Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 17


__ADS_3

" Papah, ponsel kamu bunyi terus tuh, dari tadi, kenapa nggak diangkat-angkat sih. Berisik," teriak Alena, mengusap ngusap telinga, sambil memanggil suaminya. 


"Angkat saja sama, mama!" Teriak Raka yang ternyata sedang berada di kamar mandi.


"Pantas saja dari tadi nggak diangkat angkat," Gerutu Alena, berjalan ke arah meja kamar, ia kini mengambil ponsel suaminya dan melihat  semua panggilan  tak terjawab, bertuliskan nomor bernamakan Alex dan Anwar. 


 Alena juga melihat pesan yang dikirim oleh Alex, dimana lelaki itu mengirim video.


"Buka nggak ya."


Karena penasaran Alena kini membuka video yang terlihat, Lala berdiri di atas jembatan. Alena mendengar perkataan Lala yang berencana untuk b*n*h diri.


"Dih, bunuh diri pakai di video segala, norak. " Gerutu Alena, menyunggingkan bibirnya. 


Alena kini menghapus Video yang dikirim oleh Alex dari ponsel suaminya. 


"Sudah kuhapus. Jangan harap deh, suamiku datang kesana Lala, aku tahu ini semua rencana busukmu." Mensenyapkan panggilannya dari ponsel suaminya. 


"Aku yakin deh, si Lala ini nggak bakalan bunuh diri, cuman drama doang. Hah, jaman gini percaya pada wanita gila ini, nggak deh." 


Saat Alena menggerutu kesal,  "Siapa mah?" tanya Raka, mengusap ngusap rambutnya yang terlihat basah,  Raka baru saja selesai mandi. Ia merasa gerah, setelah menyentuh tubuh montok istrinya. 


" Oh, itu teman kamu si Alex!" jawab Alena, menyodorkan ponsel pada suaminya. 


Raka kini mengecek panggilan tak terjawab dari ponselnya, ia juga melihat Anwar menelepon. 


"Ada apa ya mereka, nelpon,  sampe beberapa kali. Oh ya, mah. Memangnya mereka  nggak  ada satupun mengirim pesan?"


Alena menatap sekilas kearah suaminya, " ya coba papah lihat sendiri, pake nanya segala."


"tapi gak ada. Sudahlah, biar nanti papa telepon lagi mereka." Ucap Raka menaruh ponselnya di atas kasur. 


Alena senang melihat suaminya tak peduli, ia mendekat memijat bahu Raka, " Kita santai santai saja, gimana? Mama udah siapkan cemilan. "


"Wah, ide yang bagus, ayo mah!"  Mereka kini duduk diatas sofa, terlihat keduanya menikmati kebersamaan berdua. 


Sampai dua jam pun berlalu, rasa bosan menyelimuti  kami berdua setelah menikmati rasa santai di depan tv tanpa merasakan beban sedikitpun.


Alena melihat ponsel Suaminya terus menyala, tanpa mengeluarkan getaran sedikitpun, membuat Alena tersenyum kecil.

__ADS_1


Terlihat jika Raka tertidur dengan pulas, setelah servis yang diberikan Alena. 


"Biarkanlah itu menjadi urusan mereka, aku tidak akan membiarkan suamiku itu datang ke tempat Lala." Ucap Alena dalam hati, sambil bersandar di bahu suaminya. 


*******


Keesokan harinya.


Raka tiba tiba marah-marah kepada Alena, urat tangan ia perlihatkan. Membuat Alena berusaha tetap tenang mendengarkan ucapan suaminya yang diikuti rasa amarah. 


"Mama, kenapa mama malah senyapkan nada ponsel papa?" tanya Raka sedikit bernada tinggi.


"Ya, soalnya berisik, Anwar dan Alex nelpon terus!" Jawab Alena sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Tapi mah, Alex tadi marah sama papah. 


Dia bilang kenapa tak mengangkat telepon dari kemarin, " jelas Raka, mengusap kasar wajahnya. Menghembuskan napas, membuat Alena bertanya?" ya terus …. Dia ngomong apa lagi?"


"Astaga mama, Lala mau bunuh diri, dan sialnya lagi bapaknya yang masuk jurang, mamah ini gimana sih!" jawab Raka dengan mengeluarkan nada semakin meninggi.


Deg.... Seketika hati Alena merasakan luka yang amat sangat perih.


"Terus sekarang Bapak Haris gimana keadaanya?" Tanya Alena dengan bibir bergetar.


