Gharib Cinta

Gharib Cinta
Terbungkam Asmara


__ADS_3

...>>>Happy Reading, Bestiku<<<...


Waktu selalu berjalan dengan semestinya, sedangkan Aini terlalu sibuk dengan apa yang dia lakukan; sehingga banyak hal yang terlupakan, bahkan hari pun dia sampai lupa.


"Kok sudah hari Sabtu saja ya, padahal belum apa-apa."


Pikiran Aini berbisik pada hati yang hampir tidak percaya kalau hari Jum'at memang sudah berlalu.


Dengan penuh kenikmatan, Aini melanjutkan langkah kaki, tangan, dan matanya untuk menyempurnakan apa yang sedang berada di tangannya.


Iya, kain-kain yang sudah terpotong rapi; sudah semestinya disatukan dan membentuk tubuh hingga siap dipakai.


"Tadi dia ngajak berangkat bareng, enaknya berangkat nggak ya?" Aini bertanya pada diri sendiri.


Dia merasa nggak enak untuk menolak, dan dia juga kurang enak untuk berangkat bareng.


Meskipun Diki sudah menjadi mantan kekasih, namun sesungguhnya Aini masih ada rasa yang tersimpan dalam hati. Rasa itupun seperti juga masih ada di dalam hati seorang mantan tersebut.


Jikalau tidak ada rasa yang masih tersimpan, akankah akan ada tawaran untuk berangkat lapak bareng? Belum tentu.


Aini adalah cinta pertama di kehidupan Diki, seperti yang sudah kita ketahui; bahwasanya cinta pertama itu akan sulit untuk dilupakan.


Apalagi hubungan Aini dan Diki ini tidak terbilang singkat, kurang lebih dua tahun lamanya mereka saling kasih dan sayang.


Namun Tuhan punya rencana lain atas kisah mereka,



Beberapa tahun silam, waktu hendak menuju kelas 2 SMA; Aini masih berada di pondok. Namun dia masih bisa berkomunikasi dengan Diki menggunakan handphone pondok yang telah disediakan. Ehm, hanya sekadar bisa telpon dan kirim pesan saja. Kalau lewat media sosial lainnya, Aini pinjam handphone teman di SMA buat sekadar berkomunikasi dengan Diki.


Ketika ada udara kesejukan yang lewat di telinga Aini, dalam jangka singkatnya menit; dia meminta break pada Diki, dengan alasan yang tidak begitu jelas. Namun mereka berusaha saling mengerti keadaan dan saling percaya, hingga Aini benar-benar melepaskan ikatan cinta mereka.


Bukan karena adanya pihak ketiga, namun karena merasa perilaku Aini tidak pantas untuk disebut sebagai santri.


Mungkin juga karena Aini pernah dikatain kebanyakan maksiat oleh senior di pondoknya.


"Aku pernah dikatain ahli maksiat, sehingga aku tidak mampu menghafal kalam Allah dengan baik dan benar. Ya memang aku tidak se-alim yang orang lain duga sih; tapi kalau diungkapkan oleh seseorang; rasanya masyaallah."


Siapa yang tidak terluka hatinya, ketika dikatain sebagai ahli maksiat? Hati siapa yang tidak ingin memberontak ketika keburukan diungkap dengan cara tidak menyenangkan.


Kala itu pun Aini hanya bisa menahan tangis, tidak ada ruang untuk bercerita. Meskipun ustadzah atau pengasuh pondok sudah memberikan peluang; bahwasanya kalau ada masalah apapun dia diperbolehkan untuk bercerita dengan pengasuh pondoknya.


Aini berpesan pada Diki,"Kita break bukan karena orang ketiga, hanya saja aku maunya break. Aku mau, kita tidak saling membenci. Jikalau Tuhan memberkati kita, maka suatu saat bagaimana pun caranya; kita pasti akan dipersatukan kembali."

__ADS_1


Ketika itu Diki sudah mengiyakan pernyataan Aini,


Namun tidak bisa dipungkiri, selang beberapa bulan break; Aini tidak sengaja menemukan jejak pesan di kolom inbox Facebook Diki dengan seorang cewek.


Iya, perpisahan mereka secara baik-baik. Akan tetapi sandi akun Facebook Diki masih terpegang oleh Aini, sehingga Aini hanya ingin memastikan apa yang diomongkan Diki tidak sesuai apa yang dilakukan.


Kemarin Diki telah berjanji akan tetap menantikan kebersamaannya kembali, namun kepercayaan itu memudar seketika.


Aini telah menemukan jejak-jejak inbox yang menandakan bahwa Diki telah dekat dengan seorang perempuan.


Dengan hati yang tertata, Aini menanyakan inbox tersebut lewat media sosial yang sama; yaitu Facebook.


Tanpa basa-basi Aini menanyakan kedekatan Diki dengan seorang wanita, yang tidak pernah Aini kenal sebelumnya.


"Delia itu siapa? Kelihatannya kok deket banget."


Diki tidak dengan spontan menjawab pertanyaan itu, melainkan kata maaf teruntai dengan begitu memelas.


"Ay, maaf ya. Dia bukan siapa-siapa kok, beneran deh!"


