Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju pulang, apa yang tadi dibicarakan Bapak Haris, membuat pikiran Raka seakaan kacau.


Tawaran yang tak terduga, seakan memberikan ruang pilu untuk Alena. 


Gemercik hujan dan angin membuat tubuh pria itu kedinginan hanya berselimut jaket tipis yang ia kenakan.


Raka dengan perasaan yang tak karuan, kini dihadapkan dengan pertanyaan yang mengharuskan ia menjawab antara ia atau tidak. Jika tidak apa Pak Haris akan baik baik saja? Itulah yang ada dipikiran Raka. 


Motor butut pun berhenti di depan rumah, yang selalu  tersimpan kebahagian di dalamnya. Dimana Raka turun dari motor bututnya itu. 


"Apa yang aku pikirkan, harusnya aku menolak dengan tegas tadi. Agar semua tidak menjadi masalah, tapi karena ketakutanku melihat Pak Haris, membuat aku takut bapak Lala malah terbaring sakit karena aku. Ya Allah.. Apa yang harus aku lakukan." Bisik hati Raka


"Pah,"  Panggil Alena membuyarkan lamunan Raka, dimana ia menghampiri sang  suami yang terlihat kebasahan karena air  hujan.


Menyodorkan payung dan berkata. "Kenapa melamun? Ayo masuk ". ucap Alena menarik suaminya dari rintikan air  hujan yang terus mengalir. 


"Astagfirullah, mama. "


"Mm, kan, papah melamun terus sih. " Raka sudah ada di depan pintu saja, membuat Alena menggelengkan kepala. 


" Assalamualaikum, mama. " Raka menatap ke arah Alena dengan tatapan berbeda. Ada kesedihan yang dirasakan Alena dari kedua mata suaminya. 


"Waalaikum salam!" Kecupan mendarat di punggung tangan suaminya. 


"Cepet buka baju, langsung mandi, takut nanti masuk angin." ucap Alena menyodorkan handuk kepada suaminya.


"Iya mamaku sayang, terimakasih," kecupan bibir pria itu mendarat di pipi sang istri.


"Iss, masih ajah bisa gombal." Pipi Alena terlihat begitu memerah. Membuat Raka mencubitnya karena rasa gemas. 


Saat Raka mandi, dengan sigapnya Alena bergegas menyiapkan makanan. "Sudah beres. "


"Makasih istriku sayang," tiba tiba Raka datang memeluk Alena  dari belakang. Ia mencium pipi istrinya itu dengan mesra. 


"Dih, papa. Bikin kaget mama saja. Ayo makan, " Alena menyuruh Raka untuk segera duduk dan menikmati masakannya. 


"Oh ya, gimana keadan bapaknya si Lala itu? baik-baik saja kan. Si Lala nggak buat yang aneh-anehkan sama kamu, pah?" tanya Alena sembari menyodorkan lauk pauk pada piring suaminya.


"Ya, Pak Haris baik-baik saja, kata dokter pak haris hanya syok, dan tidak boleh terlalu banyak pikiran!" jawab Raka penuh keraguan, ia berusaha bersikap santai, sambil sesekali menyuapkan makannya. 


"Mereka nggak ngomong macam- macam sama kamu kan?" tanya Alena penuh penekanan, ia merasa jika suaminya menyembunyikan sesuatu. 

__ADS_1


Seketika Raka tersedak, dikala mendengar pertanyaan istrinya.


Alena bangkit dari tempat duduk menyodorkan air minum pada suaminya.


"Pelan-pelan makannya, pah" ucap Alena mengelus-ngelus pundak suaminya.


Oak...Oak..


Terdengar tangisan putra dari dalam kamar, membuat wanita bermata bulat itu dengan cepat menghampiri anaknya dan langsung menggendongnya saat itu juga. 


