
>>>Happy Reading!<<<
"Apa aku anak pembawa sial ya? Perasaan tiap hari selalu dilempari keluhan gara-gara uang."
Hati Aini bergumam dengan pikiran.
"Katanya orang tua tidak akan membicarakan keluhnya di depan anak-anak, tapi aku tiap hari disuguhi keluh kesah. Meskipun saudara-saudara lainnya belum tentu tahu."
"Ya Allah, aku ingin jadi orang yang banyak uang! Telingaku terasa panas selalu mendengar kata uang, uang, dan uang."
Aini merasa bahwa uang telah menjadi meracuni otak penduduk rumahnya.
"Iya, kamu terlihat bangun aja udah senang kok," Salmah menambahi.
"Masak orang tua susah payah berdoa dan usaha; anaknya malah enak-enak tidur. Kapan sampainya doa itu?" Ari melanjutkan perkataannya.
Aini masih saja terdiam merenung dan beradu.
"Aku bangun kok kalau pagi, cuma di kamar aja." Aini memberikan kejelasan.
Bagaimana pun juga orang tua tidak akan menganggap Aini bangun kalau belum keluar dari kamar.
Aini tetap merasa bahwa dirinya adalah beban dalam keluarga itu, niat hati pernah ingin beranjak pergi; namun dia tak pernah tahu arah untuk berjelajah. Sehingga dia hanya bisa pasrah dan tetap dalam naungan zona tak nyaman.
Memang benar; Aini jarang sekali sujud di hadapan Tuhan, dia juga tahu dan sadar sekali akan hal itu. Bukan tidak mau bersujud, namun rasa malas telah mengurungkan niatnya yang tulus.
Meskipun demikian, Aini tidak suka sholat secepat kilat. Dia sebenarnya ingin; tapi lisan tak mampu digerakkan dengan begitu cepat. Kadang Aini juga heran kenapa orang lain bisa sholat begitu cepat ya? cara baca bacaan sholatnya bagaimana?
Seorang Aini ini ketika disuruh bukan malah semangat, melainkan malah lebih malas lagi. Apalagi ketika hati sudah ada niat melakukan sesuatu hal A, dan orang lain menyuruh hal yang serupa. Di dalam hati pasti berisik menyatakan ketidaksukaan.
Usai pembicaraan dengan Salmah dan Ari, Aini beranjak ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh.
…
Mentari belum menyapa, namun kali ini Aini lebih dulu menyapa dunia tanpa harus ada orang yang membangunkan.
"Haaaaaaaaaaah,"
Tangan Aini menggenggam mulut agar udara tidak tercemar oleh bau mulutnya. Oh tidak! Memang dalam agama dianjurkan seperti itu ya!
Aini beranjak ke kamar mandi seperti biasanya; melewati Salmah yang sedang asik bersenggama dengan para rempah-rempah juga kebutuhan pokok lainnya.
Salmah hanya bisa diam tertegun melihat Aini yang tengah bangun dini hari tanpa harus ada alarm manual berbunyi.
Aini hanya sekejap menatap mata Salmah dengan sedikit sayup, akhirnya punggung tak lagi terlihat oleh Salmah. Pertanda tubuh Aini sudah sepenuhnya memasuki kamar mandi.
Ketika tangan sudah sampai memegang gayung hingga membasahi tangan dengan air.
"Wow,, dingin banget!"
"Haaaaaaaaaaah,"
Aini menangkas bola voly transparan yang tepat berada di atasnya.
"Dengan mempercepat langkah, mungkin bisa menetralisir rasa dingin ini." Batin Aini berkutik.
Tanpa segan; dia mempercepat langkah.
…
"Belum juga jam 8, kok udah merasa nggak enak gini ya?"
Hati kembali berbisik dengan pikiran, sudah menjadi kebiasaan dalam hidup Aini; jikalau mandi terlalu pagi. Iya, dia akan merasa badannya terasa aneh. Bukan malah ringan seperti yang orang-orang katakan, sampai dibayangkan, melainkan lebih ringan untuk dia bawa kemanapun alis layu.
"Nyesal aku mandi terlalu pagi gitu. Tapi ya bagaimana lagi?"
"Ah, susah banget jadi anak."
"Udah susah, menimbulkan kesusahan pula."
"Hadeeeh,, Aini,,, Aini ..."
"Kenapa sih harus seperti ini?"
"Eh tapi kan ..."
"Semua sudah diatur sama yang punya, aku kan cuma numpang; mana boleh ngatur-ngatur."
__ADS_1
"Hmmmm,, Bagaimana ya biar bisa lebih baik lagi? Bagaimana caranya biar bisa dapetin uang banyak?"
"Aku mau jadi manusia yang bersyukur, tapi ada ... aja yang ingin mengguncang."
"Kak, ada kain Flanel?"
Aini menghentikan perang batinnya, karena ada dua gadis berdiri tepat di depan toko yang ditempati kerja Aini,
"Kalau di sini nggak ada, Kak."
"Barangkali tahu di toko lain yang jualan gitu, Kak?"
"Coba, Kakak beranjak ke sana lalu belok kiri usai itu belok kanan. Di situ ada jualan kain, Kak. Barangkali ada."
"Oke, Kak. Terima kasih ya!"
