
Setiap hari, Bu Lasmi terus menghubungi Raka, untuk meminta agar Lala dikeluarkan di dalam penjara.
( Raka, ibu mohon, hanya kamu harapan ibu. Tolong bebaskan Lala dari dalam penjara.)
"Bukannya Lala sudah dialihkan ke rumah sakit jiwa ya. "
(Maaf bu, maksud ibu apa?)
(Raka ibu salah ngomong, maksudnya. Tolong bebaskan Lala dari jeratan penjara dan keluarkan dia dari rumah sakit penjara.)
"Mm, balas tidaknya. Kalau nggak dibalas setiap hari kirim pesan terus."
(Maaf bu, Raka tak bisa. Biarkan hukuman penjara berjalan, dan ibu tinggal tunggu ketentuan polisi.)
(Kamu kenapa tega seperti ini pada Lala, salah apa Lala pada kamu. )
"Dih, ni nenek - nenek sudah tahu si Lala itu salah, pake nanya lagi."
(Bu, Lala sudah culik anak Raka. Kenapa ibu tanya lagi.)
(Oh iya ya. Raka itu hanya kesalahan saja, ayolah, kasihani ibu. Ibu sudah tua hanya Lala teman satu satunya ibu.)
"Pah, ngapain sih, serius amat?" tanya Alena membuat lamunan Raka membunyar.
"Ahk, ini Bu Lasmi kirim pesan pada papah." Raka menyodorkan ponselnya." Coba, kamu baca, " ucap Raka. Membuat Alena mengambil dan kini membaca setiap baris pesan yang dikirim Bu Lasmi.
"Dih, nenek nenek tua ini, nggak ada kapok kapoknya sudah dikasih tahu juga. Masih ngeyel. "
"Memangnya Bu Lasmi mengirim pesan pada kamu?"
"Ada, tapi sebagian sudah mamah hapus. " Alena merogoh saku celana mengambil ponsel memperlihatkan pesan ancaman dari Bu Lasmi setiap hari.
(Wanita jahat, cepat keluarkan anak saya.)
(Kamu tidak punya hati nurani.)
(Kamu tak jauh berbeda seperti manusia tidak tahu diri.)
Membaca pesan yang diterima Alena, membuat Raka kesal. " bisa bisanya dia mengatai mama seperti ini. "
"Sudahlah, pah. Nggak bapaknya nggak ibunya sama sama gila, apalagi anaknya yang sekarang sudah diamankan di rumah sakit jiwa. Mereka terlalu terobsesi dengan keinginan Lala, yang malah menjerumuskan dalam kesengsaraan. "
Menghela napas, " Apa yang mamah katakan memang benar. Ngomong ngomong papah ganteng ya. "
Alena mendelik kesal ke arah suaminya, memukul pelan, " Pede. Menjerumuskan ada pada kesesatan, yang berakibat fatal. "
"Mama, mama. "
Alena pergi dari hadapan suaminya, dimana lelaki itu merengek seperti anak kecil.
"Apaan sih pah, ke bocah kurang nyusu. "
"Hehe, pengen dong nyusu. "
"Nggak- nggak, nanti merah merah karena papah nyusu. "
__ADS_1
"Ya elah, mah. "
Saat menikmati momen bahagia, sang suami istri itu dikejutkan lagi dengan suara ketukan pintu.
Tok …. Tok … .
Berulang kali dan mengganggu pendengaran keduanya.
"Alena ... Alena ... Keluar kamu, wanita jahat."
Alena menghela napas.
"Siapa sih, pagi-pagi gini?"
"Kayak kenal deh, suaranya!"
Alena menghampiri pintu rumahnya, dan membuka. Betapa terkejutnya, ternyata yang berteriak-teriak itu wanita tua yang tengah duduk di kursi roda.
"Bu Lasmi, ada apa, teriak-teriak, ya. Mau karokean?" tanya Alena sedikit menyindir wanita tua itu.
"Jangan banyak bacot kamu, dan jangan sok alim, cepat lepaskan anakku dari penjara, sebelum Lala di pindahkan ke rumah sakit jiwa!" balas Bu Lasmi, menggerutu kesal.
"Bukannya anak ibu sudah dipindahkan saat itu juga. Karena polisi bilang, anak ibu gilanya gila akut, stres nggak bisa diobati. " ketus Alena, membuat Wanita tua itu murka.
"Jaga bicara kamu, Alena. Saya minta lepaskan anak saya, sebelum darah saya naik dan mendidih di kepala ini, " Pekik Bu Lasmi.
