Gharib Cinta

Gharib Cinta
Sujudku Curhatku


__ADS_3

>>>Happy Reading!<<<


Punggung Rudi sudah tak nampak lagi di penglihatan Aini, akhirnya kaki melangkah ke arah dalam rumah untuk istirahat sejenak.


"Habis dari mana sama Rudi?" Tanya Salmah (Ibu Aini).


"Dari pantai, Bu."


"Oh,"


Jawaban singkat yang tidak bisa disambung kembali, kecuali dengan pembahasan yang lain.


Aini tengah lelah, sehingga memilih untuk diam.


["Dek, aku sudah sampai rumah."]


Pesan diterima dan dibaca dalam hati Aini, dari seseorang yang sudah berlalu pergi.


["Syukurlah, terima kasih untuk hari ini, Kak!"]


[Sama-sama, kalau mau keluar lagi bilang ya!"]


["Siap dong!"]


Bukan siapa-siapa, namun terasa layaknya saudara kandung. Dengan lapang Rudi akan meluangkan waktu hanya demi Aini.


Sebenarnya ada rasa yang bergejolak namun hanya dianggap lelucon belaka.


"Aku begini bukan untuk hal tak guna, yang ku harapkan adalah engkau menjadi milikku, Aini."


Rasa Aini seakan sudah sangat mati, sehingga tidak berani untuk menerima hati seseorang lagi. Padahal dia ingin sekali percaya kembali dengan sosok lelaki, namun mengembalikan kepercayaan bukanlah hal yang mudah.


"Dia sangat baik, sedangkan aku? Apakah sikapku melukainya ya?"


Selama mereka di pantai, Rudi selalu menyinggung perasaannya kepada Aini; akan tetapi Aini selalu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


Aini memulai untuk monolog,


"Dia beneran nggak sih bilang seperti itu?"


"Kalau memang benar, kenapa seolah-olah ada candaan di dalamnya?"


"Apa mungkin hanya becanda?"


"Tapi buat apa becanda soal perasaan?"


"Ah, nggak tahulah."



"Allahu Akbar, Allahu Akbar!"


Gema adzan berkumandang, hari mulai petang, burung-burung mulai kembali ke sanggar, dan mentari mulai tenggelam.


Aini menghentikan monolognya dan menegakkan tubuh sampai membawanya ke dalam kamar untuk mengambil peralatan mandi.


Sebelum bertemu Tuhan, sudah sepatutnya untuk membersikan diri.

__ADS_1


Dalam sujud beban hidup serasa terlepas, meskipun akan menempel kembali.


"Ya Allah, engkau yang menjalankan hidup; maka aku yakin bahwa semua yang terlewati ini adalah hal baik."


Tidak pernah tertinggal untuk mendoakan keluarga; terkhusus orang tua, para guru, dan lainnya.


"Ya Allah, aku meminta atas perintahmu! Sebenarnya aku malu untuk meminta, sebab kelalaianku terhadap perintah dan laranganmu begitu sering. Namun berdoa dan meminta kepadamu telah engkau wajibkan!"


Aini merasa sadar diri, bahwa tak jarang dia meninggalkan perintah Tuhannya. Sehingga dia sangat malu untuk meminta, namun siapa lagi yang patut dimintai kecuali yang menciptakan Langit dan Bumi?


"Ya Allah, Ya Tuhanku! Doaku memang tidak memakai Bahasa Arab seperti halnya orang-orang alim. Aku mengetahui bahwa engkau tidak akan menolak doa-doa dari hambamu!"


Aini mulai merayu Tuhan,


"Ya Allah, aku tidak meminta apa-apa. Kecuali; berikanlah umur berkah kepada orang tuaku, pada guru-guruku, pada orang yang telah berbaik hati padaku. Lancarkan Rizki mereka, juga taruhlah berkah di dalamnya."


"Ya Allah, balaskan kebaikan orang yang telah berbuat kepadaku dan jangan engkau benci orang yang telah membenciku; tumbuhkan rasa kasih pada mereka agar tak lagi membenciku."


"Ya Allah,, Husnul khatimah ..."


Tanpa sadar mutiara aksa mulai bercucuran,


Dalam hati Aini mengucapkan, "Apakah aku pantas meminta hal seperti ini? Sedangkan aku?"


"Ya Allah,, maafkan aku! Aku telah menjadi hamba yang belum sepenuhnya hamba. Aku sering lalai, sedangkan engkau telah menutupi segenap keburukanku. Bahkan manusia memandangku sebagai orang baik dan sholehah."


Tuhan begitu rapi dalam menutup aib hamba-Nya, sedangkan tak jarang hamba-Nya dengan bangga mengumbar kemaksiatannya.


Siapa yang tak malu? Ketika seorang hamba yang lalai saja masih dikasih lebih baik daripada harapan, apalagi hamba yang Iman, Islam, Ikhsan telah mendarah daging.


