Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 14


__ADS_3

Alena berusaha bangkit dari atas lantai, ia mulai berjalan untuk menutup pintu depan rumah, berusaha tetap tenang dan tak memikirkan hal yang malah membuat pikirannya sedih lagi. 


Godaan dari sahabat Raka begitu besar, membuat  Alena lemah dan tak berdaya. 


Sebagai seorang ibu, Alena harus mempertahankan hal yang menjadi miliknya dan membuat hal yang mengganggu kehidupan dan kebahagiaan. 


"Aku menyesal telah mengenal kamu Lala, wanita yang pernah punya kenangan manis bersama suamiku, aku kira hanya teman biasa. Kenapa dulu aku mendengarkan keluh kesahmu. BODOH, harusnya aku lebih pilih pilih mencari seorang teman. "


Berjalan gontai, Alena kini menyandarkan tubuhnya di atas sofa. Ia menggerutu kesal lagi pada dirinya sendiri. 


"Aku percaya dengan perkataanmu, pikiranku tertuju bahwa kamu dapat aku percaya. Namun aku salah menilai kamu. Apa kah aku jahat kepadamu Lala, sampai kamu membuat drama semacam ini  menjadi kekacauan yang tak henti untuk keluargaku, sudahkah puas kamu mencoba menggoda suamiku terus menerus, dengan cara menyuruh kedua orang tuamu untuk menjadikan belas kasih dariku. ".


Alena kini menatap ke arah samping kiri tempat duduknya, ia melihat meja yang tersusun di atasnya foto dirinya dan Raka.


" Dan kamu Mas Raka, kenapa kamu bisa berteman dengan gadis itu, sampai dia mau merebutmu dariku. "


"Assalamualaikum mama?"


"Mama. Sayang."


Alena berusaha bangkit dari sofa, ia membereskan semua gelas dan cemilan diatas meja ruang tamu. Pergi ke dapur, menghindari pertanyaan suaminya, ketika ia tak bisa menahan air mata yang terus mengalir keluar terus menerus. 


Ceklek. 


Raka membuka pintu rumah, ia tersenyum lebar sembari mencari keberadaan istrinya yang tak terlihat. 


"Mama sayang. Kemana ya?"


Raka mulai mengecek dapur, ia berharap jika Alena ada disana. 


 Dan benar saja."Oh disini rupanya kamu, sayang." ucap Raka, secara tiba tiba memeluk istrinya dari arah belakang.


Alena berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan, ia tak ingin jika Raka tahu dirinya sedang menangis. 


"papah sudah pulang," balas Alena membalikkan badan ke arah suaminya, ia kini memeluk balik erat suaminya dengan isak tangis. Yang ternyata tak bisa ia tahan. 

__ADS_1


"Mama kenapa? loh kok nangis, papa punya salah sama mama kah?" tanya Raka dengan penuh rasa kuatir, tangan kekar Raka kini mengelus rambut belakang istrinya.


Demi menyakinkan diri, agar tidak sakit hati dan merasa ragu. 


"Papah sebenarnya cinta tidak pada mama?"  Deraian air mata Alena mengalir begitu deras. 


"Pertanyaan yang tak masuk akal, ya pastinya cintalah, sampai sekarangpun Papah masih setia bersama mama." canda Raka sedikit tertawa kecil. Lelaki berkulit putih itu melanjutkan perkataannya. "Jiwa raga, papah tetap milik mama!" 


"Gombal," jawab Alena mencubit pinggang suaminya dengan sengaja. 


"Ih geli, mama" Tawa kecil  Alena layangkan dihadapan suaminya, membuat tangisan Alena seketika berhenti. 


Raka perlahan melepaskan pelukannya, ia mengusap pelan perut dan berkata. " Mama lagi ngapain sekarang. "


"Kebetulan mama lagi cuci piring, papa lapar ya. "


Menganggukkan kepala dan berkata, " Lapar banget. "


" Ya sudah mama sediakan dulu. "


*******


Namun pikiran Alena  masih tertuju dengan perkataan orang tua Lala, perkataan Pak Haris membuat hidup Alena tak menentu dan kata semangat itu terkadang hilang dengan sendirinya. 


"Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus menceritakan semua ini pada suamiku, aku bingung. " Alena terus melamun, memikirkan semua yang ia rasa sudah membuat hidupnya rumit. 


Raka melihat istrinya salah memakaikan baju Putra, membuat Raka masuk dan berkata. 


"Mama lagi mikir apa? Dari tadi papa liatin melamun terus, sampai baju yang dipakai Putra terbalik. "


"Astagfirullahaladzim." Alena mulai membenarkan lagi baju anaknya. 


"Mama. kenapa?" Raka mengusap pelan tangan istrinya. 


"Mama  lagi gak enak badan aja, pah!" balas Alena tak ingin bertele tele. 

__ADS_1


"Masuk angin mungkin, biar papah kerokin punggungnya gimana?" tanya Raka menawarkan bantuan untuk istrinya. 


"Nggak usah pah, ditidurin juga nanti mendingan kok." Menolak bantuan dari sang suami, membuat Raka semakin curiga dan penasaran. 


Selesai memakaikan baju Putra, Alena bangkit dari ranjang tempat tidur, dimana Raka menahan tangan Alena. 


"Jujurlah Mamah, pasti ada yang mamah sembunyikan dari papah?" tanya Raka, dengan harapan sang istri mengatakan semua yang ditutup tutupi. 


"Nggak pah!" Alena mencoba menutupi semuanya. 


"Bohong, coba senyum." Rayu Raka. Memegang kedua pipi istrinya. 


"Nih senyum,"  Alena memperlihatkan senyum terpaksanya, padahal hatinya sedang terluka.


Raka terus saja menatap lekat pada raut wajah istrinya.


Sampai dimana Alena  tak tahan, menyembunyikan semuanya, ia kini menangis dengan sejadi-jadinya.


"Papah, Akankah tetap bersama mamah, walaupun mamah menyuruh papah menikah lagi," ucap Alena membuat Raka terkejut. 


"Mama, ngomong apa ? Papah nggak bakal nikah lagi, walaupun mamah yang nyuruh, titik." Jawab Raka tegas sedikit terdengar membentak.


Raka kini memeluk tubuh Alena, membuat isak tangis sang istri malah semakin keras.


Raka lelaki yang memang  terlihat tidak tegas, namun dia bertanggung jawab. 


"Kenapa mama berbicara seperti itu? Apa Lala datang lagi?" tanya Raka dengan raut wajah serius.


"Tidak, ta-pi …."


"Tapi apa, mama?"


"Ibu dan bapak Lala datang kesini. Mereka memohon-mohon kepada mama, agar Papa mau menikahi anaknya, Lala. "


"Apa  mau mereka sebenarnya, jelas-jelas sudah kutolak mentah-mentah, masih saja .... "

__ADS_1


Raka  terlihat sangat marah, baru kali ini     Alena melihat suaminya semarah itu. 


"Biar besok kita temui mereka lagi, sudah tenangkan diri mama, sekarang lebih baik mama istirahat di kamar, biar Putra, papah yang jaga."


__ADS_2