
Raka mendekat dan memegang kedua bahu sang istri. " Mah. "
"Ya sudah, besok aku ikut ke rumah sakit, melihat Bapak Haris dirawat." ucap Alena sembari mengepalkan kedua tangannya.
"liat ajah, ku beri pelajaran, " Gumam hati Alena.
Raka membalikkan tubuh sang istri," iya besok, papa akan ajak mama melihat Pak Haris di rawat.
Kedua tangan Raka mulai menyentuh pipi sang istri, dimana bibir Alena terlihat cemberut."Apa papah menyukai gadis itu?" tanya Alena dengan raut wajah datar.
"Jelas tidaklah mah, papah hanya menganggap dia sebagai teman, tak ada rasa sedikitpun pada si Lala itu!" jawab Raka menatap raut wajah sang istri, mencoba membuat istrinya itu tersenyum lagi.
"Oh, tapi kenapa papah membela gadis itu tadi, " ucap Alena, penasaran dengan jawaban dari suaminya, karena hatinya masih tak terima dengan Raka yang lebih respek pada Lala dari pada istrinya.
"Papah tadi hilang kontrol, mamah." jawab Raka ia sesekali menelan ludah. Berharap sang istri dapat mengerti.
"Alah, ngomong ajah suka, napa, gak usah muna," ucap Alena sinis.
Raka mencoba meyakini istrinya dengan memeluk erat tubuh dan berkata
"Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hati papah. "
Alena tak terpancing akan gombalan dan rayuan dari suaminya, ia kini berkata, "Baik, kalau papa tidak menyukai Lala, mama akan percaya. Dengan syarat. Besok papah harus tegas dan menolak keinginan Pak Haris. "
"Iya mah, papah akan lakukan perkataan mama."
Waktu mulai berlalu, dimana hari ini Alena dan juga Raka menemui Pak Haris.
"Papah harus ingat janji papah?"
Raka menganggukkan kepala dan menjawab!" Iya mah. "
Sesampainya di rumah sakit.
"Nak Raka datang Pak," Ucap Bu Lasmi membanggunkan suaminya yang tengah tertidur.
Terlihat, di ruangan itu nampak, ibu dan anak. Sedang menjaga Pak Haris.
"Assalamualaikum, "ucap salam dari Raka yang masuk lebih dulu ke dalam ruangan.
"Waalaikumsalam. Nak Raka. Kamu akhirnya datang juga. " balas lelaki tua itu senang dengan kedatangan Raka.
"Bagaimana keadaan bapak sekarang?" Tanya Alena memberi senyuman lekas dibibirnya. Sang istri ternyata datang menyusul. Membuat raut wajah Pak Haris Pun berubah, lelaki tua itu hanya menganggukkan kepala, tanpa menoleh sedikitpun atau membalas ucapan Alena.
__ADS_1
"Raka, apa kamu sudah memutuskan apa yang kemarin bapak tawarkan?" Tanya Lelaki tua dengan tegas. Tanpa mengharagai perasaan Alena yang menjadi istri Raka.
"Hmm.... gimana, ya pak!" balas Raka terlihat ragu.
"Maksud bapak, apa ya?" Timpal Alena, kesal melihat suaminya yang lembek dan tak tegas, membuat ia terpaksa bersuara untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Kini hening menyelimuti ruangan itu.
"Kenapa kalian diam?" Tanya Alena, berusaha membuat lelaki tua itu bersuara, Alena mulai menatap tajam pada Pak Haris. "Jawab saja,"
"Eh Mbak kalau ngomong sama orang tua tuh yang sopan, jangan menimpal seperti itu. Nggak tahu malu" Ucap gadis yang berdiri di samping lelaki tua itu.
"Bapak sama anak sama ajah, gak tahu malu." Jawab Alena menatap lekat gadis itu.
"Nak sudah, mungkin ini kesalahpahaman saja, lebih baik kita bicarakan, dengan kepala dingin agar semua baik-baik saja." Timpal ibu tua yang menjadi ibu kandung Lala menenangkan semuanya.
"Raka bapak bicara kepadamu, bukan dengan istrimu, cepat jawab," tegas bapak tua itu dengan lantangnya dihadapan Raka.