Dua gadis langsung beranjak pergi meninggalkan Aini.
Aini kembali menyulutkan memori untuk melihat kejadian yang telah dia peluk selama ini.
Pandangan matanya kosong, namun jahitan bisa selesai tanpa jari tertindas jarum.
"Gabut ah!"
Aini mengeram karena suasana hati terasa begitu sepi, namun dunia pasar masih ramai seperti biasa.
Tangan pun mengarah ke handphone yang dari tadi belum sempat dijamah.
["Ai, besok Malam Minggu berangkat bareng ya!"]
Ajakan Arif dari pesan WhatsApp,
["Oh, tapi aku masih di kampus. Gimana dong?"]
["Ya udah, bagaimana kalau aku jemput di kampus?"]
["Boleh!"]
["Oke, besok aku jemput!"]
["Iya, Rif."]
…
Pesan singkat dari kepala suku perpustakaan jalanan, Nafin namanya.
Aini juga membalas dengan begitu singkat,"Iya."
Tanpa pikir panjang dia mengiyakan; mengingat kata Ari,"Kalau nggak maju sekarang, mau kapan lagi?"
Siap nggak siap harus siap sudah menjadi sebuah prinsip dalam hidupnya.
Namun dalam lubuk hati terdalam dia kembali berperang;
"Jadi Narasumber ya?"
"Apa yang akan aku sampaikan?"
"Pertamakali jadi narasumber di acara orang-orang hebat pula."
"Allah Ya Karim..."
Dengan jawaban singkat Aini, Nafin pun menjabarkan apa yang harus disampaikan pada acara bedah buku milik dia sendiri itu. Iya, buku perjalanan hidup yang dibuat dalam kurun waktu singkat tahun lalu.
…
Malam Minggu telah tiba;
Usai Maghrib Arif memberikan kabar pada Aini,
["Aku berangkat ya!"]
["Iya, Rif. Hati-hati di jalan!"]
["Siap!"]
Wajah Aini terlihat gelisah melihat cuaca mendung petang, bukan karena apa. Akan tetapi Aini belum juga mendapat kabar baru dari Arif, Hati sangat khawatir jikalau hujan mulai turun.
__ADS_1
Tak lama kemudian; Hujan pun benar-benar turun dengan begitu derasnya.
["Rif, udah di mana? Bawa jas hujan nggak?"]
Arif belum memberikan jawaban dalam kurun waktu yang cukup lama.
["Ini mampir di pom yang kurang lebih 20 menit ke kampus, Ai. Neduh dulu ini, hujannya begitu deras banget."]
["Syukurlah! Ya udah santai aja nggak papa, nunggu hujannya reda."]
["Iya, Ai."]
["Oke, hati-hati kalau mau lanjut perjalanan lagi!"]
["Siap!"]
"Semoga Arif baik-baik saja, Ya Allah." Dalam hati berdoa.
(40 Menit berlalu)
["Ai, aku sudah depan gerbang?"]
Sesuatu yang ditunggu telah datang, terlihat pakaian Arif sedikit basah karena hujan yang menghampirinya.
["Alhamdulillah, oke aku ke sana!"]
Aini menghampiri Arif yang tengah berada di depan gerbang kampus,
"Rif!"
Panggilan lantang Aini menyambut kedatangan Arif.
"Masuk dulu ayok, masih agak hujan ini!"
"Hehehe, iya!"
Aini pun bertanya banyak hal mengenai perjalanan Arif sampai kampus yang disertai hujan itu.
Mereka berdua beranjak masuk dan duduk di depan kantin yang memang sudah tutup karena tidak ada mahasiswa kuliah malam. Tempatnya tidak jauh dari gerbang pintu depan.
"Rif, aku lho belum tahu tempat acaranya di mana. Kamu tahu nggak?"
"Aku juga belum tahu nih, Ai. Coba tanya teman-teman!"
Aini nurut dengan perintah Arif.
Arif sudah jauh-jauh melewati perjalanan dengan hujan, ditambah Aini yang sudah lama menunggu kedatangan, tapi sayangnya mereka belum tahu arah tempat tujuan.
"Belum ada jawaban,, gimana dong?"
Mereka berusaha menunggu hingga hari semakin malam dan tak kunjung ada balasan.
"Ya udah deh, ayo pulang aja!"
Arif menyampaikan sebuah usulan.
"Beneran, Rif? Berarti di sini kamu cuma jemput aku doang dong?"
"Iya nggak papa, sesekali."
Arif melemparkan senyuman tanpa sedikitpun beban.
"Ya udah deh, ayo pulang!"
Mereka berdua memilih untuk pulang karena tidak ada jawaban sama sekali, baik dari grup maupun pribadi.
Dalam perjalanan pulang Aini dan Arif bercerita beberapa hal, dan ketika hendak sampai di rumah Aini; tiba-tiba Aini merasakan kegelagapan tingkah Arif.
"Ai, aku mau ngomong sesuatu. Boleh?"
Aini pura-pura tidak tahu apa yang mau disampaikan Arif, karena filing di jarang meleset.
"Boleh! Mau ngomong apa, Rif?"
Dalam hati,"Jangan bilang kalau mau nembak aku. Please!"
"Aku tuh mau ngomong, sebenarnya ..."
__ADS_1
>>>Bersambung!!!