup mulutnya yang mulai terbuka tipis-tipis.


"Astaghfirullah,"


Dia benar-benar kaget, ternyata hari ini memang hari Sabtu dan nanti malam ada undangan terbuka buat lapak buku.


Jarinya meraba keyboard handphone dengan perlahan dan menjawab sebuah pesan.


"Oh, iya ternyata."


"Nanti kalau selesai ngaji saja ya?" lanjutnya.


Dua pesan dikirim dengan waktu yang relatif singkat, tidak sampai 1 menit dan dilihat serta dikirim balik dengan beda kata di menit berikutnya.


"Oke, nggak papa."


Hal itu tidak menjadi masalah besar bagi seorang Diki, karena tempat ngaji mereka berdua itu sama. Jadi tidak saling menunggu lagi.


"Oke!"


Aini mempertegas jawaban, bukan karena berharap bisa bersama lagi; akan tetapi dia mikir, misal nanti pulang agak malam. Dia bisa minta diantar pulang oleh Diki, sang mantan kekasihnya itu.


Usai berkomunikasi dengan mantan, Aini kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mencari berkah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, diberikan tempat kerja yang plus-plus."


Aini monolog pada dirinya sendiri sambil menjalankan tangan juga kakinya menuju barang dagangan yang harus disiapkan di depan pintu toko.


"Iya, sudah dapat cuan, dapat ilmu jahit menjahit, dan pengalaman yang luas biasa."


"Oh iya, dalam jahit menjahit juga; aku termasuk membantu banyak orang dalam menutup aurat."


Bagaimana tidak membantu banyak orang yang menutup aurat, dia menjahit pakaian serba ala syar'i. Ada gamis, jubah, jilbab, mukenah dan masih banyak yang lainnya.


Menjahit bukan sekadar menjahit bukan?


Aini sadar, dengan menjahit dia bisa membantu banyak orang untuk menutup aurat. Di balik itu juga dia dapat ilmu yang nantinya bisa digunakan saat dia besok mulai berumah tangga.


Bukan sekadar untuk melanjutkan usaha tata busana umum, melainkan tata busana untuk keluarga kecil; khususnya untuk dipersembahkan kepada suaminya nanti.


"Bismillahirrahmanirrahim,"


Aini menebalkan niat agar supaya semangatnya selalu terjaga.


"Jika memang ini jalanku menuju Ridlo-Mu, ya Robb. Tolong kau pelancar, dan tolong jaga semangat hamba-Mu ini."


Semangat memang selalu naik turun, meskipun banyak orang yang memberikan asupan semangat; kalau diri sendiri tidak mau bangkit, ya mana bisa. Motivasi hanyalah motivasi, yang mampu menggerakkan hati hanya diri masing-masing manusiawi.


"Mbak, bisa njahitkan ini nggak ya?"


Suara lembut terdengar dari depan pintu toko, Aini mengalihkan pandangan mata dari apa yang dia pegang dan mengarahkan pandangan ke depan toko.


Ternyata si nenek-nenek dengan membawa satu kantong plastik hitam yang berisikan pakaian.


"Dijahit bagaimana, Nek?"


Aini menjawab dengan sikap santunnya.


"Tinggal jahit bawahnya saja kok, sudah aku potong sendiri."


Dengan rasa yang agak kasihan, Aini memberikan peluang pada nenek ini untuk menjahitkan pakaiannya.


"Ya sudah, aku tinggal belanja dulu ya!"


"Iya, Nek."


Aini merasa bersyukur, nenek itu tidak menunggu di tokonya; karena jikalau nenek itu menunggu di toko, yang ada Aini hanya tergesa-gesa mengerjakan.


Kalau ditinggal belanja, bukan menjadi alasan untuk berleha-leha. Melainkan untuk menjahit dengan teliti dan hati-hati.


Iya, Aini di tempat kerja hanya seorang diri. Bosnya di toko lain atau toko pusat, yang ditempati Aini adalah toko cabang yang dimiliki oleh bosnya.