Aini bukan gadis yang mudah untuk dibohongi, dia bisa membaca situasi dan kondisi yang ada.


"Oh, bukan siapa-siapa ya? Hehehe."


Seakan-akan Diki tidak ingin membuat Aini cemburu, namun pesan dalam inbox sudah menjadi jawaban bagi seorang Aini.


"Hehehe, nggak papa kok. Santai aja kali, ya kalau kamu sudah sama cewek lain juga tidak apa-apa. Lagian kan kamu sama aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kalau memang sudah ada yang masuk dalam hatimu ya silakan! Aku tidak akan melarang kok, nggak bakal aku rusak juga, justru aku akan ikut senang."


Aini dari dulu tidak apa jikalau orang yang dia cintai bersanding dengan orang lain, malah dia akan mendukung penuh atas kedekatan itu.


Mungkin Diki sedang berpikir tajam untuk membalas pesan bijak yang disampaikan oleh Aini, pada ujungnya; Diki mengakui atas kedekatannya dengan cewek tersebut.


"Hmmmmm,, iya, maaf. Aku dekat sama cewek ini, awalnya sih cuma dipojokkan sama teman-teman di kelas. Eh tiba-tiba ada rasa yang tumbuh."


Cewek yang dimaksud ini adalah temannya di SMK, sebenarnya Aini dan Diki ini beda tingkatan. Aini sebagai kakak tingkat, sedangkan Diki adek tingkat. Mereka beda instansi, yang dipertemukan waktu masih SMP di salah satu pondok dekat rumah Diki; yang merupakan desa tetangganya Aini.


Diki menemukan cinta keduanya saat masuk di SMK yang masih satu wilayah dengan tempat di mana dia tinggal,


"Nah, dari tadi jujur keg. Kalau Delia bukan siapa-siapa, tidak mungkin pesan di inbox terlihat begitu mesrah."


"Lagian tidak apa-apa kalau kamu jujur tuh, aku tidak akan marah. Justru kalau kamu jujur aku merasa dihargai." lanjutnya.


Dengan bijak Aini menyampaikan suatu pernyataan yang mungkin memang berat untuk diungkapkan. Orang yang semula dipercaya sudah menghancurkan kepercayaannya, akan tetapi dia juga sadar bahwa yang memutuskan hubungan itu dia sendiri.

__ADS_1


Menyesal sih jelas, tapi nasi sudah berubah menjadi bubur. Sudah tidak bisa dikembalikan menjadi nasi lagi.


"Maaf ya, Ay. Aku harap, kita tidak saling bermusuhan dan tidak saling membenci." Ucap pasrah Diki lewat pesan singkatnya.


"Tidak apa-apa kok, lagian kan aku yang minta break. Aku juga tahu resiko yang harus aku dapatkan. Terima kasih ya sudah jujur."


Aini sangat menghargai kejujuran, meskipun semua itu terlihat menyakitkan; sakit itu tidak akan menjalar hingga memarkan hati.


Pada suatu masa, Diki mungkin sudah menceritakan apapun tentang Aini kepada Delia. Sehingga Delia meminta pertemanan dengan Aini di Facebook, di situ juga Delia mencoba akrab dengan Aini.


"Halo, Mbak!" Sapa Delia ketika permintaan yang diajukan Delia telah diterima.


"Iya, halo." Dengan singkat Aini menjawab.


"Mbak, kenalin; aku Delia."


"Oh, iya. Ceweknya Diki ya?"


"Iya, Mbak. Salam kenal ya!"


"Oke, siap."


Sambil berkomunikasi dengan Delia, Aini ingin mengetahui latar belakang kekasih barunya si mantan. Bukan bermaksud apa, hanya sekadar ingin tahu.


Aini membuka laman beranda Facebook Delia, terdapat banyak foto yang diunggah.


Ada beberapa foto yang membuat Aini minder dengan Delia, ternyata Delia adalah wanita seniman. Dia gabung di suatu kesenian tradisional di wilayah jawa, ketoprak namanya.


Pakaian terbuka, dengan kecantikan yang tidak sebanding. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan Delia?


Namun hubungan mereka hanya berlaku selama kurang lebih 2 bulan saja, entah siapa yang berulah; entah siapa yang cintanya dahulu pudar.


Sebenarnya di awal Aini tidak menyangka, lelaki pendiam seperti Diki yang kiranya iman terlihat kokoh; selama bersama Aini saja tidak pernah yang namanya berjabat tangan, bisa-bisa punya hubungan spesial dengan cewek seniman yang sudah biasa berpakaian terbuka; alias dengan yang namanya kemben.


Dengan hal itu pula Aini pernah berpikir positif,


"Mungkin saja Diki ingin merubah pola pikir dan cara berpakaian si ceweknya."


Ini bukan soal menghina busana tradisional, namun sudah sepatutnya wanita memuliakan dirinya sendiri.


"Kalau semua orang berbusana agamis, Indonesia tidak akan penuh warna."


Aini selalu ingin berpikir positif, kalau tidak ada yang mau melestarikan budaya; pakaian tradisional, dan mengembangkan kesenian tradisional jawa; Indonesia akan kehilangan hartanya.

__ADS_1


>>>Bersambung.....


__ADS_2