Sedangkan Raka menyandarkan tubuh pada kursi, ia bergumam dalam hati dengan raut wajah bimbang. "Maafkan papah, mah, yang tak jujur akan perihal perkataan Pak Haris kepada papah. "


Raka tak tega melihat istrinya mengetahui hal yang dialami di rumah sakit.


Raka berusaha tak membuat Alena curiga, ia kini bangkit dari tempat duduk dan menghampiri istrinya yang ada di dalam kamar. 


Raka perlahan menggendong tubuh anaknya, terlihat jika bayi mungil itu tersenyum. 


"Mama, makan aja dulu, biar papah yang urus dulu Putra. "


"Emangnya papah udah beres makannya?"


Alena menganggukan kepala, ia berlalu pergi meninggalkan keduanya, duduk dan menikmati makanan untuk bergantian dengan sang suami. 


******


Tak terasa matahari pun menyinari depan halaman rumah, waktunya wanita anak satu ini membereskan rumah, tak lupa dengan mencuci pakaian suaminya yang menumpuk bekas semalam kehujanan.


ketika Alena hendak menggosok jaket suaminya,  terlihat ada benjolan di saku kanan jaket suaminya.


Alena langsung mengambil  barang itu dari jaket Raka. 


Betapa terkejutnya Alena, mendapatkan kotak  cincin, " Ini kan kotak cincin."


Rasa penasaran menyelimuti hati Alena, tanpa bertanya pada sang suami, iya kini membuka  kotak itu perlahan, dan benar saja isinya adalah cincin permata yang sangat indah.


" Ini cincin siapa ya?"


Karna makin penasaran wanita itu mengodok-ngodok saku jaket suaminya lagi, ada satu surat yang isinya sudah tak terbaca.


karena memang semalam Alena merendam jaket suaminya.

__ADS_1


Rasa penasaran menggebu gebu di hati Alena, pada akhirnya ia bergegas menghampiri suaminya, menanyakan cincin yang ia temukan pada jaket Raka. 


"Papah,  ini cincin buat siapa,"  Tanya Alena menyodorkan tangan yang ia kenakan cincin di jari manisnya.


Raka kini memegang tangan istrinya, ia mengerutkan dahi dan bertanya. " Cincin?" Melamun mengingat cincin itu.


"Pah, mama tanya loh, dari mana? Buat siapa?"


"Kapan aku beli cincin pertama seperti ini, perasaan tak membeli cincin. Duit Pun nggak punya." Bisik Raka dalam hati.


"Loh kok bengong lagi, ini buat mamah-kan?" Tanya  Alena, dengan raut wajah menahan amarah. 


"Eh, oh i-ya, Buat mama!" Raka pun asal menjawab sambil menggaruk kepala belakangnya.


Masih penasaran dengan cincin yang dipakai istrinya, "Mamah, nemu dimana cincin itu?" Tanya Raka sedikit ragu. Ia takut Alena marah dengan pertanyaannya. 


"Dari kantong jaket papah," Jawab Alena diiringi senyum bahagia.


" Di kantong Jaket, kok bisa. " Gumam hati Raka. 


"Ya udah, mama mau cuci baji lagi."Peluk cium dari Alena mendarat  pada bibir suaminya.


"Makasih papa sayang."


Mendapatkan ciuman hangat dari sang istri, membuat Raka tersenyum, dan mengabaikan masalah cincin yang ditemukan istrinya itu, ia bergumam kembali dalam hati," mungkin itu rezeki nomplok untuk istriku?"


Setelah menyeruput kopi dengan habis, Raka bergegas  untuk berangkat bekerja dan tak lupa berpamitan. 


"Mah, papah berangkat kerja dulu. "


Alena berlari, sambil menenteng plastik. " Ini bekal. "


"Makasih istriku sayang. "


Alena menganggukkan kepala, melihat kepergian suaminya. 


Alena menutup kembali pintu rumah, namun baru saja melangkah ke dapur. 


Sesosok wanita mengetuk pintu.


Siapakah itu?

__ADS_1


__ADS_2