
>>>Happy Reading, Bestiiiiiii!<<<
Hati yang rendah, dengan penampilan luar yang sederhana; menjadikan Aini berbeda dengan wanita pada umumnya, yang harus membongkar lemari hanya untuk sekali pergi.
Aini si gadis desa yang hidup penuh dengan kesederhanaan dan no ribet, alias dia suka yang simpel dan to the poin.
Di setiap kali entah mau kemana, dia tidak pernah mengenakan make up yang full Fashion. Mungkin hanya sedikit bedak dan celak saja.
"Ya sudahlah, apa salahnya kalau berangkat bareng?"
Aini tengah asik memainkan pikiran dan mengajaknya jalan-jalan,
Dengan rasa yang sedikit pudar, Aini menerima ajakan Diki.
Sehingga ketika dia pulang dari tempat kerja, Aini langsung sigap membersihkan jiwa dan raga.
Mandi siang untuk menghilangkan keringat yang telah menjadi lem antara kulit dengan pakaian, membersihkan jiwa untuk menyemai ketenangannya.
"Haaaaaaaaaaaaaaaah, kok ngantuk ya!"
Aini bergegas membuka telapak tangan dan menutupkan ke seluruh mulut yang terbuka dengan lebar itu.
Dalam keadaan kantuknya, Aini tetap berjalan menuju kamar mandi yang sudah menjadi tujuan awalnya.
…
Jiwa raga sudah tersapu bersih, sekarang gantian matanya sudah mulai lengket dan berat untuk dibuka.
"Alhamdulillah, aktivitas hari ini tidak begitu melelehkan seperti kemarin. lelah sih, tapi tidak seberapa."
Aini memang sering monolog pada dirinya sendiri, lantaran belum ada ruang untuk menyimpan segenap kisah yang telah dilaluinya.
"Saatnya bobo siaaaaaaang,"
"Bruuuk,"
Aini meletakkan tubuhnya ke kasur dengan penuh semangat,
"Haaaaaah,,, ini weekend tapi tidak ada yang istimewa, seperti hari-hari biasanya."
Dalam hidup Aini yang beranjak dewasa ini seakan-akan tidak kenal yang namanya weekend. Setiap hari pasti kerja, kuliah di hari Senin-Kamis sepulang dari kerja, kalau ada tugas ya dikerjakan malam, kalau nggak ada ya istirahat.
Hal itu dia ulang setiap hari, belum ada henti. Aini libur kerja ketika ada hal penting atau acara lain yang memang harus meninggalkan pekerjaannya seharian.
"Hmm,,, Bismikallahumma ahya wabismika amuut,"
Mata tenggelam, pikiran melayang. Lagi-lagi pikiran belum mau diajak kerjasama, maunya jalan-jalan entah kemana.
"What do you want?" Hati membentak pikiran yang mulai berkelana.
Namun pikiran menjadi sedikit kaget dan terhenti,
"Istirahat!"
Akhirnya pikiran-pun tak lagi berkeliaran di dunia nyata, akan tetapi dia kembali berkelana di alam bawah sadar.
__ADS_1
Di alam bawah sadar pikiran semakin menjadi-jadi,
Terlihat jelas;
Seorang laki-laki berpakaian rapi, berjas hitam terlihat gagah namun asing. Tidak pernah Aini lihat sebenarnya, sedangkan alam bawah sadar menemukannya.
Herannya si laki-laki berjalan menuju masjid dengan seragam layaknya pengantin baru,
Usia laki-laki sampai di dalam masjid, gadis bergaun putih dengan mahkota di kepalanya itu sudah duduk tenang menantikan kehadiran sang pujaan.
"Hah!"
Aini terbangun kaget dari tidur siangnya,
"Apa-apaan ini?"
"Siapa orang itu?"
"Kok asing banget, bahkan tidak menampakkan wajahnya."
Iya, pernikahan dalam mimpi itu belum sempat dilaksanakan; namun Aini terburu bangun dengan spontan.
Laki-laki yang tidak menampakkan wajahnya itu memang terasa meskipun wajahnya sulit ditebak.
"Huuuuuuh,"
Aini teringat, jikalau mimpi sedang nikah dengan seseorang yang tidak ia ketahui; bisa saja, dalam hal itu dia dinikahi oleh makhluk yang tidak nampak.
"Alhamdulillah,,, semoga ini bukan pertanda buruk, Ya Allah,"
Iya, Aini sangat bersyukur belum ada akad di dalam mimpi itu; meskipun dua orang sudah dipertemukan.
