
>>>Happy Reading!<<<
*Mohon maaf lama telat update*
"Aku tuh mau ngomong, sebenarnya...!"
Arif menghentikan sejenak ucapannya.
"Apa, Rif?"
Dengan sedikit canda Aini bertanya, agar Arif juga tidak merasa sangat canggung.
"Sebenarnya aku suka sama kamu!"
"Hah? Apa?"
Aini berusaha untuk memastikan apa yang telah keluar dari mulut Arif.
"Iya, Ai. Mau nggak jadi pacar aku?"
"Gimana ya, Rif!"
"Apakah belum mau menjawab sekarang?"
"Ehm, iya.. Aku belum bisa menjawab sekarang. Bisa kasih aku waktu?"
"Iya, nggak papa kok."
Aini pun terdiam, apa yang menjadi filingnya kini telah terungkap begitu nyata.
Motor melaju dengan sangat hati-hati, hingga rumah Aini sudah bisa dilihat oleh mata meskipun dalam keadaan remang-remang.
Hati Aini bersyukur,"Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga."
Aini akan segera lepas dari jok motornya Arif dengan rasa lega, karena suasana di motor tidak lagi nyaman malah tertekan.
Kaki Aini mulai peka, setiba motor berhenti tepat di depan rumah yang sudah tertutup rapat pintunya. Kemungkinan besar penghuni rumah sudah terlelap dalam tidur malam.
..."Terima kasih ya, Rif." Tak lupa dan tak berat Aini mengucapkan itu. Sebagai bentuk penghargaan sudah diantar sampai depan rumah dengan selamat, meskipun berakhir sedikit membuat Aini ketar-ketir....
"Iya, sama-sama,"
"Hati-hati!"
"Oke, siap."
Aini mengiringi kepergian Arif dengan rasa terima kasih disertai senyuman manisnya sampai Arif tak lagi terlihat oleh mata pandangnya.
Kebersamaan mereka hari ini telah pudar, sedangkan hati Aini masih berdebar-debar.
Berusaha tenang dalam keheningan malam. Pintu yang masih tertutup rapat tidak mungkin dengan sendirinya terbuka menyambut kedatangan tuan rumah.
"Tok tok tok ...."
Jari jemari mengepal dan memukul-mukul pintu kayu rumah Aini.
Satu kali ketuk dengan 3 nada belum kunjung terbuka.
"Tok tok tok ...."
"Assalamualaikum..."
Pintu juga belum dibukakan, bulu kuduk mulai berdiri. Rasa merinding telah mengepung hati,,
"Ah, sial.. tadi udah bermula dari hujan, ditambah rasa nggak enak sama Arif, ditambah lagi lama dibukain pintu. Mana merinding banget lagi,"
Tangan Aini masih dalam keadaan mengepal, ingin sekali mendobrak pintu untuk bisa segera masuk. Tapi sayang pintunya kalau rusak. Hehehe...
__ADS_1
"Tok tok tok ..."
"Assalamualaikum,, Mak ... Bapak ... Bukain pintu!"
Tiba-tiba ada tanda-tanda orang bangun dari tidur,
"Eh, Iya!" teriakan seorang lelaki yaitu Ari.
Pintu dibuka dengan mata yang belum sempurna dalam melihat, dengan jiwa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Kok baru pulang?"
Tanya Ari pada sang buah hati, yang memang pulang terlalu larut malam.
"Tadi soalnya hujan, Pak. Jadi neduh dulu, lagian nggak bawa jas hujan kok."
Pada dasarnya Aini memang jarang banget berbohong apa yang dia lakukan dan kejadian apa yang ada di luar, bahkan bisa dikatakan tidak pernah.
Sehingga orang tua Aini percaya percaya aja, karena sudah saling menyatu. Anak memegang kepercayaan, orang tua mempercayakan."
Dalam hal keluar rumah, Aini jarang sekali dilarang untuk pergi-pergi oleh orang tuanya. Meskipun dibiarkan bebas, orang tua selalu menjadi pengawas.
Akhirnya Aini langsung menuju ke kamar untuk istirahat, karena waktu terus berjalan dan dia merasa kelelahan.
"Hah,, Akhirnya..."
Aini merebahkan badan sambil menaruh beban. Namun masih ada saja yang melekat tak mau lepas.
Hati Aini bergulat dengan pikiran,
"Aku harus jawab keg gimana ya sama Arif?"
"Ah, lagian dia juga temen deketnya Diki."