"Brok, brok, brok,"


Aini yang sendirian di tempat kerja ini sedang mengorek-ngorek toples wafer yang berisi beberapa benang.


Tujuannya hanya mencari satu benang dengan menciptakan alunan suara berisik.


Namun tak apa, dia merasa pasar itu menjadi wilayah umum; tidak akan ada yang marah jika keramaian tercipta. Apalagi hal itu tidak bisa dihindari oleh seorang Aini.


"Brok, brok, brok,"


Aini kembali mengguncang toples berisi benang, supaya benang yang diharapkan itu timbul ke atas.


Namun nihil, guncangan ke dua belum membuahkan hasil.


"Brok, brok, brok."

__ADS_1


"Kok belum ketemu juga ya?" Aini bertanya pada tangan, otak, dan keadaan.


Tangan dan mata Aini pun mulai masuk ke dalam toples wafer itu, guna memastikan apakah benang yang dicari itu ada ataupun tidak.


"Nah, ini yang aku cari!"


Dengan tangan yang telah berhenti dalam pencariannya, dia menerkam dan menarik benang bersama gulungannya.


"Alhamdulillah, ternyata ada."


Bersyukur itu hal yang penting dalam setiap hal,


Sesegera Aini mengambil posisi nyaman dan dirasa enak,


"Bismillahirrahmanirrahim,"


Jahitan pertama di hari ini telah Aini dapatkan, dia berharap ada lagi yang butuh bantuannya dalam menutup aurat.


Namun pakaian yang langsung dijahitkan oleh orang tanpa perantara bos; sebenarnya itu sangat mengganggu. Tapi bagaimana pun juga, Aini kasihan melihat orang yang mau menjahitkan namun ditolak.


Jadi Aini tidak menolak mentah-mentah jahitan yang diberikan tanpa perantara bos, ketika dia merasa terganggu; dia sering menyarankan untuk melemparkan kerjaan itu langsung kepada bosnya saja.


"Mbak, sudah jadi?"


Si nenek yang meminta pakaiannya buat dijahit sudah kembali lagi untuk mengambil.


"Belum, Nek. Ini tinggal sedikit lagi."


Aini menjawab dengan jujur, memang jahitannya belum selesai dan dirasa kurang sedikit lagi. Efek tadinya sibuk mengorek-ngorek akan toples.


"Eeeeeemm,,, ya sudah, aku tunggu ya?"


Nenek baik memberikan toleransi kepada Aini, dan dia langsung mengiyakan.


Mata, kaki, dan tangan Aini bekerja sama menjalankan mesin jahit yang mengeluarkan suara yang tidak begitu pelan.


"Huuuuuuuuuuuuh," hembusan napas Aini menyatakan lega.


"Syukurlah," dalam hatinya berbisik.


"Sudah, Nek!"


"Oh iya,"


Si nenek langsung berdiri tegak ketika Aini memberitahukan jikalau jahitannya sudah selesai.


"Berapa, Mbak?" Nenek itu melanjutkan bicaranya.


Aini tidak pernah menarget berapa nilai uang yang harus dibayar, karena dia tidak mau hitung-hitung; dia hanya niat membantu saja, Sehingga...


"Hehehe, terserah nenek saja."


"Kok terserah, berapa kok?"


Nenek tersebut masih saja ngeyel dan bingung mau memberikan berapa.


Pada ujungnya, Aini harus memutuskan; biar semua cepat selesai.


"Ya sudah, Nek. 5 ribu saja kalau gitu."


"Nah, gitu dong! Ini uangnya. Terima kasih ya!"


"Terima kasih kembali, Nek!"

__ADS_1


Bagaimana tidak mau mengambil keputusan, kalau perdebatan atau saling tanya bertanya tidak berujung ada jawaban terjadi?


>>>Bersambung...


__ADS_2