Aini kembali menarik selimut dan mulai menenggelamkan mata, berharap mimpi tadi tidak berkelanjutan di tidur part duanya.
"Ya Allah, semoga tidak mimpi sampai di sana lagi."
Lagi-lagi pikiran berulah, berkelana tentang hal nanti malam.
"Nanti kalau ketemu dia mau ngomongin apa ya? masak iya diam-diam aja?"
"Ah, nggak mungkin jugalah."
"Malam Mingguan sama mantan, astaghfirullah!"
Pikiran Aini menertawakan tuannya, yang mau-maunya diajak acara malam mingguan bareng sama mantannya.
"Nggak ingat beberapa tahun lalu apa?"
"Pikiran! Stop!"
Aini memberontak pada pikirannya yang kerap kali mengganggu jalan menuju alam bawa sadarnya.
"Aku lho mau istirahat, please deh."
Bukan tidak ingat dengan beberapa tahun lalu, akan tetapi Aini sudah tidak ingin membahas perihal masa lalu.
__ADS_1
Semua yang sudah berlalu, tak bisa ditarik kembali untuk dijalani kedua kali. Tiada dendam yang disemai, tiada benci yang dituai.
"Sudah ya, jangan kembali ke masa lalu."
Aini dengan suara lembut ingin meluluhkan pikirannya sendiri yang sulit untuk dilumpuhkan.
Pikiran mulai terdiam membisu, memang benar apa yang ia katakan. masa lalu hanyalah masa lalu, yang tidak bisa kembali meskipun diri sekuat tenaga menariknya.
Hening tercipta, dengan singkat menenggelamkan mata yang tinggal sedikit tingkat kelengketannya.
…
Mata Aini telah berhasil lahir dengan selamat, cahayanya berkilau; bukti nyenyak dalam tidur, meskipun harus bertikai dengan hati dan pikiran terlebih dahulu.
"Aaaaaaaah,,"
Telapak tangan kiri melebar hingga menutupi mulut yang menarik nyawa nyawanya yang tadinya sedikit berhamburan. Sedangkan tangan kanannya seakan menangkis bola voly dengan kesendirian.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, Aini bergegas mengambil air wudhu dan sujud pada Tuhan yang Maha Agung.
Bukan langsung siap-siap usai sujud, melainkan bermain dengan handphone kesayangannya; yang kemana-mana tidak pernah ditinggal.
"Hahaha,"
Tiba-tiba suara tertawa Aini membuat penduduk rumah kaget, tidak tahu asal muasalnya kenapa; eh tawanya pecah begitu saja.
"Kenapa sih? Perasaan hanya melihat handphone, kenapa ketawa segitu kerasnya?" Tanya seorang ibu yang tengah duduk asyik menghadap televisi.
"Nggak, Bu. Lihat video ini lho lucu banget."
Aini membalikkan layar handphone ke depan ibunya, ibunya hanya respon dengan dinginnya.
"Oh,,"
Mungkin hanya satu kata, makanya hati merasa sedikit geram.
Sudah berusaha menunjukkan hal lucu, tapi tanggapannya hanya biasa saja. Tapi itu tidak menjadi alasan pokok, Aini membalikkan layarnya lagi ke hadapan diri sendiri.
Dengan hati yang masih geram, sedikit kecewa itu Aini kembali menonton video yang membuat otaknya fresh.
"Lha kenapa tadi tanya, kalau jawabnya cuma begini."
Hati Aini mengusik, sedangkan dia lupa kalau yang mengucapkan hal tersebut adalah ibu kandungnya sendiri.
Di balik tingkat kesadarannya, Aini mencoba untuk menerjang suatu yang telah menjadi beban dalam pikirannya.
Namun sayang, mengendalikan pikiran tidak semudah mengendalikan badan.
"Pikiran, tenanglah! Jika kamu capek itu istirahat, bukan malah menjadi-jadi."
Aini tengah marah dengan pikiran yang selalu menentang perihal istirahat. Padahal istirahat juga sangat penting baginya, agar apa yang masuk bisa difilter dengan semestinya. Dengan itu juga pikiran bisa mengambil hal positif dan membuang pikiran negatif.
"Nak tenang tak?"
Pikiran pun mencoba untuk tenang dengan melihat video-video lucu dan kata-kata mutiara yang berseliweran di beranda tik tok.
__ADS_1
Pikiran tak lagi berkelana ke masa lalu, juga tidak berkelana di masa depan. Dia sudah fokus video yang dipandang oleh kedua matanya.
>>>Bersambung....