Aini menutup doa dengan salawat ummi ala Aini dan Surat Al Fatihah ,"Allahumma sholli’alaa sayyidinaa muhammadin Nabil Ummy wa a’laa alihi wa shohbihi wasallim."


Suara Salamah menghampiri telinga Aini,


"Iya, Bu!"


Aini lekas melepaskan mukenah dan menghampiri Salamah.


(Lari kecil menuju sang ibu)


"Ada apa, Bu?"


"Nggak, nggak ada apa-apa. Cuma kok nggak kelihatan aja."


"Ya Allah, Bu ... Aku kira ada apa gitu!"


"Ini usai sholat," Lanjutnya.


"Oh, tapi kenapa matanya agak merah?"


"Hah? Iya ta, Bu?"


Aini mengusap-usap matanya dengan terburu-buru, karena sedari tadi dia menangis ketika menghadap dengan Tuhannya. Bukan karena tersiksa atas takdir yang ada, melainkan bersyukur banget masih punya Tuhan Allah SWT.


"Iya, itu merah!"


Jari telunjuk Salamah mengacung ke arah mata Aini.

__ADS_1


"Eeeeeem,,, mungkin kelilipan tadi."


"Beneran?"


Aroma kebohongan Aini terpancar begitu jelas di mata Salamah. Namun tak memungkinkan juga Salamah memaksa Aini untuk menceritakannya.


"Iya, Bu. Beneran kok!"


Keduanya pun duduk di ruang depan yang sudah tersedia tontonan televisi dan siap menikmati.


"Oooh Simen!"


Suara laki-laki terdengar jelas,


Iya, seorang bapak yang tiba-tiba datang dari arah dalam rumah.


Terlihat segar dan berair, bukti bahwa beliau usai mandi.


"Peeeeh,, Segernya!" Sindir Aini


"Iya tahu, seger banget walau sedikit dingin!"


Kedekatan seorang anak ke-3 dari 4 bersaudara ini dengan sosok pahlawan keluarga (bapak) sangat begitu dekat.


Jikalau Aini tidak ada yang teman untuk menuju ke suatu tempat, bapak Aini selalu ready mengantarkannya sampai tempat tujuan.


Seorang bapak ini pun bisa memecahkan suasana hening yang ada dalam rumah. Dengan berjuta candaan, pencarian topik yang mengandung lawak, dan masih banyak lagi.


Orang terganteng di rumah, karena yang lain cewek semua.


Di tengah-tengah kenikmatan dalam bersantai ria; bapak memberikan sebuah pesan,


"Nduk! Rezeki bapak sama ibu sekarang lagi agak susah, tolong kalau pagi tuh bangun; bangun saja kita sudah seneng biar kita semangat juga nyari rezekinya. Apalagi kalau kamu rajin sholat,"


Aini terdiam kaku, dia merasa telah menjadi beban dalam keluarga. Dia teringat kata-kata yang pernah terucap dari mulut seorang bapak kala itu.


"Ketika Mbak kamu mondok, Rezeki itu lancar-lancar saja. Ketika kamu mondok juga lumayan, meskipun kalian minta sambang disaat kita lagi krisis itu pas harinya juga ada aja jalannya."


Semenjak Aini kecil, kata yang terekam dalam otaknya adalah nggak ada uang.


Ketika ingin jajan harus merengek baru dikasih, usia dini sudah berusaha kuat untuk mencari uang jajan, harus menutupi kekurangan finansial agar tidak diejek teman.


Sebab masa lampau, waktu duduk di bangku MTs (SMP) dia sudah berhenti dari pekerjaan recehnya. Sehingga uang jajan terlihat kurang namun dibuat merasa cukup.


Zaman 2015 an dapat uang saku sekolah formal dengan nilai 4 ribu rupiah; yang harus dia bagi dengan baik. Iuran kas kelas seribu, iuran OSIS seribu, dan Alhamdulillahnya bisa beli soto harga seribu, nambah gorengan 1 dan minum. Sudah habis jatahnya.


Masa itu ada 2 kali istirahat, jam 9 dan usai dhuhur. Biasanya dia lebih mengutamakan makan di jam 9, karena abis dhuhur akan lekas pulang; hingga bisa makan di rumah.


Ketika ada teman yang mengajak Aini untuk beli jajan di istirahat ke-2, dia hanya membalas,"Nggak ah, lagi malas!"


Padahal tidak ada lagi yang dibuat untuk beli jajan, sama halnya di Madrasah Diniyah. Uang yang dikasih orang tua hanya sebesar seribu rupiah, sedangkan teman-temannya kala itu sudah memegang uang 5 ribu, 10 ribu.


Aini lebih memilih pulang daripada meneteskan liur.


Tapi jika ada teman yang bertanya perihal berapa uang sakunya? Aini menyebut angka yang lebih besar daripada uang saku mereka.


"Ya Allah, bismillah! Dulu aku bisa kok, sekarang aku yakin pasti bisa lebih baik lagi."

__ADS_1


>>>Bersambung ....


__ADS_2