"Ya mendidih, mendidih aja sih bu, kenapa pake bilang ke saya, " ucap Alena, membuat suasana semakin tak terkendali.
"Sudah, cepat keluarkan anak saya, di rumah sakit jiwa pokoknya. "
"Kurang ajar kamu."
Wanita tua itu menarik tangan Alena yang tengah berdiri di depan pintu.
"Lepaskan bu." ucap Alena memberontak.
Tenaga wanita tua yang duduk di kursi roda itu begitu kuat, membuat Alena hampir jatuh.
"Cepat keluarkan anak saya. "
"Ibu ini ngeyel ya, kalau nggak bisa ya nggak bisa. "
Wanita tua itu semakin menjadi jadi, ia menggenggam erat lengan Alena, "Lepaskan, anakku, atau kamu akan tau akibatnya."
Ancaman yang malah membuat Alena semakin tertantang.
"Aku tidak takut. Ancaman ibu."
"Kamu gila ya. Saya sudah beri kamu kesempatan untuk tetap bahagia dan berdamai. "
Menyunggingkan bibir, " Kapan bu, kalau ngomong jangan ngawur ya. Pusing saya dengarnya.
"Ternyata ibu dan anak sama-sama gila. " ucap pelan Alena.
"Apa kata kamu?" tanya wanita tua itu.
__ADS_1
Alena menutup mulut dan bergumam dalam hati, " aku kira dia nggak dengar apa kataku. "
Wanita tua itu melepaskan genggaman tangan Alena, dan mendorong tubuh Alena hingga kepalanya membentur pintu rumah
"Ahk."
"Wanita lemah, baru segitu juga." senyum sinis terpancar dari raut wajah Bu Lasmi yang sudah terlihat keriput.
"Saya tidak lemah, melainkan saya menghargai ibu, yang lebih tua dari saya." Alena berusaha bangkit, berdiri tegak.
"Pembodohan, kalau iya kamu menghormati saya, kenapa kamu tidak menghormati keputusan suami saya." tegas Bu Lasmi, membahas masalah suaminya
"Terserah ibu, mau bilang apa saya tetap tidak bisa, membebaskan Lala dalam penjara, apalagi mensetujui pernikahan anak ibu dan suami saya."
Alena kini mempertegas perkataanya.
"Kamu yakin," Wanita tua itu seperti menantang Alena untuk berdebat. Menentukan siapa yang akan menang dan kalah.
"Sangat yakin, karna saya Alena, wanita yang tak mau berbagi dengan wanita lain, karna milik saya tetap milik saya. Jadi ibu jangan terlalu berharap pada saya, jika saya akan membebaskan anak ibu di dalam rumah sakit jiwa, kerena gadis itu sangatlah cocok menetap lama di rumah sakit jiwa. "
Mendengar perkataan Alena, membuat Bu Lasmi menghardik.
"Kenapa kamu begitu egois,"
Alena tertawa kecil, sembari berucap," saya egois? Apa tidak salah ibu berkata seperti itu, bukannya kalian yang egois?"
"Maksud kamu?"
Alena menghampiri wanita tua itu, menatap lekat kedua bola mata yang terlihat begitu kejam.
"Ibu, bilang saya egois, lantas ibu apa?"
"Kamu?"
Tangan wanita tua itu mulai mendekati pipi Alena, namun dengan sigap, Alena segera menepis tangan wanita tua itu.
"Aku akan lepaskan semua gugatan, asalkan ibu pergi jauh dari kehidupan keluargaku, kalau tidak, anakmu Lala akan menderita, dan terkurung selamanya."
"Kurang ajar kamu, kamu ngancam saya?"
"Saya tidak mengancam, melainkan memberi pilihan, untuk kebahagian anak, ibu."
"Cih,"
"Kenapa? Ibu keberatan, bisa saja sih saya, bikin Lala, lebih tersiksa di penjara atau di rumah sakit jiwa."
"Hentika! ucapan mu."
"Hentikan, harusnya ibu yang hentikan perbuatan anak ibu, yang mengejar cinta suami saya."
"Kamu, ya?" Wanita tua itu berusaha berdiri berniat menjambak rambut Alena.
"Sudahlah bu, tak perlu emosi, ibu harusnya sadar diri, atas kelakuan anak ibu, bukannya malah mendukung."
"Aku tidak mendukung, hanya membela anakku, karna dia tidak salah, tidak mungkin dia melakukan hal sekeji itu."
__ADS_1