Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 29


__ADS_3

Sudah jelas, semua terbukti, masih saja ngeyel," ucap Alena, membuat wanita tua itu berhenti berucap, Alena tetap memperlihatkan ketegasannya didepan Bu Lasmi. 


"Jadi. Apa pilihan ibu?" Tanya Alena, menunggu jawaban wanita tua yang ada dihadapannya. 


" Mau menjauh dari keluarga kamu, atau tetap mendekati suami saya untuk anak ibu. Keuntungan yang didapatkan anak ibu lumayan, kalau Bu Lasmi benar benar menjauh dari keluarga saya, tapi jika ibu tidak mau. Ya sudah, anak ibu akan tetap di rumah sakit jiwa, kalau dia sembuh masuk lagi ke dalam penjara?"


Bu Lasmi hanya diam, merenungi perkataan  Alena, ia berusaha memilih pilihan yang terbaik untuk anak dan juga dirinya. 


"Aduh, ibu lama, sudah saya tutup pintunya ya bu, saya masih banyak kerjaan bu. Biar ibu  pikirkan pilihan ibu, kalau sudah menemukan jawabannya ."


Menutup pintu secara perlahan, setelah mengucapkan kata pamit,  Bu Lasmi terburu buru memilih pilihan yang menurutnya baik. 


Bu Lasmi yang duduk di kursi roda, kini menahan pintu rumah Alena, membuat wanita yang menjadi istri Raka itu membuka kembali pintu rumah. 


"Tunggu?"


Alena berdiri tegak, setelah pintu rumahnya di tahan oleh Bu Lasmi, ia menatap tajam  ke arah wajah wanita tua itu. 


Bu Lasmi memalingkan wajah dari tatapan mata Alena, ia menundukkan kedua mata saat berbicara. 


"Baiklah, ibu akan memilih, menjauh dari kehidupan keluargamu, itu pilihan ibu."


Alena tersenyum merekah, senang dengan pilihan wanita tua yang ada di hadapannya 


"Pilihan yang bagus, 3 hari lagi, aku dan Mas Raka akan mencabut tuntutan anak ibu. Dengan syarat, ibu menjauh dari kehidupan keluargaku."


Alena melontarkan kata kata itu, dengan sedikit bernada tinggi, Alena ingin Bu Lasmi mengerti dan memahami, jika ia tak ingin keluarganya harus terpecah belah. Karena keegoisan dari gadis bernama Lala.


Belum ada jawaban yang didengar dari mulut wanita tua itu, " jadi gimana, sudah paham. "


Melontarkan lagi, hingga wanita tua itu. Menganggukkan kepala dan menjawab. 


"Ya, ibu paham."


Kesal dengan jawaban lama, Alena berdecak dan bergumam dalam hati, " Kenapa aku agak agak ragu ya. "


Tak ingin berlama lama, akhirnya  Alena menjawab dengan simpel. 


"Oke!"

__ADS_1


Wanita tua itu masih memperlihatkan kesedihannya, membuat Alena, bertanya?" Jadi mau apa lagi. "


Menghela napas, berusaha tetap tenang, Bu Lasmi kini menjawab. 


"Ibu pamit dulu."


"Iya hati hati. " Alena masih memperhatikan wanita tua itu, di saat Bu Lasmi Pun berlalu pergi meninggalkan kediaman Alena. 


"Kak Lasmi?" Sosok  Bi Laila mencoba membantu sang kakak, mendorong kursi roda dengan memperlihatkan wajah kecewa. 


"Kita pulang!" balas Bu Lasmi, masih memperlihatkan wajah sedih di hadapan sang adik.  Membuat Laila menghela napas dan bertanya?" kenapa kak Lasmi menyetujui pilihan itu. "


"Ahk, kamu lihat saja nanti!" jawaban yang membuat Bu Laila, menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal. 


"Kakak ini aneh. "


"Sudah, biar nanti dijalan kakak ceritakan. "


Adik kakak itu berlalu pergi meninggalkan,  kediaman Alena dengan sekilas menatap raut wajah Alena dengan tatapan sinisnya. 


Namun, tetap saja, ada kejanggalan di hati Alena, ia merasa tak tenang dan harus waspada dengan  perkataan wanita tua itu, seakan tak bener-bener memilih pilihan yang akan ditepati oleh Bu Lasmi, seperti mau mempermainkan Alena saja. 