Alena memegang tangan suaminya dan berkata," Jawab, pah. "
Menganggukkan kepala "Raka putuskan, Raka tak mau menikahi anak bapak, bagaimanapun itu, karena Raka sudah mempunyai istri." Ucap tegas laki-laki disamping Alena.
"Bapak dengar suami saya bicara, apa." Timpal Alena mendukung suaminya.
"Bapak, Lala mau Kakak Raka," Rengek Lala meminta pada sang ayah seperti anak kecil.
"Dan bapak, tak usahlah bapak menjadikan alasan sakit bapak untuk membahagiakan anak bapak, pikiran seorang ayah yang ingin anaknya bahagia tapi tak mengertikan perasaan orang lain. Sadarkah bapak." ucap kembali Alena menasehati lelaki tua itu.
Suasana rumah sakit kembali hening, tak ada orang di sana yang berani membantah ucapan Alena.
Pipi Bu Lasmi dan Pak Haris memerah, menahan rasa malu.
"Maafkan atas kelancangan saya berbicara seperti ini, sebaiknya anda didik lagi anak anda, sebelum anda mengutamakan kebahagian, yang malah membuat orang lain hancur."
Alena menarik suaminya, untuk segera pergi dari ruangan Pak Haris.
Setelah kepergian Alena dan juga Raka.
Di ruangan Pak Haris yang penuh ketegangan, "Bapak, kenapa bapak tak melawan?" Bentak Lala kepada laki-laki tua. yang menjadi ayah kandungnya.
"Sudah Lala kasihan bapakmu, tak harus kemauanmu semua dituruti. Apalagi kemauanmu itu sudah membuat bapakmu malu." Ucap wanita tua itu menenangkan anaknya.
"Kalian ini, membuatku geram saja, kalian orang tua yang payah." Teriak gadis itu sambil menunjuk-nunjuk ibu bapanya.
__ADS_1
Pak Haris dan Bu Lasmi hanya bisa menangis ketika anaknya memarahi mereka berdua.
Mereka bingung, kenapa anaknya berubah sedrastis ini, anak yang lembut penuh dengan tawa canda, berubah beringas.
Sesampainya di rumah.
"Mama bagus baget Dramanya," ucap Raka melemparkan senyuman kepada istrinya.
"Itu bukan drama tapi unek-unek mama, cuman mama heran punya laki ko lemah banget, ngomonya mau tegas tapi nyatanya lembek.." Sindir Alena pada suaminya.
"Maksud Mamah?"
"Sudahlah, mamah cape, ngomong ajah tuh sama burung diatas yang lagi berkicau."
Sesampainya kedalam rumah, Alena merebahkan tubuhnya ke kursi.
Tring... Tring.. Bunyi ponsel miliknya berbunyi.
Nomor yang tak dikenal mengirim pesan.
( Ahhahahaha, jangan harap aku akan berhenti, aku akan memiliki suami kamu seutuhnya. Tunggu caraku.)
Kesal dengan pesan yang tiba tiba saja datang, mengganggu jam istirahatku.
(Ingat ya ini, gadis tak laku, yang sukanya sama suami orang. Milikku tetap milikku takan aku bagi)
Pesan pun terkirim.
Menggerutu kesal dalam hati, mengacak rambut dengan kasar, "Akhhhh kenapa seruyam ini jadinya, ternyata dia lebih jahat dari pada yang aku kira. aku penasaran kenapa bapaknya setakluk itu kepada anaknya."
"Mah, nih, papah buatkan minuman segar untuk mama, jangan lupa diminum." Ucap Raka menyodorkan jus jeruk pada istrinya.
Alena menatap ke arah wajah suaminya, terlihat ia seperti ingin memukul wajah tampan milik suaminya itu.
"Ayo di minum. "
Kekesalan tak dapat di bendung lagi, Alena memukul kedua pipi suaminya.
"Ahk, mama kenapa tampar papah. "
"Pengen aja. "
Alena mengambil jus itu dari tangan Raka, meminumnya, dengan berkata, " segar. "
__ADS_1
Menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri, " Mama, mau kemana?"
Alena terlihat kesal, ia tak menjawab panggilan suaminya.