"Nanti jatuhnya; mantanku pacar sahabatku dong!"
"Iiih, serba salah nantinya. Dikira nanti aku pas sama Diki malah ngincar Arif lagi!"
Tiba-tiba handphone bergetar, ada pesan WhatsApp masuk.
["Aku sudah sampai rumah, Ai!"]
["Oh iya, Rif. Terima kasih ya!"]
["Hehehe, sama-sama."]
["Aku tunggu jawaban darimu ya, Ai."]
["Iya, santai. Kasih aku waktu buat jawab itu."]
["Ya udah, istirahat sana! Udah malam banget ini."]
["Oke, siap!"]
Aini istirahat dengan semestinya, namun tengah malam dia terbangun entah kenapa. Pikiran tertuju pada kejadian tadi,
"Ah, bagaimana ya?"
"Si Arif memberikan 3 hari buat mencapai kepastian."
"Aku harus berkata apa?"
"Tapi dia sudah baik sama aku, sudah rela hujan-hujanan demi momen bersamaku."
"Lagian dia juga sahabatnya Diki,"
"Hmmm, serba salah!"
__ADS_1
Aini pun kembali berusaha untuk memejamkan mata, akhirnya lelap dalam tidurnya.
...****************...
"Kukuruyuuuuuuuk,,"
"Haaaaaah,,,"
Aini terbangun dengan sedikit lega, tanpa beban sedikit pun. Dia langsung bergegas mengambil air minum untuk mengawali paginya, sampai sujud pada Tuhan dia tak lupa.
Aktifitas berjalan seperti biasanya, hari Minggu memang hari libur; tapi dalam pekerjaan Aini tidak pernah ada kata libur kecuali hari raya idul fitri dan hari raya idul adha, juga ketika bosnya mau melibur hingga harus meminta izin terlebih dahulu untuk libur.
Aini remaja yang rajin, dia tidak pernah izin kecuali ada kegiatan yang benar-benar mau ia ikuti dan orang tua merestui.
Seiring berjalannya waktu, Aini terus saja memikirkan jawaban yang akan dia berikan kepada Arif. Dia memang sudah lama berpisah hubungan dengan Diki, namun apa kata Diki jika tahu sahabatnya menjalin hubungan dengan mantannya?
["Aini ..."]
Ada pesan masuk dari Rudi,
["Iya, Kak!"]
["Sibuk banget ya?"]
["Hehehe, lumayan ini"]
["Kerja bisa main handphone mulu, nggak takut dimarahin bos?" π]
["Hehehe,, nggak kok, aman!"]
Hati Aini ikut tersenyum meskipun kata-kata terucap lewat tulisan saja.
["Oh iya,,, ya udah lanjut kerja dulu ya!"]
["Iya, Kak!"]
["Semangat!"]
["Terima kasih βΊοΈ"]
Rudi tak lagi membalas pesan ucapan terima kasih dari Aini, dia bukan siapa-siapa tapi dalam benak Aini; Rudi seperti saudaranya sendiri.
Aini kembali menjalankan tugasnya, dalam diam;
"Apa yang harus aku sampaikan ke Arif ya?"
"Apa aku harus terima dia"?
"Terima aja kali ya? Dia kan baik."
Mungkin Aini akan siap menerima Arif, meskipun belum ada rasa cinta.
Notifikasi handphone kembali berbunyi,
["Ai, nanti malam berangkat bareng ayok!"]
pesan dari Arif yang mengajak Aini untuk berangkat ngaji bareng, dan menurut Aini itu tidak ada salahnya.
["Boleh!"]
["Oke, nanti malam aku bakal jemput kamu?"]
Aini hanya mengiyakan, dan dia berencana untuk mengatakan apa yang membuatnya bimbang dari kemarin. Malam ini pula Aini akan memberi kepastian pada Arif, tidak perlu menunggu 3 hari lagi.
"Hmmm, ya udah deh. Tinggal nanti aja bagaimana baiknya." Batin Aini kembali berbisik.
Namun semua keputusan tetap ada pada Aini, Arif tidak akan memaksa karena ini menyangkut perasaan.
__ADS_1
Aini kembali bekerja dengan semestinya; melayani pelanggan dengan ramah, mengajak berbicara ketika sedang motong kain, semua itu bukan semata-mata untuk dipuji. Melainkan dari hati yang tulus, karena Aini belum bisa untuk bersikap cuek dan bodoamat.
>>>Bersambung...