Panggilan dari Raka, membuat lamunan Alena membuyar. 


"Mas Raka!" jawab Alena, membuat Raka tersenyum dan bertanya, " Maaf ya, mas nggak ikut serta dalam perdebatan kecil kamu bersama dengan Bu Lasmi, mas sudah malas, dan tak ingin lagi membahas tentang Lala. "


"Tak apa kok, mas, aku juga paham, dan ya kamu tahu sendiri, kalau Bu Lasmi tetap ingin anaknya keluar dari rumah sakit. "


Alena perlahan menutup pintu rumah terlebih dahulu, berjalan dan berkata pada suamiku. 


"Biar enak kita duduk di sofa dulu, aku ceritakan semuanya. "


Menghela napas Raka menganggukkan kepala, ia mengikuti langkah kaki istrinya.


Mereka kini duduk di atas sopa. 


"Aku membuat dua pilihan untuk wanita tua itu, dimana pilihan itu salah satunya menarik gugatan Lala di penjara, membebaskan gadis itu di rumah sakit jiwa, tapi dengan syarat, jika Bu Lasmi dan juga Lala. Menjauhi keluarga kita, " ucap Alena menceritakan semuanya panjang lebar. 


"Lalu, apa yang dipilih Bu Lasmi?" tanya Raka, terlihat penasaran, membuat ia melihat wajah istrinya berubah jadi sendu. 

__ADS_1


"Bu Lasmi memilih jawaban yang kedua, ingin Lala bebas dan lebih memilih menjauhi kita! Tapi mas, aku sedikit ragu dengan jawaban Bu Lasmi, karena makin ke sini, Bu Lasmi kelihatan tak bisa dipercaya, ia sekarang lantang dan sifatnya sama dengan Lala. "


Keluh Alena, membuat Raka sang suami, memegang kedua tangan istrinya, " Mm. Kalau seperti itu, sebaiknya kita jangan dulu mencabut tuntutan Lala, takutnya, Bu Lasmi tak menepati janjinya."


Alena menatap perlahan wajah suaminya, mendengar perkataan yang membuat ia sedikit bingung. 


"Jadi."


"Biarkan saja, biarkan dia yang memohon-mohon kepada kita, lagi. Kalau dia tidak melakukan itu lagi, kita patut tidak percaya pada Bu Lasmi."


"Jujur saja, mama merasa kasihan terhadap Bu Lasmi. Ia menderita dan selalu sakit karena kelakuan anaknya, yang terlalu menginginkan sesuatu yang tak bisa dimiliki. Terlalu terobsesi. "


Menghela napas, Raka menggenggam erat istrinya dengan berkata. 


"Tak perlu dikasihani, orang jahat seperti mereka, tak usah kita kasihani."


Raka kini  memperlihatkan sebuah benda kecil pada istrinya, dimana ia merogoh saku celana dan berkata. 


"Oh ya, kebetulan kemarin papah, pasang alat penyadap di kursi roda Bu Lasmi,  ketika Bu Lasmi memohon-mohon kepada Mas."


Alena memegang benda kecil itu, dan berkata. "Masa sih pah, berarti papah sudah tau semuanya."


"Ya pastinya! Makanya itu, papah mau tau apa rencana Bu Lasmi, untuk menghancurkan kita."


"Emang nggak bakal ketauan gitu."


"Tenang Alat penyadap suara itu amatlah kecil, warnanya pun hitam seperti warna kursi roda Bu Lasmi. Kamu lihat kan, papah sengaja beli dua, buat nanti jaga jaga aja. Kalau butuh. "


"Dari mana papah beli itu?"


"Tadinya teman papah nitip buat, jualan, ada temennya yang pesan, karena papah juga tertarik, jadi  papah beli dua."


"Oh."


"Biar kita tahu, apa yang direncanakan, Bu Lasmi."


"Iya pah, mama juga penasaran, karena kan papah tahu sendiri, Bu Lasmi dulu itu menentang Lala menikah dengan papah. Eh sekarang dia itu mohon mohon kayak tak punya rasa malu. "


"Iya, makanya papah melakukan semua ini, papah juga penasaran dengan Bu Lasmi kenapa bisa berubah sederastis ini, apa yang sebenarnya terjadi padanya?"

__ADS_1


__ADS_2