Mereka bergegas tanpa menyentuh sarapan terlebih dahulu,  berangkat ke rumah sakit untuk menemui Bapak Haris.


"Mah, ayo. "


Sampai di rumah sakit, Raka memegang tangan Alena. Agar sang istri tak terjatuh, 


Ketika memasuki rumah sakit, terlihat Lala  duduk dengan posisi badan membungkuk , kepala yang menunduk seraya dengan isakan tangis tiada henti.


Memanggil-manggil nama bapaknya.


Raka perlahan  menghampiri mereka yang sedang dirundung pilu.


"Alex, Lala, bagaimana keadaan Bapak Haris?" tanya Raka dengan raut wajah cemas.


"Kamu …," Lala menunjuk ke arah Alena, lalu berucap kembali." Semua ini gara-gara kamu." pekik Lala  menunjuk-nunjuk  lagi wajah Alena. 

__ADS_1


"Kenapa aku yang harus disalahkan?" tanya Alena. 


"Kalau saja kamu menyetujui pernikahan aku dengan Kak Raka, mungkin, aku tidak akan melakukan hal konyol itu, dan membuat bapakku mati," Jari tangan Lala menunjuk-nunjuk ke arah Alena, membuat seisi rumah sakit menatap lekat ke arah Alena.


Dengan raut wajah penuh air mata Lala terus saja menyalahkan Alena.


"Sudah Lala tenangkan dirimu," ucap Alex kepada Lala. 


Alena hanya terdiam pilu dikala mendengar  Lala menyalahkan Alena terus menerus, atas akibat yang terjadi. 


"Hee, kenapa diam saja, sekarang kamu puas sudah membuat bapak ku mati," Teriak Lala dengan isak tangis yang menjadi-jadi.


"Cukup Tasya, jangan menyalahkan lagi istriku, istriku tak salah sedikitpun." 


Bentak Raka membela istrinya.


"Hey, Raka jangan lu bentak Lala, seharusnya lu jadi laki-laki peka, Lala butuh lu, dan dia rela mengorbankan kebahagiaannya untuk lu Raka." Ucap Alex membela Lala. 


"Maksud kamu apa Alex, aku membela istriku karena dia juga rela mengorbankan kebahagiaannya demi aku, malahan lebih dari itu, kamu paham," jawab Raka tegas.


"Dan satu lagi Alex, aku tau kamu menyukai Lala dari dulu, kamu ingin Lala bahagia  denganku karena bagimu melihat  Lala bahagia denganku itu sudah cukup membuatmu  senang meskipun hatimu terluka," Kata- kata Raka begitu tajam, menusuk hati Alex. Raka menunjuk dada sang sahabat  dengan jari tangannya membuat lelaki berkulit hitam itu kesal.


"Apa aku salah? Aku mengutamakan perasaan orang lain daripada perasaan yang ada pada diriku, tidak seperti dirimu yang egois." Balas kesal Alex pada Raka. 


"Cu-kup, kalian jangan bertengkar disini ini rumah sakit," Timpal Alena menghentikan perdebatan keduanya. 


"Untuk kamu Lala, jaga ucapanmu jangan kamu salahkan aku, dari kecelakaan bapakmu, jelas ini kesalahanmu yang bertindak bodoh,"  ucap Alena tegas dengan membela diri.


"Hey Mba ... " timpal Alex.


"Diam kamu Alex, seharusnya kamu bisa berpikir sebagai laki-laki, sudah tahu Raka mempunyai istri dan anak, kenapa kamu masih libatkan suamiku dalam masalah Lala. Dan Sudah jelas dari dulu suamiku menolak menikah dengan Lala."  Ucap tegas Alena membuat Alex diam tak mengeluarkan suara lagi.


"Seharusnya tak perlu kamu, menelepon suamiku, berpikirlah dengan jerni, kalau kamu mencintai Lala, kejar cintanya, bukan kebahagiannya yang jelas-jelas akan merusak kebahagian orang lain." Tukas Alena membuat Lala terjatuh dari tempat duduk hanya ingin menangis tanpa mengeluarkan suara.


Ibu Lasmi datang dari ruang mayat, dengan jalan sempoyongan dan tubuh lemas membuat hati istri Bapak Haris itu hancur.


******


Semua mata memandangan ke arah Bu Lasmi.

__ADS_1


Akan kah ini berakhir, Lala masih kah kamu berniat mengejar Raka, yang jelas-jelas tidak mau menikahi kamu?


Hingga bapamu menjadi korban dari kekoyolanmu itu!


__ADS_2